Kaligrafer Jenius Abad 20; Hamid Aytaç al-Amidi

220
hamid aytaç al-Amidi

Mengawali biografi kaligrafer besar, Hamid Aytaç al-Amidi, kami menutip sebuah bait pujian indah. Pujian tentang pena oleh Jalaluddin ar-Rumi, seorang tokoh sufi besar. Sang pena berkata; Akulah pemilik penciptaan, barangsiapa yang memilikiku, maka akan aku tunjukkan jalan kepada surga yang penuh kenikmatan.

Kaligrafi merupakan lidahnya tangan, timbangannya akal, penerjemah apa yang di hati, serta ukuran sebuah keinginan. Kaligrafi adalah seni yang bersifat ruhani, dan diwujudkan oleh alat yang bersifat jasmani. Kaligrafer Hamid Aytaç al-Amidi merupakan salah satu tokoh seni kaligrafi di erah terakhir kesultanan turki usmani. Nama beliau dikenal tidak hanya di Turki, namun juga di negara-negara Islam lainnya. Beliau lahir di Diyarbakır pada tahun 1891 M, dan telah menyukai seni kaligrafi sejak masih kecil. Beliau terus menulis sepanjang hidupnya hingga wafat pada umur 90 tahun. Tulisan-tulisan beliau akan terus abadi dengan namanya “Hamid” dengan karya-karyanya yang indah yang menghiasi rumah-rumah dan masjid-masjid, membuat hati orang yang melihatnya merasakan aura kesucian dan khusyu’.

Menurut Dr. Ekmeleddin İhsanoğlu, direktur IRCICA, sebuah lembaga yang bernaung di bawah OKI, bahwa kaligrafi adalah seni yang membedakan peradaban Islam di antara peradaban bangsa lainnya. Nilai-nilai keindahan yang datang bersama dengan ajaran Islam telah menempatkan seni kaligrafi pada tempat yang penting dalam peradaban Islam, tanpa terpengaruh oleh seni-seni lain yang datang dari peradaban di luar Islam. Para tokoh dan maestro kaligrafi pada awal perkembangannya seperti Ibnu al-Muqlah, Ibnu al-Bawwal, Yaqut al-Musta’shimi, telah meletakkan asas dari seni ini di atas landasan yang kuat. Di mana para tokoh kaligrafer setelahnya seperti Syaikh Hamdullah al-Amasy, Ahmad Qarrah al-Hishari, Hafidz Usman, Musthafa Raqim dan lainnya, melanjutkan seni ini dan membawanya kepada perbaikan dan keindahan yang lebih sempurna, dan dengan kemampuan yang luar biasa, bisa mengekspresikan sebuah arti lewat susunan tulisan yang mereka tulis.

Pada awal abad 20 hingga hari ini, para pemerhati kaligrafi mendengar sebuah nama besar yang sejajar dengan nama-nama para ulama-ulama terdahulu. Di mana namanya terkenal di seluruh dunia, murid-muridnya pun datang dari berbagai tempat, dan karya-karya seninya telah banyak tersebar di berbagai tempat. Dialah al-Ustadz Hamid Aytaç al-Amidi, yang lebih dikenal dengan nama Hamid al-Amidi. IRCICA dibawah OKI telah berhasil membuat film dokumenter tentang kaligrafer besar ini, pada hari-hari terakhir beliau. Film dokumenter ini menceritakan tentang kehidupan sang jenius ini dengan dan menjadikannya bagian dari dokumen penting tentang sejarah dan seni Islam pada khususnya.

Hamid Aytaç menceritakan tentang awalnya beliau belajar kaligrafi:

Pada suatu hari, karena kecintaanku kepada khot, aku pernah menulis ayat-ayat di pinggir mushaf dengan meniru khot naskhi yang ada pada mushaf tersebut. Namun ketika kutunjukkan kepada guruku, rupanya beliau kurang berkenan dan bahkan memarahiku. Semakin hari kecintaanku kepada kaligrafi semakin bertambah, sehingga mendorongku untuk pergi ke Istanbul, kota paling indah di dunia, untuk mewujudkan impianku satu-satunya yaitu belajar kaligrafi. Impianku pun terwujud pada tahun 1906. Aku datang ke Istanbul saat umurku menginjak 15 tahun.

Istanbul, Ibukota Kaligrafi

Al-Qur’an diturunkan di Makkah al-Mukarramah, dan ditulis di Istanbul. Istanbul adalah kota di mana para kaligrafer Turki Usmani meletakkan asas dan dasar-dasar kaligrafi dengan kuat dan telah melahirkan para kaligrafer besar seperti Hamdullah al-Amasi, Muhammad As’ad al-Yasari, Sami Afandi, Musthafa Halim, Hamid al-Amidi dan lain-lainnya. Setiap seni mempunyai ibukota. Dan Ibukota seni kaligrafri adalah Istanbul.

Istanbul berhasil menyihir pemuda Musa Azmi (nama muda Hamid Aytaç al-Amidi) yang datang dari Diyarbakır karena keindahan kotanya. Sebagaimana Istanbul juga menyihir para seniman lainnya. Keindahan dan tingginya cita seni yang ada di Istanbul membuka cakrawala baru di depan Musa Azmi, dan membantunya mengembangkan kemampuan dan bakat seninya yang terpendam, sehingga pada akhirnya menjadi tokoh dan maestro kaligrafi dan kelak namanya lebih dikenal dengan Hamid.

Istanbul telah merubah jalan hidupku. Kota ini seolah membentuk ulang hidupku, dari ketika aku masih muda dan bernama Musa Azmi dari Diyarbakır, dengan kehidupan baru, di tengah masyarakat baru, bersama dengan kawan dan sahabat baru. Sungguh, Istanbul adalah Ibukotanya Turki Usmani, kota masjid dan menara, yang telah membuka pintu gudang dan harta karunnya. Aku telah melihat semua rahasia dunia Timur, dan bukti serta tanda-tanda kebesaran seni kita yang luhur. Sesungguhnya Istanbul mempunyai keistimewaan sendiri bagiku dan aku sangat berhutang budi kepadanya.

Pada awalnya, aku masuk ke Fakultas Hukum, di mana waktu itu bernama Madrasah al-Qudhat. Akan tetapi setelah satu tahun, dan karena permintaan dari guruku, aku pun pindah ke Madrasah Shanai’ Nafisah atau Sekolah Tinggi ilmu Kesenian. Akan tetapi meninggalnya ayahku yang tiba-tiba, membuatku tidak bisa menyelesaikan sekolah, sehingga aku terpaksa bekerja untuk mendapatkan sesuap nasi. Maka akupun bekerja di Madrasah Hadiqah al-Ma’arif. Di sinilah aku bertemu dengan salah satu murid terbaikku, yaitu Halim Ozyazici, yang dipanggil oleh Allah lebih dulu dari kami, padahal umurnya lebih muda.

Lalu aku bekerja selama beberapa tahun di beberapa percetakan, seperti percetakan grafis, percetakan sekolah militer, dan percetakan militer. Namun demikian, sebenarnya hatiku mengatakan untuk ingin bekerja di al-Baab al-‘Aali.

Di sela-sela pekerjaan resmi Hamid Aytac di percetakan militer, beliau membuka tempat kerja pribadi di seberang jalan menuju masjid Nur Outsmaniye. Di tempat inilah beliau pertama kali memakai nama samarannya dengan sebutan “Hamid”. Dari tempat inilah, beliau perlahan namun pasti menuju kepada tingkat kematangan dalam kaligrafi setingkat dengan para kaligrafer-kaligrafer besar lainnya.

Baca Juga:   Antara Pena Jawa (Aren) dan Pena Besi

Suatu hari, direktur percetakan tempatku bekerja bertanya kepadaku “Musa bik, aku dengar ada seorang kaligrafer terkenal bernama Hamid. Banyak orang menyebut namanya dan memujinya. Kenapa dia tidak bekerja bersama kita di percetakan ini saja?” tidak lama setelah itu, akhirnya terbongkar juga bahwa Hamid itu adalah aku sendiri. Karena itu aku tinggalkan pekerjaanku di percetakan. Lalu aku perkuat azamku dan namaku adalah Musa Azmi, dan berharap aku menjadi Hamid, dan Alhamdulillah Allah swt memudahkan urusanku. Dan hari ini aku bersyukur kepadaNyaatas segala taufiq dan nikmatNya.

Seni kaligrafi yang pada awalnya dikenal dan tumbuh karena faktor penulisan al-Qur’an, lalu berkembang selama kurang lebih 14 abad, kini telah mendapatkan tempatnya yang layak di antara seni-seni yang lainnya. Kaligrafi merupakan cabang seni paling sulit di antara seni-seni Islam yang lainnya. Karena seorang kaligrafer tidak mempunya alat dalam mengekspresikannya, kecuali pena dari bambu.

Hamid Aytaç al-Amidi dan Ilham Tarkib ayat di Masjid Şişli

Suatu hari, aku dipanggil untuk menulis kaligrafi di masjid Şişli di Istanbul. Lalu aku dan Ustadz Najmuddin Oqyay memilih untuk menulis salah satu ayat yang ada pada surat al-Taubah. Aku sempat takut gagal menulisnya dengan bagus, karena itu aku pun berlatih menulisnya dalam waktu yang cukup lama. Namun begitu, aku belum bisa menemukan bentuk yang bagus, dalam meletakkan huruf alif dalam susunan ayat yang aku buat. Akan tetapi, gambaran tentang huruf alif tersebut, tiba-tiba muncul di depan mataku, di saat aku dalam keadaan antara sadar dan tidur. Aku lihat huruf alif tersebut berada pada bentuk dan tempat yang paling tepat. Alhamdulillah, Allah swt. telah memberi petunjuk kepadaku.

Selain masjid Şişli , aku juga menulis di beberapa masjid lain di Istanbul dan di Anatolia. Di antaranya adalah masjid sahabat Rasulullah saw, Abu Ayyub al-Anshari ra. dan masjid Hacı Küçük.

Membangun Relasi, Belajar Tanpa Henti

Setelah beliau mencapai pada tingkat kematangan dalam kaligrafi, dengan pengalamannya di berbagai percetakan dan juga mengajar, dan juga tempat kerja pribadi dengan nama baru “Hamid”, nama beliau semakin dikenal di antara para kaligrafer besar saat itu. Hubungan yang tejalin semula sebagai guru-murid antara Hamid Aytac dengan para kaligrafer besar di atas, tidak lama kemudian menjadi hubungan pertemanan yang erat di antara sesama kaligrafer.

Aku belajar Jaly Sulus kepada Nadzif Bik, belajar naskhi dan sulus kepada Ahmad Kamil Akdik, dan berlatih menulis Tughra’ kepada Isma’il Haqqi Altunbezar, dengan memperhatikan gerakan tangannya, lalu menyimpannya dalam ingatanku.

Aku habiskan umurku untuk kaligrafi dan menulis. Aku menulis dan menulis tanpa berhenti maupun istirahat. Aku terus menulis dan menulis lagi hingga lebih dari 80 tahun lamanya.

Salah satu mushaf yang ditulis oleh Hamid Aytaç, pernah dicetak dan diedarkan semasa beliau masih hidup. Hal ini sangat berkesan dan meninggalkan kebahagiaan yan mendalam kepada beliau. Karena beberapa kaligrafer yang telah menulis mushaf sebelum beliau tidak sempat melihat mushafnya dicetak diperbanyak. Mushaf tadi dicetak setelah sang penulis wafat.

Wafat Hamid Aytaç al-Amidi

Di samping meninggalkan karya dan tulisan yang banyak, Ustadz Hamid Aytaç juga berhasil mengkader murid-murid yang telah beliau didik, untuk menjadi kaligrafer handal. Baik dari dalam maupun luar Turki. Di antaranya adalah Syekh Hasan Celebi, Ustadz Husein Kutlu, Ustadz Fuad Basyar dan lain-lain. Sementara kaligrafer dari luar Turki yang pernah mendapatkan ijazah dari beliau adalah Ustadz Yusuf Dzannun, Ustadz Hasyim Muhammad, keduanya dari Irak, juga Ustadz Sa’id Muhammad Syarifi (Aljazair), Ustadz Muhammad Dhiya Ibrahim (Saudi Arabia) dan lain-lain.

Hari Selasa 18 Mai 1982 jam 19.30 kaligrafer besar ini wafat. Kehidupan beliau tidak pernah berlalu kecuali tanpa menulis, dan meninggalkan ribuan karya peninggalan yang abadi. Beliau disholatkan di masjid Sisli, di mana tulisan-tulisan beliau yang abadi terpahat di dinding-dindingnya, menjadi bukti kebesaran kaligrafer yang sebagian orang menjulukinya Yaqut al-Musta’shimi-nya abad 20. Di pemakaman Karaca Ahmet, generasi terakhir dari kaligrer Turki Usmani ini dimakamkan, tepat di samping makam kaligrafer pertama Turki Usmani, Syekh Hamdullah al-Amasi. Umur seorang kaligrafer itu sementara, sementara tulisannya akan abadi. [muhd nur/hamidionline]

* Sumber utama tulisan ini dari video dokumenter tentang Ustadz Hamid Aytac oleh IRCICA, yang penulis dapatkan dari Ustadz Belaid Hamidi. Ditambah dari beberapa sumber lain, baik dari buku maupun dari makalah di internet.

LEAVE A REPLY