Al-Ustadz Yusuf Dzannun; Ensiklopedi Kaligrafi

164
ust yusuf dzannun

[dropcap]A[/dropcap]l-Ustadz Yusuf Dzannun lahir di Mosul, Irak pada tahun 1932.  Sejak kecil, beliau tertarik pada bidang kerajinan, seperti tenun, pertukangan dan arsitektur. Sebelum akhirnya beliau terjun dan mendalami dunia akademis, sebuah bidang yang tidak banyak dilirik oleh masyarakat Mausil kala itu.

Pendidikan formal beliau lalui pada Akademi Pendidikan dengan spesialisasi bidang pendidikan seni. Bidan inilah yang kelak mengantarkannya menjadi seorang guru dan konsultan seni kaligrafi. Di samping juga sebagai konsultan umum di kantor pendidikan kota Ninawa. Di sela-sela kesibukan tersebut, Yusuf Dzannun masih menyempatkan diri untuk menulis karya-karya baru dalam bidang kaligrafi yang mengantarkannya menjadi seorang kaligrafer besar.  Bahkan kepakaran beliau sekaligus menjadikannya sebagai peneliti ulung dan ahli dalam dunia arsitek dan seni Islam. Pengalaman beliau sebagai pakar seni dan peneliti berlangsung dalam kurun waktu lebih dari tiga puluh tahun. Setelah masa itu, semenjak tahun 1981, Yusuf Dzannun lebih memfokuskan diri untuk mendalami Seni Islam secara umum dan Kaligrafi Arab secara khusus.

Jika ditelusuri, riwayat belajar Yusuf Dzannun dalam kaligrafi tidak berawal dari belajar kepada seorang guru sebagaimana lazimnya para kaligrafer. Tetapi beliau memulainya dengan belajar secara otodidak dari buku Muhammad Izzat, kaligrafer Usmani terkenal yang wafat tahun 1886. Buku Muhammad Izzat yang dikenal dengan Atsar Muhammad Izzat adalah buku langka yang memuat kaidah beberapa jenis kaligrafi beserta contohnya. Dalam metode penyusunannya buku ini banyak ditiru oleh para kaligrafer setelahnya.

Pada tahun 1957 Yusuf Dzannun berkunjung ke Istanbul pertama kalinya untuk mengunjungi tempat eksotis dengan sentuhan keindahan seni Islam. Tahun ini merupakan tahun di mana pandangan beliau terhadap Seni Islam secara umum berubah, terlebih dalam bidang kaligrafi. Karena kunjungan tersebut, akhirnya Yusuf Dzannun menjadikan Turki sebagai kiblat seni yang tidak pernah bosan untuk selalu beliau kunjungi.

Yusuf Dzannun sering mengunjungi museum, masjid, serta komplek pemakaman serta tempat bersejarah lainnya di Turki. Selain itu, beliau juga selalu menyempatkan diri untuk bersilaturahmi dengan khattath Usmani terakhir, Hamid al-Amidi. Tempat lain yang sering beliau kunjungi adalah kantor IRICICA di Istanbul. IRCICA adalah lembaga yang memelihara dan menjaga seni kaligrafi, di mana berkat kiprahnya, kaligrafi mengalami perkembangan pesat dalam kurun terahir ini. Usaha nyata IRCICA di antaranya adalah pengadaan perlombaan kaligrafi internasional setiap 3 tahun sekali. Di samping juga mengadakan pameran dan seminar-seminar tentang kaligrafi dan seni Islam lainnya.

Ustadz Yusuf Dzannun pernah mendapatkan Ijazah tabarruk-taqdir (ijazah pengakuan dan penghargaan) dari Hamid Aytac al-Amidi sebanyak dua kali. Masing-masing pada tahun 1966 dan 1969. Ijazah jenis ini terbilang langka dalam dunia kaligrafi. Oleh karena itu, sebagian kaligrafer menganggap ijazah jenis ini lebih tinggi nilainya daripada ijazah masyq (ijazah yang melalui proses belajar rutin-reguler). Pendapat ini wajar saja, mengingat hanya dua orang kaligrafer yang mendapatkannya dari Hamid Aytac. yaitu Ustadz Yusuf Dzannun dan Ustadz Hasyim Muhammad al-Baghdadi (meninggal 1973).

Buku Metode Belajar Kaligrafi Karya Ustadz Yusuf Dzannun

Ustadz Yusuf Dzannun banyak menulis buku-buku ajar dalam beberapa khot. Di antaranya adalah buku Durus Wa Qowaid Khot Riq’ah yang pada awalnya beliau susun untuk diktat kursus khot pada tahun 1962 di Madrasah Mu’allimin yang memasukkan khot Naskhi dan Riq’ah ke dalam kurikulum resminya. Metode pembelajaran riq’ah yang sebelumnya dipakai di madrasah ini adalah metode klasik yang bersandarkan pada pembelajaran semua bentuk huruf . Dimulai dari mufradah lalu bentuk huruf ketika bersambung dengan huruf lainnya. Berlanjut kepada bentuk kalimat dalam sebuah susunan sederhana, dan diselesaikan dengan penggalan panjang yang terdiri dari banyak kalimat. Tentu saja cara klasik ini memerlukan waktu yang lama bertahun-tahun dan cenderung kurang efektif diterapkan di sebuah sekolah.

Baca Juga:   Jenis Karya Kaligrafi 2 (Muraqqa'ah)

Karena kenyataan tersebut, dan tuntutan jam belajar yang terbatas, maka Ustadz Yusuf Dzannun lantas membuat diktat khot riq’ah. Diktat ini menyederhanakan cara mengajar kaligrafi dengan menyesuaikan dengan jam belajar yang tersedia. Setelah melalui proses penelitian dan percobaan, maka beliau sampai kepada kesimpulan bahwa huruf-huruf dalam khot riq’ah bisa disederhanakan menjadi delapan huruf dasar saja. Untuk menguasai bentuk huruf-huruf lainnya, maka huruf dasar (asasiyah) tersebut hanya perlu sedikit sentuhan. Seperti ditambah, dihapus sebagian, atau digabung dengan bagian huruf yang lain. Dengan metode ini, maka beban seorang pelajar pemula yang baru mengenal khot menjadi lebih ringan. Karena yang dia butuhkan hanya menghafalkan delapan bentuk huruf saja. Metode ini telah diterapkan oleh Ustadz Yusuf Dzannun selama bertahun-tahun mengisi pelatihan di berbagai perguruan tinggi dan sekolah di Irak, dan nyata membuahkan hasil yang menggembirakan.

Metode ini lah yang selanjutnya dipegang teguh, dilestarikan, serta dikembangkan, oleh Ustadz Belaid Hamidi al-Maghribi. Beliau adalah salah satu murid Ustadz Yusuf Dzannun. Even “al-Mihrajan Maghribi al-‘Arabi al-awwal lil Khatthi wa az-Zakhrafah al-Islamiyah” yang diadakan di Rabat, tahun 1990 adalah momen penting yang mempertemukan Ustadz Belaid Hamidi dengan guru khat pertamanya Ustad Yusuf Dzannun.

Metode belajar dari ustadz Yusuf Dzannun ini lah yang dipakai oleh Ustadz Belaid Hamidi sebagai pondasi (asaas) dalam mengajarkan khot kepada para muridnya. Baik itu di Maroko maupun ketika mengajar di Kairo. Metode belajar khot riq’ah yang sederhana ini nyata berbukti mampu mengantarkan ratusan pelajar khot pemula untuk memahami khat lebih komprehensif dan matang. Sehingga di antara mereka saat ini -dengan modal riq’ah- telah memperoleh ijazah di empat, lima, enam, bahkan tujuh jenis khot. Bahkan metode ini juga telah terbuka cakrawala baru dalam pembelajaran khot di banyak negara, termasuk Indonesia. Tidak berlebihan jika mengatakan bahwa metode khot riq’ah yang digagas oleh Ustadz Yusuf Dzannun merupakan metode brillian yang fenomenal dan tentu saja itu semua berkat taufiq dan bantuan Allah swt.

Saat ini, Ustadz Yusuf Dzannun terhitung sebagai salah seorang kaligrafer dan tokoh seniman besar yang dimiliki oleh dunia Islam. Beliau juga merupakan seorang peneliti dan penulis dalam bidang seni budaya dan ilmu pengetahuan dalam bidang kaligrafi khususnya dan dalam bidang seni umumnya. Dr. Abdullah bajuri, seorang pakar filologi Arab terkemuka mengatakan “Yusuf Dzannun adalah seorang pakar dalam filologi dan dunia kaligrafi yang dimiliki oleh dunia arab”. Bahkan beliau mengatakan bahwa Yusuf Dzannun adalah satu-satunya pakar saat ini di bidang tersebut dan sangat sedikit pakar yang setara dengannya. Lebih dari itu Yusuf Dzannun adalah tokoh yang masih tersisa dalam bidang kaligrafi, tulisan arab, dan peninggalan-peninggalan sejarah arab yang nyaris tiada tandingannya. Semoga Allah senantiasa memberikan beliau kesehatan dan berkah umurnya, amiin.

* Sumber: Majalah Huruf Arabiyyah, edisi ke-14, tahun ke-5, Dzulhijjah 1435 H (Januari 2005), disunting dari tulisan Muhammad Nur (afanin crew), pada 8 April 2009. [muh nur/hamidionline]

 

 

LEAVE A REPLY