Ahmad Arif Afandi dan Fahmi Afandi; Murid Muhammad Syauqi

ahmad arif

Ahmad Arif Afandi merupakan salah satu murid dari Muhammad Syauqi. Beliau lahir di kota Falbah, salah satu daerah di perbatasan Bulgaria. Sebelum berguru ke Muhammad Syauqi, beliau menunaikan ibadah haji terlebih dahulu pada tahun 1293 H/1876 M. Sepulang haji, Ahmad Arif Afand pergi ke Istanbul dan membuka toko grosir sebagai salah satu mata pencahariannya. Karena itulah, beliau juga dijuluki baqqal (pedagang).

Di samping berdagang, beliau juga menulis khat yang sebelumnya telah ia pelajari dari khattat Ismail Shabir saat di Falbah dan mendapatkan ijazah pada khat tsulus dan naskh. Rupanya hal tersebut diketahui oleh Muhammad Syauqi, sehingga menyarankan kepada Ahmad Arif untuk melanjutkan belajar khatnya. Saat itulah, Arif Afandi meninggalkan toko dan kesibukan dagangnya dan mulai belajar kepada Muhammad Syauqi di Madrasah Khat “Nur Utsmaniyah” serta menunjungi Muhammad Syauqi dikediamannya. Setelah selesai belajar dari Muhammad Syauqi, Ahmad Arif memiliki banyak sekali murid yang belajar darinya. Dari sekian banyak murid, yang paling terkenal adalah Syaikh Muhammad Abdul Aziz al-Rifai, salah satu kaligrafer yang dikenal dengan sifat ketawadhuan serta kegigihannya.

Ahmad Arif terserang penyakit lumpuh di akhir hayatnya sebelum kemudian meninggal pada tahun 1327 H/1909 M. Beliau meninggalkan banyak karya, di antaranya ada masyq, qit’ah dan hilyah. Salah satu karyanya adalah tulisan basmallah dengan gaya tsulust jali yang ditulis didepan pintu keluar di Universitas Syahzadah Istanbul.

Selain Ahmad Arif, juga terdapat nama lain yang menjadi murid Muhammad Syauqi, yaitu Fahmi Afandi. Beliau adalah seorang penghafal Al-Qur’an bahkan menguasai ilmu qira’aatnya. Fahmi Afandi lahir di Istanbul pada tahun 1267H/1860 M. Belajar kaligrafi dengan tsulust dan naskh dari sang guru, Muhammad Syauqi.

Selain seorang hafidz, Fahmi Afandi juga merupakan qori yang memiliki suara merdu saat melantunkan ayat-ayat suci al-Qur’an. Selain kaligrafer dan juga hafidz, beliau juga sibuk pada bidang lajnah pentashihan al-Qur’an yang mengawasi serta mengoreksi kebenaran tulisan al-Qur’an pasca percetakan.

Karya yang dihasilkan oleh Fahmi Afandi tidak begitu banyak seperti murid lainnya. Meskipun demikian, karyanya memiliki karaktersitik yang sangat menawan, baik dari bentuk serta tarkibnya. Beliau juga memiliki karya berupa hilyah yang tersimpan di museum Topkapi. Sebagai seorang khattat, beliau memiliki akhlak yang bagus, meskipun hidup dalam keadaan terbatas. Beliau wafat pada tanggal 20 Rabiul Awwal 1333 H/ 5 Februari 1915 dan dimakamkan di Istanbul. [Yasir/hamidionline]

Disarikan dari Tarikh Al-Khat al-Aroby wa A’lam al-Khattatin/H. Arif Afandi dan Fahmi Afandi, foto diambil dari kaliem guzel dan website lainnya.

Continue Reading

Kesetiaan Murid Kepada Guru; Muhammad Syauqi (1829-1887 M)

muhammad.syauqi

Muhammad Syauqi adalah salah satu kaligrafer besar dari Turki. Tidak heran jika IRCICA di bawah naungan OKI menggelar perlombaan kaligrafi internasional ke-11 pada tahun ini atas nama beliau. Tentu saja, kebesaran nama dan keabadian tulisannya telah melewati perjalanan panjang dalam menekuni seni yang mulia ini. Hingga di kemudian hari, corak tulisan dan gayanya dalam jenis naskhi (disebut Madrasah Syauqi) akhirnya lebih popular dari corak tulisan kaligrafer berpengaruh pendahulunya, Kadiaskar Mustafa Izzat.

Muhammad Syauqi lahir di Sayyidlar, sebuah nama dari desa Kastamona yang berada di daerah Laut Hitam. Kaligrafer kelahiran tahun 1244 H/1828 M ini berpindah ke Istanbul saat menginjak usia remaja. Dalam belajar khot, Muhammad Syauqi berguru kepada Muhammad Kholusi Afandi (w. 1291 H/1874 M) yang juga pamannya sendiri. Syauqi belajar kepada pamannya hingga berhasil mendapatakan ijazah pada Tsulust, Naskh dan Riqa’ pada tahun 1275 H/ 1841 M.

Kesetiaan Kepada Sang Guru

Pamannya sendiri merupakan khattat pertama yang ditunjuk untuk menjaga buku-buku di perpustakaan yang terkenal di Istanbul. Selain itu, beliau adalah seorang guru yang berbakat dalam seni ini. Banyak sekali kaligrafer handal yang lahir dari didikannya.
Hingga pada suatu saat Kholusi menyaksikan akan bakat yang luar biasa pada diri Syauqi, lalu berkata kepada anak dari saudara perempuannya tersebut: “Anakku, hanya ini yang bisa saya ajarkan kepadamu. Karena itu saya izinkan kamu untuk melanjutkan belajar kepada guru lain yang lebih hebat dariku, yaitu Kadiaskar Musthafa Izzat Afandi. Belajarlah kepadanya hingga nanti engkau akan berkembang dalam seni kaligrafi ini”. Kholusi menyampaikan hal tersebut karena melihat kehebatan yang dimiliki oleh Muhammad Syauqi. Namun justru Muhammad Syauqi menjawab: “Saya tidak akan pergi kepada guru siapapun selain engkau wahai pamanku.” Mendengar jawaban itu, Kholusi hanya bias mendoakan untuk kebaikan dan kemudahan bagi muridnya dan keponakannya, Muhammad Syauqi .

Jika saja Muhammad Syauqi pergi kepada Kadiaskar Mustafa Izzat Afandi, mungkin tidak akan pernah ada madrasah Syauqi, karena secara nasab, tulisan Syauqi akan menjadi kelanjutan dari madrasah “Izzat” sebagaimana Syafiq Bik dan murid Kadiaskar yang lain.

Bukti kesetiaan yang Muhammad Syauqi contohkan kepada gurunya membuahkan keberkahan doa dari sang guru. Hingga doa inilah yang menjadi motivasi bagi Muhammad Syauqi untuk menekuni belajar khat lebih tekun lagi, hingga akhirnya beliau menemukan karakteristik tersendiri dalam menulis khat naskhi khususnya yang diilhami dari karya karya para maestro kaligrafer sebelumnya, seperti Hafidz Othman, Ismail Zuhdi serta Musthafa Raqim dan yang lain, meskipun Muhammad Syauqi tidak belajar secara langsung ke mereka. Dalam pernyataannya yang terkenal dalam cacatan sejarah, Muhammad Syauqi mengatakan bahwa “mereka (para kaligrafer sebelumnya) yang telah mengajariku lewat mimpi”.

Karya Peninggalan Serta Kesaksian

Sebagian karya Muhammad Syauqi berupa mushaf dan beberapa tulisan dari kitab Dalail Khairat, wirid-wirid dan beberapa hilyah. Kelebihan tulisan yang dimiliki Muhammad Syauqi Afandi tersebut telah mendapatkan reputasi yang tidak diragukan di mata kaligrafer dunia pada umumnya. Derajat keindahan tulisannya tersebut menempati posisi yang tinggi karena tingkat detail huruf yang melebihi rata-rata namun tetap anggun dan menarik. Atas sebab inilah, sahabat beliau, Sami Afandi berkata: “Bahwa Syauqi bila menulis tidak pernah bisa menulis jelek, meskipun ia menghendakinya (sengaja menulis dengan jelek)”. Muhammad Syauqi menulis beberapa khat nya dengan tingkat detail yang tinggi, termasuk ketika menulis amsyaq (buku pelajaran) sebagai materi untuk para muridnya.

Kesibukan Muhammad Syauqi lainnya adalahsebagai guru kaligrafi pada Madrasah al-Askariyah di Istanbul. Karenanya, beliau juga dikenal dengan sebutan “munsyi’ kuttab askary”. Pada saat yang sama, beliau juga mengajarkan khat pada putera sultan Abdul Hamid II selama dua tahun setengah.

Muhammad Syauqi wafat pada tanggal 13 Sya’ban 1304 H/ 5 Mei 1887 H, dimakamkan di samping makam paman sekaligus gurunya, Kholusi Afandi pada pemakaman “Markas Afandi” di Istanbul, Turki. Disebutkan ada dua murid handal yang terkenal dari tangan Syauqi, yaitu Arif Afandi dan Fahmi Afandi yang insya Allah nanti akan di bahas pada artikel selanjutnya.

Semoga kisah ini memberikan inspirasi bagi kita untuk selalu setia dengan guru kita, karena keberkahan doa dari seorang guru itulah yang akan menjadi sebab atas kesuksesan kita semua. Semoga beliau para guru kita senantiasa diberi kemudahan, kesehatan, kelapangan dan diberikan yang terbaik dari-Nya. Juga untuk kedua orang tua kita, dan untuk diri sendiri, anak-anak, dan keluarga. ‘Ala hadzinniyyah, al-Fatihah. [Yasir/hamidionline.net]

Penulis juga mengingatkan para pembaca jika ingin berpartisipasi dalam lomba kaligrafi internasional yang diadakan oleh IRCICA, silahkan klik link berikut: https://www.ircica.org/event/11th-international-calligraphy-competition-registration-will-be-closing-on-31-december-2018

Disarikan dari :
Tarikh Al-Khat al-Aroby wa A’lam al-Khattatin/127.
Katalog IRCICA’s 11th International Calligraphy Competition in the name of Mehmed Shawqi Efendi (1245-1304 H/1829-1887 AD)
Talk Show “Santri Zaman Now” Santri Zaman Now | Shihab & Shihab.

Continue Reading

Al-Khattath Al-Hafidz Usman (1642-1698 M)

al-hafidz usman

Tokoh kita kali ini adalah Usman bin Ali Afandi. Seorang mu’adzin di Masjid Haseki yang terletak di daerah Fatih, Istanbul Turki. Hafal al-Qur’an sejak kecil. Karena itulah beliau diberi gelar al Hafidz. Al-Hafidz Usman lahir di Konstantinopel (Istanbul) pada tahun 1642 M. Tumbuh dan menghabiskan masa remajanya di tanah kelahirannya, Istanbul, Ibu kota Khilafah Islamiyah dan ibukota para Ulama pada waktu itu.

Pada mulanya al-Hafidz Usman lebih cenderung mendalami ilmu fikih, sastra serta ilmu keagamaan lainnya. Karena itulah, beliau dekat dengan banyak ulama dan pemuka agama, di mana mayoritas dari para ulama tersebut juga seorang kaligrafer. Dari kedekatan beliau dengan para ulama ini pula, muncul dorongan yang kuat untuk belajar menulis dan mendalami seni kaligrafi.

Belajar Khot

Darwish Ali
Lauhah karya Darwisy Ali, guru dari al-Hafidz Usman. credit. www.mobda3.net

Al-Hafidz Usman mulai belajar khot pada seorang kaligrafer terkenal, Syaikh Darwisy Ali ar-Rumi (w. 1673). Berkat bimbingan sang guru dan kegigihannya, beliau berhasil menguasai dengan baik semua pelajaran dari gurunya, kemudian mengasah kemampuan menulisnya dengan meniru tulisan para kaligrafer-kaligrafer sebelumnya.

Pada saat itu, sang guru, Darwisy Ali telah memasuki usia lanjut. Karena sebab tersebut beliau berinisiatif untuk ‘mengirim’ al-Hafidz Usman kepada salah salah satu murid terbaiknya, Suyolcuzade Mustafa Eyyubi (w. 1685), untuk melanjutkan belajarnya. Di tangan gurunya yang terakhir ini, Hafidz Usman mampu menunjukkan kemampuan terbaiknya, dan memperoleh ijazah dari sang guru pada usia 18 tahun.

Lauhah karya Suyolcuzade Mustafa Eyyubi

Al-Hafidz Usman dikenal memiliki kesabaran dan ketekunan yang tinggi serta ulet dalam berlatih. Hal inilah yang mengantarkan beliau mampu menguasai rahasia-rahasia menulis lebih dalam dan detail, bahkan mengungguli para gurunya. Tidak heran jika kemudian nama beliau segera dikenal banyak orang. Dengan akhlak dan adabnya yang tinggi pula beliau bisa diterima oleh banyak kalangan, baik masyarakat umum maupun keluarga Sultan. Demikian pula tulisannya yang dikenal indah menjadi incaran para kolektor kelas atas dan dijual dengan harga tinggi.

Al-Hafidz Usman telah diberi Allah swt anugerah yang jarang dimiliki oleh kaligrafer lainnya. Beliau berperan banyak dalam menyempurnaan huruf-huruf khot naskhi, sehingga mempunyai ciri khas tulisan tersendiri. Karena itu muncullah corak (madrasah) Hafidz Usman dalam khot naskhi, yang diikuti oleh para kaligrafer setelahnya, karena keindahan tulisannya yang belum pernah ada pada waktu itu.

Pada tahun 1694 M, al-Hafidz Usman dilantik sebagai guru kaligrafi bagi Sultan Musthafa Khan. Sang Sultan kemudian bahkan memberi kepercayaan kepadanya untuk menjadi Hakim di wilayah Diyar Bakr, karena melihatnya tepat dan bisa dipercaya.

Ta’dzim Kaligrafer Turki Kepada al-Hafidz Usman

Ta’dzim dan penghormatan para kaligrafer Turki kapada al-Hafidz Usman sangatlah besar, bahkan terkesan berlebihan. Mereka menganggap bahwa tidak ada lagi setelah Hafidz Usman yang mampun mencapai apa yang telah beliau capai dalam kaligrafi. Bahkan jika disebut nama al-Hafidz Usman, mereka berdiri untuk menghormati nama tersebut.

Menulis Mushaf

Al-Hafidz Usman telah menulis setidaknya 25 mushaf. Mushaf yang beliau tulis mempunyai kelebihan pada sisi keindahan huruf, keserasian susunan kalimat, kerapihan serta kemudahan dalam membaca. Tidak heran jika mushaf beliau telah ratusan kali dicetak di berbagai percetakan dan diedarkan di banyak negara Islam. Hingga saat ini, mushaf yang ditulis oleh al-Hafidz Usman masih termasuk mushaf paling indah yang pernah ditulis. Bahkan tidak sedikit orang yang kemudian memberikan istilah mushaf Hafidz Usman, terhadap mushaf yang memiliki huruf-huruf yang jelas, serta keindahan dalam susunan dan mudah dibaca.

Helyah Syarifah

Al-Hafidz Usman disebut-sebut sebagai orang pertama yang menulis Helyah Syarifah dengan bentuk yang saat ini kita kenal. Bahkan menjadi sebuah adat di kalangan kaligrafer saat ini, untuk menunjukkan kepiawaiannya dalam menulis sebuah jenis khot, mereka menulis Helyah Syarifah. Bahkan beberapa ijazah khot pun diberikan dalam bentuk menulis Helyah Syarifah.

Wafat Beliau

Al-Hafidz Usman layak masuk ke dalam barisan mujaddid khot seperti halnya Syaikh Hamdullah al-Amasi. Banyak yang belajar kepada Hafidz Usman dan memberi persaksian akan sifatnya yang lembut dan pemurah. Dalam keseharian beliau juga nampak aura seorang alim yang zuhud. Hingga pada tahun 1695 M beliau terkena penyakit lumpuh sebelah hingga meninggal beliau di Istanbul pada tahun 1698 M.

article credit: www.art.gov.sa
image credit: www.ward2u.com

 

 

Continue Reading