Peran Rasulullah Dalam Perkembangan Kaligrafi Islam

Kaligrafi merupakan salah satu warisan seni dalam Islam yang menunjukkan perkembangan dan kemajuan peradaban Islam dalam segi tsaqafah dan hadharah. Kemajuan ini dapat dilihat dari model kaligrafi yang telah mengalami proses perubahan dari sejak awal munculnya hingga sekarang. Salah satu pengaruh kaligrafi dalam kemajuan peradaban Islam dibuktikan dengan banyaknya bangunan arsitektur Islam yang dihiasi dengan kaligrafi indah dan banyaknya literatur keilmuan Islam yang ditulis oleh para ulama terdahulu. Lebih jauh lagi, ketika Islam datang dengan gerakannya dalam tulis menulis (khat), para sahabat mulai menulis mushafnya masing-masing (sebelum adanya jam’ul Qur’an oleh Utsman bin Affan), sebagian menuliskan hadits yang mereka dapatkan dari Rasulullah dalam setiap majlis. Hal ini merupakan perkembangan yang sangat pesat ketika itu, mengingat masyarakat Arab pada masa pra Islam masih awam terhadap dunia tulis menulis.

Menurut Dr. Mujahid Taufiq (2008: 22) semua kemajuan itu tidak luput dari peran Rasulullah SAW di dalamnya, baik dalam segi gerakan maupun estetikanya terhadap kaligrafi itu sendiri. Hal inilah yang kemudian membuat kaligrafi disebut dengan Al-Khat Al-Islami atau kaligrafi Islam hingga sekarang.

Hal pertama yang dilakukan oleh Rasulullah untuk mengenalkan kaligrafi kepada umatnya adalah dengan menyadarkan umatnya akan pentingnya tulisan. Ada beberapa dalil dari Al-Qur’an dan hadits yang menyebutkan keutamaan dalam menulis, diantaranya tertulis dalam surah Al-‘Alaq: 3-5, Al-Baqaroh, 282, Al-Ankabut, 48, Al-Infithar, 11 dan lainnya. Bahkan dalam surah Al-‘Alaq Allah bersumpah dengan menggunakan kata qalam (pena) dan tulisan yang tergores darinya (surah Al-Alaq, ayat: 1).

Untuk mengenalkan umatnya terhadap dunia tulis menulis, Rasulullah membuat halaqoh di masjid yang ia bangun pasca hijrahnya ke Madinah untuk mengajarkan cara menulis. Untuk itu, beberapa sahabat secara khusus dipilih untuk mengajarkan cara menulis kepada umat muslim, salah satunya Abdullah bin Said dan Ubadah bin Shomit. Gerakan lainnya yaitu dengan menjadikan tebusan tawanan perang yang mampu menulis untuk mengajarkannya kepada 10 orang Madinah (Dr. Mujahid Taufiq, 2008:22).

Ada perbedaan pendapat terkait peran Rasulullah dalam hal ini. Diantaranya mengatakan bahwa Rasulullah hanya berperan dalam menggerakan umatnya untuk menulis, bukan dalam seni kaligrafi (khat). Pemikiran ini berbeda dengan pendapat Muhammad Thahir yang mengatakan bahwa tulisan (al-kitabah), as-satr (Alfarobi, 2003:108) dan al-khat memiliki satu arti yang sama (Muhammad Thohir, 1939:7). Dalam beberapa literatur, istilah khat lebih sering digunakan untuk menunjukkan perkembangan peradaban Islam baik dalam hal tsaqafah maupun hadhoroh, melihat perubahan bentuk, jenis dan keindahan yang berkembang di setiap masanya. Sedangkan dalam kbbi, tulisan indah dengan pena lebih dikenal dengan sebutan kaligrafi, dan penulisnya disebut dengan kaligrafer (kbbi, https://kbbi.web.id/kaligrafi, akses 15 Januari 2020).

Bukti yang menunjukkan peran Rasulullah dalam estetika kaligrafi dapat dilihat dari beberapa hadits, diantaranya hadits Muawiyyah yang tertulis dalam Musnad Firdaus nomor 8533. Diriwayatkan di dalamnya bahwa Rasulullah pernah mengajarkan sekretarisnya (kuttab), Muawiyyah bin Abi Sufyan tentang bentuk penulisan basmalah (Al-Firdaus bilma’tsuril Khithob, 1986: 394 ). Yaitu dengan meninggikan huruf ba’ agar tidak tercampur dengan nibroh sin hingga menimbulkan kesusahan dalam membaca (وانصب الْبَاء) dalam hadits ini juga diajarkan untuk memisahkan nibroh sin, yang artinya dalam penulisan ayat Al-Qur’an, nibroh sin harus terlihat jelas (وَفرق السِّين). Selain itu, Rasulullah juga mengajarkan cara menulis mim yang benar, yaitu agar lingkaran dalam kepala mim terlihat, tidak tertutup oleh tinta (وَلَا تغور الْمِيم).

وقال لكاتبه معاوية رضي الله تعالى عنه ((يَا مُعَاوِيَة ألق الدواة وحرف الْقَلَم وانصب الْبَاء وَفرق السِّين وَلَا تغور الْمِيم وَحسن الله وَمد الرَّحْمَن وجود((

Dari hadits Anas bin Malik yang diriwayatkan dalam Munsad Firdaus nomor 1168 mengatakan bahwa Rasulullah mengajarkan cara menulis mim dalam tulisan Ar-Rahman (Al-Firdaus bilma’tsuril Khithob, 1986: 296), yaitu dengan memanjangkan mim satu pena (فليمد الرَّحْمَن).

((إِذا كتب أحدكُم بِسم الله الرَّحْمَن الرَّحِيم فليمد الرَّحْمَن))

Dalam hadits Zaid bin Tsabit yang diriwayatkan dalam Musnad Firdaus nomor 1087 dijelaskan bahwa Rasulullah mengajarkan cara menulis sin dalam basmalah (Al-Firdaus bilma’tsuril Khithob, 1986: 278), yaitu dengan memanjangkan huruf sin. Dalam riwayat lain mengatakan bahwa maksud dari (فَبين السِّين) yaitu untuk menuliskan nibrah sin dengan jelas dan memisahkannya dari nibrah ba. Karena jika jumlah nibrahnya kurang atau sebaliknya, maka akan merubah makna.

((إِذا كتبت فَبين السِّين فِي بِسم الله الرَّحْمَن الرَّحِيم))

Dapat dilihat dari hadits pertama, bahwa Rasulullah juga mengajarkan sekretarisnya cara menggunakan pena dan tinta. Yaitu dengan memasukkan liiqoh (benang sejenis sutra) kedalam dawah (sebutan untuk tempat tinta) agar mata pena tidak bersentuhan langsung dengan dinding dawah ketika mengambil tinta, karena hal itu dapat menyebabkan mata pena rusak dan pecah (ألق الدواة). Adanya benang dalam dawah juga berguna untuk menjaga kebersihan dan keindahan dalam menulis, karena mata pena tidak mengambil tinta secara langsung karena terhalang oleh benang yang berfungsi untuk menyerap tinta. Cara ini merupakan metode baru yang diajarkan oleh Rasulullah, mengingat tulis menulis merupakan hal yang baru ketika itu. Dan metode sederhana ini masih dipakai oleh para kaligrafer hingga masa seterusnya.

Metode pemotongan pena juga diajarkan oleh Rasulullah, yaitu dengan memotong mata pena secara miring (وحرف الْقَلَم). Metode ini dapat dilihat dari hadits Mua’awiyah sebelumnya. Pemotongan pena merupakan hal paling mendasar dalam penulisan kaligrafi dan menjadi hal terpenting yang menentukan kualitas tulisan.   Dituliskan dalam buku Al-Khat Al-‘Araby wa Adabihi bahwa rahasia seorang kaligrafer terletak pada pemotongan penanya (Muhammad Thohir, 1939:426).

Dalam hadits Muawiyyah yang diriwayatkan oleh Ad-Dailami secara langsung telah membuktikan bahwa Rasulullah memiliki peran besar dalam munculnya kaligrafi Islam. Karena kaligrafi sangat diutamakan untuk menulis ayat-ayat Al-Qur’an. Dalam hadits ini Rasulullah berpesan untuk menuliskan ayat Al-Qur’an dengan sebaik-baik tulisan yang indah sebagai bentuk pengagungan kita terhadap Allah (وَحسن الله). Al-Kurdi menjelaskan lebih lanjut, bahwa perintah untuk memperindah tulisan dalam hadits ini bukan hanya untuk penulisan basmalah saja, akan tetapi ditujukan untuk semua tulisan (Muhammad Thohir, 1939:13).

((يَا مُعَاوِيَة ألق الدواة وحرف الْقَلَم وانصب الْبَاء وَفرق السِّين وَلَا تغور الْمِيم وَحسن الله وَمد الرَّحْمَن وجود((

Belum cukup sampai di situ, tetapi Rasulullah juga mengajarkan cara menghapus tulisan yang salah hingga tulisan tidak dicoret atau ditulis ulang seperti sebelumnya. Dalam hadits Ali diceritakan bahwa ketika penulisan perjanjian Hudaibiyah, Suhail, salah satu para pembesar Quraisy tidak setuju dengan tulisan “Muhammad Rasulullah” yang tertulis dalam surat perjanjian, karena Quraisy ketika itu tidak mempercayai kenabian Nabi Muhammad. Oleh karena itu, Suhail meminta untuk dihapuskan kalimat “Muhammad Rasulullah”. Ali yang semula menolak akhirnya menggantinya dengan kalimat “Muhammad bin Abdillah” atas perintah Rasulullah setelah Rasulullah menghapus kalimat sebelumnya “Muhammad Rasulullah” dengan air liurnya (Shohih Muslim, tanpa tahun:1410).

 

Referensi:

Al-Farobi, Ishaq bin Ibrahim bin Husain. 2003 Mu’jam Diwanil Adab, jilid.1 (Kairo: Darul Syu’ub Lil-Shofahah wa Thiba’ah)

Al-Hamdzan, Ad-Dailami. 1986. Al-Firdaus Bima’tsuril Khithob, jilid. 5, cet.1 (Beirut: Darul Kutub Ilmiyah)

Al-Hamdzan, Ad-Dailami. 1986. Al-Firdaus Bima’tsuril Khithob, jilid. 1, cet.1 (Beirut: Darul Kutub Ilmiyah)

Al-Jundi, Mujahid Taufiq. 2008. Tarikhul Kitabah Al-Arabiyah Wa Adawatiha, cet.1 (Kairo, tanpa penerbit)

Al-Kurdi, Muhammad Thohir Abdul Qodir. 1939 . Al-Khat Al’Araby wa Adaabihi. (Tanpa penerbit)

An-Nisaburi, Muslim bin Hujaj. Tanpa tahun. Al-Musnad Ash-Shohih Al-Mukhtashor binaqlil ‘Adl ‘Anil ‘Adl Ilaa Rasulullah SAW, jilid 3 (Beirut: Darul Ihya At-Turats Al-‘Araby)

kbbi, https://kbbi.web.id/kaligrafi, akses 15 Januari 2020

 

Continue Reading

Ibnu Muqlah, Sang Menteri Pencetus Khot Mansub

ibnu muqlah

Ibnu Muqlah merupakan nama yang ‘wajib’ diketahui oleh setiap kaligrafer. Untuk
mencari siapa beliau, tidak terlalu sulit. Bahkan sudah sangat banyak artikel
membahas tentang biografi Ibnu Muqlah. Karena itu, sedikit ulasan berikut ini
kami harap bisa menjadi pelengkap dari informasi yang sudah ada.

Nama lengkap Ibnu Muqlah adalah Muhammad bin Ali bin al-Husain Ibnu Muqlah.
Kaligrafer era Daulah Abbasiyah yang tidak perlu diperkenalkan lagi karena kemasyhurannya. Lahir pada hari Kamis setelah ashar, pada akhir bulan Sawwal 272 H di Baghdad, meninggal pada hari Ahad, 10 Syawwal 328 H. Ibnu Muqlah adalah pemilik gagasan untuk mengubah bentuk khot dari kufi menjadi ‘bentuk dasar’ dari jenis khot yang kita lihat saat ini. Meskipun demikian, beliau juga bisa disebut sebagai penerus seorang kaligrafer pada akhir era Daulah Umawiyah yang bernama Quthbah Muharrar, karena usaha untuk memperbaiki dan mengubah khot kufi menjadi lebih indah, telah ada sejak akhir Daulah Umawiyah.

Ketika Islam mulai menyebar di jazirah Arab, tulisan yang dipakai oleh masyarakat ketika itu dikenal dengan nama khot al-Anbari al-Hiiry. Jenis ini ketika berpindah ke Hijaz disebut khot Hijazi. Khot Hijazi inilah yang menjadi cikal bakal bentuk khot naskhi. Namun demikian, hanya sedikit orang Quraisy saat itu yang bisa menulis khot Hijazi ini, tidak lebih dari belasan orang saja. Tonggak sejarah menyebarnya tulisan di kalangan umat Islam adalah ketika Islam berhasil memenangkan berang Badar dan berhasil menawan sejumlah tawanan. Untuk tawanan yang bisa menulis, maka tebusannya adalah mengajar menulis kepada 10 anak muslim Madinah. Sehingga tidak heran jika sebelum al-Qur’an selesai diturunkan, Rasulullah saw telah mempunyai sedikitnya 40 sahabat sebagai penulis al-Qur’an.

khot hijazi
Salah satu lembaran mushaf ditulis dengan khot Hijazi. Khot ini ditulis tanpa titik sebagaimana jenis khot Suriyani saat itu. (sumber qenshrin.com)

Ibnu Muqlah dalam mengubah khot Hijazi menjadi bentuk yang lebih indah dan lentur seperti yang kita lihat saat ini, telah melakukan perhitungan secara geometris untuk setiap bentuk huruf dengan titik sebagai ukuran. Ibnu Muqlah belajar khot kepada al-Ahwal al-Muharrar, bersama saudaranya, Abdullah bin Muqlah yang wafat sepuluh tahun setelahnya. Salah satu bukti kepiawaiannya dalam menulis, Ibnu Muqlah telah menyalin mushaf sebanyak dua kali.

Ibnu Muqlah menyebutkan bahwa pondasi tulisan yang benar serta indah bentuknya
minimal ada lima hal, yang lebih populer dengan husnu at-tasykil:

  1. Taufiyah; yaitu memenuhi hak setiap bagian huruf dengan bentuk tertentu
    sebagaimana mestinya. Seperti bentuk melengkung, lurus, miring dan sebagainya.
  2. Itmam; yaitu memberi hak pada setiap huruf dengan ukuran yang telah ditentukan.
    Seperti panjang, pendek, tebal dan tipis.
  3. Ikmal; yaitu menyempurnakan bentuk pada huruf (taufiyah) dengan kadar yang benar dan rasio yang tepat.
  4. Isyba‘; yaitu memberikan setiap huruf bagian tebal dan tipis sebagaimana mestinya. Pada bagian tertentu yang semetinya sama ditulis dengan ketebalan sama dan tidak berbeda-beda. Demikian pula pada huruf yang semestinya tipis, maka haknya pun harus sempurna ditulis dengan tipis.
  5. Irsal; yaitu menulis dengan tangan yang lancar dan tidak terputus-putus di beberapa bagian dikarenakan gemetar atau sengaja berhenti karena sebab lainnya.

Dalam sebuah riwayat disebukan bahwa Ibnu Muqlah adalah penulis perjanjian
antara Muslimin dengan Romawi, tulisan tersebut diletakkan pada Gereja
Konstantin. Pada hari-hari besar, tulisan tersebut dipamerkan kepada khalayak
karena keindahan tulisannya, dan ditetapkan sebagai salah satu hiasan pada
tempat suci bangsa Romawi.

Ibnu Muqlah lebih dikenal dengan gelar “al-wazir” yang berarti menteri. Gelar tersebut disematkan karena beliau pernah menjadi menteri dari pada masa tiga khalifah pemerintahan Bani Abbasiyah, di antaranya adalah Muqtadir Billah, kemudian al-Qahir Billah, lalu Arradhi Billah. Sementara nama “muqlah” yang berarti bola mata, diambil dari nama ibunya. Dimana ketika kecil, kakeknya selalu menimang sang ibu dan mengatakan “ya muqlata abiiha”. Sebutan muqlah inilah yang kemudian beliau warisi dari sang Ibu, sehingga kaligrafer besar kita, Muhammad bin Ali bin al-Husain lebih dikenal hingga saat ini dengan sebutan Ibnu Muqlah.

Selain kaligrafer yang mempunyai sumbangsih sangat besar; yaitu arsitek huruf yang merubah tulisan arab dari bentuk kufi menjadi bentuk lentur dan mempunyai ukuran titik seperti yang kita lihat sekarang, beliau juga seorang penyair handal, ahli pidato, dan sastrawan ulung. Di antara murid Ibnu Muqlah yang belajar khot darinya adalah; Muhammad bin Asad al-Katib (w.410) dan Muhammad as-Samsamani. Dari Muhammad bin Asad al-Katib ini, Ali Ibnu Hilal yang lebih dikenal sebutan Ibnu al-Bawwab belajar khot. [muhd nur/hamidionline]

Diterjemahkan dari buku Ahmad Shabri Zaid, Tarikh Khat Arabiy, Darul Fadhilah, (Kairo: 1998) hal. 43

Continue Reading

Kaligrafer Indonesia Juara Pertama di Lomba 7tepe7sanat Turki

huda purnawadi


Kembali seorang kaligrafer muda berbakat Indonesia menorehkan prestasi yang membanggakan. Ustadz Huda Purnawadi, kaligrafer dari Pati berhasil mengungguli kaligrafer dari negara-negara lain dan memperoleh posisi pertama pada cabang kaligrafi kategori jaly sulus, pada even 7tepe7sanat International Istanbul Classic Arts Competition tahun 2017. Prestasi ini menunjukkan hasil ketelatenan, kerjakeras, kesabaran dan kesungguhan. Selain itu, prestasi beliau tidak muncul secara instant, namun perlu waktu yang panjang dalam belajar maupun berkarya. Demikian pengakuan Ustadz Huda sebagaimana dilansir oleh fokuspati.

huda purnawadi
Ustadz Huda Purnawadi, Jaly Sulus – Juara 1 lomba 7tepe7sanat 2017.

Even yang digelar oleh pemerintah kota Uskudar Turki bekerjasama dengan yayasan wakaf Klasik Turk Sanati Vakfi tahun ini merupakan kali ke-2 setelah even perdana dilaksanakan tahun 2015. 7tepe7sanat International Istanbul Classic Arts Competition ini terdiri atas beberapa cabang lomba, di antaranya adalah kaligrafi (jaly sulus dan sulus-naskhi), gilding, miniature, paper cutting,  marbling, tile dan binding. Sedangkan tujuan utama dari penyelenggaraan even ini adalah menjaga kelestarian seni-seni klasik, termasuk kaligrafi.

Selain Ustadz Huda Purnawadi, satu putra Indonesia juga masuk pada urutan ke-lima, yaitu Ustadz Syahriansyah Bin Sirajuddin dari kalimantan, pada katogori yang sama. Pada even perdana tahun 2015, Ustadz Syahriansyah juga telah berhasil memperoleh posisi yang sama, juga pada kategori yang sama.

Syahriansyah
Ustadz ŞahryanŞah Sirajuddin, Jaly Tulus – Juara 5, lomba 7tepe7sanat 2017.

Prestasi Kaligrafer Indonesia Membanggakan!

Kedua kaligrafer Indonesia di atas termasuk kedalam sederet nama kaligrafer tanah air yang produktif dalam berkarya dalam dunia kaligrafi serta aktif mengikuti perlombaan-perlombaan internasional. Untuk menyebut beberapa nama yang juga pernah mengukir prestasi di lomba kaligrafi internasional seperti; Ustadz Isep Misbah, Ustadz Teguh Prastio, Ustadz Muhammad Zainuddin, Ustadzah Nur Hamidiyah, Ustadz Feri Budiantoro, Ustadz Alim Gema Alamsyah, Ustadzah Novitasari Dewi, Ustadz Jimly Ashari, Ustadz Darmawan dan lainnya. Keikutsertaan para kaligrafer tanah air dalam even lomba kaligrafi internasional, tentu membuka cakrawala baru, dan mau tidak mau diakui memberi warna baru dalam dunia kaligrafi di tanah air.

Apalagi partisipasi kaligrafer tanah air pada even tersebut, cukup baik bahkan membawa prestasi yang patut diapresiasi. Bahkan keberadaan mereka saat ini pun diperhitungkan oleh para kaligrafer lain. Pengalaman yang membuat kaligrafer matang, seharusnya didukung oleh even serupa di tanah air, atau metode pembelajaran yang mendukung lahirnya kaligrafer dengan kekuatan huruf yang mumpuni serta penguasaan yang baik terhadap kaidah. Tidak melulu eksplorasi warna dan bentuk baru yang cenderung jauh dari kaidah, bahkan membuat para pembelajar dan kaligrafer pemula bingung.

Tantangan Lomba Kaligrafi Indonesia

Kematangan para kaligrafer tahan air dalam lomba kaligrafi internasional juga akan memberikan wawasan tentang lomba kaligrafi yang baik. Lomba kaligrafi yang benar-benar mengedepankan kualitas tulisan dan menghargai orisinalitas karya seseorang. Lomba kaligrafi juga tidak hanya soal besarnya hadiah atau banyaknya bonus. Namun tidak berarti lantas mengabaikan hak yang sepadan bagi para pemenang, bahkan menunaikan hak tersebut telah menjadi konsekuensi logis dari sebuah lomba yang baik agar bisa menjadi contoh dan teladan.

Lomba kaligrafi yang saat ini diperlukan di Indonesia menurut penulis adalah lomba yang berkesinambungan dan mengacu kepada pembentukan mental dan karakter seorang kaligrafer maupun penyelenggara lomba yang kompeten dan berdedikasi tinggi. Even lokal setidaknya menjadi pemanasan kaligrafer tahan air untuk bersaing dalam even lebih besar. Sehingga tidak berkutat dan terjebak pada model lomba dan kaligrafi yang selama ini ada, dan bahkan memaksakan diri untuk diakui eksistensinya. Karena saat ini, pintu untuk bersaing secara global telah terbuka, dan saatnya menyiapkan genarasi yang akan datang, supaya lebih bisa berkiprah lebih dari yang sekarang sudah ada. Wallahua’lam. [muhd nur/hamidionline]

Continue Reading

Sejarah Urutan Huruf Arab dan Peran Nashr bin ‘Ashim


Bangsa Arab berbeda pendapat tentang jumlah huruf hijaiyah. Di antara mereka mengatakan bahwa jumlahnya 29 huruf; 25 huruf shahih, 3 huruf ‘illah (yaitu alif, wawu dan ya’), sedangkan yang 1 huruf mirip huruf ‘illah, yaitu huruf ha. Tetapi ada juga yang berpendapat bahwa huruf hijaiyah ada 28, dengan mengabaikan huruf lam alif, karena dianggap bukan huruf mandiri, akan tetapi tersusun atas dua huruf, yaitu lam dan alif. Dan menjadikan huruf pertama, yaitu alif sebagai pengganti huruf hamzah karena alif dibaca seperti hamzah jika di depan, di satu waktu alif juga dianggap sebagai huruf ‘illah, dilihat dari nama dan bentuknya.

Pendapat yang memasukkan lam alif sebagai satu huruf, menganggap lam alif sebagai huruf alif, dan mengabaikan keberadaan huruf lam. Karena lam pada dasarnya hanya dipakai untuk membantu penyebutan alif, yang tidak mungkin bisa dibunyikan dengan mandiri. Sedangkan dipilihnya lam sebagai pasangan alif, dan bukan huruf yang lain, karena lam juga menjadi pasangan alif dalam adat ta’rif (alif dan lam). Karena sebab ini pula, lam menyertai alif dalam huruf hijaiyah.

Lam alif adalah huruf terakhir yang masuk ke dalam huruf hijaiyah. Karena itu, lam alif tidak tersebut dalam urutan huruf yang disebut dengan “al-abjadiyah”. Urutan ini merupakan urutan huruf arab tertua yang telah ada sebelum Islam. Di mana para ahli ilmu bahasa dan rahasia huruf sepakat untuk menggolongkan huruf hijaiyah yang berjumlah 28 huruf ke dalam empat golongan; yaitu api, udara, air dan tanah. Huruf yang berjumlah 28 dalam urutan abjadiyah adalah sebagai berikut:

أبجد هوز حطي كلمن سعفص قرشت ثخذ ضظغ

Urutan di atas terdiri dari 8 kalimat yang kemudian dibagi menjadi dua bagian:

  • Syamsiyah: huruf yang jika bersambung dengan alif lam, maka lam tidak dibaca. Contohnya huruf syin dalam kalimat “Asy-Syamsu”.
  • Qomariyah: jika bersambung dengan alif lam, maka lam dibaca jelas. Contohnya huruf qaf dalam kalimat “Al-Qamaru”

Dari pembagian tadi, terdapat 14 huruf yang masuk kedalam syamsiyah dan 14 yang termasuk ke dalam Qamariyah. Pembagian yang seimbang inilah yang mungkin menjadi penyebab tidak masuknya huruf lam alif ke dalam huruf abjadiyah, dan dianggap sudah masuk ke dalam huruf hamzah (alif). Dengan demikian jumlah 28 huruf terjaga keseimbangannya.

Urutan huruf Abjadiyah di atas berlangsung dari zaman sebelum Islam hingga datangnya perubahan oleh salah seorang murid murid Abu al-Aswad ad-Du’aly, yaitu Nashr Ibn ‘Ashim (w. 89 H). Beliu adalah orang yang mengurutkan ulang huruf-huruf tersebut sehingga menjadi seperti susunan sekarang ini. Di samping itu, Nasr Ibn ‘Ashim juga orang pertama yang melatakkan titik di atas huruf sebagai pembeda antara huruf-huruf yang mempunyai bentuk yang sama, atas perintah dari Hajjaj bin Yusuf (w. 95 H), seorang panglima pada era Umayah.

Susunan baru Hasil ijtihad Nasr Ibn ‘Ashim yang kita kenal sekarang, menyertakan lam alif di dalamnya, dibagi sesuai dengan 3 kriteria:

  1. Huruf yang bentuknya berdiri sendiri, berjumlah 9.
  2. Huruf yang bentuknya mencakup 2 macam huruf, berjumlah 7.
  3. Huruf yang bentuknya mencakup 3 macam huruf, berjumlah 2.

Urutan baru ini meletakkan Alif pada urutan pertama huruf hijaiyah dengan pertimbangan bahwa alif adalah huruf halqi paling terlihat. Kemudian Nasr Ibn ‘Ashim meletakkan huruf yang bentuknya mencakup 3 huruf pada urutan setelah alif, disusul oleh huruf yang bentuknya mencakup 2 huruf, diikuti oleh huruf yang berdiri sendiri, dan meletakkan huruf illah bersama huruf ha’ di bagian akhir urutan, sehingga urutan baru tersebut menjadi seperti ini:

ا، ب، ت، ثـ ج، ح، خ، د، ذ، ر، ز، س، ش، ص، ض، ط، ظ، ع، غ، ف، ق، ك، ل، م، ن، و، ه، لا، ء، ي

Urutan yang detail di atas merupakan buah dari era kemajuan dalam menulis dan perhatian para ulama terhadap tulisan arab. Di mana urutan ini belum ada pada saat awal dikenalnya huruf arab, yang dikenal dengan urutan abjadiyah seperti yang telah disinggung di atas.

Demikian sekilas tentang urutan huruf arab yang tidak lepas dari peran dan perhatian para ulama, dalam menjaga dan mengembangkan serta mengenalkan huruf arab. Untuk dipelajari dan dikenal tidak hanya untuk kalangan orang arab, tetapi untuk seluruh umat manusia. Allahua’lam bisshawab. [muhd nur/ hamidionline.net]

Diterjemahkan dari buku Ahmad Shabri Zaid, Tarikh Khat Arabiy, Darul Fadhilah, (Kairo: 1998) hal. 30-33.

Continue Reading

Mengenal Istilah Kaligrafi; Kurrasah atau Amsyaq?

amsyaq hamidionline

Teman teman kalau belajar kaligrafi dengan Manhaj Hamidi, tentunya tidak terlepas dari seorang guru dan buku. Karena memang keduanya merupakan komponen dasar sebagai motor penggerak. Buku bagaikan peta, sedangkan guru adalah pemandunya, dengan peta dan pemandu, niscaya tidak akan tersesat. Artinya dengan guru dan buku, diharapkan belajar kaligrafi dapat ditempuh dan terselesaiakan dengan sukses.

Ok, kembali ke tema awal, biasanya buku tersebut biasa dikenal dengan istilah kurrasah. Bener kan? Kira-kira ada yang pernah berfikir nggak? Sebenarnya kurrasah itu apa sih?

Baiklah, disini saya akan sedikit berbagi, apa yang saya tahu, dan apa yang saya pelajari dari Ust. Muhammad Nur kemaren pada saat Musabaqah Khat Riq’ah di IQMA UIN Surabaya. Hitung-hitung jadi oleh-oleh buat teman teman dimanapun berada… hehehe…

Baiklah, sebelum masuk pada pembahasan lebih dalam, coba kita inget-inget lagi, kira kira kurrasah milik siapa saja yang digunakan dalam mempelajari khat dengan manhaj hamidi? Hayoo…. inget inget dulu.

Kalau temen-temen yang masih pada pelajaran Riq’ah, tentunya sudah tidak asing lagi dengan sebutan kurrasah Ustadz Yusuf Dzannun, iya kan?? Kalau ditanya, sampai mana pelajarannya? Masih di Riq’ah Dzannun. Itu sama artinya bahwa khat yang dipelajari masih menggunakan Kurrasah milik Ustadz Yusuf Dzannun, sama halnya ketika sudah pada Riq’ah Izzat, berarti kurasah milik Muhammad Izzat-lah yang digunakan sebagai pedoman. Dimana kedua kurrasah ini menjadi dasar pegangan pada jenis khat Riq’ah pada pembelajaran kaligrafi bermanhaj Hamidi.

Sama halnya ketika pada pelajaran diwani, kedua kurrasah ini masih sebagai pegangan, namun yang sedikit berbeda adalah jilidnya, dimana kurrasah diwani Izzat, ada dua jilid dari kurrasah izzat yang harus ditempuh agar selesai pada proses pembelajaran. Hingga jika digabungkan ada 3 kurrasah yang harus terselesaikan misinya. Mantab jiwa… hehehe

Kemudian, pada khat jaly diwani, kurrasah milik Ustadz Mushtafa Halim yang digunakan sebagai panduan. Adapun pada jenis nasta’liq ada 3 kurrasah, yaitu: kurrasah milik Hulushi Afandi, Sami afandi dan Yasari Zadah Musthafa Izzat. Kalau keterangan dari Ust. Feri Budiantoro bahwa kurrasah milik Hulushi Afandi adalah sebagai dasar, sedangkan dua lainnya untuk jaly (dengan ukuran mata pena yang lebih besar) dan sebagai pendalaman. Pada jenis Naskhi dan Sulust kurrasah yang menjadi acuan adalah milik Muhammad Syauqi.

Sementara itu dulu ya, sekarang kita masuk pada inti pembahasan. Sepertinya sudah pada penasaran nih sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan kurrasah? Iya kan iya kan… hehehe.

Oke deh, bersama ust. Muhammad Nur kemaren sempat sedikit membahas tentang makna istilah kurrasah. Dengan salah satu kitab yang berjudul Al-Lauhat al-Khattiyah fi Fan al-Khat al-Islamy karangan Kaligrafer Aljazair, murid Hamid Aytac, Muhammad Said Syarify. Buku terbitan Dar Ibn Katsir dan Dar al-Qadiry- Beirut ini ini dibawa oleh mas Mujib sebagai buah tangan dari Aljazair kemaren, hehehe yee.. Alhamdulillah.

Di dalam kitab itu disebutkan bahwa istilah kurrasah memiliki kesamaan arti dengan istilah masyq, bentuk jama’nya adalah amsyaq. Sedangkan pengertian masyq sendiri merupakan tulisan yang khusus ditulis oleh guru yang dimaksudkan sebagai buku panduan bagi para muridnya.

Maka jika kita perhatikan lebih dalam, kita akan menemukan istilah amsyaq Muhammad Syauqi yang tertera pada kurrasah suluts dan naskh, amsyaq muhammad izzat fi al-qir’ah, diwani dst. Lebih jelasnya akan diberikan salah satu contoh pada gambar yang tertera dibawah ini. Hal ini menunjukkan bahwa goresan-goresan yang ditulis oleh guru tersebut memang digunakan sebagai buku panduan bagi murid-muridnya. Agar keilmuan nya dapat tersampaikan dengan baik, tentunya dibutuhkan seorang guru sebagai penyambung tali keilmuanya.

Maka, sungguh amatlah bersyukur, kita disini diberikan kesempatan untuk belajar khat dengan Manhaj Hamidi sebagai salah satu disiplin keilmuan kaligrafi berbasis sanad. Sangat disayangkan sekali jika kesempatan ini hanya terlewatkan begitu saja. Oleh sebab itu, yuk kita sama sama semangat belajar kaligrafi dengan baik dan benar. Mudah-mudahan ada manfaatnya, aamiin. Sekian dari saya. Selamat berjuang kawan.

Salam ta’dzim.
Ahmad Yasir Amrullah.

Continue Reading

Nuria Garcia Masip; Sosok Langka Kaligrafer Wanita

Nuria Garcia Masip lahir tahun 1978 di Ibiza, Spanyol. Hidupnya berpindah-pindah antara Spanyol dan Amerika. setelah menyelesaikan gelar B.A. pada Washington University, tahun 1999 Ustadzah Nuria Garcia pergi ke Maroko untuk mendalami Seni Islam yang dia gemari, dan pada rentang waktu tersebut, beliau belajar khot maghribi kepada Ustadz Belaid Hamidi. Pada tahun berikutnya (2000) beliau kembali ke Washington D.C dan mulai belajar khot riq’a, sulus, dan naskh dari Kaligrafer Amerika, Muhammad Zakaria.

Pada tahun 2004, Ustadzah Nuria Garcia pindah ke Istanbul dan melanjutkan belajar sulus serta naskh langsung dari guru gurunya (guru dari Muhammad Zakaria), yaitu Syaikh Hasan Çelebi dan juga dari Ustadz Dawud Bektasy. Tahun 2007, atas dukungan dan sponsor IRCICA (Research Center for Islamic History, Art and Culture), Nuria Garcia memperoleh ijazah pada dua khot tersebut (tsulus dan naskh) dengan tanda tangan dari tiga gurunya (Hasan Çelebi, Dawud Bektasy dan Muhammad Zakaria).

Saat ini, Ustadzah Nuria Garcia Masip tinggal di Munic, Jerman. Namun demikian, secara rutin dia mengadakan kunjungan ke Turki untuk terus belajar dan mengambil ilmu dari para Master Kaligrafi Turki. Kesibukan beliau tidak lepas dari membuat karya dan mengadakan pameran2 Kaligrafi di Spanyol, Turki, Dubai, Kuwait dan lain-lain. Selain itu, Ustadzah Nuria Garcia juga aktif mengadakan workshop dan pelatihan seputar kaligrafi seperti di Zaragona (Spanyol), Capetown (Afrika Selatan), dan juga di Washington D.C.
Selain pemateri warkshop kaligrafi dan pameran baik tunggal maupun bersama di berbagai negara, berikut ini daftar lomba (musabaqah) kaligrafi Internasional yang pernah beliau menangkan ikuti:

2016 Juara pertama, Pameran Noor, Sharjah International Calligraphy Biennial, UAE.
2013 Juara kedua pada kategori jaly sulus, IRCICA International Calligraphy Competition. Istanbul, Turkey.
2012 Juara pertama, kategori kaligafi klasik, Lomba Kaligrafi Internasional, Aljazair.
2012 Juara tiga, Kategori sulus, Lomba Kaligrafi Albaraka Türk, Istanbul, Turkey.
2010 Juara empat, Ketegori sülüs, IRCICA International Calligraphy Competition. Istanbul, Turkey.
2010 Juara harapan, kategori sulus, Al Burda Competition, Abu Dhabi, U.A.E.
2008 Juara ke-3 kategori Sulus, pada Musabaqah al-Barakah, diadakan di Istambul Turki.
2008 Juara harapan, kategori Sulus-Naskh, pada Musabaqah al-Burda, diadakan di Abu Dhabi, Emirat.
2007 Juara harapan, kategori Sulus, pada 7th International Calligraphy Competition IRCICA, Turki.
2003 Juara harapan kategori Riq’a, pada 6th International Calligraphy Competition IRCICA, Turki.

source: www.nuriaart.com

Continue Reading

Jenis Karya Kaligrafi 2 (Muraqqa’ah)

Jenis karya kaligrafi muraqqa’ah adalah satu jenis lain dari karya kaligrafi yang dikenal pada era Usmani. Singkatnya muraqqa’ah adalah kumpulan dari qith’ah yang disusun menjadi satu. Dengan demikian muraqqa’ah pun bermacam-macam, tergantung pada jenis kaligrafi yang dipakai dalam qith’ah yang menyusunnya. Seperti misalnya muraqqa’ah suluts-naskhi, muraqqa’ah muhaqqaq-rayhani dan lain-lainnya.

Muraqqa’ah mempunyai keunikan dengan bersambungnya naskah yang tertulis dari satu qith’ah ke qith’ah selanjutnya. Selain naskah dan makna yang sambung menyambung, muraqqa’ah juga tersusun dari bentuk qith’ah yang identik dari segi jumlah barisnya, lebar dan panjang, serta jarak antar baris pada setiap qith’ah, yang menambah keunikan dan keindahan muraqqa’ah. Karena keunikan ini, maka muraqqa’ah membentuk susunan qith’ah berseri yang naskah dan maknanya saling bersambung dengan jenis kaligrafi yang konsisten dalam bentuk huruf dan ukuran setiap barisnya.

Jenis Karya Kaligrafi 2 (muraqqa'ah)
Contoh Cover Muraqqa’ah

Karena tuntutan ini pula, muraqqa’ah lebih banyak ditulis oleh satu orang kaligrafer yang dikenal dengan istilah muraqqa’ah muraqqamah. Namun demikian, ada juga muraqqa’ah yang merupakan kumpulan dari qith’ah yang ditulis oleh beberapa orang kaligrafer. Jenis ini oleh para kaligrafer dinamakan dengan istilah muraqqa’ah majmu’ah. [muhd nur/ hamidionline]

*Disarikan dari buku al-Madrasah al-‘Utsmaniyyah lifannil Khattahil ‘Arabi, Dr. Idham Muhammad Hanas, Maktabah Imam Bukhari, Kairo, 2012, h. 178

Di bawah ini merupakan contoh muraqqa’ah oleh beberapa kaligrafer. Di antaranya adalah Hafidz Osman yang menulis kasidah “Banat Su’ad”, dan juga Syaikh Aziz Rifa’i, dan juga seorang kaligrafer Muhammad Washfi yang menulis kasidah “at-Thantharani”

Muraqqa’ah Hafidz Osman

Muraqqa’ah Syaikh Aziz Rifa’i

Continue Reading
1 2 3 6