Ahaly Hamidi Sabet Dua Nominasi Sayembera Lomba Design Iluminasi Mushaf Al-Qur’an Digital tingkat Nasional.

Dilansir dari website kemenag bahwa Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) Balitbang-Diklat Kemenag mengumumkan pemenang Lomba Nasional Iluminasi Mushaf Al-Qur’an di Gedung Bayt Alquran dan Museum Istiqlal, Jakarta Timur, Jumat 13 November 2020 dan disiarkan langsung cahnnel Youtube Lajnah Kemenag.

Sayembara yang di ikuti 146 peserta itu, menunjukkan kebolehannya dalam menyajikan karya terbaik beserta filosofinya dalam bentuk digital. Kepala LPMQ Muchlis M. Hanafi menambahkan, kompetisi ini bertujuan mencari karya terbaik dalam seni hias iluminasi Al-Qur’an di Indonesia, meningkatkan keterampilan para seniman mushaf, serta meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap seni mushaf. Ajang ini juga sekaligus untuk mencari desain cover terbaik untuk mushaf Al-Qur’an yang setiap tahun dicetak oleh Kementerian Agama.

“Kita ingin mengapresiasi sekaligus mendorong para seniman hias iluminasi mushaf Al-Qur’an untuk terus mengembangkan kesenian ini. Karya-karya terbaik pemenang lomba akan kita manfaatkan untuk cover mushaf Al-Qur’an,” jelasnya di hadapan dewan hakim, tamu undangan, dan para peserta lomba yang mengikuti secara live dari zoom meeting.

Lomba Nasional Iluminasi Mushaf Al-Qur’an berlangsung sejak 14 Agustus 2020. Pendaftaran dibuka hingga 30 Oktober 2020 dan tercatat ada 146 peserta. Mereka berasal dari berbagai kalangan, mulai kaligrafer, seniman, desain grafis, pelajar, mahasiswa, guru hingga dosen. Peserta juga berasal dari hampir seluruh provinsi yang ada di Indonesia

Lomba Iluminasi Mushaf Al-Qur’an tingkat Nasional ini meliputi satu paket kesatuan karya iluminasi yang terdiri atas konsep karya, sampul/kulit mushaf (depan, punggung, dan belakang), iluminasi awal mushaf (menghiasi Surah al-Fatihah dan awal Surah al-Baqarah), bingkai halaman teks Al-Qur’an, hiasan tepi halaman (menghiasi tanda ‘ain ruku’, hizb, juz, manzil, waqaf lazim, dan sajdah), kepala surah, dan tanda ayat.

Proses penjuarian dilakukan pada 2 – 9 November 2020. Penilaian dilakukan oleh Dewan juri dari kalangan profesional dengan berbagai keahlian, di antaranya: ahli seni mushaf, seni kriya, dan desain grafis. Keriteria penilaian mencakup motif ragam hias, komposisi warna, dan karakter ‘keindonesiaan’.

Sebuah kesyukuran sekaligus kebanggaan bahwa dari nominator yang berhasil menyabet kejuaraan dalam sayembara, terdapat 2 peserta dari keluarga Ahaly Hamidi yang tergabung dalam komunitas belajar kaligrafi menggunakan manhaj hamidi yang di gagas Oleh Syaikh Belaid Hamidi (Maroko) masing-masing meraih nominasi terbaik dua dan tiga. Mereka adalah saudara Rian Yogo Wibowo dan satu peserta lagi tergabung dalam sebuah team. Yaitu: Zainul Mujib, M.Choirul Anas, Misbahul Munir, Khairul Khafidzin, Abdul Fattah dan Bayu yang terkolaborasi dalam satu team bernama Team Sakal Design.

Secara umum, diantara konsep yang diangkat oleh nominator ke dua yaitu mushaf dengan nuansa kebudayaan yang ada di Jawa. Beberapa ragam ornament yang menghiasi design mushaf digital terinspirasi dari mushaf daerah jawa, bangunan adat Jogya, ukiran jawa dengan dominasi warna yang melambangkan ketenangan, keagungan dan keluhuran.

Salah satu unsur penting dalam arsitektur jawa adalah tiang penyangga atau saka. Dalam aplikasinya, saka ini menjadi inspirasi dalam pembuatan punggung sampul mushaf. Sedangkan pintu gebyok merupakan sumber inspirasi dalam pembuatan sampul depan mushaf. Sementara konsep ornament kawung dan pola kain lurik turut serta menghiasi dalam pembentukan visual bunga dalam rancangan ornament mushaf ini. Secara lengkap akan dibahas di judul yang berbeda.

Adapun thema yang diangkat oleh nominator terbaik tiga adalah mushaf Jombangan. Kesempatan sayembara ini digunakan untuk mengangkat kesenian yang ada di daerah Jombang. Mulai dari ornament candi rimbi, bunga cengkeh, bunga sepatu, bunga kopi turut menjadi inspirasi dalam pembuatan design ornament mushaf. Selain itu, dominan warna yang bernuansa ijo-abang juga merepresentasikan nama daerah yaitu (Jombang). Secara lengkap, kajian ini akan di sajikan pada pembahasan berikutnya.

Berikut daftar pemenang yang diumumkan oleh Dr. Achmad Haldani Destiarmand selaku perwakilan dewan juri melalui aplikasi zoom meeting:

Husaini (Juara Satu/hadiah Rp20.000.000),Riyan Yogo Wibowo (Juara Dua/hadiah Rp15.000.000),Zainul Mujib (Juara Tiga/hadiah Rp12.000.000),

  1. Habibullah (Harapan Satu/Rp10.000.000),
  2. Lukman Hakim (Harapan Dua/Rp8.000.000),
  3. Imam Sobar (Harapan Tiga/Rp7.000.000),-

Selain itu, ada 10 juara favorit. Mereka masing-masing berhak menerima hadiah sebesar Rp5.000.000 dengan penerima sebagai berikut:

  1. Muhamad Erik Setiadi
  2. Muhamad Wahyudin
  3. Nana
  4. Anshoruddin Amin
  5. Ahmad Ashof
  6. Nur Syamsi
  7. Rakhmat Abdillah
  8. Dodi,
  9. Sucipto, dan
  10. Ibnuart Nur Iskandar.

Kami ucapkan selamat kepada seluruh pemenang sayembara iluminasi mushaf digital tingkat  nasional yang diadakan oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) Balitbang-Diklat Kemenag. Semoga prestasi ini memberikan inspirasi kepada seluruh lapisan masyarakat agar selalu mencintai al-Qur’an serta menjaga tradisi dan budaya yang telah diwariskan oleh para pendahulu sebagai kekayaan warisan budaya  yang turut memberikan kontribusi dalam ornament hias mushaf al-Quran Nusantara.
(hamidionline/yasiramrullah)

Continue Reading

Warna-warni perjalanan khat diwaniku

Hai..! Aku Diana.
Mahasiswi sebuah PTN Islam di Jember yang memiliki akronim UIN KHAS. Aku sangat bersyukur, tanggal 15 Juli lalu diperkenankan menyelesaikan dars Diwani, tentunya dengan beragam warna yang turut menyemarakkan prosesnya. Bila kelabu sering ditafsirkan dengan rasa sedih, dan merah jambu diartikan bahagia, maka, perjalananku mengandung lebih dari sekedar tujuh warna me-ji-ku-hi-bi-ni-u yang melahirkan rasa hara-huru dan haru-biru. Setidaknya menurutku.

Catatan ini aku tulis, tak lebih sebagai pengkristal waktu. Dan berharap bisa menjadi pitawat bila suatu hari, dalam perjalanan panjang belajar kaligrafi ada kehendak-kehendak negatif yang membelenggu mimpi-mimpiku.

***

Gemintang mulai beranjak pulang, mentari mulai benderang menyilaukan. Langkah demi langkah ku hentakkan menyusuri jalanan dengan bising kendaraan, seakan menjadi simfoni yang setia mengiringi langkahku menuju kampus, mengalirkan energi. Sehingga tidak terasa, jam pertama kuliah telah berlalu.Aku segera beranjak keluar dari area kampus.

“Din, ntar jam kedua balik ke kelas bareng aku ya, sekalian nyusun teknik observasi di bank.” Sergah Ina setibaku di gerbang keluar. Pagi ini ia tampak sangat ceria dengan jilbab biru yang dipadankan dengan gamis donker berpadu biru muda.
Ina adalah salah satu sahabat karibku di kampus. Kami mulai berteman sejak MABA hingga kini semester VI. Alasan kenapa kami bisa akrab hingga saat ini, adalah kami kebetulan satu prodi, yakni Ekonomi Syariah, di kelas yang sama pula. Ku jawab tawarannya dengan anggukan mantap.

Udara mulai terasa berat akibat panas. Seperti biasa, yakni disela-sela jam istirahat kuliah, aku mampir ke salah satu tempat foto copy. Bisa dibilang, hampir tiap hari aku kunjungi. Bukan untuk menge-print makalah ataupun tugas kuliah, tapi untuk mendalami hobi. Kami, -aku dan teman-tema sehobi- sering menyebut tempat itu dengan basecamp kaligrafi. Yah, karena kebanyakan dari kami, datang bukan untuk mencetak tugas atau meng-copy buku, melainkan ramai untuk setoran pelajaran (dars) kaligrafi. Biasanya, teman-teman cewek memenuhi ruangan bagian depan, sementara cowok-cowok di ruangan belakang.
Ada yang latihan mengulang-ngulang dars, menulis setoran, merevisi dars, mengecat atau membuat pesanan karya, dan lain-lain. Tempat ini menjadi saksi perjuangan kami ber-kaligrafi-ria disela-sela kesibukan menjadi mahasiswa. Aku pribadi, mulai menekuni kaligrafi jenis diwani sejak 22 Januari 2020, yakni setelah resmi dinyatakan selesai dars khat riq’ah dengan menulis ijazah riq’ah.

Menjelang sore, Ina datang menjeputku di tempat fotocopy. Kami melaju dengan kencang menggunakan motor matic-nya.
“Ina, dah mepet ni,” aku panik karena jam sudah menunjukkan pukul empat lebih.
“Santailah! Bapaknya baik kok. Telat dikit boleh lah.“ Jawabnya dengan santai plus cekikikan. Pukul 16.30 aku dan Ina sudah bergabung di kelas bersama yang lainnya.
“Oke, kalian buat makalah. Usahakan pada pertemuan selanjutnya dikumpulkan. See you all next time,” Akhirnya, closing statement legendaris itu diucapkan oleh dosen kami.
Beginilah hari-hariku, mengenggam dua peran sebagai mahasiswa dan pelajar kaligrafi. Disini tugas, disana tugas. Kuncinya satu, yakni harus pandai-pandai membagi waktu. Ina meraih kontak sepeda dari tasnya dan memberikannya kepadaku.
“Din, tak anterin ke tempatmu ya, tapi kamu yang nyetir.” Pintanya.
“Oke.”

Sesampainya di Dar El Khat, yakni tempat tinggalku selama kuliah, (sesuai namanya, aku bersama teman-teman kaligrafi tentunya) kutaruh tas dan ponsel dimeja, lalu kurebahkan badan dan menatap langit-langit kamar, sambil menuliskan list tugas-tugas yang harus ku kerjakan. Tiba-tiba nada dering panggilan nyaring terdengar dari HPku. Dengan cepat kuraih dari meja.

“Assalamualaikum, nak, gimana kabarnya? Kapan mau pulang?” Suara yang sangat aku rindukan terdengar disana dan mengingatkanku pada suasana rumah.
“Iya, buk. Besok hari Jum’at insyaallah Diana pulang.“ Jawabku.
Sebenarnya berat hati untuk pulang saat tugas masih banyak. Tapi apalah daya, sudah hampir tiga bulan aku tidak pulang. “Okelah, besok aku pulang.” Gumamku memantapkan hati.

***

Tiga hari berlalu dirumah, rasanya ingin cepat kembali melanjutkan aktifitas dikampus. Aku terdiam memikirkan tugas-tugasku yang belum selesai. Kuraih ponsel dan melihat memo tugas. Grup kelas yang tiba-tiba ramai membuat aku bertanya, “ada apa?” Aku penasaran dan mulai membukanya. Kaget saat membaca pesan dari koordinator kelas.

Keputusanan dari Dekan kampus kita. Mulai hari senin besok, 15 Maret 2020. Kita kuliah daring (online). Dikarenakan keadaan negara kita yang kurang baik. Jaga kesehatan agar tidak terjangkit Covid-19 yang saat ini sedang kita dan negara-negara lain hadapi. Selamat belajar dirumah ya, guys.

Tetiba rasa sedih menyergap, karena tidak bisa berkumpul dengan teman-teman di semester ini. Tetapi juga ada rasa hangat memenuhi dada, senang. Kesempatanku untuk fokus setoran kaligrafi. Toh kuliah online sambil rebahan agak santai sepertinya. Kubulatkan tekadku untuk tetap kembali ke asrama besok pagi, agar tetap bisa setoran kaligrafi. Aku memberanikan diri mengutarakan niatku ke ibu meski ada sedikit ke khawatiran di raut wajahnya karena anaknya akan kembali ke rantau pada masa pandemi.
“Kan kuliah online, kenapa tidak dirumah saja, nak,” ucapnya dengan penuh ragu.
“Aku kan mau setoran kaligrafi, buk, biar cepet selesai. Toh anak-anak masih disana dan tetap setoran. Boleh ya, buk.” bujukku dengan sedikit memaksa.
“Iya dah, besok berangkat pagi aja biar tidak sore sampai di asrama kaligrafinya,”
“Iya, buk.” Jawabku dengan sangat senang.
Keesokannya aku cepat-cepat menge-pack baju dan aneka oleh-oleh makanan untuk teman-teman asrama.
“Kayaknya mepet banget ini,“ gumamku dalam hati. khawatir ketinggalan bus.
Cepat-cepat aku chat adik sepupuku untuk mengantarkanku ke pembertian bus. 5 menit kemudian suara motor matic-nya terdengar. Ia datang.
“Buk, Diana balik dulu ya,“ sembari mencium tangannya tergesa.
“Hati-hati ya Din, jangan ngebut.” Ucapnya dengan penuh khawatir.
“Iya, buk.” jawabku. Aku sedikit berbisik pada adikku dengan sedikit memaksa.
“Aku aja yang nyetir, dek, 10 menit lagi jadwal busnya. Biar nggak ketinggalan, Oke?!.” Adikku hanya mengangguk tanpa ada protes.
Tangan kananku menarik gas sangat dalam, motor berlari kencang sekali. sambil melirik jam yang melingkar ditangan kiriku. 3 menit lagi! Aku tambahkan kecepatan, motor melaju semakin kencang berbaur dengan rasa panik dan khawatir ketinggalan bus.
Sekitar 5 meter didepanku, aku melihat ada seorang lelaki paruh baya ditengah jalan. langkahnya membingungkan antara ingin maju untuk menyebrang atau tetap diam ditempat. Sekali melangkah kemudian mundur kembali. Kukira lelaki itu sudah paham bahwa aku akan melintasi jalan dan tetap diam menungguku melewatinya. Nyatanya tidak. Ia tetap maju menyebrang saat aku berada di depannya. Seketika aku panik sebab takut menabrak. Langsung saja kutarik rem dan sepedaku terhenti kesetika dan arrrrrghhh..!!! Kakiku mengenai aspal dan tertimbun sepeda. Kami terjatuh.
Orang-orang mengerumuniku, memastikan keadaanku yang menepi dipingir aspal.
“Kau tak apa-apa, nak?” Tanya ibu-ibu yang tak ku kenal.
“Gak apa-apa kayanya, buk.” Sontak aku mencari adikku yang aku bonceng dibelakang. Saat mataku melihatnya, aku agak lega adikku tidak apa-apa, hanya lecet sedikit dibagian tangannya.

Ketika aku mulai bagun dari tendekan sepeda, terasa kaki tidak bisa digerakkan. Kucoba berdiri nyatanya kakiku tak mampu menahan beban. “kenapa ini?” Aku sangat kaget melihat betisku tidak lurus seperti biasanya. Kayaknya ada yang cidera parah. Aku bingung dan langsung menelfon ibu.

Beberapa menit kemudian Ibu datang dengan raut wajah khawatir, disusul ambulan. Pipi ibu basah melihatku tak berdaya dengan darah dibetisku. Badanku dirangkul oleh orang yang sama sekali tidak kukenal. Aku dikerumuni banyak orang. Ibu berada di sampingku dan aku dibawa ke rumah sakit.

Aku langsung digledek keruang ICU untuk periksa lebih lanjut. Karena kakiku tidak bisa digerakkan akhirnya di-rontgen, ternyata tulang kakiku patah, harus dioperasi dan dipasang 10 pen. Aku sedih karena niatku menghabiskan masa pandemi dengan setoran dars kaligrafi sementara harus diurungkan. Ibu merangkulku dan mencoba menenangkanku.

Itulah hari-hari terberat dalam hidupku. Aku hanya bisa terbaring sambil memegang ponsel saja. Gregetan melihat WA story temenku yang tetap setoran dars, sementara aku hanya terbaring lemah dan harus fakum dari kaligrafi sementara waktu.

Tiga hari berlalu setelah pemulihan operasi dan aku dibolehkan pulang. Kakiku tetap tidak bisa digerakkan dan penuh dengan perban yang melilit seperti ular. Berdiripun tak mampu. Aku hanya bisa duduk dan termenung diatas kursi roda. Hari demi hari berlalu, keadaanku mulai membaik. kali ini aku berjalan dibantu tongkat medis bukan kursi roda lagi.

Sesekali aku melirik tinta dan handam yang tergeletak di meja kamarku. Ingin rasanya menggerakkannya dan membuat setoran dars kaligrafi. Tapi apa daya, aku hanya bisa terdiam dan berbaring sambil mengeser-geser layar ponsel dengan jari-jemariku.
Pintu kamar terbuka, ibu datang membawakan sarapan pagi untukku. Raut wajahnya seakan mampu membaca kesedihanku.
“Diana pengen nulis?” Tanyanya.
Aku hanya mengangguk. Ibu beranjak mengambil meja, handam, kertas, tinta dan peralatan lainnya. Ibu meletakkannya didepanku sembari menata posisi dudukku. Kucoba goreskan handamku dan menulis sedikit demi sedikit. kala itu darsku masih sampai huruf asasiyah izzat khat Diwani. Aku terus berlatih semampuku untuk menulis.
Sebulan berlalu, operasi pengambilan pen yang pertama mulai dilakukan. Kakiku mulai sedikit bisa digerakkan meski masih tersisa sembilan pen. Butuh waktu hingga 1,5 tahun untuk menyelesaikan pengambil pen secara bertahap.

15 April 2020, aku memulai kembali setoran kaligrafiku, tetapi kali ini secara online. Semangatku buat menyelesaikan khat diwani terus menggebu. Dua bulan berlalu, kini aku bisa beraktivitas dan mulai bisa berjalan seperti biasanya. Meski ada sedikit rasa ngilu dan bengkak jika aku berjalan terlalu lama. Hilir waktu bergulir tak terasa dua bulan setoran online, bosan mulai menghampiri. Mulai terlintas dipikiranku tuk kembali ke Dar El Khat.
“Sekarang kan masih kuliah online, teman-teman masih pada di rumah, siapa yang bisa kuajak kembali ke asrama?” Gumamaku dalam hati sambari memutar pikiran mengabsen satu persatu teman kaligrafi. “Hemm, Ulim mungkin bisa, sekalian aku bujuk untuk meggarap PPL, barang kali dia mau.” Kucari namanya di WhatsApp-ku.
“Okey semoga aja bisa, sepertinya perlu cari temen satu lagi deh.” Gumamku sambil memandangi atap kamar mencari sebaris nama dalam ambiguku. Terlintas seorang gadis yang suka mengusiliku, yang suka mencari ribut disela keheningan diasrama. Hmm, bocah yang selalu ada-ada aja kelakuannya, yah, Zulfa. kalau ia mau, itu berarti kali kedua aku duet balik ke asrama kaligrafi duluan. Aku mulai membujuknya, mengutarakan seribu alasan dan alhamdulillah ia mau.

8 Juli 2020, tanggal yang kami rencakan untuk kembali ke asrama. Dua hari kemudian, Ulim menyusul ke asrama disusul pula Uus. Aku kembali melangkah mengejar target setoran dars ku sembari mengikuti PPL visual. Hariku mulai berwarna kembali dengan aktivitas seperti sedia kala. Hingga 15 Juli 2020 aku menyelesaikan dars khat diwani.
Allahdulillah.
Terima kasih atas semua warna yang Engkau torehkan dalam prosesku.

Jember, 23 Agustus 2020

Dars diwani kurrasah izzat:

Continue Reading

Perhatikan Ini Sebelum Memutuskan Untuk Belajar Khot

Belajar khot memang menarik, terutama bagi pemerhati seni Islam. Salah tujuannya adalah menghidupkan dan menjaga seni yang telah berkembang seumur dengan peradaban Islam ini. Keinginan untuk menjadi pewaris para kuttab wahyi (penulis wahyu) biasanya menjadi pemicu semangat belajar. Namun tidak sedikit mereka yang belajar menemukan kendala di tengah jalan, lalu berhenti bahkan meninggalkan khot yang dulu ingin di dalaminya. Untuk menjaga semangat dan tetap berada di track yang benar, perlu kiranya memperhatikan nasehat berikut ini.

Masuklah Dari Pintu Yang Benar
Janganlah kamu memasuki dunia khot dengan pandangan yang meremehkan dan menganggapnya enteng, sehingga mungkin semangatmu mudah menurun di tengah jalan, ketika menemukan kenyataan yang berbeda. Tetapi masuklah dunia khot dengan semangat tinggi, dan tanamkan pada dirimu bahwa khot adalah ilmu yang luas dan dalam, sehingga memerlukan kesungguhan dan keseriusan. Karena hanya dengan semangat yang tinggi, orang bisa menganggap ringan setiap tantangan di jalan yang dilaluinya, sehingga berhasil mencapai cita-cita yang diinginkannya.

Sesungguhnya Ilmu Itu Dengan Belajar
Karena itu bisa dikatakan mustahil, kamu dapatkan ilmu hanya dengan banyak bicara. Baik itu memuji-muji tulisan orang ataupun juga mengkritik dan mencari kekurangannya. Ilmu memerlukan seni dalam mencarinya, serta kesungguhan dalam mengambilnya. Karena itu hendaknya kamu tidak sibuk dengan hal-hal yang remeh temeh. Karena niatmu yang benar dan baik dalam mencari ilmu ini, akan berbanding lurus dengan terbukanya pintu-pintu rahasia khot di depanmu dengan lebar, sebagai wujud dari pemberian Allah atas kesungguhanmu.

Tangan Adalah Alat Yang Tidak Bisa Berpikir
Karenanya, jika kamu ingin menguasai khot, maka belajarlah dengan menggunakan akalmu untuk berpikir serta memahami teori, baru berlatih dan menguasainya dengan wasilah mata. Jika kamu bisa menggunakan mata dengan jeli dan maksimal dalam melihat kaidah dan contoh huruf-huruf, maka kamu akan sangat terbantu untuk menguasai khot dalam waktu yang singkat. Namun sebaliknya, jika pun kamu rajin menghabiskan waktunya untuk menulis, namun tanpa melihat, menimbang, dan berpikir terlebih dahulu, maka kamu akan lama untuk sampai kepada pemahaman dan keindahan tulisan yang diinginkan.

Jangan Kamu Pecah Konsentrasimu!
Untuk bisa fokus, maka perlu konsentrasi pada satu masalah saja. Akan sangat melelahkan jika konsentrasimu terbagi untuk beberapa pekerjaan sekaligus. Jika pun bisa, maka pekerjaan itu akan mendapatkan sedikit bagian dari konsentrasimu, sehingga hasilnya pun kurang maksimal, dan biasanya memerlukan waktu yang lebih lama. Dampaknya, bisa membuat orang menjadi putus asa, apalagi jika semangatnya kurang dan kemauannya lemah.

Orang sukses adalah mereka yang mampu konsentrasi untuk memulai satu pekerjaan, kemudian menyelesaikannya dengan maksimal, lalu pindah kepada pekerjaan lain, dengan memanfaatkan apa yang sudah dicapai sebelumnya, untuk mencapai tujuan berikutnya. Di sinilah letak efektifnya belajar dari satu jenis khot, lalu pindah kepada khot lain secara bertahap, sebagaimana yang diterapkan pada Manhaj Hamidi.

Jangan Merasa Dirimu Telah Maju, Padahal Kamu Tahu Kapasitasmu!
Pada hakekatnya, seseorang itu lebih tau tentang dirinya daripada orang lain. Karenanya, tidak mungkin dia akan menipu dirinya sendiri. Contohnya adalah dengan menyembunyikan kekurangannya dengan mencari solusi yang bersifat temporal dan lebih bersifat menghiburmu semata. Seperti menulis huruf, kalimat atau karya dengan warna-warni, isyarat-isyarat titik atau lainnya, sehingga terlihat indah dan menawan. Atau karena seseorang tidak mampu menulis naskah panjang, maka memilih naskah yang pendek untuk dijadikan karya, agar terlihat lebih maksimal dalam mengerjakannya.

Atau juga dengan berpindah kepada guru lain, karena merasa gurunya tidak cocok, terlalu syadid (ketat) dalam mengoreksi hurufnya sehingga dia merasa lama, akhirnya dia pun tidak pernah bisa menyelesaikan pelajaran karena ketidak sabaran tersebut. Karena hakekatnya bukan gurunya yang syadid, tetapi dia belum bisa menulis seperti yang selayaknya. Dan banyak kasus lain yang bersumber dari kelemahan dirinya, tetapi ditutupi dengan ketidak jujuran dan merasa sudah mendapatkan solusi. Padahal kekurangan tadi masih melekat dan belum berhasil diatasinya. [muhd nur/hamidionline]

Sumber: Dari tulisan Ustadz Zaki al-Hasyimi, diterjemahkan dengan bebas oleh Muhammad Nur.

Continue Reading

Khat Kufi dan Perannya dalam Sejarah Penulisan Al-Qur’an

kufi masahif

Melihat dari keindahan Al-Khat ‘Arabi tentu tidak terlepas dari aspek perkembangan dan pembaharuan dari sejak awal munculnya khat ini, baik dari segi bentuk dan jenisnya. Karena tidak ada sesuatu yang sempurna dalam satu tahapan. Semuanya membutuhkan proses untuk sampai pada tahap penyempurnaan. Begitupula dengan khat kufi. Salah satu khat yang termasuk dalam Al-Khuttut Al-Sittah atau lebih sering dikenal dengan Al-Aqlam As-Sittah (Kufi, Tsuluts, Naskhi, Riqa, Muhaqqaq, Tauqi).

Jika membicarakan tentang Khat Kufi, maka tidak akan terlepas dari aspek sejarahnya. Karena khat ini merupakan khat tertua dalam dunia Arab, dan menjadi salah satu saksi dalam sejarah kodifikasi penulisan Al-Qur’an.

Khat Anbar sebagai sejarah awal Khat Kufi

Sejarah kodifikasi Al-Qur’an dimulai sejak masa pemerintahan Abu Bakar Ash-Shidiq atas usulan Umar bin Khattab melihat banyaknya para qurra yang meninggal pada perang Yamamah. Jauh sebelum itu, pada awal datangnya Islam, Rasullullah telah memilih beberapa shohabah untuk menjadi kuttabul wahyi yang bertugas untuk menuliskan wahyu sesuai dengan apa yang diterima oleh Rasullullah. Perlu diketahui bahwa kuttabul wahyi merupakan tugas mulia dan istimewa, mengingat banyaknya masyarakat yang tidak bisa menulis pada saat itu. Untuk itu, makalah ini mencoba membahas sejarah tulisan (khat) dan perannya terhadap penulisan Al-Qur’an pada kodifikasi awal.

Jika merujuk pada zaman munculnya tulisan Arab, maka tidak ada satupun literatur yang dapat menyebutkan secara pasti akan tanggal maupun tahunnya. Akan tetapi, beberapa literatur mengatakan bahwa tulisan (khat) Arab pertama kali dibentuk oleh Basyar bin Abdil Malik (saudara ipar Abu Sufyan) dengan model Khat Nabati. Dari Khat Nabati inilah muncul tiga pencetus pertama tulisan Arab yang memodifikasi ulang dari Khat Nabati. Ketiga pencetus ini lebih dikenal dengan sebutan “Al-Yad Al-Ulaa”, mereka adalah Maromiroh bin Marroh (مرامرة بن مرة), Aslam bin Sadroh (أسلم بن سدرة) dan ‘Amir bin Hadroh (عامر بن حدرة) yang semuanya berasal dari Anbar. Sejak saat itulah kota Anbar menjadi kota pertama munculnya tulisan Arab, dan tulisan Arab dikenal dengan Khat Anbari dinisbatkan pada tempat munculnya khat ini.

Bertahun-tahun setelahnya, khat Anbari dipelajari oleh Utsman bin Affan dan Marwan bin Hakam sebelum datangnya Islam dalam satu kelas yang sama. Khat yang sama juga dipelajari oleh Mu’awiyyah bin Abi Sufyan, Ali bin Abi Thalib dan Zaid bin Tsabit. Merekalah yang nantinya akan menjadi kuttabul wahyi pilihan Rasullullah.

Rasullullah sebagai penggerak penyebaran Khat dalam Islam

Ketika Islam datang, Rasullullah sangat memperhatikan kemajuan umatnya dalam hal tulis-menulis mengingat bahwa masyarakat Jahiliyyah sangat awam dengan tradisi menulis. Tidak heran, karena peralatan tulis-menulis jarang ditemukan pada masa Jahiliyyah di samping adat, budaya dan kebiasaan Jahiliyyah yang memang belum membutuhkan tulisan. Bukan hanya itu, dalam pendapat lain mengatakan bahwa Rasulullah juga berperan dalam estetika Al-Khat Al-Islamy.

Dukungan Rasullullah dalam gerakan khat dapat dilihat sejak Rasullullah hijrah ke Madinah. Hal pertama yang dilakukan Rasul adalah membangun masjid dan mengadakan halaqoh “tulis menulis”, untuk itu secara khusus Rasullulah memilih sendiri guru yang akan mengajarkan halaqoh ini, salah satunya adalah ‘Abdullah bin Sa’id bin ‘As dan ‘Ubadah bin Shomit.

Bukan hanya itu, tetapi Rasullullah juga menjadikan tebusan bagi tawanan perang yang dapat menulis dan membaca untuk mengajarkannya kepada umat muslim di Madinah.

Proses pembelajaran tulis-menulis ternyata tidak hanya terfokus pada laki-laki saja, tetapi Rasullullah juga mendukung dan menyemangati para wanita muslim untuk belajar dan mengajarkan khat. Seperti Asy-Syifa binti ‘Abdillah, Hafshoh ummul mu’minin, Ummu Kultsum binti Uqbah dan ‘Aisyah binti Sa’ad bin ‘Ibadah.

Untuk itulah Rasullullah memerintahkan Hafshoh ra. untuk belajar menulis (khat) kepada Asy-Syifa binti ‘Abdillah, agar ia dapat mengajarkan para wanita muslim akan tulis-menulis. Maka disebutkan dalam sejarah bahwa Hafshoh merupakan salah satu wanita pertama yang mempelajari khat. Al-khatthatah al-ulaa fil Islam.

Berbeda dengan bentuk tulisan sebelum datangnya Islam, karena ketika Islam datang dengan semangatnya terhahap tulisan (khat) maka banyak umat muslim yang mulai memperindah bentuk dan huruf dalam khat. Hal tersebut dimulai sejak Rasullullah memilih sendiri para kuttab –sebutan untuk penulis- untuk menuliskan wahyu dan surat-surat penting yang akan disampaikan para raja-raja sekitar. Sejak saat itu, para kuttab berlomba-lomba untuk memperindah khat masing-masing, karena Rasullullah hanya memilih Ajwad Kuttab, penulis terbaik dengan tulisan yang terindah.

Khat Kufi dan sejarah penulisan awal Al-Qur’an

Tradisi tulis-menulis pun dimulai sejak saat itu. Terlebih ketika Rasullullah memilih beberapa sahabatnya untuk menjadi kuttabnya. Baik penulis wahyu maupun penulis surat untuk diberikan kepada raja-raja sekitar. Kuttab, sebutan untuk penulis, seperti sekertaris pada masa sekarang. Disebutkan dalam sejarah bahwa Rasullullah memiliki 42 orang Kuttab. Dan salah satu kuttabul wahyi yang terkenal adalah Zaid bin Tsabit.

Seiring berjalannya waktu, Khat Anbar semakin berkembang. Dapat dilihat dari bentuknya yang memiliki perkembangan di setiap waktunya. Khat inilah yang dipakai dalam penulisan ayat Al-Qur’an masa kodifikasi awal. Pada masa itulah, Rasullullah menyuruh para penulis istimewa untuk menuliskannya di hadapan Rsaulullulah ketika ayat diturunkan, jika terdapat kesalahan dalam penulisan, maka Rasulullah memberitahukannya.

Dari Zaid bin Tsabit ia berkata bahwa ia pernah menuliskan wahyu pada masa Rasulullah SAW. Ketika itu Rasulullah mendiktekannya, dan ketika ia telah selesai menulis maka Rasulullah memerintahkan Zaid untuk membacakannya, maka Zaid pun membacakan tulisannya dihadapan Rasulullah, jika terdapat kesalahan, maka Rasulullah akan memberitahukannya. Ketika itu ayat-ayat Al-Qur’an masih ditulis dalam lembaran-lembaran kulit, daun, tulang pipih, serta pelepah kurma yang berbeda-beda sesuai dengan situasi turunnya ayat.

Pada masa pemerintahan Abu Bakar Ash-Shiddiq, dimulailah periode kedua kodifikasi Al-Qur’an atas usulan Umar bin Khattab melihat banyaknya qurra’ dan huffadz (penghafal Al-Qur’an) yang meninggal pada perang Yamamah. Pada masa inilah, Al-Qur’an yang dituliskan para kuttabul wahyi lalu dikumpulkan menjadi satu dan disimpan oleh Abu Bakar hingga ia wafat.

Beberapa lembaran ditulis menggunakan Khat Anbar, dan lembaran lainnya ditulis menggunakan Khat Makki dan Khat Madani sesuai tempat ditulisnya tiap-tiap lembaran.

Dari Khat Anbar inilah yang menjadi asal muasal Khat Kufi dan menjadi asas tulisan dalam penulisan Al-Qur’an hingga akhir kekhilafahan Khulafa Rosyidin. Penamaan khat Kufi dikenal sejak ditaklukkannya Iraq oleh Sa’ad bin Abi Waqqosh pada masa kekhalifah Umar bin Khattab pada tahun 18 H.

Ketika itu, Umar mengirim sebagian umat muslim untuk menempati kota Bashroh dan Kufah tepat setelah kota itu ditaklukkan. Pendapat lain mengatakan bahwa para pendatang dari Madinah mengenalkan khat yang mereka kenal ke Kufah hingga terjadi perkembangan bentuk dan keindahan di dalamnya hingga setelahnya disebut sebagai Khat Kufi. Sejak saat itulah, khat Arabi muncul dan berkembang di Khufah mengikuti perkembangan pemerintahan Islam yang berpusat di Kufah.

Seperti penamaan khat lainnya, disebut “Khat Kufi” karena letaknya di Kufah. Bahkan kemudian Khat Kufi mampu mengungguli keindahan Khat Makki dan Khat Madani pada saat itu. Maka, tidak dapat dipungkiri jika khat Kufi menduduki peringkat teratas, bahkan nama khat ‘Arabi lebih dikenal dengan nama “Khat Kufi” karena tradisi menulis lebih banyak menyebar di Kufah dan tersebar melalui Kufah di samping banyaknya para khattat dari Kufah yang sangat memperhatikan keindahan, bentuk, gaya dan seni dari setiap hurufnya melebihi Khat Madani dan Khat Makki.

Disebukan dalam buku ‘Tarikhul Khat wa Gharaib Rasmihi’ bahwa mushaf pada abad pertama hingga abad kelima hijriyah dituliskan dengan Khat Kufi, dengan pusat penulisan mushaf yang berpusat di masjid Kufah. Salah satu contoh mushaf tertua yang ditulis menggunakan khat Kufi dapat dilihat di museum seni Islam Kairo, ditulis di atas lembaran kulit kijang dengan tinta hitam.

Sumber:
Mujahid Taufiq Al-jundi, Tarikh al-Kitabah wa Adawatiha, Cet.1, 2008
Muhammad Thahir Abdul Qodir Al-Kurdi, Tarikh Al-Khot Al-‘Araby wa Adabihi, Cet. 1, 1939
Muhammad Thahir Abdul Qodir Al-Kurdi, Tarikhul Qur’an wa Gharaib Rasmihi, Cet. 1, (Jeddah: 1365)
Ahmad Shobri Zayid, Tarikh Al-Khat Al-‘Arabi wa A’lamul Khottotin (Kairo: Darul Fadhilah, 1998)

Continue Reading

Menelisik Istilah Rasm Utsmani; Tulisan Ringan Untuk Para Penulis Al-Qur’an

Rasm yang terletak dalam Mushaf Utsmani merupakan salah satu rahasia dalam penulisan mushaf Al-Qur’an, terkait beberapa kalimat dalam Al-Qur’an. Para sahabat menulis Mushaf Utsmani dengan model khusus yang berbeda dari kaidah penulisan imla, yang meliputi kaidah penghapusan (hadzf), penambahan (ziyadah), penulisan ha (hamz), penggantian (badal), penyambungan (Washl), pemisahan (Fasl). Masih tentang Rasm ini, ada baiknya Anda merujuk kembali artikel tentang hubungan rasm dengan Qiraat serta contohnya dalam mushaf.

Pembahasan mengenai Rasm Utsmani tidak akan pernah terlepas dari Mushaf Utsmani itu sendiri. Mushaf Utsmani ditulis pada era Utsman bin Affan sebagai kodifikasi Al-Qur’an yang ketiga, melihat banyaknya umat Islam kala itu yang saling menyalahkan bacaan antara satu dengan yang lainnya. Tidak hanya itu, sebagian orang bahkan mengkafirkan sebagian yang lain akibat perbedaan bacaan dan sedikitnya pengetahuan umat tentang bacaan Al-Qur’an yang diturunkan dengan lahjah yang lain. Oleh karena itu, Utsman bin Affan meminta Zaid bin Tsabit untuk menuliskan kembali Al-Qur’an dengan satu lahjah, yaitu lahjah Quraisy. Setelah proses pentashihan yang panjang hingga dibentuk tim kodifikasi Al-Qur’an, mushaf yang dituliskan oleh Zaid disebar ke berbagai kota. Mushaf ini kemudian disebut sebagai mushaf Utsmani hingga sekarang karena penulisannya dilakukan pada era Utsman bin Affan atas perintahnya.

Sebagaimana Al-Qur’an yang disebarkan menggunakan satu lahjah yang telah disepakati, penulisan yang digunakan pada tiap mushaf yang disebarkan pun menggunakan satu model Rasm, yang selanjutnya disebut dengan Rasm Mushaf Utsmani, agar umat Islam dapat membaca Al-Qur’an melalui satu bentuk tulisan. Karena, perbedaan qiraat akan menyebabkan perbedaan rasm yang ditulis. Oleh karena itu, Utsman bin Affan mengirimkan imam kepada masing-masing kota untuk mengajarkan tentang cara pembacaan mushaf Utsmani dengan rasmnya. Untuk itulah, penulisan Al-Qur’an pada masa setelahnya wajib mengikuti Rasm Utsmani.

Hal ini dilakukan melihat perbedaan tulisan dan rasm pada beberapa mushaf sebelum masa kodifikasi Utsman. Diantaranya penulisan ((لئن أنجانا)) dalam surah Al-An’am yang ditulis menggunakan alif pada mushaf Kufi, sedangkan pada mushaf lainnya menggunakan huruf ta setelah ya ((أنجيتنا)). Perbedaan yang lain ditemukan dalam ayat ((كانوا أشدهم منهم قوة)) pada beberapa mushaf, sedangkan dalam mushaf Syami ditulis dengan menggunakan kaf ((منكم)). Dan beberapa kalimat lain seperti menghilangkan alif pada kaidah yang semestinya, mengganti ya dengan alif dan sebagainya.

Ada perbedaan pendapan mengenai rasm Utsmani, sebagian mengatakan itu merupakan bentuk ijtihat sahabat. Pendapat yang lain mengatakan bahwa pada masa Rasulullah SAW, Rasulullah SAW sendiri yang mendiktekan Zaid bin Rsabit dalam penulisan Al-Qur’an melalui talqin dari Jibril alaihi salam. Seperti penulisan wakhsyaunii dalam surah Al-Maidah ditulis dengan huruf ya’ sedangkan dalam surah Al-Maidah dengan menghapusnya (ya) pada dua tempat di dalamnya. Sedangkan dalam riwayat lain mengatakan bahwa penulisan rasm Utsmani sesuai talaqi dengan Rasulullah pada masa kodifikasi awal, bukan bentukan baru yang dibuat sahabat semata.

Sedangkan terkait hukumnya, tidak ada perbedaan pendapat antara para ulama Semuanya sepakat bahwa penulisan ayat A-Qur’an wajib mengikuti rasm mushaf Utsmani, khususnya bagi mereka yang awan terhadap qiraat yang berbeda dalam Al-Qur’an. Dalam hal ini, Baihaqi mengatakan bahwa siapa saja yang ingin menulis mushaf, maka ia harus mengikuti penulisan yang tertulis di dalamnya, dalam hal ini berarti rasm mushaf Utsmani. Sedangkan untuk anak kecil yang sedang belajar Al-Qur’an, sebagian ulama memperbolehkan untuk tidak mengikuti rasm Utsmani agar mempermudah dalam pembelajarannya.

Muhammad Thahir menuliskan dalam bukunya Tarikhul Qur’an wa Gharaib Rasmihi tentang tiga kelebihan dalam pemakaian rasm Utsmani. Pertama, membantu umat khususnya era modern dalam tata cara penulisan mushaf. Kedua, menghindari keraguaan dalam penulisan dalam lahjah yang berbeda seperti yang dituliskan sebelumnya. Ketiga, untuk mengetahui makna yang harus dipotong atau disambung dalam beberapa kalimat Al-Qur’an.

Salah satu bentuk rasm utsmani dapat dilihat dari penulisan basmalah yang menghilangkan 3 alif di dalamnya. Pertama, alif dalam penulisan بسم kedua alif dalam penulisan الله ketiga alif dalam penulisan الرحمن, dengan bacaan sesuai dengan kaidah mad dalam pekaidah penulisan yang kita tahu, yaitu باسم اللاه الرحمان الرحيم.

Bentuk lainnya dapat dilihat dari kalimat ((الملئكة)), ((الإنسن)), ((الشيطن)), ((الصرط)), ((العلمين)) dengan menghilangkan alif dan digantikan dengan tanda mad disetiap huruf yang dibaca panjang.

Dalam rasm Utsmani juga ditemukan beberapa bentuk penulisan asing, seperti:

Rasm pada kalimatأفإين مات ditulis dengan penambahan huruf ya sebelum nun

Rasm pada kalimat والسماء بنينها بأييد dan kalimat بأييكم ditulis dengan dua huruf ya pada dua kata yang berbeda.

Rasm pada kalimat سأوريكم دار الفيقين ditulis dengan menambahkan huruf wawu setelah alif

Rasm pada kalimat وجايء يومئذ بجهنم dengan menambahkan hurud alif setelah jim. Dan masih terdapat beberapa penulisan asing dalam rasm Utsmani. Untuk itu, Muhammad Thahir dalam bukunya secara khusus menjelaskan secara terperinci mengenai ayat-ayat yang tertulis menggunakan rasm Utsmani.

Rasm Utsmani merupakan rasm khusus yang digunakan dalam penulisan ayat Al-Qur’an atau mushaf, sedangkan dalam penulisan harian tidak dipergunakan karena bentuk penulisannya yang berbeda dari kaidah imla. Kecuali pada beberapa kalimat dan kata yang sering digunakan dalam keseharian. Seperti kalimat: ((بسم الله الرحمن الرحيم)), ((لا إله إلا الله)), ((الله)), ((ذلك)), ((هأنتم)), ((هؤلاء)) dan lainnya, menggantikan tulisan dalam kaidah imla, seperti ((باسم اللاه الرحمان الرحيم)), ((لا إلاه إلا اللاه)), ((اللاه)), ((هاذا)), ((ذالك)), ((ها أنتم)), ((ها ألاء)).

Melihat penulisan mushaf yang ditulis dengan rasm Utsmani berbeda dengan penulisan kaidah imla, maka dianjurkan bagi para penulis Al-Qur’an untuk memperhatikan rasm Utsmani sebelum menuliskan ayat, untuk menghindari kesalahan dalam penulisan. Karena jika penulisan hanya mengandalkan hafalan semata, maka ditakutkan akan terdapat perbedaan dalam rasm yang dituliskan.

Penulis: Nindhya Ayomi.
Sumber: Muhammad Thahir ibn Abd al-Qadir al-Kurdi, Tarikh al-Qur’an wa Gharaibu Rasmihi wa Hukmuhu, (Jeddah: 1365 H).

Continue Reading

Belajar Khot? Perhatikan Nasehat Berikut Ini!

Jadi Anda sedang belajar khot? Tentu saja pertanyaan tersebut tidak bermaksud mencari jawaban. Karena hakekatnya manusia hidup tidak berhenti untuk belajar. Karena itu nasehat di bawah ini tidak sebatas untuk mereka yang sedang belajar, tetapi untuk siapa saja yang sedang menekuni khot, atau yang mungkin sudah menjadi master sekalipun. Supaya tidak lupa arah, perlu kiranya mengetahui beberapa kesalahan yang sering terjadi tanpa kita sadari. Supaya terhindar dari kesalahan tersebut, mari sama-sama kita simak:

Pertama, kurang perhatian terhadap kebersihan dan kerapihan alat-alat yang dipakai. Dalam riwayat masyhur dikatakan bahwa tulisan yang baik berasal dari lima sumber; kekuatan tangan, pena yang bagus, kertas yang berkualitas, tinta yang mengkilap, dan menahan nafas ketika menulis.

Kedua, tergesa-gesa dalam menulis kalimat padahal belum menguasai mufrad dan sambungan huruf.

Ketiga, meniru tulisan para master atau kaligrafer besar, dan berusaha menulis semirip mungkin hingga kepada detail huruf, seolah olah sedang copy paste, tanpa tau rahasia di balik yang dia tiru.

Keempat, belajar dari amsyaq (buku khot) dengan sembarangan, seperti orang yang asal bicara, tidak bisa membedakan mana yang penting dan tidak penting. Demikian pula ketika melihat tulisan, tidak bisa membedakan mana tulisan kuat yang bisa ditiru dan mana tulisan biasa yang tidak perlu ditiru.

Kelima, terlalu bersandar kepada kemampuan sendiri (self study) sehingga meyakini kalau mampu mencapai level expert tanpa perlu guru yang akan membukakan baginya rahasia-rahasia huruf.

Keenam, hilangnya optimisme dan kurang percaya diri atas kemampuan dan bakat yang diberikan oleh Allah kepadanya. Sehingga mengira bahwa dirinya tidak akan mampu mencapai apa yang dicapai oleh kaligrafer besar. Karena mungkin lupa, bahwa kaligrafer besar dulunya juga seorang murid dan pemula dalam khot.

Ketujuh, takjub dengan diri sendiri, serta rasa percaya diri yang berlebihan. Sehingga tidak sadar punya rasa takabbur dan lebih dari gurunya yang telah mengajarinya. Bahkan merasa dirinya satu-satunya kaligrafer berbakat, sementara yang lain ada di bawah levelnya.

Kedelapan, lebih loyal dan suka kepada orang yang memuji tulisannya, daripada orang yang mengkritik. Tidak suka diberi masukan atau diberi saran. Bahkan marah dan menunjukkan rasa tidak suka jika ada orang yang lebih tahu, berusaha memberi kritik. Sehingga menolak nasehat karena rasa sombong dan tertipu oleh diri sendiri.

Kesembilan, terlalu fokus kepada satu jenis khot dalam menulis dan mengoreksi, sehingga kurang menguasai jenis khot lainnya.

Kesepuluh, kurang menghargai khot dengan menulis kalimat remeh atau kurang pantas. Seolah-olah khot adalah sarana bermain-main dan hiburan semata.

Kesebelas, tidak belajar khot dengan serius dan berhenti dari menulis dalam waktu beberapa minggu atau bahkan berbulan-bulan. Dan pura-pura tidak tau, bahwa barangsiapa yang meninggalkan khot, maka khot akan meninggalkannya.

Keduabelas, menyembunyikan ilmu dari kawan dan sahabatnya. Serta iri kepada orang lain yang diberi bakat lebih, dan memandang rendah mereka yang ada di level bawahnya. (muhdnur/hamidionline.net)

Disarikan dengan beberapa penyesuaian dari tulisan Al-Ustdz Zaki Al-Hasyimi, oleh Muhammad Nur.

Continue Reading

Peran Rasulullah Dalam Perkembangan Kaligrafi Islam

Kaligrafi merupakan salah satu warisan seni dalam Islam yang menunjukkan perkembangan dan kemajuan peradaban Islam dalam segi tsaqafah dan hadharah. Kemajuan ini dapat dilihat dari model kaligrafi yang telah mengalami proses perubahan dari sejak awal munculnya hingga sekarang. Salah satu pengaruh kaligrafi dalam kemajuan peradaban Islam dibuktikan dengan banyaknya bangunan arsitektur Islam yang dihiasi dengan kaligrafi indah dan banyaknya literatur keilmuan Islam yang ditulis oleh para ulama terdahulu. Lebih jauh lagi, ketika Islam datang dengan gerakannya dalam tulis menulis (khat), para sahabat mulai menulis mushafnya masing-masing (sebelum adanya jam’ul Qur’an oleh Utsman bin Affan), sebagian menuliskan hadits yang mereka dapatkan dari Rasulullah dalam setiap majlis. Hal ini merupakan perkembangan yang sangat pesat ketika itu, mengingat masyarakat Arab pada masa pra Islam masih awam terhadap dunia tulis menulis.

Menurut Dr. Mujahid Taufiq (2008: 22) semua kemajuan itu tidak luput dari peran Rasulullah SAW di dalamnya, baik dalam segi gerakan maupun estetikanya terhadap kaligrafi itu sendiri. Hal inilah yang kemudian membuat kaligrafi disebut dengan Al-Khat Al-Islami atau kaligrafi Islam hingga sekarang.

Hal pertama yang dilakukan oleh Rasulullah untuk mengenalkan kaligrafi kepada umatnya adalah dengan menyadarkan umatnya akan pentingnya tulisan. Ada beberapa dalil dari Al-Qur’an dan hadits yang menyebutkan keutamaan dalam menulis, diantaranya tertulis dalam surah Al-‘Alaq: 3-5, Al-Baqaroh, 282, Al-Ankabut, 48, Al-Infithar, 11 dan lainnya. Bahkan dalam surah Al-‘Alaq Allah bersumpah dengan menggunakan kata qalam (pena) dan tulisan yang tergores darinya (surah Al-Alaq, ayat: 1).

Untuk mengenalkan umatnya terhadap dunia tulis menulis, Rasulullah membuat halaqoh di masjid yang ia bangun pasca hijrahnya ke Madinah untuk mengajarkan cara menulis. Untuk itu, beberapa sahabat secara khusus dipilih untuk mengajarkan cara menulis kepada umat muslim, salah satunya Abdullah bin Said dan Ubadah bin Shomit. Gerakan lainnya yaitu dengan menjadikan tebusan tawanan perang yang mampu menulis untuk mengajarkannya kepada 10 orang Madinah (Dr. Mujahid Taufiq, 2008:22).

Ada perbedaan pendapat terkait peran Rasulullah dalam hal ini. Diantaranya mengatakan bahwa Rasulullah hanya berperan dalam menggerakan umatnya untuk menulis, bukan dalam seni kaligrafi (khat). Pemikiran ini berbeda dengan pendapat Muhammad Thahir yang mengatakan bahwa tulisan (al-kitabah), as-satr (Alfarobi, 2003:108) dan al-khat memiliki satu arti yang sama (Muhammad Thohir, 1939:7). Dalam beberapa literatur, istilah khat lebih sering digunakan untuk menunjukkan perkembangan peradaban Islam baik dalam hal tsaqafah maupun hadhoroh, melihat perubahan bentuk, jenis dan keindahan yang berkembang di setiap masanya. Sedangkan dalam kbbi, tulisan indah dengan pena lebih dikenal dengan sebutan kaligrafi, dan penulisnya disebut dengan kaligrafer (kbbi, https://kbbi.web.id/kaligrafi, akses 15 Januari 2020).

Bukti yang menunjukkan peran Rasulullah dalam estetika kaligrafi dapat dilihat dari beberapa hadits, diantaranya hadits Muawiyyah yang tertulis dalam Musnad Firdaus nomor 8533. Diriwayatkan di dalamnya bahwa Rasulullah pernah mengajarkan sekretarisnya (kuttab), Muawiyyah bin Abi Sufyan tentang bentuk penulisan basmalah (Al-Firdaus bilma’tsuril Khithob, 1986: 394 ). Yaitu dengan meninggikan huruf ba’ agar tidak tercampur dengan nibroh sin hingga menimbulkan kesusahan dalam membaca (وانصب الْبَاء) dalam hadits ini juga diajarkan untuk memisahkan nibroh sin, yang artinya dalam penulisan ayat Al-Qur’an, nibroh sin harus terlihat jelas (وَفرق السِّين). Selain itu, Rasulullah juga mengajarkan cara menulis mim yang benar, yaitu agar lingkaran dalam kepala mim terlihat, tidak tertutup oleh tinta (وَلَا تغور الْمِيم).

وقال لكاتبه معاوية رضي الله تعالى عنه ((يَا مُعَاوِيَة ألق الدواة وحرف الْقَلَم وانصب الْبَاء وَفرق السِّين وَلَا تغور الْمِيم وَحسن الله وَمد الرَّحْمَن وجود((

Dari hadits Anas bin Malik yang diriwayatkan dalam Munsad Firdaus nomor 1168 mengatakan bahwa Rasulullah mengajarkan cara menulis mim dalam tulisan Ar-Rahman (Al-Firdaus bilma’tsuril Khithob, 1986: 296), yaitu dengan memanjangkan mim satu pena (فليمد الرَّحْمَن).

((إِذا كتب أحدكُم بِسم الله الرَّحْمَن الرَّحِيم فليمد الرَّحْمَن))

Dalam hadits Zaid bin Tsabit yang diriwayatkan dalam Musnad Firdaus nomor 1087 dijelaskan bahwa Rasulullah mengajarkan cara menulis sin dalam basmalah (Al-Firdaus bilma’tsuril Khithob, 1986: 278), yaitu dengan memanjangkan huruf sin. Dalam riwayat lain mengatakan bahwa maksud dari (فَبين السِّين) yaitu untuk menuliskan nibrah sin dengan jelas dan memisahkannya dari nibrah ba. Karena jika jumlah nibrahnya kurang atau sebaliknya, maka akan merubah makna.

((إِذا كتبت فَبين السِّين فِي بِسم الله الرَّحْمَن الرَّحِيم))

Dapat dilihat dari hadits pertama, bahwa Rasulullah juga mengajarkan sekretarisnya cara menggunakan pena dan tinta. Yaitu dengan memasukkan liiqoh (benang sejenis sutra) kedalam dawah (sebutan untuk tempat tinta) agar mata pena tidak bersentuhan langsung dengan dinding dawah ketika mengambil tinta, karena hal itu dapat menyebabkan mata pena rusak dan pecah (ألق الدواة). Adanya benang dalam dawah juga berguna untuk menjaga kebersihan dan keindahan dalam menulis, karena mata pena tidak mengambil tinta secara langsung karena terhalang oleh benang yang berfungsi untuk menyerap tinta. Cara ini merupakan metode baru yang diajarkan oleh Rasulullah, mengingat tulis menulis merupakan hal yang baru ketika itu. Dan metode sederhana ini masih dipakai oleh para kaligrafer hingga masa seterusnya.

Metode pemotongan pena juga diajarkan oleh Rasulullah, yaitu dengan memotong mata pena secara miring (وحرف الْقَلَم). Metode ini dapat dilihat dari hadits Mua’awiyah sebelumnya. Pemotongan pena merupakan hal paling mendasar dalam penulisan kaligrafi dan menjadi hal terpenting yang menentukan kualitas tulisan.   Dituliskan dalam buku Al-Khat Al-‘Araby wa Adabihi bahwa rahasia seorang kaligrafer terletak pada pemotongan penanya (Muhammad Thohir, 1939:426).

Dalam hadits Muawiyyah yang diriwayatkan oleh Ad-Dailami secara langsung telah membuktikan bahwa Rasulullah memiliki peran besar dalam munculnya kaligrafi Islam. Karena kaligrafi sangat diutamakan untuk menulis ayat-ayat Al-Qur’an. Dalam hadits ini Rasulullah berpesan untuk menuliskan ayat Al-Qur’an dengan sebaik-baik tulisan yang indah sebagai bentuk pengagungan kita terhadap Allah (وَحسن الله). Al-Kurdi menjelaskan lebih lanjut, bahwa perintah untuk memperindah tulisan dalam hadits ini bukan hanya untuk penulisan basmalah saja, akan tetapi ditujukan untuk semua tulisan (Muhammad Thohir, 1939:13).

((يَا مُعَاوِيَة ألق الدواة وحرف الْقَلَم وانصب الْبَاء وَفرق السِّين وَلَا تغور الْمِيم وَحسن الله وَمد الرَّحْمَن وجود((

Belum cukup sampai di situ, tetapi Rasulullah juga mengajarkan cara menghapus tulisan yang salah hingga tulisan tidak dicoret atau ditulis ulang seperti sebelumnya. Dalam hadits Ali diceritakan bahwa ketika penulisan perjanjian Hudaibiyah, Suhail, salah satu para pembesar Quraisy tidak setuju dengan tulisan “Muhammad Rasulullah” yang tertulis dalam surat perjanjian, karena Quraisy ketika itu tidak mempercayai kenabian Nabi Muhammad. Oleh karena itu, Suhail meminta untuk dihapuskan kalimat “Muhammad Rasulullah”. Ali yang semula menolak akhirnya menggantinya dengan kalimat “Muhammad bin Abdillah” atas perintah Rasulullah setelah Rasulullah menghapus kalimat sebelumnya “Muhammad Rasulullah” dengan air liurnya (Shohih Muslim, tanpa tahun:1410).

 

Referensi:

Al-Farobi, Ishaq bin Ibrahim bin Husain. 2003 Mu’jam Diwanil Adab, jilid.1 (Kairo: Darul Syu’ub Lil-Shofahah wa Thiba’ah)

Al-Hamdzan, Ad-Dailami. 1986. Al-Firdaus Bima’tsuril Khithob, jilid. 5, cet.1 (Beirut: Darul Kutub Ilmiyah)

Al-Hamdzan, Ad-Dailami. 1986. Al-Firdaus Bima’tsuril Khithob, jilid. 1, cet.1 (Beirut: Darul Kutub Ilmiyah)

Al-Jundi, Mujahid Taufiq. 2008. Tarikhul Kitabah Al-Arabiyah Wa Adawatiha, cet.1 (Kairo, tanpa penerbit)

Al-Kurdi, Muhammad Thohir Abdul Qodir. 1939 . Al-Khat Al’Araby wa Adaabihi. (Tanpa penerbit)

An-Nisaburi, Muslim bin Hujaj. Tanpa tahun. Al-Musnad Ash-Shohih Al-Mukhtashor binaqlil ‘Adl ‘Anil ‘Adl Ilaa Rasulullah SAW, jilid 3 (Beirut: Darul Ihya At-Turats Al-‘Araby)

kbbi, https://kbbi.web.id/kaligrafi, akses 15 Januari 2020

 

Continue Reading