Subscribe to Updates
Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.
Author: muhd nur
Memperoleh ijazah di khot diwani, jaly diwani dan nasta'liq (2012), naskhi dan maghribi (2015) dari al-ustadz Belaid Hamidi. Saat ini menetap dan mengajar di PM Darussalam Gontor.
[dropcap]B[/dropcap]ermacam-macam kesan para murid maupun mereka yang mengenal Kaligrafer Hamid Aytaç. Kaligrafer Hamid Aytac adalah kaligrafer besar abad-20. Beliau juga generasi terakhir dari silsilah kaligrafer besar yang pernah hidup pada masa Turki Usmani. Dari tangan Hamid Aytaç lah, lahir murid-murid beliau
Mengawali biografi kaligrafer besar, Hamid Aytaç al-Amidi, kami menutip sebuah bait pujian indah. Pujian tentang pena oleh Jalaluddin ar-Rumi, seorang tokoh sufi besar. Sang pena berkata; Akulah pemilik penciptaan, barangsiapa yang memilikiku, maka akan aku tunjukkan jalan kepada surga
Kaligrafi merupakan sebuah seni yang tidak lepas dari teknik khusus, di samping kemampuan menulis dan pengalaman dalam menyusun sebuah kalimat. Di antara rahasia suksesnya seorang kaligrafer dalam membuat karya adalah pengetahuan tentang kaidah yang mencukupi serta tersedianya peralatan kaligrafi yang lengkap dan siap dipakai dalam menulis. Banyak tokoh kaligrafer semisal Hamid Aytac mengatakan bahwa dengan peralatan kaligrafi yang kurang baik, seorang kaligrafer tidak akan bisa menulis dengan sempurna. Karena itu, pemilihan pena yang enak dipakai, juga tinta yang cocok dengan jenis kertas, memudahkan seseorang kaligrafer untuk menghasilkan karya yang diinginkan. Pilihan peralatan kaligrafi yang tepat akan didapatkan dari hasil pengalaman…
Era Turki Usman telah melahirkan seorang kaligrafer yang mengundang decak kagum semua orang. Dia adalah Musthafa Halim Özyazıcı. Bapak beliau asli dari kota Qırım, sebuah daerah yang berada di wilayah Rusia. Sedangkan sang Ibu adalah perempuan yang berasal dari Sudan.
[dropcap]K[/dropcap]embali kaligrafer Indonesia berprestasi di lomba kaligrafi Internasional. Hasil lomba yang diumumkan tanggal 10 November 2016 lalu mencatat dua orang dari Indonesia, dari total enam pemenang. Adalah Ustadz Syahriansyah Sirajuddin dan Ustadz Huda Purnawadi,
Sifat klasik dalam sebuah kaligrafi merupakan cerapan rasa batin yang berhubungan erat dengan sebuah tradisi. Di mana esensi dari tradisi menyentuh setiap sisi kehidupan dalam suatu peradaban. Meskipun diskursus klasik sampai saat ini masih menjadi perdebatan, antara yang menolak dan yang menerimanya,
[dropcap]T[/dropcap]ulisan seorang kawan, tentang hakikat belajar kaligrafi. Belajar tidak hanya aktifitas otak, tangan ataupun fikiran, tetapi juga hati dan niat. Begitu juga dengan belajar kaligrafi, tidak terasa kadang kita terlena, lupa atau tertuntut oleh keadaan sekeliling yang terasa menodong,
