Şekerzâde Muhammad; Penulis Mushaf Madrasah al-Hafidz Usman

Muhammad Sayyed adalah putra dari Abdurrahman al-Indi, seorang pembuat halawiyyat (kue pastri), karena itu Muhammad lebih dikenal dengan Şekercizâde (anak pembuat kue), sementara pada tauqi’nya beliau menyingkatnya menjadi Şekerzâde. Lahir di daerah Manisa, daerah di sebelah barat Anatolia.

Khattath Şekerzâde Belajar aqlam sittah pertama dari kaligrafer İbrahim Kırımî (w. 1737 M), lalu melanujutkan belajarnya kepada Yedikuleli Seyyid Abdullah Efendi (w. 1731 M), murid dari al-Hafidz Usman (w. 1699 M). Karena itu, dari tulisannya, Şekerzâde masuk ke dalam silsilah madrasah kaligrafer al-Hafidz Usman.

Khattath Şekerzâde termasuk seorang nassakh (ahli menulis naskh), di samping juga menulis banyak sekali qith’ah dan muraqqa’at. Tidak heran jika kemudian beliau dikirim serta ditugaskan oleh Sultan Ahmad III (w. 1736 M) untuk menjalankan haji, lalu tinggal di Madinah Munawwarah selama 4 hingga 5 tahun. Tugas utamanya adalah menyalin salah satu mushaf kaligrafer Hamdullah al-Amasi, Ibnu Syaikh, yang ada di Madinah saat itu.

Konon, khattath Şekerzâde dalam menjalankan tugasnya dalam menulis mushaf, mengambil tempat di Raudhah Muthahharah, hingga selesai menulis 3 sampai 4 mushaf selama masa tugasnya, sebelum kemudian pulang kembali ke Istanbul. Lalu menghadiahkan salah satu mushafnya kepada sultan Mahmud I, yang naik tahta menggantikan Sultan Ahmad III. Mushaf ini hingga sekarang masih tersimpan di perpustakaan Sulaimaniyyah di Istanbul. Salinan dari mushaf tersebut, termasuk mushaf paling indah yang pernah dicetak dengan metode thiba’ah hajariyyah (litografi/pelat logam), dan termasuk langka karena hasil cetakan tersebut lantas diberi hiasan garis yang mengandung emas murni.

Selain menulis naskhi, beliau juga menguasai khot sulus ‘adi. Di samping kedua khat tersebut, belum pernah ditemukan tulisan Şekerzâde yang lain, seperti tsulus jaly atau lainnya. Di masa akhir hidupnya, beliau mengabdikan diri dengan mengajar khat di rumahnya yang terletak di bilangan Hagia Sophia (Aya Sofya), Istanbul. Di samping juga mengajar resmi di “Hadiqah Khassah Sulthaniyyah” yang berada di Istana Topkapı. Beliau meninggal sekitar 1753 M.

Tentang mushaf yang ditulis oleh Şekerzâde, al-Ustadz Zaky Hasyimi menjelaskan bahwa di dalamnya banyak mengandung tasharrufat (improvisasi) yang sangat indah dan menunjukkan kepiawaian beliau dalam membuat susunan tulisan. Pada umumnya tasharufat memang ditemukan di mushaf, karena tabi’at mushaf yang ditulis irtijaliy (langsung dan spontan), sehingga kaligrafer secara spontan juga menulis tarkib yang mungkin aneh dan tidak ada dalam qith’ah atau karya lainnya, karena faktor waktu dan keadaan.

Beberapa kekurangan penulisan sebagaimana yang terjadi pada mushaf yang ditulis oleh orang non-Arab, khususnya khattath Turki, adalah adanya pemenggalan kalimat yang tidak pada tempatnya. Seperti pemenggalan wawu ‘athf dan juga pemenggalan huruf yang seharusnya tertulis pada satu kalimat.

Terlepas dari kekurangan tersebut, baik muraqqa’at maupun mushaf dari khattah Şekerzâde Muhammad Sayyed, sangat perlu untuk Anda sebagai kaligrafer maupun pecinta seni kaligrafi, untuk menikmati dan mengambil banyak pelajaran dari susunan barisnya. Karena mushaf Şekercizâde termasuk mushaf terindah yang pernah ditulis dengan madrasah al-Hafidz Usman. (muhdnur/hamidionline)

Sumber:
Ahmad Shabri Zaid, Tarikh Khot Arabiy wa A’lamul Khattahin, (Kairo: Darul Fadhilah, 2009)
https://ketebe.org
https://www.aksahaber.org
Foto dari berbagai sumber

Continue Reading

Al-Hafidz Usman; Teladan Dalam Kegigihan Belajar

al-hafidz usman

Banyak kisah nyata tentang kegigihan seorang kaligrafer dalam belajar sebelum akhirnya mencapai hasil yang memuaskan. Demikian pula seorang al-Hafidz Usman yang juga telah menunjukkan kegigihannya dalam belajar seni kaligrafi.

Beliau memulai belajar pada usia 14 tahun kepada Darwisy Ali. Karena faktor usia yang sudah udzur, maka sang guru menyarankan supaya  al-Hafidz Usman melanjutkan belajarnya kepada Suyolcuzade Mustafa Eyyubi, salah seorang murid Darwisy Ali yang berbakat.

Untuk menuju tempat Suyolcuzade Mustafa Eyyubi, konon al-Hafidz Usman harus menempuh perjalanan sekitar 3 jam dengan berjalan kaki. Semangat tersebut tidak surut bahkan ketika musim dingin datang. Jarak jauh dan cuaca yang tidak bersahabat tidak mampu menahan niat kuatnya untuk datang ke tempat sang guru. Begitu selesai belajar dan pulang, dikisahkan bahwa sang guru, Suyolcuzade Mustafa Eyyubi selalu menengadahkan tangannya untuk mendoakan muridnya tersebut. Meskipun guru dan murid tersebut hidup dalam situasi ekonomi yang terbatas, namun rupanya ikatan batin keduanya sangatlah kuat.

Keikhlasan guru dan murid yang tercermin dari cerita di atas, berbuah manis beberapa tahun kemudian. Diiringin dengan kesabaran dan ketekunan, maka al-Hafidz Usman mampu memahami dengan baik rahasia-rahasia tulisan, sehingga berhasil menulis dengan huruf yang kuat dan susunan yang indah, yang belum pernah ditulis oleh kaligrafer sebelumnya. Karena itu, tidak lama kemudian beliau pun menjadi kaligrafer yang cukup dikenal.

Hingga pada saatnya, orang pertama pada Khilafah Turki Usmani saat itu, yaitu Sultan Ahmad III ingin mendalami seni kaligrafi, dan menginginkan untuk belajar khot kepada  al-Hafidz Usman. Sudah menjadi kisah yang turun temurun dituturkan bahwa pintu masuk ke dalam ruangan di mana al-Hafidz Usman mengajar dibuat pendek. Sehingga semua orang yang masuk ke dalam ruangan tersebut harus menunduk, bahkan seorang Sultan sekalipun. Sebuah penghormatan kepada ilmu dan ulama yang mungkin jarang didapatkan saat ini.

Begitu juga dengan adat ketika seorang murid mengoreksikan tulisannya kepada sang guru, maka murid tadi membawakan tempat tinta yang dipakai oleh guru untuk mengoreksi tulisannya. Demikian pula ketika Sultan Ahmad III mengoreksikan tulisannya kepada al-Hafidz Usman, Sultan membawakan tempat tinta tersebut dan dengan penuh ketundukan sebagai seorang murid. Pada kesempatan tersebut, sang Sultan yang sangat kagum dengan gurunya tersebut berkata: “Aku mengira tidak akan ada lagi ‘Hafidz Usman lain’ akan lahir dan bisa menulis seindah ini”. Hafidz Usman pun menjawab: “Jika ada seorang Sultan seperti Anda, yang mau membawakan tempat tinta untuk gurunya, maka saya yakin akan datang banyak al-Hafidz Usman lain setelahku”. Percakapan keduanya bukanlah basa-basi. Namun mengajarkan arti yang dalam, tentang ketulusan dalam belajar, meskipun dia seorang Sultan, dan sifat rendah hati yang dicontohkan oleh seorang guru besar, al-Hafidz Usman. [muhd nur/ hamidionline]

credit: http://borae.ibda3.org/t205-topic

Continue Reading