Ustadz Dawud Bektasy; Sang Mikroskop Kaligrafi

122
dawud bektasy

[dropcap]I[/dropcap]stilah mikroskop kaligrafi yang disematkan kepada Ustadz Dawud Bektasy kami dengar dari Ustadz Belaid Hamidi. Tidak berlebihan jika beliau menjuluki Ustadz Dawud Bektasy dan Ustadz Muhammad Ozcay sebagai mikroskop kaligrafi. Mungkin karena sensitif tingkat tinggi beliau terhadap bentuk huruf lah, yang membuat julukan tersebut cocok beliau sandang.

Ustadz Dawud Bektasy lahir tahun 1963 di salah satu daerah bagian selatan Turki. Menyelesaikan pendidikan dasar di desanya. Jenjang menengah dan atas dia tempuh di Ma’ahid Aimmah wa al-Khuthaba. Lalu mendapat gelar Sarjana Hukum dari Fakultas Hukum salah satu universitas di Istanbul tahun 1992.

Mulai tertarik pada dunia kaligrafi sejak duduk di bangku sekolah menengah. Belajar khot tsulus pertama kali kepada Yusuf al-Arzanjali. Dan sejak 1982 beliau belajar kepada khattath Hassan Celebi murid (Hamid Aytac al-Amidi). Dawud belajar khot Tsulus, Naskh, dan Riq’ah kepada Hasan Celebi hingga mendapat ijazah pada tahun 1994.

Disamping belajar kepada Khattath Hasan Celebi, Ustadz Dawud juga belajar dari tulisan-tulisan para khattath besar terdahulu, khususnya Sami Affandi dan Hamid Aytac al-Amidi. Karena itulah Ustadz Dawud bektasy mempunyai huruf-huruf yang sangat kuat dalam tulisan Jaly Tsulus.

Pembentukan pribadi dan kekuatan tulisan beliau, juga tidak lepas dari peran Dr. Ugur Derman, seorang khattath dan juga peneliti dan ahli sejarah. Dr Ugur Derman mendukung bakat Ustadz Dawud Bektasy dengan literatur-literatur kaligrafi koleksi pribadinya. Seperti tulisan asli dari Sami Affandi serta Qashidah al-Alfiyah tulisan Muhammad Syauqi Affandi, dan koleksi dari tulisan asli para kaligrafer besar Turki yang lain.

Pada tahun 2002, Ustadz Dawud Bektasy memulai belajar khot Nasta’liq dan Diwani dari Prof. Dr. Ali Alparsalan (yang juga guru Ustadz Belaid Hamidi) hingga wafatnya sang guru tahun 2005. Ustadz Dawud Bektasy juga aktif mengikuti pameran2 kaligrafi yang diadakan baik di Turki, negara2 Eropa maupun di negara2 Timur Tengah. Telah banyak karya-karya beliau yang diincar dan menjadi buruan para kolektor kaligrafi.

Diceritakan bahwa karena ketekunan Ustadz Dawud dalam membuat karya yang maksimal hingga memakan waktu yang lumayan panjang, beberapa rekan beliau menganggap beliau ‘pelit’. Julukan yang sebenarnya bisa mengandung unsur positif. Karena Ustadz Dawud bisa saja membuat karya yang banyak dalam waktu singkat. Tetapi karena beliau memilih untuk itqan (teliti dan maksimal) dalam berkarya, maka beliau membutuhkan waktu yang lama. Namun begitu karya tersebut jadi, maka nyaris tidak ada yang bisa berkomentar untuk memberikan alternatif lebih baik dari tarkib yang telah beliau buat.

Baca Juga:   Jenis Karya Kaligrafi 1 (Qith'ah)

Saat ini, Ustadz Dawud Bektasy memfokuskan diri untuk mengajar khot kepada murid2 yang datang kepadanya di sela-sela kesibukannya sebagai dosen serta kesibukan melahirkan karya-karya kaligrafi yang fenomenal. Beliau dikenal ketawadhu’an dan rendah hati. Meskipun tulisan dan karyanya nyaris tidak ada yang menandingi, kaligrafer yang dijuluki “muhandisul huruf” ini tetap dan selalu meminta tashih (pembetulan) kepada sang guru –Syaikh Hassan Celebi– setiap kali dia membuat karya. Inilah aklak mulia seorang kaligrafer yang pantas dijadikan contoh. Meskipun seorang kaligrafer sudah mendapatkan ijazah, pengakuan serta prestasi dalam lomba-lomba, tetapi tetap memintakan tashih atas tulisannya kepada sang Guru. Sikap rendah hati dan memuliakan sang Guru inilah yang mungkin menjadi salah satu kunci kesuksesannya.

Untuk menekuni dunia kailgrafi, Ustadz Dawud pun meninggalkan pekerjaan dan latar belakang pendidikannya sebagai seorang ahli hukum. Pekerjaan sebagai seorang pengacara dia tinggalkan demi menekuni dunia kaligrafi. Sempat diceritakan bahwa dia lebih suka menjadi pengacara huruf2 al-Qur’an yang kini dia geluti. Jadilah dia pengacara bagi setiap huruf dalam sebuah susunan kata, dan membagi untuk setiap kalimat bagiannya masing2, sehingga tarkib (susunan) kata yang dia tuangkan dalam lauhah (karya) mencapa keindahan yang sangat menakjubkan.

Pada tahun 1986, pertama kali IRCICA mengadakan lomba kaligrafi internasional, Ustadz Dawud mendapatkan juara pertama pada kategori Tsulus Jali, dan juara harapan pada khot Nasta’liq. Sedangkan pada lomba tahun 1993, beliau kembali mendapat juara pertama kategori Tsulus ‘Adi (Tsulus biasa). Dan pada Olimpiade Kaligrafi di Teheran (Iran) yang diadakan pada tahun 1997, beliau mengokohkan diri dengan menempati posisi pertama.

Dan sejak tahun 2009 hingga saat ini, kaligrafer kita yang dijuluki Sami-nya zaman ini, mendapat kepercayaan untuk masuk dalam jajaran dewan juri pada lomba kaligrafi internasional yang diadakan oleh IRCICA. [muhd nur/ hamidonline]

3 COMMENTS

  1. Nah ini yang perlu kita gaetkan lagi, jadi kita meskipun sdah mendpt ijzah tetapi pda tingkat muhandisul hurufnya yang blum, dan mningkatkan sensiftas hruf ini lah yang sangat penting srkali..

LEAVE A REPLY