Sejarah Khot: Athlas Al-Khot Wa Al-Khututh, Habibullah Fadhaili

Mengetahui sesuatu yang kita tekuni sampai ke akarnya tentu memuaskan. Bahkan jika perlu menelisik jauh sampai tidak lagi menemukan jawaban. Termasuk jawaban dari awal munculnya jenis-jenis khot yang sekarang kita kenal. Kapan sebenarnya jenis-jenis khot seperti yang kita kenal sekarang itu ada? Apa saja faktor yang mempengaruhi seorang kaligrafer menuangkan ide kreatifnya hingga melahirkan ‘bentuk baru’ dari huruf-huruf yang sebelumnya sudah pakem?

Jika Anda termasuk orang yang penasaran dengan hal-hal tersebut, juga ingin mengetahui lebih dalam perkembangan masing-masing jenis khot (style), orang-orang besar yang telah berjasa mengokohkan bentuk khot tersebut hingga bisa kita nikmati saat ini, juga kedudukan jenis khot tertentu di antara banyaknya jenis-jenis lainnya, maka buku ini wajib Anda koleksi.

Buku yang kita resensi kali ini adalah karangan Habibullah Fadhaili ini. Buku yang dialih bahasakan oleh Muhammad Altunji ini diberi judul “Athlasu al-Khat wa al-Khututh”. Memuat setidaknya delapan bab penting, yang masing-masing bab menerangkan satu jenis khot tertentu.

Continue Reading

Peran Rasulullah Dalam Perkembangan Kaligrafi Islam

Kaligrafi merupakan salah satu warisan seni dalam Islam yang menunjukkan perkembangan dan kemajuan peradaban Islam dalam segi tsaqafah dan hadharah. Kemajuan ini dapat dilihat dari model kaligrafi yang telah mengalami proses perubahan dari sejak awal munculnya hingga sekarang. Salah satu pengaruh kaligrafi dalam kemajuan peradaban Islam dibuktikan dengan banyaknya bangunan arsitektur Islam yang dihiasi dengan kaligrafi indah dan banyaknya literatur keilmuan Islam yang ditulis oleh para ulama terdahulu. Lebih jauh lagi, ketika Islam datang dengan gerakannya dalam tulis menulis (khat), para sahabat mulai menulis mushafnya masing-masing (sebelum adanya jam’ul Qur’an oleh Utsman bin Affan), sebagian menuliskan hadits yang mereka dapatkan dari Rasulullah dalam setiap majlis. Hal ini merupakan perkembangan yang sangat pesat ketika itu, mengingat masyarakat Arab pada masa pra Islam masih awam terhadap dunia tulis menulis.

Menurut Dr. Mujahid Taufiq (2008: 22) semua kemajuan itu tidak luput dari peran Rasulullah SAW di dalamnya, baik dalam segi gerakan maupun estetikanya terhadap kaligrafi itu sendiri. Hal inilah yang kemudian membuat kaligrafi disebut dengan Al-Khat Al-Islami atau kaligrafi Islam hingga sekarang.

Hal pertama yang dilakukan oleh Rasulullah untuk mengenalkan kaligrafi kepada umatnya adalah dengan menyadarkan umatnya akan pentingnya tulisan. Ada beberapa dalil dari Al-Qur’an dan hadits yang menyebutkan keutamaan dalam menulis, diantaranya tertulis dalam surah Al-‘Alaq: 3-5, Al-Baqaroh, 282, Al-Ankabut, 48, Al-Infithar, 11 dan lainnya. Bahkan dalam surah Al-‘Alaq Allah bersumpah dengan menggunakan kata qalam (pena) dan tulisan yang tergores darinya (surah Al-Alaq, ayat: 1).

Untuk mengenalkan umatnya terhadap dunia tulis menulis, Rasulullah membuat halaqoh di masjid yang ia bangun pasca hijrahnya ke Madinah untuk mengajarkan cara menulis. Untuk itu, beberapa sahabat secara khusus dipilih untuk mengajarkan cara menulis kepada umat muslim, salah satunya Abdullah bin Said dan Ubadah bin Shomit. Gerakan lainnya yaitu dengan menjadikan tebusan tawanan perang yang mampu menulis untuk mengajarkannya kepada 10 orang Madinah (Dr. Mujahid Taufiq, 2008:22).

Ada perbedaan pendapat terkait peran Rasulullah dalam hal ini. Diantaranya mengatakan bahwa Rasulullah hanya berperan dalam menggerakan umatnya untuk menulis, bukan dalam seni kaligrafi (khat). Pemikiran ini berbeda dengan pendapat Muhammad Thahir yang mengatakan bahwa tulisan (al-kitabah), as-satr (Alfarobi, 2003:108) dan al-khat memiliki satu arti yang sama (Muhammad Thohir, 1939:7). Dalam beberapa literatur, istilah khat lebih sering digunakan untuk menunjukkan perkembangan peradaban Islam baik dalam hal tsaqafah maupun hadhoroh, melihat perubahan bentuk, jenis dan keindahan yang berkembang di setiap masanya. Sedangkan dalam kbbi, tulisan indah dengan pena lebih dikenal dengan sebutan kaligrafi, dan penulisnya disebut dengan kaligrafer (kbbi, https://kbbi.web.id/kaligrafi, akses 15 Januari 2020).

Bukti yang menunjukkan peran Rasulullah dalam estetika kaligrafi dapat dilihat dari beberapa hadits, diantaranya hadits Muawiyyah yang tertulis dalam Musnad Firdaus nomor 8533. Diriwayatkan di dalamnya bahwa Rasulullah pernah mengajarkan sekretarisnya (kuttab), Muawiyyah bin Abi Sufyan tentang bentuk penulisan basmalah (Al-Firdaus bilma’tsuril Khithob, 1986: 394 ). Yaitu dengan meninggikan huruf ba’ agar tidak tercampur dengan nibroh sin hingga menimbulkan kesusahan dalam membaca (وانصب الْبَاء) dalam hadits ini juga diajarkan untuk memisahkan nibroh sin, yang artinya dalam penulisan ayat Al-Qur’an, nibroh sin harus terlihat jelas (وَفرق السِّين). Selain itu, Rasulullah juga mengajarkan cara menulis mim yang benar, yaitu agar lingkaran dalam kepala mim terlihat, tidak tertutup oleh tinta (وَلَا تغور الْمِيم).

وقال لكاتبه معاوية رضي الله تعالى عنه ((يَا مُعَاوِيَة ألق الدواة وحرف الْقَلَم وانصب الْبَاء وَفرق السِّين وَلَا تغور الْمِيم وَحسن الله وَمد الرَّحْمَن وجود((

Dari hadits Anas bin Malik yang diriwayatkan dalam Munsad Firdaus nomor 1168 mengatakan bahwa Rasulullah mengajarkan cara menulis mim dalam tulisan Ar-Rahman (Al-Firdaus bilma’tsuril Khithob, 1986: 296), yaitu dengan memanjangkan mim satu pena (فليمد الرَّحْمَن).

((إِذا كتب أحدكُم بِسم الله الرَّحْمَن الرَّحِيم فليمد الرَّحْمَن))

Dalam hadits Zaid bin Tsabit yang diriwayatkan dalam Musnad Firdaus nomor 1087 dijelaskan bahwa Rasulullah mengajarkan cara menulis sin dalam basmalah (Al-Firdaus bilma’tsuril Khithob, 1986: 278), yaitu dengan memanjangkan huruf sin. Dalam riwayat lain mengatakan bahwa maksud dari (فَبين السِّين) yaitu untuk menuliskan nibrah sin dengan jelas dan memisahkannya dari nibrah ba. Karena jika jumlah nibrahnya kurang atau sebaliknya, maka akan merubah makna.

((إِذا كتبت فَبين السِّين فِي بِسم الله الرَّحْمَن الرَّحِيم))

Dapat dilihat dari hadits pertama, bahwa Rasulullah juga mengajarkan sekretarisnya cara menggunakan pena dan tinta. Yaitu dengan memasukkan liiqoh (benang sejenis sutra) kedalam dawah (sebutan untuk tempat tinta) agar mata pena tidak bersentuhan langsung dengan dinding dawah ketika mengambil tinta, karena hal itu dapat menyebabkan mata pena rusak dan pecah (ألق الدواة). Adanya benang dalam dawah juga berguna untuk menjaga kebersihan dan keindahan dalam menulis, karena mata pena tidak mengambil tinta secara langsung karena terhalang oleh benang yang berfungsi untuk menyerap tinta. Cara ini merupakan metode baru yang diajarkan oleh Rasulullah, mengingat tulis menulis merupakan hal yang baru ketika itu. Dan metode sederhana ini masih dipakai oleh para kaligrafer hingga masa seterusnya.

Metode pemotongan pena juga diajarkan oleh Rasulullah, yaitu dengan memotong mata pena secara miring (وحرف الْقَلَم). Metode ini dapat dilihat dari hadits Mua’awiyah sebelumnya. Pemotongan pena merupakan hal paling mendasar dalam penulisan kaligrafi dan menjadi hal terpenting yang menentukan kualitas tulisan.   Dituliskan dalam buku Al-Khat Al-‘Araby wa Adabihi bahwa rahasia seorang kaligrafer terletak pada pemotongan penanya (Muhammad Thohir, 1939:426).

Dalam hadits Muawiyyah yang diriwayatkan oleh Ad-Dailami secara langsung telah membuktikan bahwa Rasulullah memiliki peran besar dalam munculnya kaligrafi Islam. Karena kaligrafi sangat diutamakan untuk menulis ayat-ayat Al-Qur’an. Dalam hadits ini Rasulullah berpesan untuk menuliskan ayat Al-Qur’an dengan sebaik-baik tulisan yang indah sebagai bentuk pengagungan kita terhadap Allah (وَحسن الله). Al-Kurdi menjelaskan lebih lanjut, bahwa perintah untuk memperindah tulisan dalam hadits ini bukan hanya untuk penulisan basmalah saja, akan tetapi ditujukan untuk semua tulisan (Muhammad Thohir, 1939:13).

((يَا مُعَاوِيَة ألق الدواة وحرف الْقَلَم وانصب الْبَاء وَفرق السِّين وَلَا تغور الْمِيم وَحسن الله وَمد الرَّحْمَن وجود((

Belum cukup sampai di situ, tetapi Rasulullah juga mengajarkan cara menghapus tulisan yang salah hingga tulisan tidak dicoret atau ditulis ulang seperti sebelumnya. Dalam hadits Ali diceritakan bahwa ketika penulisan perjanjian Hudaibiyah, Suhail, salah satu para pembesar Quraisy tidak setuju dengan tulisan “Muhammad Rasulullah” yang tertulis dalam surat perjanjian, karena Quraisy ketika itu tidak mempercayai kenabian Nabi Muhammad. Oleh karena itu, Suhail meminta untuk dihapuskan kalimat “Muhammad Rasulullah”. Ali yang semula menolak akhirnya menggantinya dengan kalimat “Muhammad bin Abdillah” atas perintah Rasulullah setelah Rasulullah menghapus kalimat sebelumnya “Muhammad Rasulullah” dengan air liurnya (Shohih Muslim, tanpa tahun:1410).

 

Referensi:

Al-Farobi, Ishaq bin Ibrahim bin Husain. 2003 Mu’jam Diwanil Adab, jilid.1 (Kairo: Darul Syu’ub Lil-Shofahah wa Thiba’ah)

Al-Hamdzan, Ad-Dailami. 1986. Al-Firdaus Bima’tsuril Khithob, jilid. 5, cet.1 (Beirut: Darul Kutub Ilmiyah)

Al-Hamdzan, Ad-Dailami. 1986. Al-Firdaus Bima’tsuril Khithob, jilid. 1, cet.1 (Beirut: Darul Kutub Ilmiyah)

Al-Jundi, Mujahid Taufiq. 2008. Tarikhul Kitabah Al-Arabiyah Wa Adawatiha, cet.1 (Kairo, tanpa penerbit)

Al-Kurdi, Muhammad Thohir Abdul Qodir. 1939 . Al-Khat Al’Araby wa Adaabihi. (Tanpa penerbit)

An-Nisaburi, Muslim bin Hujaj. Tanpa tahun. Al-Musnad Ash-Shohih Al-Mukhtashor binaqlil ‘Adl ‘Anil ‘Adl Ilaa Rasulullah SAW, jilid 3 (Beirut: Darul Ihya At-Turats Al-‘Araby)

kbbi, https://kbbi.web.id/kaligrafi, akses 15 Januari 2020

 

Continue Reading

Kebaikanmu yang Mengalir

kebaikan mengalir


Ilmu adalah salah satu faktor ikatan yang kuat di antara para pencari ilmu. Karena ilmu berdiri di atas dasar kaidah-kaidah, rahasia-rahasia, serta cahaya Ilahi. Karena itu pula, ikatan ilmu merupakan penyebab ikatan kemanusiaan terkuat yang pernah ada, dalam sejarah peradaban bangsa-bangsa.

Demikian pula hubungan yang terjadi antara guru dan murid, tidak pernah lepas dari etika dan saling menghormati. Hubungan antara keduanya berdasarkan transaksi memberi dan menerima, bukan transaksi jual jasa dan membeli. Dasar inilah yang menjadikan para ulama berlomba membedah dan meletakkan hukum serta kaidah pokok di dalamnya. Sehingga muncul buku-buku yang membahas kaidah hubungan tersebut lalu menjadikannya sebuah ‘adab’. Yang pada gilirannya, adab tersebut menjadi syarat yang harus dimiliki oleh setiap guru dan murid, sebelum keduanya terlibat dalam transaksi ‘memberi dan menerima’ tadi.

Karena itulah, muncul banyak pendapat yang mendahulukan pentingnya tarbiyah (pendidikan) daripada ta’lim (pengajaran). Di mana mayoritas domain tarbiyah berisi hukum-hukum yang membahas tentang akhlak serta sifat-sifat terpuji yang harus dimiliki seorang guru dan murid. Secara garis besar, seorang guru memberikan ilmunya supaya mendapatkan berkah dari ilmu bermanfaat. Sementara seorang murid, hendaknya hormat guru, tamak ilmu, lalu berusaha untuk menjaga serta melesatarikannya dengan penuh amanah.

Satu masalah penting dalam menyangkut adab, yang kerap kurang mendapat perhatian, bahkan sering salah dalam mengamalkan, yaitu masalah memberi. Barangsiapa yang dikaruniai ilmu di antara menusia, maka bisa dipastikan bahwa dia dianugerahi otoritas dalam ilmu tersebut. Sehingga karena ilmu yang melekat padanya, lingkungan mengormatinya.

Maka hendaknya orang tersebut tidak menghilangkan kehormatan dan kepercayaan yang telah diberikan oleh lingkungannya, dengan memelihara tamak dalam hatinya dalam rangka mempertahankan otoritas tadi.

Ketika masa mengajar, bisanya seorang guru memberi ilmu kepada muridnya dengan penuh kemurahan hati, bahkan memberikan semua yang dia punya dengan penuh kemudahan. Sehingga si murid menjadi paham dan semakin kuat dalam memegang amanah ilmu tadi. Namun ketika murid yang bersangkutan telah mencapai fase kematangan, datang gangguan dalam hati guru tersebut.

Gangguan tersebut samar, dari hati, berusaha menggugat apa yang telah dia berikan kepada si murid dengan mengingat dan menghitung-hitung betapa banyak dia telah dia korbankan dan dia keluarkan. Samar, dan nyaris tanpa disadari, inilah penyakit zaman modern yang menjadi ciri kemunduran berfikir.

“pergilah kepada fulan, untuk menyempurnakan ilmumu kepadanya, karena ilmuku telah habis, dan telah kuberikan semuanya kepadamu.”

Sejarah telah memberi pelajaran kepada kita sebuah cerita menarik. Dalam sebuah majelis ilmu, jika seorang guru merasa bahwa muridnya telah menyelesaikan belajar kepadanya, maka ia akan mengarahkan muridnya kepada guru lain, lalu memberi support dan mendoakannya.

Muhammad Syauqi adalah contoh yang nyata. Ketika beliau menyelesaikan belajarnya kepada sang paman; Hulushi, maka pamannya berkata: “Aku telah memberimu semua yang aku punya, karena itu aku sarankan supaya kamu melanjutnya belajarmu kepada Musthafa Izzat Kadiaskar, karena beliau lebih tau daripada aku.”

Inilah akhlak para ulama yang menghiasi kehidupan mereka sehingga menorehkan tinta emas. Karena apa yang dilakukan adalah semata-mata membentuk sebuah peradaban keilmuan, yang berdiri atas dasar mendahulukan maslahat umum demi umat, dan meninggalkan kepentingan dunia sesaat juga keinginan pribadi mengejar duniawi.

Problem nyata dalam pengajaran saat ini adalah munculnya diktatorianisme dalam ilmu yang ditimbulkan oleh miskinnya ilmu. Tidak sedikit hubungan guru dan murid yang bermula harmonis, harus berakhir dengan dengki dan permusuhan. Sangat mustahil seseorang itu iklas memberi, jika tujuannya hanya untuk kepentingan diri dan maslahat pribadi. Karena itu, seorang guru yang tidak mau diungguli oleh muridnya, tidaklah pantas untuk menjadi guru dan teladan.

Muridmu wahai guru, adalah kebaikanmu yang mengalir, dan buah dari ilmumu yang abadi. Karena itu ikhlaslah dalam mendidik dan mengajar, jangan pamrih dan menanti ganti…

Saudaramu, Zaki al Hasyimi
25/02/2017

*dialihbasakan oleh Muhammad Nur, dengan beberapa penyesuaian. [muhd nur/ hamidionline.net]

Continue Reading

Kaligrafer; Bisik Cinta Refleksi Keprihatinan

kaligrafer

Sifat klasik dalam sebuah kaligrafi merupakan cerapan rasa batin yang berhubungan erat dengan sebuah tradisi. Di mana esensi dari tradisi menyentuh setiap sisi kehidupan dalam suatu peradaban. Meskipun diskursus klasik sampai saat ini masih menjadi perdebatan, antara yang menolak dan yang menerimanya,

Continue Reading

Antara Pena Jawa (Aren) dan Pena Besi

pena jawa


Belajar kaligrafi saat ini sungguh sangat mudah. Informasi tempat belajar, komunitas, sanggar, perlombaan dan lain-lain terbuka untuk siapa saja. Akses untuk mendapatkan alat-alat kaligrafi juga demikian. Bahkan mayoritas sanggar kaligrafi menyediakan alat-alat,

Continue Reading

Metode Taqlidi Dalam Belajar Kaligrafi

metode taqlidi


Pada sekitar 1985-an, salah seorang maestro kaligrafi Indonesia, Dr. Didin Sirojuddin AR, M. Ag, yang juga penulis buku Seni Kaligrafi Islam, sempat mengutarakan perasaan ‘bingung’ beliau dalam proses menulis buku tersebut. Kebingunan yang beliau rasakan kami rasa wajar dan beralasan,

Continue Reading

Kaligrafi dan Lunturnya Sebuah Identitas

Sudah menjadi sesuatu yang lumrah dan bahkan berlangsung sejak lama, bahwa para ulama di semua cabang ilmu selalu mencari akar dari disiplin ilmu yang digelutinya. Tujuannya tidak lain adalah mendapatkan pemahaman yang komprehensif sebagai syarat mutlak untuk mampu mendalami

Continue Reading