Perhatikan Ini Sebelum Memutuskan Untuk Belajar Khot

Belajar khot memang menarik, terutama bagi pemerhati seni Islam. Salah tujuannya adalah menghidupkan dan menjaga seni yang telah berkembang seumur dengan peradaban Islam ini. Keinginan untuk menjadi pewaris para kuttab wahyi (penulis wahyu) biasanya menjadi pemicu semangat belajar. Namun tidak sedikit mereka yang belajar menemukan kendala di tengah jalan, lalu berhenti bahkan meninggalkan khot yang dulu ingin di dalaminya. Untuk menjaga semangat dan tetap berada di track yang benar, perlu kiranya memperhatikan nasehat berikut ini.

Masuklah Dari Pintu Yang Benar
Janganlah kamu memasuki dunia khot dengan pandangan yang meremehkan dan menganggapnya enteng, sehingga mungkin semangatmu mudah menurun di tengah jalan, ketika menemukan kenyataan yang berbeda. Tetapi masuklah dunia khot dengan semangat tinggi, dan tanamkan pada dirimu bahwa khot adalah ilmu yang luas dan dalam, sehingga memerlukan kesungguhan dan keseriusan. Karena hanya dengan semangat yang tinggi, orang bisa menganggap ringan setiap tantangan di jalan yang dilaluinya, sehingga berhasil mencapai cita-cita yang diinginkannya.

Sesungguhnya Ilmu Itu Dengan Belajar
Karena itu bisa dikatakan mustahil, kamu dapatkan ilmu hanya dengan banyak bicara. Baik itu memuji-muji tulisan orang ataupun juga mengkritik dan mencari kekurangannya. Ilmu memerlukan seni dalam mencarinya, serta kesungguhan dalam mengambilnya. Karena itu hendaknya kamu tidak sibuk dengan hal-hal yang remeh temeh. Karena niatmu yang benar dan baik dalam mencari ilmu ini, akan berbanding lurus dengan terbukanya pintu-pintu rahasia khot di depanmu dengan lebar, sebagai wujud dari pemberian Allah atas kesungguhanmu.

Tangan Adalah Alat Yang Tidak Bisa Berpikir
Karenanya, jika kamu ingin menguasai khot, maka belajarlah dengan menggunakan akalmu untuk berpikir serta memahami teori, baru berlatih dan menguasainya dengan wasilah mata. Jika kamu bisa menggunakan mata dengan jeli dan maksimal dalam melihat kaidah dan contoh huruf-huruf, maka kamu akan sangat terbantu untuk menguasai khot dalam waktu yang singkat. Namun sebaliknya, jika pun kamu rajin menghabiskan waktunya untuk menulis, namun tanpa melihat, menimbang, dan berpikir terlebih dahulu, maka kamu akan lama untuk sampai kepada pemahaman dan keindahan tulisan yang diinginkan.

Jangan Kamu Pecah Konsentrasimu!
Untuk bisa fokus, maka perlu konsentrasi pada satu masalah saja. Akan sangat melelahkan jika konsentrasimu terbagi untuk beberapa pekerjaan sekaligus. Jika pun bisa, maka pekerjaan itu akan mendapatkan sedikit bagian dari konsentrasimu, sehingga hasilnya pun kurang maksimal, dan biasanya memerlukan waktu yang lebih lama. Dampaknya, bisa membuat orang menjadi putus asa, apalagi jika semangatnya kurang dan kemauannya lemah.

Orang sukses adalah mereka yang mampu konsentrasi untuk memulai satu pekerjaan, kemudian menyelesaikannya dengan maksimal, lalu pindah kepada pekerjaan lain, dengan memanfaatkan apa yang sudah dicapai sebelumnya, untuk mencapai tujuan berikutnya. Di sinilah letak efektifnya belajar dari satu jenis khot, lalu pindah kepada khot lain secara bertahap, sebagaimana yang diterapkan pada Manhaj Hamidi.

Jangan Merasa Dirimu Telah Maju, Padahal Kamu Tahu Kapasitasmu!
Pada hakekatnya, seseorang itu lebih tau tentang dirinya daripada orang lain. Karenanya, tidak mungkin dia akan menipu dirinya sendiri. Contohnya adalah dengan menyembunyikan kekurangannya dengan mencari solusi yang bersifat temporal dan lebih bersifat menghiburmu semata. Seperti menulis huruf, kalimat atau karya dengan warna-warni, isyarat-isyarat titik atau lainnya, sehingga terlihat indah dan menawan. Atau karena seseorang tidak mampu menulis naskah panjang, maka memilih naskah yang pendek untuk dijadikan karya, agar terlihat lebih maksimal dalam mengerjakannya.

Atau juga dengan berpindah kepada guru lain, karena merasa gurunya tidak cocok, terlalu syadid (ketat) dalam mengoreksi hurufnya sehingga dia merasa lama, akhirnya dia pun tidak pernah bisa menyelesaikan pelajaran karena ketidak sabaran tersebut. Karena hakekatnya bukan gurunya yang syadid, tetapi dia belum bisa menulis seperti yang selayaknya. Dan banyak kasus lain yang bersumber dari kelemahan dirinya, tetapi ditutupi dengan ketidak jujuran dan merasa sudah mendapatkan solusi. Padahal kekurangan tadi masih melekat dan belum berhasil diatasinya. [muhd nur/hamidionline]

Sumber: Dari tulisan Ustadz Zaki al-Hasyimi, diterjemahkan dengan bebas oleh Muhammad Nur.

Continue Reading

Khat Kufi dan Perannya dalam Sejarah Penulisan Al-Qur’an

kufi masahif

Melihat dari keindahan Al-Khat ‘Arabi tentu tidak terlepas dari aspek perkembangan dan pembaharuan dari sejak awal munculnya khat ini, baik dari segi bentuk dan jenisnya. Karena tidak ada sesuatu yang sempurna dalam satu tahapan. Semuanya membutuhkan proses untuk sampai pada tahap penyempurnaan. Begitupula dengan khat kufi. Salah satu khat yang termasuk dalam Al-Khuttut Al-Sittah atau lebih sering dikenal dengan Al-Aqlam As-Sittah (Kufi, Tsuluts, Naskhi, Riqa, Muhaqqaq, Tauqi).

Jika membicarakan tentang Khat Kufi, maka tidak akan terlepas dari aspek sejarahnya. Karena khat ini merupakan khat tertua dalam dunia Arab, dan menjadi salah satu saksi dalam sejarah kodifikasi penulisan Al-Qur’an.

Khat Anbar sebagai sejarah awal Khat Kufi

Sejarah kodifikasi Al-Qur’an dimulai sejak masa pemerintahan Abu Bakar Ash-Shidiq atas usulan Umar bin Khattab melihat banyaknya para qurra yang meninggal pada perang Yamamah. Jauh sebelum itu, pada awal datangnya Islam, Rasullullah telah memilih beberapa shohabah untuk menjadi kuttabul wahyi yang bertugas untuk menuliskan wahyu sesuai dengan apa yang diterima oleh Rasullullah. Perlu diketahui bahwa kuttabul wahyi merupakan tugas mulia dan istimewa, mengingat banyaknya masyarakat yang tidak bisa menulis pada saat itu. Untuk itu, makalah ini mencoba membahas sejarah tulisan (khat) dan perannya terhadap penulisan Al-Qur’an pada kodifikasi awal.

Jika merujuk pada zaman munculnya tulisan Arab, maka tidak ada satupun literatur yang dapat menyebutkan secara pasti akan tanggal maupun tahunnya. Akan tetapi, beberapa literatur mengatakan bahwa tulisan (khat) Arab pertama kali dibentuk oleh Basyar bin Abdil Malik (saudara ipar Abu Sufyan) dengan model Khat Nabati. Dari Khat Nabati inilah muncul tiga pencetus pertama tulisan Arab yang memodifikasi ulang dari Khat Nabati. Ketiga pencetus ini lebih dikenal dengan sebutan “Al-Yad Al-Ulaa”, mereka adalah Maromiroh bin Marroh (مرامرة بن مرة), Aslam bin Sadroh (أسلم بن سدرة) dan ‘Amir bin Hadroh (عامر بن حدرة) yang semuanya berasal dari Anbar. Sejak saat itulah kota Anbar menjadi kota pertama munculnya tulisan Arab, dan tulisan Arab dikenal dengan Khat Anbari dinisbatkan pada tempat munculnya khat ini.

Bertahun-tahun setelahnya, khat Anbari dipelajari oleh Utsman bin Affan dan Marwan bin Hakam sebelum datangnya Islam dalam satu kelas yang sama. Khat yang sama juga dipelajari oleh Mu’awiyyah bin Abi Sufyan, Ali bin Abi Thalib dan Zaid bin Tsabit. Merekalah yang nantinya akan menjadi kuttabul wahyi pilihan Rasullullah.

Rasullullah sebagai penggerak penyebaran Khat dalam Islam

Ketika Islam datang, Rasullullah sangat memperhatikan kemajuan umatnya dalam hal tulis-menulis mengingat bahwa masyarakat Jahiliyyah sangat awam dengan tradisi menulis. Tidak heran, karena peralatan tulis-menulis jarang ditemukan pada masa Jahiliyyah di samping adat, budaya dan kebiasaan Jahiliyyah yang memang belum membutuhkan tulisan. Bukan hanya itu, dalam pendapat lain mengatakan bahwa Rasulullah juga berperan dalam estetika Al-Khat Al-Islamy.

Dukungan Rasullullah dalam gerakan khat dapat dilihat sejak Rasullullah hijrah ke Madinah. Hal pertama yang dilakukan Rasul adalah membangun masjid dan mengadakan halaqoh “tulis menulis”, untuk itu secara khusus Rasullulah memilih sendiri guru yang akan mengajarkan halaqoh ini, salah satunya adalah ‘Abdullah bin Sa’id bin ‘As dan ‘Ubadah bin Shomit.

Bukan hanya itu, tetapi Rasullullah juga menjadikan tebusan bagi tawanan perang yang dapat menulis dan membaca untuk mengajarkannya kepada umat muslim di Madinah.

Proses pembelajaran tulis-menulis ternyata tidak hanya terfokus pada laki-laki saja, tetapi Rasullullah juga mendukung dan menyemangati para wanita muslim untuk belajar dan mengajarkan khat. Seperti Asy-Syifa binti ‘Abdillah, Hafshoh ummul mu’minin, Ummu Kultsum binti Uqbah dan ‘Aisyah binti Sa’ad bin ‘Ibadah.

Untuk itulah Rasullullah memerintahkan Hafshoh ra. untuk belajar menulis (khat) kepada Asy-Syifa binti ‘Abdillah, agar ia dapat mengajarkan para wanita muslim akan tulis-menulis. Maka disebutkan dalam sejarah bahwa Hafshoh merupakan salah satu wanita pertama yang mempelajari khat. Al-khatthatah al-ulaa fil Islam.

Berbeda dengan bentuk tulisan sebelum datangnya Islam, karena ketika Islam datang dengan semangatnya terhahap tulisan (khat) maka banyak umat muslim yang mulai memperindah bentuk dan huruf dalam khat. Hal tersebut dimulai sejak Rasullullah memilih sendiri para kuttab –sebutan untuk penulis- untuk menuliskan wahyu dan surat-surat penting yang akan disampaikan para raja-raja sekitar. Sejak saat itu, para kuttab berlomba-lomba untuk memperindah khat masing-masing, karena Rasullullah hanya memilih Ajwad Kuttab, penulis terbaik dengan tulisan yang terindah.

Khat Kufi dan sejarah penulisan awal Al-Qur’an

Tradisi tulis-menulis pun dimulai sejak saat itu. Terlebih ketika Rasullullah memilih beberapa sahabatnya untuk menjadi kuttabnya. Baik penulis wahyu maupun penulis surat untuk diberikan kepada raja-raja sekitar. Kuttab, sebutan untuk penulis, seperti sekertaris pada masa sekarang. Disebutkan dalam sejarah bahwa Rasullullah memiliki 42 orang Kuttab. Dan salah satu kuttabul wahyi yang terkenal adalah Zaid bin Tsabit.

Seiring berjalannya waktu, Khat Anbar semakin berkembang. Dapat dilihat dari bentuknya yang memiliki perkembangan di setiap waktunya. Khat inilah yang dipakai dalam penulisan ayat Al-Qur’an masa kodifikasi awal. Pada masa itulah, Rasullullah menyuruh para penulis istimewa untuk menuliskannya di hadapan Rsaulullulah ketika ayat diturunkan, jika terdapat kesalahan dalam penulisan, maka Rasulullah memberitahukannya.

Dari Zaid bin Tsabit ia berkata bahwa ia pernah menuliskan wahyu pada masa Rasulullah SAW. Ketika itu Rasulullah mendiktekannya, dan ketika ia telah selesai menulis maka Rasulullah memerintahkan Zaid untuk membacakannya, maka Zaid pun membacakan tulisannya dihadapan Rasulullah, jika terdapat kesalahan, maka Rasulullah akan memberitahukannya. Ketika itu ayat-ayat Al-Qur’an masih ditulis dalam lembaran-lembaran kulit, daun, tulang pipih, serta pelepah kurma yang berbeda-beda sesuai dengan situasi turunnya ayat.

Pada masa pemerintahan Abu Bakar Ash-Shiddiq, dimulailah periode kedua kodifikasi Al-Qur’an atas usulan Umar bin Khattab melihat banyaknya qurra’ dan huffadz (penghafal Al-Qur’an) yang meninggal pada perang Yamamah. Pada masa inilah, Al-Qur’an yang dituliskan para kuttabul wahyi lalu dikumpulkan menjadi satu dan disimpan oleh Abu Bakar hingga ia wafat.

Beberapa lembaran ditulis menggunakan Khat Anbar, dan lembaran lainnya ditulis menggunakan Khat Makki dan Khat Madani sesuai tempat ditulisnya tiap-tiap lembaran.

Dari Khat Anbar inilah yang menjadi asal muasal Khat Kufi dan menjadi asas tulisan dalam penulisan Al-Qur’an hingga akhir kekhilafahan Khulafa Rosyidin. Penamaan khat Kufi dikenal sejak ditaklukkannya Iraq oleh Sa’ad bin Abi Waqqosh pada masa kekhalifah Umar bin Khattab pada tahun 18 H.

Ketika itu, Umar mengirim sebagian umat muslim untuk menempati kota Bashroh dan Kufah tepat setelah kota itu ditaklukkan. Pendapat lain mengatakan bahwa para pendatang dari Madinah mengenalkan khat yang mereka kenal ke Kufah hingga terjadi perkembangan bentuk dan keindahan di dalamnya hingga setelahnya disebut sebagai Khat Kufi. Sejak saat itulah, khat Arabi muncul dan berkembang di Khufah mengikuti perkembangan pemerintahan Islam yang berpusat di Kufah.

Seperti penamaan khat lainnya, disebut “Khat Kufi” karena letaknya di Kufah. Bahkan kemudian Khat Kufi mampu mengungguli keindahan Khat Makki dan Khat Madani pada saat itu. Maka, tidak dapat dipungkiri jika khat Kufi menduduki peringkat teratas, bahkan nama khat ‘Arabi lebih dikenal dengan nama “Khat Kufi” karena tradisi menulis lebih banyak menyebar di Kufah dan tersebar melalui Kufah di samping banyaknya para khattat dari Kufah yang sangat memperhatikan keindahan, bentuk, gaya dan seni dari setiap hurufnya melebihi Khat Madani dan Khat Makki.

Disebukan dalam buku ‘Tarikhul Khat wa Gharaib Rasmihi’ bahwa mushaf pada abad pertama hingga abad kelima hijriyah dituliskan dengan Khat Kufi, dengan pusat penulisan mushaf yang berpusat di masjid Kufah. Salah satu contoh mushaf tertua yang ditulis menggunakan khat Kufi dapat dilihat di museum seni Islam Kairo, ditulis di atas lembaran kulit kijang dengan tinta hitam.

Sumber:
Mujahid Taufiq Al-jundi, Tarikh al-Kitabah wa Adawatiha, Cet.1, 2008
Muhammad Thahir Abdul Qodir Al-Kurdi, Tarikh Al-Khot Al-‘Araby wa Adabihi, Cet. 1, 1939
Muhammad Thahir Abdul Qodir Al-Kurdi, Tarikhul Qur’an wa Gharaib Rasmihi, Cet. 1, (Jeddah: 1365)
Ahmad Shobri Zayid, Tarikh Al-Khat Al-‘Arabi wa A’lamul Khottotin (Kairo: Darul Fadhilah, 1998)

Continue Reading

Menelisik Istilah Rasm Utsmani; Tulisan Ringan Untuk Para Penulis Al-Qur’an

Rasm yang terletak dalam Mushaf Utsmani merupakan salah satu rahasia dalam penulisan mushaf Al-Qur’an, terkait beberapa kalimat dalam Al-Qur’an. Para sahabat menulis Mushaf Utsmani dengan model khusus yang berbeda dari kaidah penulisan imla, yang meliputi kaidah penghapusan (hadzf), penambahan (ziyadah), penulisan ha (hamz), penggantian (badal), penyambungan (Washl), pemisahan (Fasl). Masih tentang Rasm ini, ada baiknya Anda merujuk kembali artikel tentang hubungan rasm dengan Qiraat serta contohnya dalam mushaf.

Pembahasan mengenai Rasm Utsmani tidak akan pernah terlepas dari Mushaf Utsmani itu sendiri. Mushaf Utsmani ditulis pada era Utsman bin Affan sebagai kodifikasi Al-Qur’an yang ketiga, melihat banyaknya umat Islam kala itu yang saling menyalahkan bacaan antara satu dengan yang lainnya. Tidak hanya itu, sebagian orang bahkan mengkafirkan sebagian yang lain akibat perbedaan bacaan dan sedikitnya pengetahuan umat tentang bacaan Al-Qur’an yang diturunkan dengan lahjah yang lain. Oleh karena itu, Utsman bin Affan meminta Zaid bin Tsabit untuk menuliskan kembali Al-Qur’an dengan satu lahjah, yaitu lahjah Quraisy. Setelah proses pentashihan yang panjang hingga dibentuk tim kodifikasi Al-Qur’an, mushaf yang dituliskan oleh Zaid disebar ke berbagai kota. Mushaf ini kemudian disebut sebagai mushaf Utsmani hingga sekarang karena penulisannya dilakukan pada era Utsman bin Affan atas perintahnya.

Sebagaimana Al-Qur’an yang disebarkan menggunakan satu lahjah yang telah disepakati, penulisan yang digunakan pada tiap mushaf yang disebarkan pun menggunakan satu model Rasm, yang selanjutnya disebut dengan Rasm Mushaf Utsmani, agar umat Islam dapat membaca Al-Qur’an melalui satu bentuk tulisan. Karena, perbedaan qiraat akan menyebabkan perbedaan rasm yang ditulis. Oleh karena itu, Utsman bin Affan mengirimkan imam kepada masing-masing kota untuk mengajarkan tentang cara pembacaan mushaf Utsmani dengan rasmnya. Untuk itulah, penulisan Al-Qur’an pada masa setelahnya wajib mengikuti Rasm Utsmani.

Hal ini dilakukan melihat perbedaan tulisan dan rasm pada beberapa mushaf sebelum masa kodifikasi Utsman. Diantaranya penulisan ((لئن أنجانا)) dalam surah Al-An’am yang ditulis menggunakan alif pada mushaf Kufi, sedangkan pada mushaf lainnya menggunakan huruf ta setelah ya ((أنجيتنا)). Perbedaan yang lain ditemukan dalam ayat ((كانوا أشدهم منهم قوة)) pada beberapa mushaf, sedangkan dalam mushaf Syami ditulis dengan menggunakan kaf ((منكم)). Dan beberapa kalimat lain seperti menghilangkan alif pada kaidah yang semestinya, mengganti ya dengan alif dan sebagainya.

Ada perbedaan pendapan mengenai rasm Utsmani, sebagian mengatakan itu merupakan bentuk ijtihat sahabat. Pendapat yang lain mengatakan bahwa pada masa Rasulullah SAW, Rasulullah SAW sendiri yang mendiktekan Zaid bin Rsabit dalam penulisan Al-Qur’an melalui talqin dari Jibril alaihi salam. Seperti penulisan wakhsyaunii dalam surah Al-Maidah ditulis dengan huruf ya’ sedangkan dalam surah Al-Maidah dengan menghapusnya (ya) pada dua tempat di dalamnya. Sedangkan dalam riwayat lain mengatakan bahwa penulisan rasm Utsmani sesuai talaqi dengan Rasulullah pada masa kodifikasi awal, bukan bentukan baru yang dibuat sahabat semata.

Sedangkan terkait hukumnya, tidak ada perbedaan pendapat antara para ulama Semuanya sepakat bahwa penulisan ayat A-Qur’an wajib mengikuti rasm mushaf Utsmani, khususnya bagi mereka yang awan terhadap qiraat yang berbeda dalam Al-Qur’an. Dalam hal ini, Baihaqi mengatakan bahwa siapa saja yang ingin menulis mushaf, maka ia harus mengikuti penulisan yang tertulis di dalamnya, dalam hal ini berarti rasm mushaf Utsmani. Sedangkan untuk anak kecil yang sedang belajar Al-Qur’an, sebagian ulama memperbolehkan untuk tidak mengikuti rasm Utsmani agar mempermudah dalam pembelajarannya.

Muhammad Thahir menuliskan dalam bukunya Tarikhul Qur’an wa Gharaib Rasmihi tentang tiga kelebihan dalam pemakaian rasm Utsmani. Pertama, membantu umat khususnya era modern dalam tata cara penulisan mushaf. Kedua, menghindari keraguaan dalam penulisan dalam lahjah yang berbeda seperti yang dituliskan sebelumnya. Ketiga, untuk mengetahui makna yang harus dipotong atau disambung dalam beberapa kalimat Al-Qur’an.

Salah satu bentuk rasm utsmani dapat dilihat dari penulisan basmalah yang menghilangkan 3 alif di dalamnya. Pertama, alif dalam penulisan بسم kedua alif dalam penulisan الله ketiga alif dalam penulisan الرحمن, dengan bacaan sesuai dengan kaidah mad dalam pekaidah penulisan yang kita tahu, yaitu باسم اللاه الرحمان الرحيم.

Bentuk lainnya dapat dilihat dari kalimat ((الملئكة)), ((الإنسن)), ((الشيطن)), ((الصرط)), ((العلمين)) dengan menghilangkan alif dan digantikan dengan tanda mad disetiap huruf yang dibaca panjang.

Dalam rasm Utsmani juga ditemukan beberapa bentuk penulisan asing, seperti:

Rasm pada kalimatأفإين مات ditulis dengan penambahan huruf ya sebelum nun

Rasm pada kalimat والسماء بنينها بأييد dan kalimat بأييكم ditulis dengan dua huruf ya pada dua kata yang berbeda.

Rasm pada kalimat سأوريكم دار الفيقين ditulis dengan menambahkan huruf wawu setelah alif

Rasm pada kalimat وجايء يومئذ بجهنم dengan menambahkan hurud alif setelah jim. Dan masih terdapat beberapa penulisan asing dalam rasm Utsmani. Untuk itu, Muhammad Thahir dalam bukunya secara khusus menjelaskan secara terperinci mengenai ayat-ayat yang tertulis menggunakan rasm Utsmani.

Rasm Utsmani merupakan rasm khusus yang digunakan dalam penulisan ayat Al-Qur’an atau mushaf, sedangkan dalam penulisan harian tidak dipergunakan karena bentuk penulisannya yang berbeda dari kaidah imla. Kecuali pada beberapa kalimat dan kata yang sering digunakan dalam keseharian. Seperti kalimat: ((بسم الله الرحمن الرحيم)), ((لا إله إلا الله)), ((الله)), ((ذلك)), ((هأنتم)), ((هؤلاء)) dan lainnya, menggantikan tulisan dalam kaidah imla, seperti ((باسم اللاه الرحمان الرحيم)), ((لا إلاه إلا اللاه)), ((اللاه)), ((هاذا)), ((ذالك)), ((ها أنتم)), ((ها ألاء)).

Melihat penulisan mushaf yang ditulis dengan rasm Utsmani berbeda dengan penulisan kaidah imla, maka dianjurkan bagi para penulis Al-Qur’an untuk memperhatikan rasm Utsmani sebelum menuliskan ayat, untuk menghindari kesalahan dalam penulisan. Karena jika penulisan hanya mengandalkan hafalan semata, maka ditakutkan akan terdapat perbedaan dalam rasm yang dituliskan.

Penulis: Nindhya Ayomi.
Sumber: Muhammad Thahir ibn Abd al-Qadir al-Kurdi, Tarikh al-Qur’an wa Gharaibu Rasmihi wa Hukmuhu, (Jeddah: 1365 H).

Continue Reading

Belajar Khot? Perhatikan Nasehat Berikut Ini!

Jadi Anda sedang belajar khot? Tentu saja pertanyaan tersebut tidak bermaksud mencari jawaban. Karena hakekatnya manusia hidup tidak berhenti untuk belajar. Karena itu nasehat di bawah ini tidak sebatas untuk mereka yang sedang belajar, tetapi untuk siapa saja yang sedang menekuni khot, atau yang mungkin sudah menjadi master sekalipun. Supaya tidak lupa arah, perlu kiranya mengetahui beberapa kesalahan yang sering terjadi tanpa kita sadari. Supaya terhindar dari kesalahan tersebut, mari sama-sama kita simak:

Pertama, kurang perhatian terhadap kebersihan dan kerapihan alat-alat yang dipakai. Dalam riwayat masyhur dikatakan bahwa tulisan yang baik berasal dari lima sumber; kekuatan tangan, pena yang bagus, kertas yang berkualitas, tinta yang mengkilap, dan menahan nafas ketika menulis.

Kedua, tergesa-gesa dalam menulis kalimat padahal belum menguasai mufrad dan sambungan huruf.

Ketiga, meniru tulisan para master atau kaligrafer besar, dan berusaha menulis semirip mungkin hingga kepada detail huruf, seolah olah sedang copy paste, tanpa tau rahasia di balik yang dia tiru.

Keempat, belajar dari amsyaq (buku khot) dengan sembarangan, seperti orang yang asal bicara, tidak bisa membedakan mana yang penting dan tidak penting. Demikian pula ketika melihat tulisan, tidak bisa membedakan mana tulisan kuat yang bisa ditiru dan mana tulisan biasa yang tidak perlu ditiru.

Kelima, terlalu bersandar kepada kemampuan sendiri (self study) sehingga meyakini kalau mampu mencapai level expert tanpa perlu guru yang akan membukakan baginya rahasia-rahasia huruf.

Keenam, hilangnya optimisme dan kurang percaya diri atas kemampuan dan bakat yang diberikan oleh Allah kepadanya. Sehingga mengira bahwa dirinya tidak akan mampu mencapai apa yang dicapai oleh kaligrafer besar. Karena mungkin lupa, bahwa kaligrafer besar dulunya juga seorang murid dan pemula dalam khot.

Ketujuh, takjub dengan diri sendiri, serta rasa percaya diri yang berlebihan. Sehingga tidak sadar punya rasa takabbur dan lebih dari gurunya yang telah mengajarinya. Bahkan merasa dirinya satu-satunya kaligrafer berbakat, sementara yang lain ada di bawah levelnya.

Kedelapan, lebih loyal dan suka kepada orang yang memuji tulisannya, daripada orang yang mengkritik. Tidak suka diberi masukan atau diberi saran. Bahkan marah dan menunjukkan rasa tidak suka jika ada orang yang lebih tahu, berusaha memberi kritik. Sehingga menolak nasehat karena rasa sombong dan tertipu oleh diri sendiri.

Kesembilan, terlalu fokus kepada satu jenis khot dalam menulis dan mengoreksi, sehingga kurang menguasai jenis khot lainnya.

Kesepuluh, kurang menghargai khot dengan menulis kalimat remeh atau kurang pantas. Seolah-olah khot adalah sarana bermain-main dan hiburan semata.

Kesebelas, tidak belajar khot dengan serius dan berhenti dari menulis dalam waktu beberapa minggu atau bahkan berbulan-bulan. Dan pura-pura tidak tau, bahwa barangsiapa yang meninggalkan khot, maka khot akan meninggalkannya.

Keduabelas, menyembunyikan ilmu dari kawan dan sahabatnya. Serta iri kepada orang lain yang diberi bakat lebih, dan memandang rendah mereka yang ada di level bawahnya. (muhdnur/hamidionline.net)

Disarikan dengan beberapa penyesuaian dari tulisan Al-Ustdz Zaki Al-Hasyimi, oleh Muhammad Nur.

Continue Reading

Peran Rasulullah Dalam Perkembangan Kaligrafi Islam

Kaligrafi merupakan salah satu warisan seni dalam Islam yang menunjukkan perkembangan dan kemajuan peradaban Islam dalam segi tsaqafah dan hadharah. Kemajuan ini dapat dilihat dari model kaligrafi yang telah mengalami proses perubahan dari sejak awal munculnya hingga sekarang. Salah satu pengaruh kaligrafi dalam kemajuan peradaban Islam dibuktikan dengan banyaknya bangunan arsitektur Islam yang dihiasi dengan kaligrafi indah dan banyaknya literatur keilmuan Islam yang ditulis oleh para ulama terdahulu. Lebih jauh lagi, ketika Islam datang dengan gerakannya dalam tulis menulis (khat), para sahabat mulai menulis mushafnya masing-masing (sebelum adanya jam’ul Qur’an oleh Utsman bin Affan), sebagian menuliskan hadits yang mereka dapatkan dari Rasulullah dalam setiap majlis. Hal ini merupakan perkembangan yang sangat pesat ketika itu, mengingat masyarakat Arab pada masa pra Islam masih awam terhadap dunia tulis menulis.

Menurut Dr. Mujahid Taufiq (2008: 22) semua kemajuan itu tidak luput dari peran Rasulullah SAW di dalamnya, baik dalam segi gerakan maupun estetikanya terhadap kaligrafi itu sendiri. Hal inilah yang kemudian membuat kaligrafi disebut dengan Al-Khat Al-Islami atau kaligrafi Islam hingga sekarang.

Hal pertama yang dilakukan oleh Rasulullah untuk mengenalkan kaligrafi kepada umatnya adalah dengan menyadarkan umatnya akan pentingnya tulisan. Ada beberapa dalil dari Al-Qur’an dan hadits yang menyebutkan keutamaan dalam menulis, diantaranya tertulis dalam surah Al-‘Alaq: 3-5, Al-Baqaroh, 282, Al-Ankabut, 48, Al-Infithar, 11 dan lainnya. Bahkan dalam surah Al-‘Alaq Allah bersumpah dengan menggunakan kata qalam (pena) dan tulisan yang tergores darinya (surah Al-Alaq, ayat: 1).

Untuk mengenalkan umatnya terhadap dunia tulis menulis, Rasulullah membuat halaqoh di masjid yang ia bangun pasca hijrahnya ke Madinah untuk mengajarkan cara menulis. Untuk itu, beberapa sahabat secara khusus dipilih untuk mengajarkan cara menulis kepada umat muslim, salah satunya Abdullah bin Said dan Ubadah bin Shomit. Gerakan lainnya yaitu dengan menjadikan tebusan tawanan perang yang mampu menulis untuk mengajarkannya kepada 10 orang Madinah (Dr. Mujahid Taufiq, 2008:22).

Ada perbedaan pendapat terkait peran Rasulullah dalam hal ini. Diantaranya mengatakan bahwa Rasulullah hanya berperan dalam menggerakan umatnya untuk menulis, bukan dalam seni kaligrafi (khat). Pemikiran ini berbeda dengan pendapat Muhammad Thahir yang mengatakan bahwa tulisan (al-kitabah), as-satr (Alfarobi, 2003:108) dan al-khat memiliki satu arti yang sama (Muhammad Thohir, 1939:7). Dalam beberapa literatur, istilah khat lebih sering digunakan untuk menunjukkan perkembangan peradaban Islam baik dalam hal tsaqafah maupun hadhoroh, melihat perubahan bentuk, jenis dan keindahan yang berkembang di setiap masanya. Sedangkan dalam kbbi, tulisan indah dengan pena lebih dikenal dengan sebutan kaligrafi, dan penulisnya disebut dengan kaligrafer (kbbi, https://kbbi.web.id/kaligrafi, akses 15 Januari 2020).

Bukti yang menunjukkan peran Rasulullah dalam estetika kaligrafi dapat dilihat dari beberapa hadits, diantaranya hadits Muawiyyah yang tertulis dalam Musnad Firdaus nomor 8533. Diriwayatkan di dalamnya bahwa Rasulullah pernah mengajarkan sekretarisnya (kuttab), Muawiyyah bin Abi Sufyan tentang bentuk penulisan basmalah (Al-Firdaus bilma’tsuril Khithob, 1986: 394 ). Yaitu dengan meninggikan huruf ba’ agar tidak tercampur dengan nibroh sin hingga menimbulkan kesusahan dalam membaca (وانصب الْبَاء) dalam hadits ini juga diajarkan untuk memisahkan nibroh sin, yang artinya dalam penulisan ayat Al-Qur’an, nibroh sin harus terlihat jelas (وَفرق السِّين). Selain itu, Rasulullah juga mengajarkan cara menulis mim yang benar, yaitu agar lingkaran dalam kepala mim terlihat, tidak tertutup oleh tinta (وَلَا تغور الْمِيم).

وقال لكاتبه معاوية رضي الله تعالى عنه ((يَا مُعَاوِيَة ألق الدواة وحرف الْقَلَم وانصب الْبَاء وَفرق السِّين وَلَا تغور الْمِيم وَحسن الله وَمد الرَّحْمَن وجود((

Dari hadits Anas bin Malik yang diriwayatkan dalam Munsad Firdaus nomor 1168 mengatakan bahwa Rasulullah mengajarkan cara menulis mim dalam tulisan Ar-Rahman (Al-Firdaus bilma’tsuril Khithob, 1986: 296), yaitu dengan memanjangkan mim satu pena (فليمد الرَّحْمَن).

((إِذا كتب أحدكُم بِسم الله الرَّحْمَن الرَّحِيم فليمد الرَّحْمَن))

Dalam hadits Zaid bin Tsabit yang diriwayatkan dalam Musnad Firdaus nomor 1087 dijelaskan bahwa Rasulullah mengajarkan cara menulis sin dalam basmalah (Al-Firdaus bilma’tsuril Khithob, 1986: 278), yaitu dengan memanjangkan huruf sin. Dalam riwayat lain mengatakan bahwa maksud dari (فَبين السِّين) yaitu untuk menuliskan nibrah sin dengan jelas dan memisahkannya dari nibrah ba. Karena jika jumlah nibrahnya kurang atau sebaliknya, maka akan merubah makna.

((إِذا كتبت فَبين السِّين فِي بِسم الله الرَّحْمَن الرَّحِيم))

Dapat dilihat dari hadits pertama, bahwa Rasulullah juga mengajarkan sekretarisnya cara menggunakan pena dan tinta. Yaitu dengan memasukkan liiqoh (benang sejenis sutra) kedalam dawah (sebutan untuk tempat tinta) agar mata pena tidak bersentuhan langsung dengan dinding dawah ketika mengambil tinta, karena hal itu dapat menyebabkan mata pena rusak dan pecah (ألق الدواة). Adanya benang dalam dawah juga berguna untuk menjaga kebersihan dan keindahan dalam menulis, karena mata pena tidak mengambil tinta secara langsung karena terhalang oleh benang yang berfungsi untuk menyerap tinta. Cara ini merupakan metode baru yang diajarkan oleh Rasulullah, mengingat tulis menulis merupakan hal yang baru ketika itu. Dan metode sederhana ini masih dipakai oleh para kaligrafer hingga masa seterusnya.

Metode pemotongan pena juga diajarkan oleh Rasulullah, yaitu dengan memotong mata pena secara miring (وحرف الْقَلَم). Metode ini dapat dilihat dari hadits Mua’awiyah sebelumnya. Pemotongan pena merupakan hal paling mendasar dalam penulisan kaligrafi dan menjadi hal terpenting yang menentukan kualitas tulisan.   Dituliskan dalam buku Al-Khat Al-‘Araby wa Adabihi bahwa rahasia seorang kaligrafer terletak pada pemotongan penanya (Muhammad Thohir, 1939:426).

Dalam hadits Muawiyyah yang diriwayatkan oleh Ad-Dailami secara langsung telah membuktikan bahwa Rasulullah memiliki peran besar dalam munculnya kaligrafi Islam. Karena kaligrafi sangat diutamakan untuk menulis ayat-ayat Al-Qur’an. Dalam hadits ini Rasulullah berpesan untuk menuliskan ayat Al-Qur’an dengan sebaik-baik tulisan yang indah sebagai bentuk pengagungan kita terhadap Allah (وَحسن الله). Al-Kurdi menjelaskan lebih lanjut, bahwa perintah untuk memperindah tulisan dalam hadits ini bukan hanya untuk penulisan basmalah saja, akan tetapi ditujukan untuk semua tulisan (Muhammad Thohir, 1939:13).

((يَا مُعَاوِيَة ألق الدواة وحرف الْقَلَم وانصب الْبَاء وَفرق السِّين وَلَا تغور الْمِيم وَحسن الله وَمد الرَّحْمَن وجود((

Belum cukup sampai di situ, tetapi Rasulullah juga mengajarkan cara menghapus tulisan yang salah hingga tulisan tidak dicoret atau ditulis ulang seperti sebelumnya. Dalam hadits Ali diceritakan bahwa ketika penulisan perjanjian Hudaibiyah, Suhail, salah satu para pembesar Quraisy tidak setuju dengan tulisan “Muhammad Rasulullah” yang tertulis dalam surat perjanjian, karena Quraisy ketika itu tidak mempercayai kenabian Nabi Muhammad. Oleh karena itu, Suhail meminta untuk dihapuskan kalimat “Muhammad Rasulullah”. Ali yang semula menolak akhirnya menggantinya dengan kalimat “Muhammad bin Abdillah” atas perintah Rasulullah setelah Rasulullah menghapus kalimat sebelumnya “Muhammad Rasulullah” dengan air liurnya (Shohih Muslim, tanpa tahun:1410).

 

Referensi:

Al-Farobi, Ishaq bin Ibrahim bin Husain. 2003 Mu’jam Diwanil Adab, jilid.1 (Kairo: Darul Syu’ub Lil-Shofahah wa Thiba’ah)

Al-Hamdzan, Ad-Dailami. 1986. Al-Firdaus Bima’tsuril Khithob, jilid. 5, cet.1 (Beirut: Darul Kutub Ilmiyah)

Al-Hamdzan, Ad-Dailami. 1986. Al-Firdaus Bima’tsuril Khithob, jilid. 1, cet.1 (Beirut: Darul Kutub Ilmiyah)

Al-Jundi, Mujahid Taufiq. 2008. Tarikhul Kitabah Al-Arabiyah Wa Adawatiha, cet.1 (Kairo, tanpa penerbit)

Al-Kurdi, Muhammad Thohir Abdul Qodir. 1939 . Al-Khat Al’Araby wa Adaabihi. (Tanpa penerbit)

An-Nisaburi, Muslim bin Hujaj. Tanpa tahun. Al-Musnad Ash-Shohih Al-Mukhtashor binaqlil ‘Adl ‘Anil ‘Adl Ilaa Rasulullah SAW, jilid 3 (Beirut: Darul Ihya At-Turats Al-‘Araby)

kbbi, https://kbbi.web.id/kaligrafi, akses 15 Januari 2020

 

Continue Reading

Latihan Bersolek Mempercantik Huruf

Wahai orang yang ingin mempercantik kaligrafi, hendaknya engkau banyak latihan. Moto di atas menggambarkan, betapa untuk mencapai kesempurnaan kaligrafi diperlukan perjuangan yang gigih. Perjuangan tersebut bernama latihan (tadrib). Banyak latihan adalah satu-satunya syarat menuju sukses menulis. Instrumen lain hanyalah syarat-syarat tambahannya. Mengapa demikian?

Karena kaligrafi yang dijuluki Art of Islamic Art, menurut analis kaligrafi Marouf Zoreiq adalah ilmu,seni, dan juga filsafat. Menyatukan kaligrafi ke dalam triple atribut tersebut harus dengan usaha aktif-kreatif karena kaligrafi bukanlah skill biasa, tetapi juga “seni perjuangan” yang diterobos dari segala pintu, yaitu: pintu ilmu dengan metode, teknik atau teorinya, pintu seni dengan pertimbangan artistiknya, dan pintu filsafat dengan pemikiran kreatifnya.

Selain tadrib yang berarti latihan atau gemblengan, dikenal pula istilah masyaq yang berarti coret-coretan. Karena latihan kaligrafi harus dengan banyak membuat coret-coretan. Masyaq berhubungan dengan kata masyaqqah yang berarti kesulitan (difficulty) . Karena “kaligrafi itu sulit” maka, harus ditaklukkan dengan banyak latihan, yang berarti banyak bersulit-sulit, berpayah-payah, banyak merasakan pedihnya kesulitan, sesulit latihan tentara di medan tempur. Atau seperti kawah candradimuka tempat Gatotkaca digembleng jadi manusia “balung wesi urat waja” yang sakti mandraguna bisa terbang segala. Di atas latihan-latihan sulit dan meletihkan itulah tonggak kaligrafi bisa ditegakkan dengan kukuh, seperti kata Imam Ali:

إن قوام الخط فى كثرة المشق
“Sesungguhnya tonggak profesionalnya kaligrafi adalah dengan banyak latihan”

Lantas, berapa banyak waktu yang diperlukan untuk latihan? Berlatih sama dengan menghapal pelajaran. Berarti, frekuensi keduanya sama. Imam Syafi’i mengulang pelajaran sampai 40 kali, bahkan menambahkan waktu belajar dengan sahirollayal atau bangun malam:

بقدرالكد تكتسب المعالى # ومن طلب العلى سهرالليالى
“ Sebanyak kerja keras yang dilakukan, sebatas itu pula kedudukan tinggi diraih # Barangsiapa menginginkan kedudukan tinggi, hendaknya bangun di malam hari”

Imam Al-Jarnuzi dalam kitab Ta’limul Muta’allim, merinci alokasi waktu belajar dalam fasal Metode Menghapal: “Ulangi pelajaran yang kemarin 5 x, hari sebelum kemarin 4 x, hari sebelumnya lagi 3 x, hari sebelumnya lagi 2 x, dan hari sebelumnya 1 x.” Wah, dahsyat! Metode mengulang pelajaran begini seperti cara Nabi SAW menyampaikan wahyu-wahyu yang baru diterimanya. Apabila ada yang minta ayat-ayat baru, Nabi tidak langsung memberikannya sampai orang itu menghapalkan dulu ayat-ayat yang telah diberikan sebelumnya di hadapan beliau. Apabila terbukti hapal, barulah Nabi berikan ayat-ayat yang baru. Subhanallah, ini metode ngajar yang sistematis dengan hasil yang maksimalis.
Seperti itu pula cara latihan kaligrafi: 40 balik, 30 balik, 25 balik.

Naja Al-Mahdawi dari Tunisia beruji coba huruf 16 jam setiap hari. Guru kaligrafi Mesir Fauzi Salim Afifi bahkan mengultimatum: “apabila ingin jadi kaligrafer profesional, maka latihannya harus setiap saat.” Pada saat sedang tidak menulis dengan kalam atau kuas pun, dia harus berpikir seolah-olah sedang latihan menulis dengan menggerak-gerakkan telunjuknya di atas paha atau sajadahnya: “menulis huruf”. Matanya pun harus ikut latihan menulis. Lha, caranya? Dinding rumah, lemari atau pintu kamarnya ditempeli lukisan huruf-huruf yang sedang diperdalamnya. Nah, sambil lewat, matanya diplototkan ke tempelan-tempelan huruf itu. Tapi, yang jelas, maksud dari semua itu adalah “terus-menerusnya berlatih setiap waktu, tanpa henti”. Nabi juga memuji amalan yang ditekuni terus-menerus sebagai amalan paling baik:

خيرالأعمال أدومها
“Amalan paling baik adalah yang dikerjakan kontinyus”

Memang berat, dan berat. Tetapi kita harus terlatih mikul benda berat, biar yang berat lama-lama menjadi terasa enteng atau ringan. Yang lebih penting lagi “jangan istirahat belajar khot”

داوم على الدرس لا تفارقه # العلم بالدرس قام وارتفع

Teruslah belajar, jangan tinggalkan pelajaran. Sebab dengan dipelajari, ilmu akan meningkat dan berkembang. (emnoer/hamidionline.net)

*ditulis oleh al-Ustadz Dr. Didin Sirojuddin AR. Pendiri Lembaga Kaligrafi Alquran (LEMKA) di Jakarta (1985), disusul Pesantren Kaligrafi Alquran Lemka di Sukabumi (1998), dua kendaraan perjuangannya yang diiringi aktivitasnya menulis buku-buku kaligrafi, penjurian lomba kaligrafi di MTQ Nasional dan ASEAN, dan berkeliling membina kaligrafi di pelbagai pelosok Indonesia.

Continue Reading

Kaligrafer Wanita Dalam Pentas Sejarah, Bagian 2

Sebagaimana seni lain, khot bukanlah seni dominasi laki-laki, tidak bias gender. Ini berarti peran wanita dalam sejarah khot tidak perlu dipertanyakan. Jika demikian adanya, maka perlakuan seorang guru kepada murid wanitanya yang sedang belajar khot, hendaknya jauh dari kesan meremehkan, atau menomorduakan. Dalam sejarah, terdapat banyak tokoh kaligrafer wanita yang hingga sekarang namanya masih abadi. Bahkan kehadiran kaligrafer wanita sudah dicatat sejarah sejak masa awal Islam.

Seorang sejarawan dan penyair Persia yang hidup di Baghdad, Ahmad bin Yahya al-Baladzuri (W. 279 H) dalam kitabnya “Futuh al-Buldan”, menyebutkan beberapa nama kaligrafer wanita yang ada pada masa awal Islam. Di antaranya, dalam sebuah riwayat, Rasulullah saw. berkata kepada kepada as-Syifa’ bintu Abdullah al-Adawiyah (W. 20 H), seorang shabiyah ahli ruqyah penyakit serta salah satu dari wanita menguasai baca tulis, menguasai seni khot serta sastra Arab. Rasulullah meminta kepada as-Syifa’ supaya mengajari Hafshah cara meruqyah penyakit namlah (sejenis sakit gatal dan inflamasi pada kulit), sebagaimana ia mengajari Hafshah menulis (khot). Selain Hafshah (W. 41 H), as-Syifa’ juga mengajari Ummu Kultsum bintu ‘Uqbah (W. 41 H) dan beberapa wanita lainnya.

Riwayat lain yang menujukkan peran besar seorang wanita dalam khat berasal dari seorang ulama besar, sejarawan, sastrawan, ahli usul fikih serta teolog, Ibnu Hazm al-Andalusi adz-Dzahiri (W. 456 H) dalam Risalah Thauq al-Hamamah fi al-Ulfah wal al-`Ullaf, menyebutkan dengan terus terang bahwa beliau belajar menulis dan khot kepada seorang wanita, beliau berkata “Mereka (hunna) mengajariku al-Qur’an, meriwayatkan untukku banyak syair serta melatihku menulis khot”.

Sumber sejarah lainnya, seperti “kitab as-Shilah fi Tarikh Aimmah al-Andalus” karangan Abu al-Qasim Khalaf bin Abdu al-Malik (W. 578 H) menyebutkan nama-nama wanita yang masyhur dengan keindahan tulisannya. Di antaranya adalah Fathimah bintu al-Hasan bin al-Aqra’ (W. 480 H), terkenal karena tulisannya yang sangat indah. Dalam “al-Ishabah fi Ma’rifah as-Shahabah” Ibnu al-`Atsir menyebutkan bahwa khot yang ditulis oleh Fathimah bintu Hasan mengikuti gaya tulisan Ibnu al-Bawwab. Nama lainnya adalah Syahidah bintu Abi Nashr Ahmad al-Ibri (W. 574 H) murid dari Muhammad bin Abdu al-Malik, murid Ibnu al-Bawwab.

Sementara itu, di antara kaligrafer wanita yang ijazahnya masih terjada dan bisa dilihat saat ini adalah ijazah khattathah Halimah bintu Muhammad Shadiq (W. 1169 H) dari gurunya, Muhammad Rasim (W. 1144 H). Halimah memperoleh ijazah pada usia yang sangat muda, 12 tahun. Sang guru, Muhamamad Rasim adalah kaligrafer yang menguasai Aqlam Sittah (Tsulust, Naskhi, Muhakkak, Raihani, Tauqi’ dan Riqa’), mendapatkan ijazah pada usia 18 tahun, dan menjadi guru pada Diwan Hamayuni.

Menyinggung kaligrafer wanita serasa kurang jika belum menyebutkan nama Asma` Ebrat. Kaligrafer wanita ini lahir di Istanbul dan belajar kepada Mahmud Jalaluddin (W 1245 H). Asma` mendapatkan ijazah pada usia 15 tahun dengan menulis Helyah Syarifah dan mendapat apresiasi dari banyak kaligrafer lain. Beliau kemudian menikah dengan sang guru, Mahmud Jalaluddin. Menutup tulisan ini, perlu kami singgung pula satu nama, yaitu Syarifah Aminah Tsarwat Hanim, yang mendapatkan ijazah dengan menulis Helyah Syarifah pada tahun 1291 H. Untuk melengkapi keterangan dan nama kaligrafer wanita, bisa merujuk kembali artikel kaligrafer wanita dalam sejarah, yang sudah kami posting sebelumnya. (muhd nur/ hamidionline)

Sumber: Nasshar Manshur, Nidzam al-Ijazah fi Fann al-Khath al-Arabiy

Continue Reading
1 2 3 5