Perhatikan Ini Sebelum Memutuskan Untuk Belajar Khot

Belajar khot memang menarik, terutama bagi pemerhati seni Islam. Salah tujuannya adalah menghidupkan dan menjaga seni yang telah berkembang seumur dengan peradaban Islam ini. Keinginan untuk menjadi pewaris para kuttab wahyi (penulis wahyu) biasanya menjadi pemicu semangat belajar. Namun tidak sedikit mereka yang belajar menemukan kendala di tengah jalan, lalu berhenti bahkan meninggalkan khot yang dulu ingin di dalaminya. Untuk menjaga semangat dan tetap berada di track yang benar, perlu kiranya memperhatikan nasehat berikut ini.

Masuklah Dari Pintu Yang Benar
Janganlah kamu memasuki dunia khot dengan pandangan yang meremehkan dan menganggapnya enteng, sehingga mungkin semangatmu mudah menurun di tengah jalan, ketika menemukan kenyataan yang berbeda. Tetapi masuklah dunia khot dengan semangat tinggi, dan tanamkan pada dirimu bahwa khot adalah ilmu yang luas dan dalam, sehingga memerlukan kesungguhan dan keseriusan. Karena hanya dengan semangat yang tinggi, orang bisa menganggap ringan setiap tantangan di jalan yang dilaluinya, sehingga berhasil mencapai cita-cita yang diinginkannya.

Sesungguhnya Ilmu Itu Dengan Belajar
Karena itu bisa dikatakan mustahil, kamu dapatkan ilmu hanya dengan banyak bicara. Baik itu memuji-muji tulisan orang ataupun juga mengkritik dan mencari kekurangannya. Ilmu memerlukan seni dalam mencarinya, serta kesungguhan dalam mengambilnya. Karena itu hendaknya kamu tidak sibuk dengan hal-hal yang remeh temeh. Karena niatmu yang benar dan baik dalam mencari ilmu ini, akan berbanding lurus dengan terbukanya pintu-pintu rahasia khot di depanmu dengan lebar, sebagai wujud dari pemberian Allah atas kesungguhanmu.

Tangan Adalah Alat Yang Tidak Bisa Berpikir
Karenanya, jika kamu ingin menguasai khot, maka belajarlah dengan menggunakan akalmu untuk berpikir serta memahami teori, baru berlatih dan menguasainya dengan wasilah mata. Jika kamu bisa menggunakan mata dengan jeli dan maksimal dalam melihat kaidah dan contoh huruf-huruf, maka kamu akan sangat terbantu untuk menguasai khot dalam waktu yang singkat. Namun sebaliknya, jika pun kamu rajin menghabiskan waktunya untuk menulis, namun tanpa melihat, menimbang, dan berpikir terlebih dahulu, maka kamu akan lama untuk sampai kepada pemahaman dan keindahan tulisan yang diinginkan.

Jangan Kamu Pecah Konsentrasimu!
Untuk bisa fokus, maka perlu konsentrasi pada satu masalah saja. Akan sangat melelahkan jika konsentrasimu terbagi untuk beberapa pekerjaan sekaligus. Jika pun bisa, maka pekerjaan itu akan mendapatkan sedikit bagian dari konsentrasimu, sehingga hasilnya pun kurang maksimal, dan biasanya memerlukan waktu yang lebih lama. Dampaknya, bisa membuat orang menjadi putus asa, apalagi jika semangatnya kurang dan kemauannya lemah.

Orang sukses adalah mereka yang mampu konsentrasi untuk memulai satu pekerjaan, kemudian menyelesaikannya dengan maksimal, lalu pindah kepada pekerjaan lain, dengan memanfaatkan apa yang sudah dicapai sebelumnya, untuk mencapai tujuan berikutnya. Di sinilah letak efektifnya belajar dari satu jenis khot, lalu pindah kepada khot lain secara bertahap, sebagaimana yang diterapkan pada Manhaj Hamidi.

Jangan Merasa Dirimu Telah Maju, Padahal Kamu Tahu Kapasitasmu!
Pada hakekatnya, seseorang itu lebih tau tentang dirinya daripada orang lain. Karenanya, tidak mungkin dia akan menipu dirinya sendiri. Contohnya adalah dengan menyembunyikan kekurangannya dengan mencari solusi yang bersifat temporal dan lebih bersifat menghiburmu semata. Seperti menulis huruf, kalimat atau karya dengan warna-warni, isyarat-isyarat titik atau lainnya, sehingga terlihat indah dan menawan. Atau karena seseorang tidak mampu menulis naskah panjang, maka memilih naskah yang pendek untuk dijadikan karya, agar terlihat lebih maksimal dalam mengerjakannya.

Atau juga dengan berpindah kepada guru lain, karena merasa gurunya tidak cocok, terlalu syadid (ketat) dalam mengoreksi hurufnya sehingga dia merasa lama, akhirnya dia pun tidak pernah bisa menyelesaikan pelajaran karena ketidak sabaran tersebut. Karena hakekatnya bukan gurunya yang syadid, tetapi dia belum bisa menulis seperti yang selayaknya. Dan banyak kasus lain yang bersumber dari kelemahan dirinya, tetapi ditutupi dengan ketidak jujuran dan merasa sudah mendapatkan solusi. Padahal kekurangan tadi masih melekat dan belum berhasil diatasinya. [muhd nur/hamidionline]

Sumber: Dari tulisan Ustadz Zaki al-Hasyimi, diterjemahkan dengan bebas oleh Muhammad Nur.

Continue Reading

Membangun Nilai Karakter Lewat Manhaj Hamidi.

Imam Ali R.A berkata:

الخط مخفي في تعليم الأستاذ وقوامه في كثرة المشق ودوامه على الدين الإسلام

“al-Khat adalah (rahasia) yang tersembunyi pada pengajaran oleh guru, dan kekuatannya terdapat pada banyaknya latihan, dan keabadiannya terdapat pada agama Islam”.

Seorang murid jika ia ingin mendapatkan ilmu yang jelas, hendaknya ia berguru pada guru yang jelas pula. Disamping itu, bimbingan oleh seorang guru pun juga sangat dibutuhkan, karena memang nantinya peran guru sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter seorang anak didik. Disinilah seorang murid dapat memaksimalkan waktu dan kesempatan yang diberikan kepadanya, dengan menggunakannya sebaik dan se-efisien mungkin. Karena memang keberhasilan tidak mungkin didapatkan dengan hanya bermalas-malasan, karena memang keberhasilan adalah buah dari kesunguhan.
Lantas, karakter apa saja yang dapat diperoleh dari seni kaligrafi ini?

  1. Kesabaran, belajar kaligrafi berarti belajar kesabaran. Mengapa? Karena memang dengan kesabaran, murid dituntun untuk menulis dengan tertib, sistematika, tidak asal-asalan. Untuk mendapatkan tulisan yang indah, tidaklah mungkin akan didapatkan dengan keburu-buru, disinilah pendidikan kesabaran dibentuk.
  2. Kejujuran, para murid dibentuk karakter kejujurannya lewat latihan yang diajukan kepada gurunya. Disini murid tidak diperkenankan untuk menjiplak pelajaran yang diberikan, namun dengan cara meniru beberapa tulisan yang berkualitas dari sumber yang terpercaya, tentunya tetap dalam pengawasan dan bimbingan seorang guru.
  3. Selain nilai kedua karakter diatas, kesungguhan ini juga tidak kalah penting. Tanpa adanya kesungguhan, tidaklah mungkin seorang murid akan menyelesaikan pelajarannya. Lebih dari itu, setelah menyelesaikan pelajaran nya, tidak menutup kemungkinan murid akan menemukan rahasia-rahasia goresan dalam tulisan yang mungkin belum terkuak sebelumnya.
  4. Yang terakhir adalah kedisiplinan, hal ini tdapat kita rasakan ketika kita latihan dan setoran dars kepada pembimbing pada waktu yang telah ditentukan. karena memang hal ini tidak dapat dilupakan, meninggalkan disiplin berarti menunda kesuksesan, so… do it now and keep discipline…..

Selain hal yang telah disebutkan diatas, ketika disela-sela pembelajaran,seorang guru akan memberikan tingkatan kesulitan tersendiri pada setiap pelajaran, hal ini dimaksudkan untuk menguji seberapa sabar seorang murid terhadap guru dan kesetiaan terhadap pelajaran. Jika dars khatnya telah mendarah daging pada murid, maka ia akan sabar dengan guru dan pelajaran, namun sebaiknya jika ia tak sabar, maka ia akan meninggalkan pelajaran dan putus asa (nau’dzubillah). Nilai inilah yang sebenarnya yang diinginkan oleh guru.

Hal tersebut merupakan metode yang ditempuh oleh ulama-ulama terdahulu selama berabad-abad dalam pembelajaran khat, metode ini mereka kenal dengan sebutan taqlidy, dimulai dari penulisan kalimat rabbi yassir wala tu’assir, rabbi tammim bi al-khair wa bihi al-aun, dan selanjutnya dimulai menulis huruf hijaiyyah dan sambung kalimat, rata-rata mereka menempuh pelajaran pertama selama 2-4 tahun. Ini merupakan bukan proses yang sebentar, namun memerlukan waktu yang relative lama, itupun jika pelajaran nya ditulis dengan kesungguhan dan keistiqamahan.
1461860217632Yang menjadi permasalahan nya sekarang adalah perbedaan waktu dan zaman. Sekarang kita telah memasuki dunia teknologi, yang membutuhkan segala kegiatan canggih dan super cepat. Maka jika metode yang da
hulu tetap di laksanakan, ini tidak sesuai lagi terhadap dunia pembelajaran sekarang. Sehingga dibutuhkan formulasi baru dengan cara pembelajaran modern dengan system classic. Perubahan zaman juga tidak jarang membawa orang lebih mudah untuk bersikap pragmatis, karena itu perlu kita camkan nasehat-nasehat serta saran dari mereka yang lebih berpengalaman berkenaan dengan cara belajar kaligrafi.
Mudah-mudahan dengan hadirnya metode taqlidy dengan manhaj hamidi ditengah-tengah kita, dapat membantu memudahkan dalam mempelajari disiplin keilmuan di dunia kaligrafi. Yasir

Ahaly Hamidy Jember
Jember, 24-Mei-2016.

Continue Reading