Belajar Khot? Perhatikan Nasehat Berikut Ini!

Jadi Anda sedang belajar khot? Tentu saja pertanyaan tersebut tidak bermaksud mencari jawaban. Karena hakekatnya manusia hidup tidak berhenti untuk belajar. Karena itu nasehat di bawah ini tidak sebatas untuk mereka yang sedang belajar, tetapi untuk siapa saja yang sedang menekuni khot, atau yang mungkin sudah menjadi master sekalipun. Supaya tidak lupa arah, perlu kiranya mengetahui beberapa kesalahan yang sering terjadi tanpa kita sadari. Supaya terhindar dari kesalahan tersebut, mari sama-sama kita simak:

Pertama, kurang perhatian terhadap kebersihan dan kerapihan alat-alat yang dipakai. Dalam riwayat masyhur dikatakan bahwa tulisan yang baik berasal dari lima sumber; kekuatan tangan, pena yang bagus, kertas yang berkualitas, tinta yang mengkilap, dan menahan nafas ketika menulis.

Kedua, tergesa-gesa dalam menulis kalimat padahal belum menguasai mufrad dan sambungan huruf.

Ketiga, meniru tulisan para master atau kaligrafer besar, dan berusaha menulis semirip mungkin hingga kepada detail huruf, seolah olah sedang copy paste, tanpa tau rahasia di balik yang dia tiru.

Keempat, belajar dari amsyaq (buku khot) dengan sembarangan, seperti orang yang asal bicara, tidak bisa membedakan mana yang penting dan tidak penting. Demikian pula ketika melihat tulisan, tidak bisa membedakan mana tulisan kuat yang bisa ditiru dan mana tulisan biasa yang tidak perlu ditiru.

Kelima, terlalu bersandar kepada kemampuan sendiri (self study) sehingga meyakini kalau mampu mencapai level expert tanpa perlu guru yang akan membukakan baginya rahasia-rahasia huruf.

Keenam, hilangnya optimisme dan kurang percaya diri atas kemampuan dan bakat yang diberikan oleh Allah kepadanya. Sehingga mengira bahwa dirinya tidak akan mampu mencapai apa yang dicapai oleh kaligrafer besar. Karena mungkin lupa, bahwa kaligrafer besar dulunya juga seorang murid dan pemula dalam khot.

Ketujuh, takjub dengan diri sendiri, serta rasa percaya diri yang berlebihan. Sehingga tidak sadar punya rasa takabbur dan lebih dari gurunya yang telah mengajarinya. Bahkan merasa dirinya satu-satunya kaligrafer berbakat, sementara yang lain ada di bawah levelnya.

Kedelapan, lebih loyal dan suka kepada orang yang memuji tulisannya, daripada orang yang mengkritik. Tidak suka diberi masukan atau diberi saran. Bahkan marah dan menunjukkan rasa tidak suka jika ada orang yang lebih tahu, berusaha memberi kritik. Sehingga menolak nasehat karena rasa sombong dan tertipu oleh diri sendiri.

Kesembilan, terlalu fokus kepada satu jenis khot dalam menulis dan mengoreksi, sehingga kurang menguasai jenis khot lainnya.

Kesepuluh, kurang menghargai khot dengan menulis kalimat remeh atau kurang pantas. Seolah-olah khot adalah sarana bermain-main dan hiburan semata.

Kesebelas, tidak belajar khot dengan serius dan berhenti dari menulis dalam waktu beberapa minggu atau bahkan berbulan-bulan. Dan pura-pura tidak tau, bahwa barangsiapa yang meninggalkan khot, maka khot akan meninggalkannya.

Keduabelas, menyembunyikan ilmu dari kawan dan sahabatnya. Serta iri kepada orang lain yang diberi bakat lebih, dan memandang rendah mereka yang ada di level bawahnya. (muhdnur/hamidionline.net)

Disarikan dengan beberapa penyesuaian dari tulisan Al-Ustdz Zaki Al-Hasyimi, oleh Muhammad Nur.

Continue Reading

Meniru (Muhaakaat) Dalam Tradisi Belajar Khot

tradisi belajar khot


Meniru merupakan salah satu cara yang ditempuh seseorang yang sedang belajar khot supaya tulisannya menjadi lebih baik, serta lebih mengetahui beberapa rahasia-rahasia dalam detail huruf dan penyusunannya.

Meniru dalam khot secara tujuannya ada dua jenis; meniru untuk menguatkan mata, dan meniru dalam rangka menguatkan tangan. Meniru untuk menguatkan mata yaitu dengan cara seseorang meletakkan buku atau tulisan yang akan ditiru di depannya, kemudian mulai memindahkan huruf dan kalimat ke dalam kertas latihan. Dengan demikian maka peran mata sangat besar dalam proses ini. Karena jika seseorang melihat dengan jeli dan detail, maka tulisan hasil meniru pun akan terlihat persis seperti aslinya.

Sementara jenis kedua adalah meniru untuk menguatkan tangan. Yaitu dengan cara seseorang menjiplak huruf atau kalimat atau karya seseorang dengan bantuan meja kaca atau kertas kalkir. Sehingga seseorang bisa melatih tangannya mengikuti arah dan sudut setiap huruf dengan sedetail mungkin sambil terus belajar rahasia-rahasia yang terdapat pada huruf tersebut.

Meniru dalam belajar khot dengan demikian memiliki fungsi dan manfaat yang sangat besar. Hanya disayangkan akhir-akhir ini meniru dalam khot menjadi lebih bebas bahkan hampir tanpa batasan-batasan yang wajar. Karena itu, di bawah ini setidaknya ada 3 hal penting yang akan kami sampaikan berkenaan dengan meniru:

  1. Tidak semua tulisan atau karya bisa ditiru. Hanya tulisan dan karya-karya yang sudah diakui kredibilitasnya secara kaidah khot dan kebenaran susunannya saja yang layak untuk ditiru. Selain itu, setiap tingkatan pembelajar memiliki tulisan atau karya yang layak untuk ditiru pada tingkatan tersebut. Seseorang yang baru belajar misalnya, yang masih sulit memegang pena dan menentukan sudut, tidak seharusnya meniru tulisan dengan susunan yang rumit. Karena meskipun meniru, dalam khot tetap dibutuhkan ilmu dan pemahaman, dan tidak sekedar meniru.
  2. Meniru merupakan alat dan sarana, bukan tujuan. Banyak orang yang lama menghabiskan waktu belajarnya untuk terus meniru tulisan, karya, serta buku-buku yang ada. Aktifitas meniru yang berlebih tadi, justru akan membelenggu kreatifitasnya. Orang yang bersangkutan akhirnya tidak bisa berkarya kecuali jika dia meniru karya orang lain, yang berarti dia masih meniru dan belum menulis dengan tulisan dia sendiri. Inilah sebenarnya salah satu sisi negatif meniru, terutama meniru dengan cara menjiplak karya. Dan jika ditimbang-timbang kembali, maka meniru untuk menguatkan mata seperti yang kami sampaikan di atas, jauh lebih bermanfaat dan mendorong seseorang untuk berkembang tulisannya, daripada meniru untuk menguatkan tangan.
  3. Meniru adalah berusaha mendatangkan sesuatu yang mirip, atau lebih bagus, atau mungkin yang berbeda sama sekali. Karena itu, meniru tidak cukup hanya dijadikan bahan untuk menghabiskan waktu untuk menulis sebanyak-banyaknya tanpa tujuan. Karena selain menguatkan tangan dan huruf, meniru juga merupakan bentuk cara seseorang ikut menjaga keindahan tulisan para kaligrafer-kaligrafer besar masa lalu.

*Dari tulisan Khattath Zaki Al-Hasyimi (kaligrafer Yaman, tinggal di Istanbul). Dialihbahasakan oleh muhammad nur. [muhd nur/ hamidionline.net]

Berikut contoh taqlid yang dilakukan oleh para kaligrafer besar atas karya kaligrafer lainnya. Terlihat bahwa meniru tidak lantas sama persis, tetapi juga bisa mengubah susunan menjadi lebih bagus dan tentunya dengan kreatifitas.

Continue Reading