Prestasi Indonesia di Lomba Kaligrafi Konya

191
lomba kaligrafi konya

[dropcap]K[/dropcap]embali kaligrafer Indonesia berprestasi di lomba kaligrafi Internasional. Hasil lomba yang diumumkan tanggal 10 November 2016 lalu mencatat dua orang dari Indonesia, dari total enam pemenang. Adalah Ustadz Syahriansyah Sirajuddin dan Ustadz Huda Purnawadi, dua kaligrafer Indonesia yang mengharumkan nama Indonesia di ajang yang lomba kaligrafi Konya, yang diadakan oleh pemerintah kota Konya, Turki tahun ini.

Ustadz Syahriansyah adalah kaligrafer Indonesia asal Kalimantan yang saat ini tinggal dan belajar di Istanbul Turki. Kaligrafer kita yang juga telah menikah dengan gadis Turki ini pernah belajar dengan Manhaj Hamidi, langsung dari Ustadz Belaid Hamidi semasa studinya di al-Azhar Kairo.  Bahkan kemudian mendapatkan ijazah dari sang guru pada khot diwani dan jaly diwani.

Usia studi di al-Azhar, ustadz Syahriansyah melanjutkan studi tingkat magister di Fatih University serta belajar kaligrafi di IRCICA, Istanbul dan mendapatkan ijazah naskhi dan tsuluts dari Syaikh Hasan Çelebi, Ustadz Ferhat kurlu dan Ustadz Mumtaz Şeçkin Durdu. Pada tahun 2015, Ustadz Syahriansyah  juga pernah memenangi lomba kaligrafi International Istanbul Classic Arts Competition. Saat ini, ustadz Shahriansyah sedang mendalami Jali Tsulus kepada ustadz Usman Ozcay dan ustadz Dawud Bektasy.

Sementara ustadz Huda Purnawadi adalah alumni Grista (Griya Seni Tahsinul Khot Annur) Kudus, yang didirikan oleh KH M Noor Aufa Shiddiq. Bagi ustadz Huda yang asal Pati, prestasi pada Lomba Kaligrafi Konya ini bukanlah yang pertama kali dalam ajang lomba Internasional. Beberapa bulan sebelumnya, ustadz Huda pernah menorehkan prestasi dalam lomba kaligrafi dalam rangka Festival Kebudayaan Safir ke-6 yang diadakan di Irak pada Juli 2016 yang lalu, dengan memperoleh juara pertama.

Tidak berhenti sampai di sini, ustadz Huda Purnawadi saat ini juga sedang mendalami dan dalam proses memperoleh ijazah pada khot Naskh dan Tsulus kepada ustadz Auni Naqasy Oglu, kaligrafer Irak yang telah mendapatkan ijazah dari ustadz Dawud Bektasy. Di samping juga kesibukannya dengan meneruskan belajar khot yang sama kepada ustadz Syahriansyah Sirajuddin.

Selain lomba kaligrafi (dengan jenis khot sulus ‘adi dan jaly sulus), ada dua jenis cabang lain yang juga dilombakan pada Lomba Kaligrafi Konya tahun Ini. Yaitu seni tadzhib (illumination) dan seni miniature. Perlombaan ini juga merupakan proyeksi atas perpilihnya kota Konya sebagai Ibukota Pariwisata Dunia Islam 2016. Sementara target dari lomba ini, selain mendorong para seniman untuk berkreasi serta membantu mereka untuk mempromosikan seni Islam kepada dunia Internasional. Karena itu, karya yang terpilih akan menjadi koleksi dari museum internasional yang baru didirikan di kota ini.

Baca Juga:   Kaligrafer Umar Washfi Afandi

Konya merupakan salah satu propinsi yang ada di Turki. Kota bersejarah ini pernah menjadi pusat pemerintahan semasa era Turki Seljuk. Dalam buku Tarikh Khulafa, Imam Suyuthi menyebutkan bahwa kota ini jatuh ke tangan pemerintahan Islam pada tahun 105 H, melaui seorang panglima Marwan bin Ahmad. Kota yang juga menjadi tujuan wisata religi ini menjadi tempat yang istimewa, karena di kota inilah Jalaluddin ar-Rumi, seorang sufi besar Persia disemayamkan.

Prestasi kaligrafer Indonesia di ajang Internasional semacam ini tentunya memotivasi serta membuka cakrawala para kaligrafer, pegiat kaligrafi, para generasi muda yang masih belajar, juga harapannya termasuk pihak-pihak terkait yang menjadi penyelenggara even lomba kaligrafi. Bahwa seni kaligrafi mempunyai ushul (pakem) yang sudah matang, sehingga dalam lomba kaligrafi tingkat internasional pun, mempunyai standar yang sama.

Karena itu, seorang kaligrafer akan menjadi pemenang tanpa melihat asal negara, kota, maupun daerah. Karena pada dasarnya, yang menjadi titik tolak penilaian adalah kaidah yang telah terbentuk oleh tangan para kaligrafer-kaligrafer terdahulu sepanjang peradaban Islam, sehingga bersifat universal. Bukan sekedar kesepakatan kelompok kaligrafer di negera tertentu, atau bahkan hanya kelompok juri tertentu. Karena hal ini akan mengerdilkan kaligrafer-kaligrafer muda berbakat, yang mempunyai potensi besar namun kurang mendapatkan apresiasi dan ‘tempat’ yang layak.

Sekali lagi kami ucapkan selamat kepada para pemenang Lomba Kaligrafi Konya tahun ini, semoga terus berkarya dan menjadi contoh bagi kaligrafer muda tanah air yang lain untuk mengembangkan wawasan serta kemampuannya dalam bidang kaligrafi, dan berperan aktif, untuk memajukan kaligrafi tanah air. Wallahua’lam bissawab.

Pemenang Lomba Kaligrafi Konya

Juara Utama

  1. Saman Abdul Khaliq Gadir (Irak)
  2. Karzan Abu Bakr Karim (Irak)
  3. Huda Purnawadi bin Kasidi (Indonesia)

Juara Harapan

  1. Musthafa Faluh (Maroko)
  2. Mahfudz Ubaidi (Irak)
  3. Syahriansyah Sirajuddin (Indonesia)

Juri pada Lomba Konya

  1. Ahmet KÖSEOĞLU
  2. Faruk TAŞKALE (Prof. Dr.)
  3. Fatih Özkafa (Assoc. Prof. Dr.)
  4. Fatma ÖZÇAY
  5. Hüseyin Öksüz (Assist. Prof.)
  6. Orhan DAĞLI
  7. Osman ÖZÇAY
  8. Savaş Çevik (Assist. Prof.)

LEAVE A REPLY