Workshop Kaligrafi dan Tadzhib; Semangat Baru dari Pusaka Pati

pusaka pati

Senin kemarin 9/7/2017 ada kesibukan yang tidak biasa di gedung Haji Pati. Hari itu diselenggarakan kegiatan Lomba Kaligarafi Nasional serta Workshop Kaligrafi dan Tadzhib yang diprakarsai oleh Pusat Sanggar Kaligrafi Pati (PUSAKA), binaan dari Ikatan Persaudaraan Qori’ Qori’ah Hafidz Hafidzah (IPQOH), yang bekerja sama dengan Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Jawa Tengah, Kementrian Agama, dan PT. Fath Travel dan Umrah.Senin kemarin 9/7/2017 ada kesibukan yang tidak biasa di gedung Haji Pati. Hari itu diselenggarakan kegiatan Lomba Kaligarafi Nasional serta Workshop Kaligrafi dan Tadzhib yang diprakarsai oleh Pusat Sanggar Kaligrafi Pati (PUSAKA), binaan dari Ikatan Persaudaraan Qori’ Qori’ah Hafidz Hafidzah (IPQOH), yang bekerja sama dengan Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Jawa Tengah, Kementrian AGAMA, dan PT. Fath Travel dan Umrah.

Kegiatan ini berjalan dengan lancar dan ternyata memang telah dirancang jauh-jauh hari, bahkan sekitar 4-5 bulan sebelumnya. “Kegiatan ini memang sudah direncakan oleh temen-temen PUSAKA, sekitar akhir Desember 2016 hingga awal Januari 2017. Yaitu ketika saya diundang ke Turki saat penerimaan hadiah saat memenangkan Lomba Kaligrafi kemarin. Pada saat itu saya berbincang-bincang dengan Ustadz Sahriyansah, kaligrafer asal Indonesia yang sekarang menetap di Turki, dimana beliau juga kerap mengharumkan nama Indonesia pada prestasi yang dicapainya” ungkap Ust. Huda Purnawadi. Beliau menambahkan bahwa acara ini juga sebagai salah satu pemanfaatan waktu ketika ust. Sahriyansah Sirojuddin bersama istri saat berkunjung ke Indonesia. “Insya Allah, ketika lebaran nanti, kami beserta keluarga akan berkunjung ke Indonesia, kebetulan juga ada acara keluarga, jika memungkinkan, coba buat acara yang berkaitan dengan kaligrafi atau semacamnya, untuk keperluan nanti kita bisa usahakan”, lanjut ust. Huda menirukan perbincangannya dengan Ustadz Syahriansyah saat pertemuan keduanya di Turki.

 

pusaka pati -1
Ustadz Syahriansyah dan Ustadzah Fatma ketika menyampaikan materi Workshop.

Acara workshop kaligrafi dan tahdzib ini menarik perhatian para peserta, karena memang menghadirkan sumber pemateri yang kompeten dari Turkey yaitu Ustadz Sahrianyah Sirojuddin beserta sang isteri, Ustadzah Fatma Ulusoy. Dalam workshopnya, beliau menjelaskan akan pentingnya belajar kaligrafi dengan guru, dengan metode khusus. Salah satunya adalah metode taqlidy yang merupakan metode percepatan, terutama bagi para pemula. Metode ini sangat membantu para pembelajar agar dapat mempelajari kaligrafi dan keilmuannya dengan lebih sistematis.

Workshop yang berlangsung meriah ini dihadiri oleh peserta yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia, seperti daerah sekitar Jawa Tengah, Jawa Timur, Padang, Jakarta, Sukabumi, Kalimantan dan daerah-daerah lainnya. Sedangkan jumlah peserta yang mengikuti lomba kaligrafi nya yaitu 35 peserta, dengan cabang lomba pada Jaly – Tsuluts. Syukurnya, kegiatan tersebut dapat terlaksana dengan baik meskipun hanya ditangani oleh sekitar 50 panitia yang berasal dari para santri dan mahasiswa dari STAI Pati.

Pada hari yang sama, pemenang Lomba Kaligrafi Tingkat Nasional Tahun 2017 yang diselenggarakan oleh PUSAKA Pati, juga diumumkan tepat sebelum workshop dilaksanakan. Berikut daftar para juara:

Juara Utama

  1. Teguh Prastio. Sukabumi, Jawa Barat.
  2. Muhammad Mu’allimin. Demak, Jawa Tengah.
  3. M Samsudin. Sanyeran, Jambi.

Juara Harapan

  1. Ahmad Ashof. Bantul, Jogjakarta.
  2. Ahmad Syarwani. Kotawaringin Timur, Kalimantang Tengah.
  3. M. Hendrik Saputra. Sukabumi, Jawa Barat.
juara pusaka pati
Para pemenang lomba berpose bersama usai pengumuman.

Harapan ke depan, adanya acara ini diharapkan dapat membantu para pecinta kaligrafi Indonesia agar terus mengikuti perkembangan kaligrafi bertaraf Internasional dan bukan hanya fokus kepada MTQ yang selama ini menjadi perhatian mereka. Karena di luar sana masih banyak sekali jenis seni kaligrafi yang juga perlu dipelajari diikuti. Dengan demikian, dapat membantu mengenalkan seni kaligrafi Islam klasik dan tedzib yang selama ini hanya dianggap biasa-biasa saja. Selain itu, direncanakan acara seperti ini menjadi agenda rutin PUSAKA yang dilaksanakan setiap dua tahun sekali. Demikian tutup Ustadz Huda Purnawadi. [Yasir Amrullah/hamidionline]

Continue Reading

Ibnu Muqlah, Sang Menteri Pencetus Khot Mansub

ibnu muqlah

Ibnu Muqlah merupakan nama yang ‘wajib’ diketahui oleh setiap kaligrafer. Untuk
mencari siapa beliau, tidak terlalu sulit. Bahkan sudah sangat banyak artikel
membahas tentang biografi Ibnu Muqlah. Karena itu, sedikit ulasan berikut ini
kami harap bisa menjadi pelengkap dari informasi yang sudah ada.

Nama lengkap Ibnu Muqlah adalah Muhammad bin Ali bin al-Husain Ibnu Muqlah.
Kaligrafer era Daulah Abbasiyah yang tidak perlu diperkenalkan lagi karena kemasyhurannya. Lahir pada hari Kamis setelah ashar, pada akhir bulan Sawwal 272 H di Baghdad, meninggal pada hari Ahad, 10 Syawwal 328 H. Ibnu Muqlah adalah pemilik gagasan untuk mengubah bentuk khot dari kufi menjadi ‘bentuk dasar’ dari jenis khot yang kita lihat saat ini. Meskipun demikian, beliau juga bisa disebut sebagai penerus seorang kaligrafer pada akhir era Daulah Umawiyah yang bernama Quthbah Muharrar, karena usaha untuk memperbaiki dan mengubah khot kufi menjadi lebih indah, telah ada sejak akhir Daulah Umawiyah.

Ketika Islam mulai menyebar di jazirah Arab, tulisan yang dipakai oleh masyarakat ketika itu dikenal dengan nama khot al-Anbari al-Hiiry. Jenis ini ketika berpindah ke Hijaz disebut khot Hijazi. Khot Hijazi inilah yang menjadi cikal bakal bentuk khot naskhi. Namun demikian, hanya sedikit orang Quraisy saat itu yang bisa menulis khot Hijazi ini, tidak lebih dari belasan orang saja. Tonggak sejarah menyebarnya tulisan di kalangan umat Islam adalah ketika Islam berhasil memenangkan berang Badar dan berhasil menawan sejumlah tawanan. Untuk tawanan yang bisa menulis, maka tebusannya adalah mengajar menulis kepada 10 anak muslim Madinah. Sehingga tidak heran jika sebelum al-Qur’an selesai diturunkan, Rasulullah saw telah mempunyai sedikitnya 40 sahabat sebagai penulis al-Qur’an.

khot hijazi
Salah satu lembaran mushaf ditulis dengan khot Hijazi. Khot ini ditulis tanpa titik sebagaimana jenis khot Suriyani saat itu. (sumber qenshrin.com)

Ibnu Muqlah dalam mengubah khot Hijazi menjadi bentuk yang lebih indah dan lentur seperti yang kita lihat saat ini, telah melakukan perhitungan secara geometris untuk setiap bentuk huruf dengan titik sebagai ukuran. Ibnu Muqlah belajar khot kepada al-Ahwal al-Muharrar, bersama saudaranya, Abdullah bin Muqlah yang wafat sepuluh tahun setelahnya. Salah satu bukti kepiawaiannya dalam menulis, Ibnu Muqlah telah menyalin mushaf sebanyak dua kali.

Ibnu Muqlah menyebutkan bahwa pondasi tulisan yang benar serta indah bentuknya
minimal ada lima hal, yang lebih populer dengan husnu at-tasykil:

  1. Taufiyah; yaitu memenuhi hak setiap bagian huruf dengan bentuk tertentu
    sebagaimana mestinya. Seperti bentuk melengkung, lurus, miring dan sebagainya.
  2. Itmam; yaitu memberi hak pada setiap huruf dengan ukuran yang telah ditentukan.
    Seperti panjang, pendek, tebal dan tipis.
  3. Ikmal; yaitu menyempurnakan bentuk pada huruf (taufiyah) dengan kadar yang benar dan rasio yang tepat.
  4. Isyba‘; yaitu memberikan setiap huruf bagian tebal dan tipis sebagaimana mestinya. Pada bagian tertentu yang semetinya sama ditulis dengan ketebalan sama dan tidak berbeda-beda. Demikian pula pada huruf yang semestinya tipis, maka haknya pun harus sempurna ditulis dengan tipis.
  5. Irsal; yaitu menulis dengan tangan yang lancar dan tidak terputus-putus di beberapa bagian dikarenakan gemetar atau sengaja berhenti karena sebab lainnya.

Dalam sebuah riwayat disebukan bahwa Ibnu Muqlah adalah penulis perjanjian
antara Muslimin dengan Romawi, tulisan tersebut diletakkan pada Gereja
Konstantin. Pada hari-hari besar, tulisan tersebut dipamerkan kepada khalayak
karena keindahan tulisannya, dan ditetapkan sebagai salah satu hiasan pada
tempat suci bangsa Romawi.

Ibnu Muqlah lebih dikenal dengan gelar “al-wazir” yang berarti menteri. Gelar tersebut disematkan karena beliau pernah menjadi menteri dari pada masa tiga khalifah pemerintahan Bani Abbasiyah, di antaranya adalah Muqtadir Billah, kemudian al-Qahir Billah, lalu Arradhi Billah. Sementara nama “muqlah” yang berarti bola mata, diambil dari nama ibunya. Dimana ketika kecil, kakeknya selalu menimang sang ibu dan mengatakan “ya muqlata abiiha”. Sebutan muqlah inilah yang kemudian beliau warisi dari sang Ibu, sehingga kaligrafer besar kita, Muhammad bin Ali bin al-Husain lebih dikenal hingga saat ini dengan sebutan Ibnu Muqlah.

Selain kaligrafer yang mempunyai sumbangsih sangat besar; yaitu arsitek huruf yang merubah tulisan arab dari bentuk kufi menjadi bentuk lentur dan mempunyai ukuran titik seperti yang kita lihat sekarang, beliau juga seorang penyair handal, ahli pidato, dan sastrawan ulung. Di antara murid Ibnu Muqlah yang belajar khot darinya adalah; Muhammad bin Asad al-Katib (w.410) dan Muhammad as-Samsamani. Dari Muhammad bin Asad al-Katib ini, Ali Ibnu Hilal yang lebih dikenal sebutan Ibnu al-Bawwab belajar khot. [muhd nur/hamidionline]

Diterjemahkan dari buku Ahmad Shabri Zaid, Tarikh Khat Arabiy, Darul Fadhilah, (Kairo: 1998) hal. 43

Continue Reading

Kaligrafer Indonesia Juara Pertama di Lomba 7tepe7sanat Turki

huda purnawadi


Kembali seorang kaligrafer muda berbakat Indonesia menorehkan prestasi yang membanggakan. Ustadz Huda Purnawadi, kaligrafer dari Pati berhasil mengungguli kaligrafer dari negara-negara lain dan memperoleh posisi pertama pada cabang kaligrafi kategori jaly sulus, pada even 7tepe7sanat International Istanbul Classic Arts Competition tahun 2017. Prestasi ini menunjukkan hasil ketelatenan, kerjakeras, kesabaran dan kesungguhan. Selain itu, prestasi beliau tidak muncul secara instant, namun perlu waktu yang panjang dalam belajar maupun berkarya. Demikian pengakuan Ustadz Huda sebagaimana dilansir oleh fokuspati.

huda purnawadi
Ustadz Huda Purnawadi, Jaly Sulus – Juara 1 lomba 7tepe7sanat 2017.

Even yang digelar oleh pemerintah kota Uskudar Turki bekerjasama dengan yayasan wakaf Klasik Turk Sanati Vakfi tahun ini merupakan kali ke-2 setelah even perdana dilaksanakan tahun 2015. 7tepe7sanat International Istanbul Classic Arts Competition ini terdiri atas beberapa cabang lomba, di antaranya adalah kaligrafi (jaly sulus dan sulus-naskhi), gilding, miniature, paper cutting,  marbling, tile dan binding. Sedangkan tujuan utama dari penyelenggaraan even ini adalah menjaga kelestarian seni-seni klasik, termasuk kaligrafi.

Selain Ustadz Huda Purnawadi, satu putra Indonesia juga masuk pada urutan ke-lima, yaitu Ustadz Syahriansyah Bin Sirajuddin dari kalimantan, pada katogori yang sama. Pada even perdana tahun 2015, Ustadz Syahriansyah juga telah berhasil memperoleh posisi yang sama, juga pada kategori yang sama.

Syahriansyah
Ustadz ŞahryanŞah Sirajuddin, Jaly Tulus – Juara 5, lomba 7tepe7sanat 2017.

Prestasi Kaligrafer Indonesia Membanggakan!

Kedua kaligrafer Indonesia di atas termasuk kedalam sederet nama kaligrafer tanah air yang produktif dalam berkarya dalam dunia kaligrafi serta aktif mengikuti perlombaan-perlombaan internasional. Untuk menyebut beberapa nama yang juga pernah mengukir prestasi di lomba kaligrafi internasional seperti; Ustadz Isep Misbah, Ustadz Teguh Prastio, Ustadz Muhammad Zainuddin, Ustadzah Nur Hamidiyah, Ustadz Feri Budiantoro, Ustadz Alim Gema Alamsyah, Ustadzah Novitasari Dewi, Ustadz Jimly Ashari, Ustadz Darmawan dan lainnya. Keikutsertaan para kaligrafer tanah air dalam even lomba kaligrafi internasional, tentu membuka cakrawala baru, dan mau tidak mau diakui memberi warna baru dalam dunia kaligrafi di tanah air.

Apalagi partisipasi kaligrafer tanah air pada even tersebut, cukup baik bahkan membawa prestasi yang patut diapresiasi. Bahkan keberadaan mereka saat ini pun diperhitungkan oleh para kaligrafer lain. Pengalaman yang membuat kaligrafer matang, seharusnya didukung oleh even serupa di tanah air, atau metode pembelajaran yang mendukung lahirnya kaligrafer dengan kekuatan huruf yang mumpuni serta penguasaan yang baik terhadap kaidah. Tidak melulu eksplorasi warna dan bentuk baru yang cenderung jauh dari kaidah, bahkan membuat para pembelajar dan kaligrafer pemula bingung.

Tantangan Lomba Kaligrafi Indonesia

Kematangan para kaligrafer tahan air dalam lomba kaligrafi internasional juga akan memberikan wawasan tentang lomba kaligrafi yang baik. Lomba kaligrafi yang benar-benar mengedepankan kualitas tulisan dan menghargai orisinalitas karya seseorang. Lomba kaligrafi juga tidak hanya soal besarnya hadiah atau banyaknya bonus. Namun tidak berarti lantas mengabaikan hak yang sepadan bagi para pemenang, bahkan menunaikan hak tersebut telah menjadi konsekuensi logis dari sebuah lomba yang baik agar bisa menjadi contoh dan teladan.

Lomba kaligrafi yang saat ini diperlukan di Indonesia menurut penulis adalah lomba yang berkesinambungan dan mengacu kepada pembentukan mental dan karakter seorang kaligrafer maupun penyelenggara lomba yang kompeten dan berdedikasi tinggi. Even lokal setidaknya menjadi pemanasan kaligrafer tahan air untuk bersaing dalam even lebih besar. Sehingga tidak berkutat dan terjebak pada model lomba dan kaligrafi yang selama ini ada, dan bahkan memaksakan diri untuk diakui eksistensinya. Karena saat ini, pintu untuk bersaing secara global telah terbuka, dan saatnya menyiapkan genarasi yang akan datang, supaya lebih bisa berkiprah lebih dari yang sekarang sudah ada. Wallahua’lam. [muhd nur/hamidionline]

Continue Reading

Sejarah Urutan Huruf Arab dan Peran Nashr bin ‘Ashim


Bangsa Arab berbeda pendapat tentang jumlah huruf hijaiyah. Di antara mereka mengatakan bahwa jumlahnya 29 huruf; 25 huruf shahih, 3 huruf ‘illah (yaitu alif, wawu dan ya’), sedangkan yang 1 huruf mirip huruf ‘illah, yaitu huruf ha. Tetapi ada juga yang berpendapat bahwa huruf hijaiyah ada 28, dengan mengabaikan huruf lam alif, karena dianggap bukan huruf mandiri, akan tetapi tersusun atas dua huruf, yaitu lam dan alif. Dan menjadikan huruf pertama, yaitu alif sebagai pengganti huruf hamzah karena alif dibaca seperti hamzah jika di depan, di satu waktu alif juga dianggap sebagai huruf ‘illah, dilihat dari nama dan bentuknya.

Pendapat yang memasukkan lam alif sebagai satu huruf, menganggap lam alif sebagai huruf alif, dan mengabaikan keberadaan huruf lam. Karena lam pada dasarnya hanya dipakai untuk membantu penyebutan alif, yang tidak mungkin bisa dibunyikan dengan mandiri. Sedangkan dipilihnya lam sebagai pasangan alif, dan bukan huruf yang lain, karena lam juga menjadi pasangan alif dalam adat ta’rif (alif dan lam). Karena sebab ini pula, lam menyertai alif dalam huruf hijaiyah.

Lam alif adalah huruf terakhir yang masuk ke dalam huruf hijaiyah. Karena itu, lam alif tidak tersebut dalam urutan huruf yang disebut dengan “al-abjadiyah”. Urutan ini merupakan urutan huruf arab tertua yang telah ada sebelum Islam. Di mana para ahli ilmu bahasa dan rahasia huruf sepakat untuk menggolongkan huruf hijaiyah yang berjumlah 28 huruf ke dalam empat golongan; yaitu api, udara, air dan tanah. Huruf yang berjumlah 28 dalam urutan abjadiyah adalah sebagai berikut:

أبجد هوز حطي كلمن سعفص قرشت ثخذ ضظغ

Urutan di atas terdiri dari 8 kalimat yang kemudian dibagi menjadi dua bagian:

  • Syamsiyah: huruf yang jika bersambung dengan alif lam, maka lam tidak dibaca. Contohnya huruf syin dalam kalimat “Asy-Syamsu”.
  • Qomariyah: jika bersambung dengan alif lam, maka lam dibaca jelas. Contohnya huruf qaf dalam kalimat “Al-Qamaru”

Dari pembagian tadi, terdapat 14 huruf yang masuk kedalam syamsiyah dan 14 yang termasuk ke dalam Qamariyah. Pembagian yang seimbang inilah yang mungkin menjadi penyebab tidak masuknya huruf lam alif ke dalam huruf abjadiyah, dan dianggap sudah masuk ke dalam huruf hamzah (alif). Dengan demikian jumlah 28 huruf terjaga keseimbangannya.

Urutan huruf Abjadiyah di atas berlangsung dari zaman sebelum Islam hingga datangnya perubahan oleh salah seorang murid murid Abu al-Aswad ad-Du’aly, yaitu Nashr Ibn ‘Ashim (w. 89 H). Beliu adalah orang yang mengurutkan ulang huruf-huruf tersebut sehingga menjadi seperti susunan sekarang ini. Di samping itu, Nasr Ibn ‘Ashim juga orang pertama yang melatakkan titik di atas huruf sebagai pembeda antara huruf-huruf yang mempunyai bentuk yang sama, atas perintah dari Hajjaj bin Yusuf (w. 95 H), seorang panglima pada era Umayah.

Susunan baru Hasil ijtihad Nasr Ibn ‘Ashim yang kita kenal sekarang, menyertakan lam alif di dalamnya, dibagi sesuai dengan 3 kriteria:

  1. Huruf yang bentuknya berdiri sendiri, berjumlah 9.
  2. Huruf yang bentuknya mencakup 2 macam huruf, berjumlah 7.
  3. Huruf yang bentuknya mencakup 3 macam huruf, berjumlah 2.

Urutan baru ini meletakkan Alif pada urutan pertama huruf hijaiyah dengan pertimbangan bahwa alif adalah huruf halqi paling terlihat. Kemudian Nasr Ibn ‘Ashim meletakkan huruf yang bentuknya mencakup 3 huruf pada urutan setelah alif, disusul oleh huruf yang bentuknya mencakup 2 huruf, diikuti oleh huruf yang berdiri sendiri, dan meletakkan huruf illah bersama huruf ha’ di bagian akhir urutan, sehingga urutan baru tersebut menjadi seperti ini:

ا، ب، ت، ثـ ج، ح، خ، د، ذ، ر، ز، س، ش، ص، ض، ط، ظ، ع، غ، ف، ق، ك، ل، م، ن، و، ه، لا، ء، ي

Urutan yang detail di atas merupakan buah dari era kemajuan dalam menulis dan perhatian para ulama terhadap tulisan arab. Di mana urutan ini belum ada pada saat awal dikenalnya huruf arab, yang dikenal dengan urutan abjadiyah seperti yang telah disinggung di atas.

Demikian sekilas tentang urutan huruf arab yang tidak lepas dari peran dan perhatian para ulama, dalam menjaga dan mengembangkan serta mengenalkan huruf arab. Untuk dipelajari dan dikenal tidak hanya untuk kalangan orang arab, tetapi untuk seluruh umat manusia. Allahua’lam bisshawab. [muhd nur/ hamidionline.net]

Diterjemahkan dari buku Ahmad Shabri Zaid, Tarikh Khat Arabiy, Darul Fadhilah, (Kairo: 1998) hal. 30-33.

Continue Reading

Nuria Garcia Masip; Sosok Langka Kaligrafer Wanita

Nuria Garcia Masip lahir tahun 1978 di Ibiza, Spanyol. Hidupnya berpindah-pindah antara Spanyol dan Amerika. setelah menyelesaikan gelar B.A. pada Washington University, tahun 1999 Ustadzah Nuria Garcia pergi ke Maroko untuk mendalami Seni Islam yang dia gemari, dan pada rentang waktu tersebut, beliau belajar khot maghribi kepada Ustadz Belaid Hamidi. Pada tahun berikutnya (2000) beliau kembali ke Washington D.C dan mulai belajar khot riq’a, sulus, dan naskh dari Kaligrafer Amerika, Muhammad Zakaria.

Pada tahun 2004, Ustadzah Nuria Garcia pindah ke Istanbul dan melanjutkan belajar sulus serta naskh langsung dari guru gurunya (guru dari Muhammad Zakaria), yaitu Syaikh Hasan Çelebi dan juga dari Ustadz Dawud Bektasy. Tahun 2007, atas dukungan dan sponsor IRCICA (Research Center for Islamic History, Art and Culture), Nuria Garcia memperoleh ijazah pada dua khot tersebut (tsulus dan naskh) dengan tanda tangan dari tiga gurunya (Hasan Çelebi, Dawud Bektasy dan Muhammad Zakaria).

Saat ini, Ustadzah Nuria Garcia Masip tinggal di Munic, Jerman. Namun demikian, secara rutin dia mengadakan kunjungan ke Turki untuk terus belajar dan mengambil ilmu dari para Master Kaligrafi Turki. Kesibukan beliau tidak lepas dari membuat karya dan mengadakan pameran2 Kaligrafi di Spanyol, Turki, Dubai, Kuwait dan lain-lain. Selain itu, Ustadzah Nuria Garcia juga aktif mengadakan workshop dan pelatihan seputar kaligrafi seperti di Zaragona (Spanyol), Capetown (Afrika Selatan), dan juga di Washington D.C.
Selain pemateri warkshop kaligrafi dan pameran baik tunggal maupun bersama di berbagai negara, berikut ini daftar lomba (musabaqah) kaligrafi Internasional yang pernah beliau menangkan ikuti:

2016 Juara pertama, Pameran Noor, Sharjah International Calligraphy Biennial, UAE.
2013 Juara kedua pada kategori jaly sulus, IRCICA International Calligraphy Competition. Istanbul, Turkey.
2012 Juara pertama, kategori kaligafi klasik, Lomba Kaligrafi Internasional, Aljazair.
2012 Juara tiga, Kategori sulus, Lomba Kaligrafi Albaraka Türk, Istanbul, Turkey.
2010 Juara empat, Ketegori sülüs, IRCICA International Calligraphy Competition. Istanbul, Turkey.
2010 Juara harapan, kategori sulus, Al Burda Competition, Abu Dhabi, U.A.E.
2008 Juara ke-3 kategori Sulus, pada Musabaqah al-Barakah, diadakan di Istambul Turki.
2008 Juara harapan, kategori Sulus-Naskh, pada Musabaqah al-Burda, diadakan di Abu Dhabi, Emirat.
2007 Juara harapan, kategori Sulus, pada 7th International Calligraphy Competition IRCICA, Turki.
2003 Juara harapan kategori Riq’a, pada 6th International Calligraphy Competition IRCICA, Turki.

source: www.nuriaart.com

Continue Reading

Jenis Karya Kaligrafi 2 (Muraqqa’ah)

Jenis karya kaligrafi muraqqa’ah adalah satu jenis lain dari karya kaligrafi yang dikenal pada era Usmani. Singkatnya muraqqa’ah adalah kumpulan dari qith’ah yang disusun menjadi satu. Dengan demikian muraqqa’ah pun bermacam-macam, tergantung pada jenis kaligrafi yang dipakai dalam qith’ah yang menyusunnya. Seperti misalnya muraqqa’ah suluts-naskhi, muraqqa’ah muhaqqaq-rayhani dan lain-lainnya.

Muraqqa’ah mempunyai keunikan dengan bersambungnya naskah yang tertulis dari satu qith’ah ke qith’ah selanjutnya. Selain naskah dan makna yang sambung menyambung, muraqqa’ah juga tersusun dari bentuk qith’ah yang identik dari segi jumlah barisnya, lebar dan panjang, serta jarak antar baris pada setiap qith’ah, yang menambah keunikan dan keindahan muraqqa’ah. Karena keunikan ini, maka muraqqa’ah membentuk susunan qith’ah berseri yang naskah dan maknanya saling bersambung dengan jenis kaligrafi yang konsisten dalam bentuk huruf dan ukuran setiap barisnya.

Jenis Karya Kaligrafi 2 (muraqqa'ah)
Contoh Cover Muraqqa’ah

Karena tuntutan ini pula, muraqqa’ah lebih banyak ditulis oleh satu orang kaligrafer yang dikenal dengan istilah muraqqa’ah muraqqamah. Namun demikian, ada juga muraqqa’ah yang merupakan kumpulan dari qith’ah yang ditulis oleh beberapa orang kaligrafer. Jenis ini oleh para kaligrafer dinamakan dengan istilah muraqqa’ah majmu’ah. [muhd nur/ hamidionline]

*Disarikan dari buku al-Madrasah al-‘Utsmaniyyah lifannil Khattahil ‘Arabi, Dr. Idham Muhammad Hanas, Maktabah Imam Bukhari, Kairo, 2012, h. 178

Di bawah ini merupakan contoh muraqqa’ah oleh beberapa kaligrafer. Di antaranya adalah Hafidz Osman yang menulis kasidah “Banat Su’ad”, dan juga Syaikh Aziz Rifa’i, dan juga seorang kaligrafer Muhammad Washfi yang menulis kasidah “at-Thantharani”

Muraqqa’ah Hafidz Osman

Muraqqa’ah Syaikh Aziz Rifa’i

Continue Reading

Mengenal kaligrafi Arab (1)

jenis kaligrafi arab (1)

Kaligrafi Arab yang berkembang sejak turunnya Islam sangat beragam. Pada awalnya, jenis kaligrafi biasa disebut dengan tempat dimana khot tersebut berkembang, seperti khot makky, khot madany, khot kufi dan lain-lain.

Seiring dengan perkembangan zaman dan peradaban, terdapat jenis kaligrafi Arab yang eksis dan tetap bertahan bahkan dilestarikan hingga sekarang. Setidaknya terdapat enam jenis kaligrafi Arab yang biasa disebut dengan khututh asasiyyah (jenis kaligrafi primer). Di antaranya adalah riq’ah, diwani, jaly diwani, nasta’liq, naskhi dan suluts. Penyebutan ini tidaklah berdasarkan hierarki zaman munculnya jenis kaligrafi arab tersebut, akan tetapi mengacu pada tingkat kesulitan dan kerumitan, serta dimulai dari yang paling sederhana yaitu riq’ah, hingga jenis paling sulit dan rumit serta paling indah, yaitu khot suluts.

Tulisan singkat ini hanya ingin memberikan gambaran umum tentang jenis kaligrafi tersebut, yang kami rangkum dari berbagai sumber baik dari buku, internet, maupun dari para asatidz kaligrafer khot yang dari beliau kami mengambil dan belajar kaligrafi ini.

Khot Riq’ah

Jenis kaligrafi Arab ini memiliki bentuk paling sederhana dibanding jenis lainnya. Riq’ah juga merupakan jenis paling banyak dipakai dalam menulis sehari-hari dalam transaksi di masyarakat. Keindahannya terletak pada konsistensi bentuk dan ketajaman bagian hurufnya yang dibalut kelenturan pada ujung dan sambungan antar huruf. Selain itu, jenis ini pada umumnya mudah dibaca. Kecuali pada penggalan yang sengaja ditulis untuk memunculkan sisi keindahan. Pada kasus ini, beberapa huruf yang tidak lazim disambung, tetapi disambung sehingga terkesan sulit dibaca, namun menambah keindahan dan kekuatan susunannya.

Selain bentuk kaku dibalut kelenturan, jenis khot ini juga dipakai hanya untuk menulis lurus satu garis (mursal) dan tidak biasa dibuat saling masuk (mudammaj) atau bertumpuk  (murakkab). Karena itu, tidak nyaris tidak ada bagian yang sulit dibaca karena susunan huruf yang berlilitan atau ‘mbulet’ (mu’aqqad).

Ciri-ciri khot Riq’ah

Ciri dari riq’ah di antaranya adalah bentuknya yang khas, huruf-hurufnya cenderung lurus dalam kemiringan konstan (busholah), serta tidak banyak lengkungan. tidak menerima huruf yang dipanjangkan (kasyidah). Karena itu, kekuatan huruf dan susunannya terletak pada kepiawaian kaligrafer dalam menyusun huruf-huruf yang relatif mempunyai anatomi pendek dan rendah. Hampir semua huruf khot riq’ah ditulis di atas garis kecuali empat huruf saja (jim, mim, ‘ain dan ha’ di tengah). Ciri lain yang sangat vital adalah, jenis khot ini tidak diberi harakat (tasykil).

Munculnya khot Riq’ah dan Kegunaannya.

Para pakar sejarah seni Islam sepakat bahwa riq’ah pertama kali muncul pada era Turki Usmani, melalui tangan para kaligrafer besarnya. Kemunculan riq’ah tidak bisa dipisahkan dari kondisi seni kaligrafi yang sedang berkembang di Turki saat itu. Kaligrafi menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan ekonomi, sosial, serta politik dan keagamaan yang ada. Seorang kaligrafer mempunyai posisi yang kuat dan memiliki peran ketokohan. Ustadz Belaid Hamidi menyampaikan bahwa munculnya khot riq’ah juga disebabkan faktor kuatnya para kaligrafer pada saat itu dalam menghargai dan memposisikan jenis khot naskhi yang telah dulu dikenal.

Naskhi, sebagaimana diketahui banyak dipakai dalam menyalin al-Qur’an dan kitab hadis. Penggunaan khot naskhi yang sedemikian ‘terhormat’, menjadikan para kaligrafer saat itu berpikir untuk mengistimewakan khot ini dengan tidak memakainya dalam menulis selain al-Qur’an dan transaksi sehari-hari. Karena bagi mereka, jika al-Qur’an adalah kalamullah yang berbeda dengan dengan perkataan manusia, maka tulisan yang dipakai untuk menulis pun harus berbeda.

Sedemikian ta’dzimnya pada kaligrafer saat itu kepada huruf al-Qur’an, sehingga tidak heran jika kemudian keberkahan dan pintu-pintu ilmu (termasuk kaligrafi) terbuka lebar. Sehingga pada gilirannya Turki dan era Turki Usmani khususnya menjadi kiblat dan acuan bagi siapa saja yang ingin belajar kaligrafi dengan sungguh-sungguh.

Siapa yang perlu kita contoh dalam khot Riq’ah?

Jika telah maklum bahwa jenis khot ini tumbuh dan berkembang pada era Turki Usmani, maka riq’ah berarti mempunyai akar kaslian yang kuat di sana. Tumbuhnya riq’ah termasuk ‘belakangan’, jika dibanding dengan jenis khot lainnya. Adalah kaligrafer Mumtaz Bik, yang dicatat sebagai peletak kaidah dasar Riq’ah. Beliau hidup semasa Sultan Abdul Majid Khan, sekitar tahun 1280 H. Riq’ah mencapai kematangan bentuk dan susunannya di tangan kaligrafer besar Muhammad Izzat.

Kaidah Riq’ah yang terdapat dalam kumpulan “Atsar Muhammad Izzat” menjadi panduan kaligrafer seluruh dunia. Jika melihat sejarah, hal ini tentu tidak berlebihan, karena di Turki lah khot ini muncul, dan berkembang, maka wajar jika Muhammad Izzat, kaligrafer Turki menjadi kiblatnya. Meskipiun demikina, hal ini tidak menafikan adanya kaligrafer dan negara lain seperti Irak, Syiria, Jordan, Mesir dan lain-lain yang juga mencoba mengembangkan dan memodifikasi jenis Riq’ah ini. Namun sekali lagi, jika kita ingin melihat riq’ah yang asli, maka seyogyanya kembali kepada kaidah Riq’ah Muhammad Izzat.

Dalam metode belajar kaligrafi Manhaj Hamidi, buku utama dalam pembelajaran khot Riq’ah adalah buku Muhammad Izzat. Meskipun buku utama, namun buku “Izzat” ini tidak serta merta dipelajari pada awal belajar. Karena buku utama ini memuat kaidah dengan detail yang ‘super’, maka diperlukan ‘buku pengantar’ yang menerangkan dasar-dasar penting sebelum masuk ke detail. Di sini lah kurrasah Riq’ah al-Ustadz Yusuf Dzannun mengambil peran pentingnya. Untuk ulasan tentang kurrasah Riq’ah al-Ustadz Yusuf Dzannun ini, Insyaa Allah akan kami muat pada tulisan selanjutnya. [muhd nur/ hamidionline]

Continue Reading
1 2 3 6