Rahasia Arah Jarum Jam dan Metode Menulis Huruf Arab

Berharganya keberadaan jam sebagai penunjuk waktu menginspirasi kota-kota besar di dunia dengan menjadikan jam ukuran raksasa sebagai landmark, seperti Big Ben di London, Makkah Royal Clock Tower di Makkah dan Jam Gadang di Bukittinggi. Terlepas dari sejarahnya masing-masing, tulisan ini akan membahas sisi lain manfaat jam selain sebagai penunjuk waktu. Tentang arah perputaran jarum jam yang lebih banyak dijadikan patokan dalam kehidupan.

Sebelum membahas lebih jauh, penulis akan menceritakan inspirasi lahirnya tulisan ini. Bermula saat penulis bertemu dengan kawan-kawan pegiat kaligrafi arab dalam sebuah pelatihan Daurah Tahsin Kitabah yang diselenggarakan oleh PP. Darul Qur’an, Tangerang, Ramadhan dua tahun yang lalu (2019). Guru kami, Syaikh Belaid Hamidi melontarkan pertanyaan dalam sebuah sesi, tentang mengapa menulis arab dengan baik dirasa sulit? Kami diam, selain menunggu jawaban beliau, kami sendiri tidak dapat menjawab dengan detail, karena kesulitan menulis itu datang dengan sendirinya tanpa sempat kami menganalisa apa penyebabnya. Tidak berhenti di situ, beliau lanjut bertanya tentang dari mana asal-usul huruf, bagaimana gerakan menulis yang baik agar menghasilkan goresan huruf yang ideal, bagaimana pena diarahkan dalam menulis dan lain sebagainya. Kami masih bergeming.

Akhirnya beliau menjelaskan metode menulis arab yang terinspirasi dari arah perputaran jarum jam. Secara umum, kita mengenal dua istilah dalam perputaran jarum jam, yaitu searah jarum jam (clockwise) dan berlawanan arah jarum jam (counterclockwise). Dengan mengadopsi perputaran arah jarum jam tersebut, metode ini mengklasifikasikan huruf berdasarkan arah penulisannya: (1) kelompok huruf yang penulisannya searah jarum jam; (2) kelompok huruf berlawanan arah jarum jam; (3) kelompok huruf vertikal, yang ditulis dari atas dibawah.

Kelompok pertama, huruf yang penulisannya searah dengan jarum jam. Dari atas kanan, ke bawah lalu ke kiri. Terdiri dari huruf: د ر، و، ب، ه، ف، ن، ق، س، ص . Kelompok kedua, huruf-huruf yang ditulis berlawanan dengan arah jarum jam, atau ditulis dari kiri ke kanan, terdiri dari tiga huruf: ج ع، ى . Sementara kelompok ketiga, huruf yang ditulis selain dengan arah jarum jam, melainkan secara vertikal dari atas ke bawah. Terdiri dari huruf-huruf berikut: ا، ك، ل، م، ط، لا.

Arah jarum jam menjadi inpirasi bagi guru kami Syaikh Belaid Hamidi  dalam melahirkan metode ini, yang kemudian dikenal dengan “al-thariqah al-Hamidiyah fi tahsin al-kitabah al-i’tiyadiyah”. Ciri khas metode ini adalah mengajarkan menulis huruf arab tidak berdasarkan urutan huruf hijaiyyah sebagaimana pada umumnya, dari alif ke ya’. Namun, berdasarkan kelompok huruf yang cara menulisnya sejenis, searah jarum jam, berlawanan dengan jarum jam, juga vertikal. Metode ini membuat pemahaman dalam menulis huruf arab menjadi lebih mudah karena dikelompokkan berdasarkan karakteristik kepenulisannya.

Continue Reading

Sejarah Urutan Huruf Arab dan Peran Nashr bin ‘Ashim


Bangsa Arab berbeda pendapat tentang jumlah huruf hijaiyah. Di antara mereka mengatakan bahwa jumlahnya 29 huruf; 25 huruf shahih, 3 huruf ‘illah (yaitu alif, wawu dan ya’), sedangkan yang 1 huruf mirip huruf ‘illah, yaitu huruf ha. Tetapi ada juga yang berpendapat bahwa huruf hijaiyah ada 28, dengan mengabaikan huruf lam alif, karena dianggap bukan huruf mandiri, akan tetapi tersusun atas dua huruf, yaitu lam dan alif. Dan menjadikan huruf pertama, yaitu alif sebagai pengganti huruf hamzah karena alif dibaca seperti hamzah jika di depan, di satu waktu alif juga dianggap sebagai huruf ‘illah, dilihat dari nama dan bentuknya.

Pendapat yang memasukkan lam alif sebagai satu huruf, menganggap lam alif sebagai huruf alif, dan mengabaikan keberadaan huruf lam. Karena lam pada dasarnya hanya dipakai untuk membantu penyebutan alif, yang tidak mungkin bisa dibunyikan dengan mandiri. Sedangkan dipilihnya lam sebagai pasangan alif, dan bukan huruf yang lain, karena lam juga menjadi pasangan alif dalam adat ta’rif (alif dan lam). Karena sebab ini pula, lam menyertai alif dalam huruf hijaiyah.

Lam alif adalah huruf terakhir yang masuk ke dalam huruf hijaiyah. Karena itu, lam alif tidak tersebut dalam urutan huruf yang disebut dengan “al-abjadiyah”. Urutan ini merupakan urutan huruf arab tertua yang telah ada sebelum Islam. Di mana para ahli ilmu bahasa dan rahasia huruf sepakat untuk menggolongkan huruf hijaiyah yang berjumlah 28 huruf ke dalam empat golongan; yaitu api, udara, air dan tanah. Huruf yang berjumlah 28 dalam urutan abjadiyah adalah sebagai berikut:

أبجد هوز حطي كلمن سعفص قرشت ثخذ ضظغ

Urutan di atas terdiri dari 8 kalimat yang kemudian dibagi menjadi dua bagian:

  • Syamsiyah: huruf yang jika bersambung dengan alif lam, maka lam tidak dibaca. Contohnya huruf syin dalam kalimat “Asy-Syamsu”.
  • Qomariyah: jika bersambung dengan alif lam, maka lam dibaca jelas. Contohnya huruf qaf dalam kalimat “Al-Qamaru”

Dari pembagian tadi, terdapat 14 huruf yang masuk kedalam syamsiyah dan 14 yang termasuk ke dalam Qamariyah. Pembagian yang seimbang inilah yang mungkin menjadi penyebab tidak masuknya huruf lam alif ke dalam huruf abjadiyah, dan dianggap sudah masuk ke dalam huruf hamzah (alif). Dengan demikian jumlah 28 huruf terjaga keseimbangannya.

Urutan huruf Abjadiyah di atas berlangsung dari zaman sebelum Islam hingga datangnya perubahan oleh salah seorang murid murid Abu al-Aswad ad-Du’aly, yaitu Nashr Ibn ‘Ashim (w. 89 H). Beliu adalah orang yang mengurutkan ulang huruf-huruf tersebut sehingga menjadi seperti susunan sekarang ini. Di samping itu, Nasr Ibn ‘Ashim juga orang pertama yang melatakkan titik di atas huruf sebagai pembeda antara huruf-huruf yang mempunyai bentuk yang sama, atas perintah dari Hajjaj bin Yusuf (w. 95 H), seorang panglima pada era Umayah.

Susunan baru Hasil ijtihad Nasr Ibn ‘Ashim yang kita kenal sekarang, menyertakan lam alif di dalamnya, dibagi sesuai dengan 3 kriteria:

  1. Huruf yang bentuknya berdiri sendiri, berjumlah 9.
  2. Huruf yang bentuknya mencakup 2 macam huruf, berjumlah 7.
  3. Huruf yang bentuknya mencakup 3 macam huruf, berjumlah 2.

Urutan baru ini meletakkan Alif pada urutan pertama huruf hijaiyah dengan pertimbangan bahwa alif adalah huruf halqi paling terlihat. Kemudian Nasr Ibn ‘Ashim meletakkan huruf yang bentuknya mencakup 3 huruf pada urutan setelah alif, disusul oleh huruf yang bentuknya mencakup 2 huruf, diikuti oleh huruf yang berdiri sendiri, dan meletakkan huruf illah bersama huruf ha’ di bagian akhir urutan, sehingga urutan baru tersebut menjadi seperti ini:

ا، ب، ت، ثـ ج، ح، خ، د، ذ، ر، ز، س، ش، ص، ض، ط، ظ، ع، غ، ف، ق، ك، ل، م، ن، و، ه، لا، ء، ي

Urutan yang detail di atas merupakan buah dari era kemajuan dalam menulis dan perhatian para ulama terhadap tulisan arab. Di mana urutan ini belum ada pada saat awal dikenalnya huruf arab, yang dikenal dengan urutan abjadiyah seperti yang telah disinggung di atas.

Demikian sekilas tentang urutan huruf arab yang tidak lepas dari peran dan perhatian para ulama, dalam menjaga dan mengembangkan serta mengenalkan huruf arab. Untuk dipelajari dan dikenal tidak hanya untuk kalangan orang arab, tetapi untuk seluruh umat manusia. Allahua’lam bisshawab. [muhd nur/ hamidionline.net]

Diterjemahkan dari buku Ahmad Shabri Zaid, Tarikh Khat Arabiy, Darul Fadhilah, (Kairo: 1998) hal. 30-33.

Continue Reading