Ustadz Feri Budiantoro; Nominasi di IRCICA Dua Kali Kategori Riq’ah

268

Ramadlan karim, kullu ‘am wa antum bikhair. Semoga bulan penuh berkah ini bisa kita manfaatkan untuk menggapai ampunan dan pahala berlipat di sisi Allah swt. amin. Wawancara kali ini bersama seorang kaligrafer muda berbakat Indonesia yang telah menorehkan prestasinya pada dua lomba kaligrafi internasional IRCICA berturut-turut. Beliau adalah al-Ustadz Feri Budiantoro.

Kesempatan yang sangat berharga untuk bisa lebih akrab dan berbincang dengan beliau, karena sikap terbukanya dan kemurahan hati untuk mau berbagi dan tidak pernah bakhil dalam menjawab pertanyaan yang kami ajukan.

Menjadi juara dua kali dalam even Internasional tentunya bukan sesuatu yang kebetulan. Tetapi karena skill yang teruji dan kegigihan beliau dalam menyiapkan karya dengan matang. Tentu saja, ada beberapa tips lebih lanjut bisa kita simak pada petikan wawancara berikut ini.

Sejak kapan ustadz belajar khot? Siapakah yang mendorong untuk belajar?

Sekitar tahun 2003 ketika memulai belajar di Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif saya diajak salah satu teman di asrama untuk mengikuti ekstra kurikuler kaligrafi yang diadakan oleh AKSARA (Asosiasi Kaligrafer Sunan Ampel Raya). Itulah awal saya belajar khot.

Bagaimana awal mula ustadz belajar khot di AKSARA? Dari mana mulainya dan apakah ada metode belajar tertentu?

Awalnya diperkenalkan pada alat yang digunakan untuk menulis khath (bilah bambu yang diraut dan tinta ba’) sempat kebingungan sebab di pikiran kami alat tulis atau gambar itu ya ballpoint, pensil, spidol, crayon atau alat instan lainnya. Dengan bimbingan ketiga ustadz khath senior di asrama (Ustadz Atho’illah, Ustadz Rosyikin dan Ustadz Soemarsono) kami memulai pembelajaran khath dengan khath naskhi memakai acuan utama dari kitab susunan khattah Hasyim Muhammad al Baghdady.

Banyak metode yang digunakan seperti menggunakan pensil dua, meniru karya master, tracing dan lain-lain yang mungkin bisa disimpulkan sebagai metode “trial and error” sebab dengan banyaknya metode yand sudah dicoba tersebut ternya hasilnya masih kurang memuaskan. Selebihnya bila “dirasa” telah menguasai khath naskhi tersebut para siswa diberi kebebasan untuk takhashshush naskhi merujuk pada beberapa kitab pegangan karangan beberapa khattath sebut saja Shobri Zaid (Mesir), Mubaarak (Saudi Arabia), Muhammad Syauqi (Turki) dan yang lain. Dan juga siswa diberi kewenangan untuk belajar khat lain selain naskhi.

Dalam fase ini kami (para murid dan pembimbing) masih mencari  metode yang tepat sehingga terjadi bongkar pasang metode. Sehingga ada beberapa teman yang merasa kebingungan dalam pembelajaran. Alhamdulillah di akhir, kita dipertemukan dengan Manhaj Hamidi

Perjalanan yang panjang dan sarat pengalaman. Kapan awal mula Ustadz belajar khot dengan Metode Hamidi?

Kami diperkenalkan manhaj ini oleh Ustadzah Nur Hamidiyah sekitar tahun 2009 yang terlebih dahulu belajar dari salah satu murid beliau yang sedang berada di Mesir. Akan tetapi yang belajar saat itu hanya Ustd Atho’illah lewat internet. Kami mulai ikut belajar ketika salah satu murid beliau, Ust Muhammad Nur, sudah pulang dari Mesir. Terhitung mulai tanggal 2 Juli 2011 kami mulai belajar ke Ust Muhammad Nur via email. Setelah tiga kali setor dars kami sempat berhenti disebabkan kesibukan beliau sebagai salah satu guru PM Darussalam Gontor Ponorogo. Namun, Alhamdulillah kami lulus di dars pertama yaitu titik satu.

Hingga kemudian kepulangan Ust Mohamad Zainuddin yang juga Syeikh Belaid setelah menamatkan studinya di universitas al azhar, merupakan titik tolak kami benar-benar belajar Manhaj Hamidi secara all out.  Alhamdulillah Ust Zainuddin berkenan menetap di Jombang. Kami memulai lagi dars khat dengan Manhaj Hamidi sekitar akhir januari 2012.

Perbedaan mendasar apa yang Ustadz rasakan dari Manhaj Hamidi dibanding metode sebelumnya?

Ada beberapa point yang mungkin bisa saya sebutkan di sini. Di antaranya adalah:

  1. Sumber yang jelas serta guru yang benar-benar kompeten (dengan bukti sanad dan ijazah yang didapat)
  2. Di manhaj ini, tahapan-tahapan yang tersusun berurutan sehingga mudah untuk dilewati dengan terus menguati pondasi-pondasi ke-khot-an kita.
  3. Efesiensi dan ke efektifan waktu, sebab dimulai dari yang paling mudah. Kami merasa tujuh tahun yang kami dapat di awal kami belajar tidak sebanding dengan satu tahun menekuni khot dengan manhaj ini.
  4. Di manhaj ini kami mengetahui banyak sirrul huruf (rahasia detail huruf) yang mustahil diketahui tanpa adanya guru yang kompeten.
Baca Juga:   Geliat Indonesia di Lomba Kaligrafi Internasional IRCICA

Sebagai kaligrafer yang sudah dua kali berprestasi di lomba internasional, apa sebenarnya yang memotivasi Ustadz untuk terus aktif dalam berpartisipasi?

Keikutsertaan saya dalam lomba ini juga berdasarkan beberapa faktor. Di antara faktor terpenting adalah saran dan motivasi dari asatidz. Selain itu juga keinginan untuk memeras kemampuan sampai batas maksimal, sehingga mengetahui sampai di mana tingkatan khot yang kami dapat selama ini jika disandingkan dengan para kaligrafer lain pada tingkat dunia. Dari sini kami akan tahu, apa kekurangan yang ada sehingga bisa menjadi lebih baik lagi.

Menurut antum apa yang menjadi fokus utama dalam membuat sebuah karya untuk lomba?

Kami kira hal utama yang perlu diperhatikan adalah kekuatan huruf dan eksekusi akhir (tanfidz lauhah) namun ada beberapa hal yang mungkin terlewati oleh teman-teman dalam menghadirkan lauhah, yaitu :

  1. Suhulatul qiro-ah (kemudahan untuk dibaca), dengan membuat susunan tidak berbelit.
  2. Suhulatul kitabah, kemudahan dalam penulisan, serta;
  3. Jamalul mandhzor, keindahan susunan ketika dilihat.

Seringkali teman-teman fokus di point ketiga tapi mengorbankan dua point pertama sehingga esensi dari ayat qur-an atau lafadz yang ditulis sulit tersampaikan.

Jadi apa sekiranya faktor utama yang perlu diperhatikan oleh mereka yang ingin mengikuti jejak Ustadz untuk berprestasi di kancah Internasional?

Yang pertama adalah kerja keras dan cerdas, artinya latihan yang banyak disertai dengan beberapa simulasi bentuk atau susunan sebelum membuat qalib utama. Pun juga konsultasi kepada asatidz dan sharing dengan teman sejawat meskipun notabene mereka saingan kita. Seperti dalam ibarat, musuh yang kuat dan cerdas merupakan teman terbaik untuk meningkatkan kualitas diri kita. Hal kedua seperti yang tadi kami singgung adalah eksekusi akhir. Sebab saya rasa banyak dari kita yang tingkatannya sudah layak disandingkan dengan kaligrafer masyhur di dunia tapi dalam tanfidz lauhah nya kurang maksimal

Jika boleh kami tau, dalam lomba yang terakhir Ustadz ikuti, berapa kali membuat qalib sehingga menghasilkan karya akhir?

Untuk qalib akhir kami membuat satu, tapi sebelum itu tadrib yang kita lakukan sudah belasan kali.

Berapa lama waktu yang antum habiskan untuk persiapan awal hingga tanfidz akhir? Untuk tanfidz akhir di muqahhar antum membutuhkan waktu berapa lama?

Dari ketiga karya yang kami ikuti, waktu persiapannya tidaklah sama. Untuk jaly diwani kurang lebih 10 bulan, diwani sekitar 6 bulan, serta riq’ah 3 bulan.

Apa harapan Ustadz untuk kawan-kawan kaligrafer di Indonesia dan Ahaly Hamidi pada khususnya?

Semoga dengan adanya sebagian dai kita yang terlebih dahulu diberi nikmat untuk masuk pada nominasi perlombaan ini bisa menjadi motivasi bagi yang lainnya untuk menjadi lebih baik dan dengan percaya diri mengatakan bahwa “kita bisa” menjadi seperti kaligrafer-kaligrafer masyhur di luar sana. Mudah-mudahan di perlombaan berikutnya makin banyak dari teman-teman kita yang masuk nominasi diberbagai jenis khat serta melampaui apa yang telah dicapai di musabaqah kali ini. Tentunya hal ini mustahil tercapai tanpa adanya ikhtiar dan doa.

Terimakasih, semoga Ustadz selalu dalam lindungan Allah swt, dan selalu diberi kesuksesan, dunia akhirat, amiin. [admin/hamidionline]

Biodata

NamaFeri Budiantoro
TTLKediri, 16 April 1988
Alamat tinggalJalan Laksda Adi Sucipto 46 Denanyar Jombang
PrestasiNominasi ke-6 kategori khot riq'ah (IRCICA 2013) dan nominasi ke-2 kategori khot riq'ah (IRCICA 2016)