Penganugerahan Pemenang 1st National Calligraphy Competition (NCC) for girl 2019 dan Seminar Kaligrafi

UNIDA Mantingan- Gedung pasca sarjana menjadi saksi sejarah dari penutupan 1st National Calligraphy Competition (NCC), sekaligus penganugerahan bagi para pemenang yang dimulai tepat pada pukul 08.00 pagi hari Jum’at (20/12) yang lalu. Acara ini diselenggarakan dalam rangka memberikan motivasi kepada para kaligrafer putri agar mampu mengembangkan bakat dan kreatifitasnya dalam mengembankan dan melestarikan kaligrafi. Hadir pada acara ini, Al-Ustadz Dr. Nurhadi Ikhsan MIRKH., selaku bapak direktur UNIDA kampus Mantingan. Dalam sambutannya, beliau memberikan apresiasi kepada panitia dan seluruh peserta, karena acara ini merupakan salah satu sumbangsih nyata yang bisa dilakukan oleh generasi muda saat ini, untuk ikut berperan dan bersinergi, khususnya pada bidang seni sebagai salah satu unsur penting dalam membangun peradaban Islam.

Perlombaan Kaligrafi Nasional pertama khusus putri ini memiliki penilain yang sangat ketat karena poin penilaian dititik beratkan pada keindaan tulisan, kebersihan, serta ketundukan huruf pada kaidah kaligrafi riq’ah dan diwani madrasah Turki (Muhammad Izat). Keluar sebagai pemenang pada riq’ah masing-masing, juara satu adalah Nihan Hanina asal Rembang yang saat ini sedang mendalami kaligrafi di SAKAL Jombang, juara dua Jusmidar dari Poso, saat ini sedang mengabdi sebagai guru di Gontor Putri 1 Mantingan, sedang juara ketiga adalah Nur Diana Khalida dari Jember, pegiat kaligrafi di ICIS. Sementara untuk kategori diwani juara satu adalah Fitri Dewi Masyitoh dari Tuban, saat ini sedang studi di Malang, pada urutan kedua Desi Rohmawati dari Palembeng yang sedang menyiapkan ijazah keduanya di SAKAL Jombang, sementara juara ketiga adalah Niza Nurlaila dari Pati, mahasiswi yang sedang menyelesaikan tesisnya pada prodi PBA, Pascasarjana Unida Gontor.

Usai pembagian hadiah, acara dilanjutkan dengan talkshow dan sharing oleh pemenang pertama pada kedua jenis khot yang dilombakan. Sesi ini menjadi mengesankan karena pengalaman para juara yang cukup beragam. Terlebih peserta yang kesemuanya adalah putri tentu paham betul apa yang disampaikan oleh para juara, karena kedekatan emosi mereka.

Akhir acara diisi oleh seminar, dibawakan oleh al-Ustadz Muhammad Nur dengan tema Reposisi Peradaban Islam Melalui Seni Kaligrafi. Secara singkat, pemateri ingin mengajak kepada segenap yang hadir untuk kembali melihat peran penting yang bisa dimainkan oleh seorang kaligrafer dalam berperan aktif mengembalikan kejayaan peradaban Islam. Kejayaan Islam yang dibangun di atas ilmu, mengharuskan kita untuk melihat kembali cara pandang kita terhadap Islam dan ilmu, termasuk ilmu seni, khususnya seni kaligrafi.

Acara yang berlangsung tepat pukul 11.30 ini mendapatkan sambutan yang cukup antusias dari para peserta. Farhanah, salah satu peserta dari Rembang, mengungkapkan kesan positifnya selama mengikuti acara ini. Acara ini penting untuk diadakan, semoga bisa lebih sukses pada penyelenggaraan berikutnya, demikian tambahnya. Sementara itu, Finia Khairani, ketua penyelenggara berharap acara serupa bisa terus diadakan di waktu mendatang, dengan melengkapi kekurangan yang ada. Sehingga tidak hanya menjadi wadah bagi kaligrafer putri untuk mengembangkan dirinya, tetapi juga sebagai wadah untuk belajar menyelenggarakan sebuah even kaligrafi sehingga semakin terasah dan mendatangkan pengalaman. Demikian pungkasnya.

Reporter: Magfiroh Turrofiah- Jurnalis Unida (PBA-6) Reguler Kampus Mantingan
Editor: Muhammad Nur

Continue Reading

Pengumuman Lomba 1st National Calligraphy Competition (NCC) 2019

Lomba yang diinisiasi oleh Unida Gontor kampus Mantingan telah menghasilkan nama-nama yang keluar sebagai juara. Setelah sempat tertunda karena proses penjurian yang cukup ketat dan lama, akhirnya hari ini pengumuman telah dirilis resmi melalui akun instagram resmi markaz khot unida putri.

Lomba kaligrafi tingkat nasional yang pertama kali dikhususkan bagi para kaligrafer putri ini, diikuti oleh 42 kaligrafer putri dengan 42 karya. Dengan perincian 31 karya pada khot riq’ah dan 11 karya pada khot diwani. Maimanah Adilah, ketua panitia mengkonfirmasi bahwa karya yang masuk sebagian besar telah memenuhi persyaratan lomba dari segi kertas, tinta, mata pena serta standar kaidah penulisan sebagaimana tertera pada juklak perlombaan. Meskipun ada satu karya yang belum memenuhi kriteria jenis kertas, tinta, serta khot yang telah ditentukan, namun panitia mengapresiasi dan mengucapkan terimakasih atas partisipasi semua peserta.

Karya yang masuk juga mencerminkan tingkat penguasaan kaidah khot yang cukup baik dari para peserta lomba. Ustadz Belaid Hamidi selaku juri konsultan mengungkapkan kegembiraan serta apresiasi beliau atas tingginya kualitas karya yang masuk. Beliau yakin bahwa kaligrafer putri Indonesia tidak stagnan bahkan cenderung meningkat dan bisa bersaing dalam lomba-lomba pada skala lebih besar, dimulai dari persaingan pada lomba tingkat nasional semacam ini.

Meskipun demikian, tidak bisa dipungkiri bahwa karya yang masuk rata-rata memiliki kekurangan masing-masing, meskipun berbeda-beda tingkat kekurangan tersebut. Karena itu, Ustadz Muhammad Ja’far Shodiq, salah satu dewan juri menjelaskan bahwa penilaian pada lomba kali ini lebih ditekankan pada aspek kaidah, kreatifitas, kebaruan dan juga finishing karya (tartisy). Meskipun begitu, segi kebenaran penulisan (imla’) tetap dinilai tetapi bukan tolak ukur utama. Karena itu, jika terdapat kesalahan imla’i pada karya juara yang ada, harap dimaklumi.

Lebih lanjut, khot diwani pada dasarnya merupakan jenis khot yang ditulis pada diwan hamayuni. Prof Ali Alparsalan, pakar kaligrafi dan guru besar di Universitas Marmara, pernah menyampaikan bahwa khot diwani ditulis oleh lebih dari 70 orang di diwan hamayuni. Karena itu, selain kaidah diwani usmani pada buku Muhammad Izzat, masih terdapat banyak variasi dan kaidah yang itu semua bisa menjadi rujukan bagi para kaligrafer untuk terus mengeksplorasinya tanpa keluar dari batas-batas umum khot diwani itu sendiri. Dan lomba kaligrafi semacam ini merupakan salah satu stimulan bagi kaligrafer untuk terus mengeksplorasi keindahan dan kelenturan khot diwani pada khazanah seni kaligrafi yang luas.

Akhirnya, kami ucapkan selamat kepada para pemenang 1st National Calligraphy Competition (NCC) 2019, dan sukses selalu kepada semua peserta. Semoga lomba ini menjadi batu loncatan untuk tetap semangat dan istiqomah dalam belajar dan mengajarkan seni luhur ini.  Sukses selalu bagi kaligrafer putri indonesia, semoga selalu berprestasi. Amin.

Pemenang Kategori Diwani

  1. Fitria Dewi M, Malang
  2. Desi Rohmawati, Jombang
  3. Riza Nurlaila, Mantingan

Pemenang Ketegori Riq’ah

  1. Nihan Hanina , Jombang
  2. Jusmidar , Mantingan
  3. Nur Diana Khalidah , Jember
Continue Reading

Unida Gontor Adakan Lomba Kaligrafi Khusus Putri

Belum sepi hiruk pikuk lomba di Malaysia, di tanah air kembali digulirkan beberapa lomba kaligrafi. Salah satunya bertaraf nasional dan menyasar kaligrafer putri. Secara bentuk dan prosedur pelaksanaan lomba, beberapa Perguruan Tinggi di Jawa Timur khususnya sudah lebih dulu memulai. Namun kali ini yang berbeda karena lomba ini khusus untuk putri saja!

Adalah markas khot “Tinta Emas”, salah satu unit kegiatan mahasiswi di Unida Gontor kampus Mantingan, kampus khusus mahasiswi yang terpanggil untuk berpartisipasi dalam memberdayakan kaligrafer putri. Markaz khot yang berdiri tahun 2018 lalu dan dibuka resmi oleh Al-Ustadz Belaid Hamidi tersebut bergerak di bidang seni Islam khususnya seni kaligrafi dan seni ebru.

Karena posisinya yang strategis dalam berperan serta melahirkan para kaligrafer putri handal di tanah air, maka lahirlah ide penyelenggaraan lomba kaligrafi dalam skala nasional berupa “1st National Calligraphy Competition (NCC) For Girl” 2019.

NCC diadakan dalam rangka menciptakan iklim kompetisi yang sehat antar kaligrafer putri Indonesia, serta turut mendukung dan melengkapi lomba serupa yang telah diadakan oleh Uinsa Surabaya (MKQ) serta UIN Maliki Malang (MKD), serta lomba kaligrafi yang telah diadakan di beberapa universitas dan lembaga lainnya.

Dengan sasaran kaligrafer putri, maka lomba ini mempunyai kekhasan yang belum ada pada lomba-lomba khot sebelumnya. Dengan demikian pula, maka lomba ini membuka kesempatan seluas-luasnya bagi kaligrafer putri Indonesia dalam berkreasi, berekspresi dan menuangkan tinta hitam pada kertas muqohar pada dua jenis khot; Riq’ah dan Diwani dengan sistem mengirim karya.

Total hadiah Rp 9.000.000,00 disiapkan oleh panitia sebagai bentuk apresiasi atas karya dan partisipasi para peserta. Kesempatan terbuka bagi Anda, kaligrafer putri Indonesia hingga 1 Desember mendatang. Untuk panduan dan informasi lebih lengkap, silahkan download booklet lomba berikut ini:

Continue Reading