Close Menu
Hamidionline
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    HamidionlineHamidionline
    Subscribe
    • Home
    • Ahaly Hamidi
    • Manhaj Hamidi
      • Pencetus
    • Kaligrafer Dunia
    • Event
    • Artikel
    Hamidionline
    Home»Artikel»Kaligrafer Wanita Dalam Pentas Sejarah, Bagian 2
    Artikel

    Kaligrafer Wanita Dalam Pentas Sejarah, Bagian 2

    muhd nurBy muhd nurOctober 24, 2019Updated:October 20, 2024No Comments3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

    Sebagaimana seni lain, khot bukanlah seni dominasi laki-laki, tidak bias gender. Ini berarti peran wanita dalam sejarah khot tidak perlu dipertanyakan. Jika demikian adanya, maka perlakuan seorang guru kepada murid wanitanya yang sedang belajar khot, hendaknya jauh dari kesan meremehkan, atau menomorduakan. Dalam sejarah, terdapat banyak tokoh kaligrafer wanita yang hingga sekarang namanya masih abadi. Bahkan kehadiran kaligrafer wanita sudah dicatat sejarah sejak masa awal Islam.

    Seorang sejarawan dan penyair Persia yang hidup di Baghdad, Ahmad bin Yahya al-Baladzuri (W. 279 H) dalam kitabnya “Futuh al-Buldan”, menyebutkan beberapa nama kaligrafer wanita yang ada pada masa awal Islam. Di antaranya, dalam sebuah riwayat, Rasulullah saw. berkata kepada kepada as-Syifa’ bintu Abdullah al-Adawiyah (W. 20 H), seorang shabiyah ahli ruqyah penyakit serta salah satu dari wanita menguasai baca tulis, menguasai seni khot serta sastra Arab. Rasulullah meminta kepada as-Syifa’ supaya mengajari Hafshah cara meruqyah penyakit namlah (sejenis sakit gatal dan inflamasi pada kulit), sebagaimana ia mengajari Hafshah menulis (khot). Selain Hafshah (W. 41 H), as-Syifa’ juga mengajari Ummu Kultsum bintu ‘Uqbah (W. 41 H) dan beberapa wanita lainnya.

    Riwayat lain yang menujukkan peran besar seorang wanita dalam khat berasal dari seorang ulama besar, sejarawan, sastrawan, ahli usul fikih serta teolog, Ibnu Hazm al-Andalusi adz-Dzahiri (W. 456 H) dalam Risalah Thauq al-Hamamah fi al-Ulfah wal al-`Ullaf, menyebutkan dengan terus terang bahwa beliau belajar menulis dan khot kepada seorang wanita, beliau berkata “Mereka (hunna) mengajariku al-Qur’an, meriwayatkan untukku banyak syair serta melatihku menulis khot”.

    Sumber sejarah lainnya, seperti “kitab as-Shilah fi Tarikh Aimmah al-Andalus” karangan Abu al-Qasim Khalaf bin Abdu al-Malik (W. 578 H) menyebutkan nama-nama wanita yang masyhur dengan keindahan tulisannya. Di antaranya adalah Fathimah bintu al-Hasan bin al-Aqra’ (W. 480 H), terkenal karena tulisannya yang sangat indah. Dalam “al-Ishabah fi Ma’rifah as-Shahabah” Ibnu al-`Atsir menyebutkan bahwa khot yang ditulis oleh Fathimah bintu Hasan mengikuti gaya tulisan Ibnu al-Bawwab. Nama lainnya adalah Syahidah bintu Abi Nashr Ahmad al-Ibri (W. 574 H) murid dari Muhammad bin Abdu al-Malik, murid Ibnu al-Bawwab.

    Sementara itu, di antara kaligrafer wanita yang ijazahnya masih terjada dan bisa dilihat saat ini adalah ijazah khattathah Halimah bintu Muhammad Shadiq (W. 1169 H) dari gurunya, Muhammad Rasim (W. 1144 H). Halimah memperoleh ijazah pada usia yang sangat muda, 12 tahun. Sang guru, Muhamamad Rasim adalah kaligrafer yang menguasai Aqlam Sittah (Tsulust, Naskhi, Muhakkak, Raihani, Tauqi’ dan Riqa’), mendapatkan ijazah pada usia 18 tahun, dan menjadi guru pada Diwan Hamayuni.

    Menyinggung kaligrafer wanita serasa kurang jika belum menyebutkan nama Asma` Ebrat. Kaligrafer wanita ini lahir di Istanbul dan belajar kepada Mahmud Jalaluddin (W 1245 H). Asma` mendapatkan ijazah pada usia 15 tahun dengan menulis Helyah Syarifah dan mendapat apresiasi dari banyak kaligrafer lain. Beliau kemudian menikah dengan sang guru, Mahmud Jalaluddin. Menutup tulisan ini, perlu kami singgung pula satu nama, yaitu Syarifah Aminah Tsarwat Hanim, yang mendapatkan ijazah dengan menulis Helyah Syarifah pada tahun 1291 H. Untuk melengkapi keterangan dan nama kaligrafer wanita, bisa merujuk kembali artikel kaligrafer wanita dalam sejarah, yang sudah kami posting sebelumnya. (muhd nur/ hamidionline)

    Sumber: Nasshar Manshur, Nidzam al-Ijazah fi Fann al-Khath al-Arabiy

    asma ebrat kaligrafer wanita
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Previous ArticleRiwayat Sejarah Peletakan Huruf
    Next Article Latihan Bersolek Mempercantik Huruf
    muhd nur
    • Website
    • Facebook
    • X (Twitter)
    • Instagram

    Memperoleh ijazah di khot diwani, jaly diwani dan nasta'liq (2012), naskhi dan maghribi (2015) dari al-ustadz Belaid Hamidi. Saat ini menetap dan mengajar di PM Darussalam Gontor.

    Related Posts

    Rahasia Arah Jarum Jam dan Metode Menulis Huruf Arab

    April 2, 2021

    Perhatikan Ini Sebelum Memutuskan Untuk Belajar Khot

    February 16, 2020

    Khat Kufi dan Perannya dalam Sejarah Penulisan Al-Qur’an

    February 8, 2020
    Leave A Reply Cancel Reply

    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    • Tentang website
    • Disclaimer
    • Site Map
    © 2026 Hamidionline.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.