Warna-warni perjalanan khat diwaniku

Hai..! Aku Diana.
Mahasiswi sebuah PTN Islam di Jember yang memiliki akronim UIN KHAS. Aku sangat bersyukur, tanggal 15 Juli lalu diperkenankan menyelesaikan dars Diwani, tentunya dengan beragam warna yang turut menyemarakkan prosesnya. Bila kelabu sering ditafsirkan dengan rasa sedih, dan merah jambu diartikan bahagia, maka, perjalananku mengandung lebih dari sekedar tujuh warna me-ji-ku-hi-bi-ni-u yang melahirkan rasa hara-huru dan haru-biru. Setidaknya menurutku.

Catatan ini aku tulis, tak lebih sebagai pengkristal waktu. Dan berharap bisa menjadi pitawat bila suatu hari, dalam perjalanan panjang belajar kaligrafi ada kehendak-kehendak negatif yang membelenggu mimpi-mimpiku.

***

Gemintang mulai beranjak pulang, mentari mulai benderang menyilaukan. Langkah demi langkah ku hentakkan menyusuri jalanan dengan bising kendaraan, seakan menjadi simfoni yang setia mengiringi langkahku menuju kampus, mengalirkan energi. Sehingga tidak terasa, jam pertama kuliah telah berlalu.Aku segera beranjak keluar dari area kampus.

“Din, ntar jam kedua balik ke kelas bareng aku ya, sekalian nyusun teknik observasi di bank.” Sergah Ina setibaku di gerbang keluar. Pagi ini ia tampak sangat ceria dengan jilbab biru yang dipadankan dengan gamis donker berpadu biru muda.
Ina adalah salah satu sahabat karibku di kampus. Kami mulai berteman sejak MABA hingga kini semester VI. Alasan kenapa kami bisa akrab hingga saat ini, adalah kami kebetulan satu prodi, yakni Ekonomi Syariah, di kelas yang sama pula. Ku jawab tawarannya dengan anggukan mantap.

Udara mulai terasa berat akibat panas. Seperti biasa, yakni disela-sela jam istirahat kuliah, aku mampir ke salah satu tempat foto copy. Bisa dibilang, hampir tiap hari aku kunjungi. Bukan untuk menge-print makalah ataupun tugas kuliah, tapi untuk mendalami hobi. Kami, -aku dan teman-tema sehobi- sering menyebut tempat itu dengan basecamp kaligrafi. Yah, karena kebanyakan dari kami, datang bukan untuk mencetak tugas atau meng-copy buku, melainkan ramai untuk setoran pelajaran (dars) kaligrafi. Biasanya, teman-teman cewek memenuhi ruangan bagian depan, sementara cowok-cowok di ruangan belakang.
Ada yang latihan mengulang-ngulang dars, menulis setoran, merevisi dars, mengecat atau membuat pesanan karya, dan lain-lain. Tempat ini menjadi saksi perjuangan kami ber-kaligrafi-ria disela-sela kesibukan menjadi mahasiswa. Aku pribadi, mulai menekuni kaligrafi jenis diwani sejak 22 Januari 2020, yakni setelah resmi dinyatakan selesai dars khat riq’ah dengan menulis ijazah riq’ah.

Menjelang sore, Ina datang menjeputku di tempat fotocopy. Kami melaju dengan kencang menggunakan motor matic-nya.
“Ina, dah mepet ni,” aku panik karena jam sudah menunjukkan pukul empat lebih.
“Santailah! Bapaknya baik kok. Telat dikit boleh lah.“ Jawabnya dengan santai plus cekikikan. Pukul 16.30 aku dan Ina sudah bergabung di kelas bersama yang lainnya.
“Oke, kalian buat makalah. Usahakan pada pertemuan selanjutnya dikumpulkan. See you all next time,” Akhirnya, closing statement legendaris itu diucapkan oleh dosen kami.
Beginilah hari-hariku, mengenggam dua peran sebagai mahasiswa dan pelajar kaligrafi. Disini tugas, disana tugas. Kuncinya satu, yakni harus pandai-pandai membagi waktu. Ina meraih kontak sepeda dari tasnya dan memberikannya kepadaku.
“Din, tak anterin ke tempatmu ya, tapi kamu yang nyetir.” Pintanya.
“Oke.”

Sesampainya di Dar El Khat, yakni tempat tinggalku selama kuliah, (sesuai namanya, aku bersama teman-teman kaligrafi tentunya) kutaruh tas dan ponsel dimeja, lalu kurebahkan badan dan menatap langit-langit kamar, sambil menuliskan list tugas-tugas yang harus ku kerjakan. Tiba-tiba nada dering panggilan nyaring terdengar dari HPku. Dengan cepat kuraih dari meja.

“Assalamualaikum, nak, gimana kabarnya? Kapan mau pulang?” Suara yang sangat aku rindukan terdengar disana dan mengingatkanku pada suasana rumah.
“Iya, buk. Besok hari Jum’at insyaallah Diana pulang.“ Jawabku.
Sebenarnya berat hati untuk pulang saat tugas masih banyak. Tapi apalah daya, sudah hampir tiga bulan aku tidak pulang. “Okelah, besok aku pulang.” Gumamku memantapkan hati.

***

Tiga hari berlalu dirumah, rasanya ingin cepat kembali melanjutkan aktifitas dikampus. Aku terdiam memikirkan tugas-tugasku yang belum selesai. Kuraih ponsel dan melihat memo tugas. Grup kelas yang tiba-tiba ramai membuat aku bertanya, “ada apa?” Aku penasaran dan mulai membukanya. Kaget saat membaca pesan dari koordinator kelas.

Keputusanan dari Dekan kampus kita. Mulai hari senin besok, 15 Maret 2020. Kita kuliah daring (online). Dikarenakan keadaan negara kita yang kurang baik. Jaga kesehatan agar tidak terjangkit Covid-19 yang saat ini sedang kita dan negara-negara lain hadapi. Selamat belajar dirumah ya, guys.

Tetiba rasa sedih menyergap, karena tidak bisa berkumpul dengan teman-teman di semester ini. Tetapi juga ada rasa hangat memenuhi dada, senang. Kesempatanku untuk fokus setoran kaligrafi. Toh kuliah online sambil rebahan agak santai sepertinya. Kubulatkan tekadku untuk tetap kembali ke asrama besok pagi, agar tetap bisa setoran kaligrafi. Aku memberanikan diri mengutarakan niatku ke ibu meski ada sedikit ke khawatiran di raut wajahnya karena anaknya akan kembali ke rantau pada masa pandemi.
“Kan kuliah online, kenapa tidak dirumah saja, nak,” ucapnya dengan penuh ragu.
“Aku kan mau setoran kaligrafi, buk, biar cepet selesai. Toh anak-anak masih disana dan tetap setoran. Boleh ya, buk.” bujukku dengan sedikit memaksa.
“Iya dah, besok berangkat pagi aja biar tidak sore sampai di asrama kaligrafinya,”
“Iya, buk.” Jawabku dengan sangat senang.
Keesokannya aku cepat-cepat menge-pack baju dan aneka oleh-oleh makanan untuk teman-teman asrama.
“Kayaknya mepet banget ini,“ gumamku dalam hati. khawatir ketinggalan bus.
Cepat-cepat aku chat adik sepupuku untuk mengantarkanku ke pembertian bus. 5 menit kemudian suara motor matic-nya terdengar. Ia datang.
“Buk, Diana balik dulu ya,“ sembari mencium tangannya tergesa.
“Hati-hati ya Din, jangan ngebut.” Ucapnya dengan penuh khawatir.
“Iya, buk.” jawabku. Aku sedikit berbisik pada adikku dengan sedikit memaksa.
“Aku aja yang nyetir, dek, 10 menit lagi jadwal busnya. Biar nggak ketinggalan, Oke?!.” Adikku hanya mengangguk tanpa ada protes.
Tangan kananku menarik gas sangat dalam, motor berlari kencang sekali. sambil melirik jam yang melingkar ditangan kiriku. 3 menit lagi! Aku tambahkan kecepatan, motor melaju semakin kencang berbaur dengan rasa panik dan khawatir ketinggalan bus.
Sekitar 5 meter didepanku, aku melihat ada seorang lelaki paruh baya ditengah jalan. langkahnya membingungkan antara ingin maju untuk menyebrang atau tetap diam ditempat. Sekali melangkah kemudian mundur kembali. Kukira lelaki itu sudah paham bahwa aku akan melintasi jalan dan tetap diam menungguku melewatinya. Nyatanya tidak. Ia tetap maju menyebrang saat aku berada di depannya. Seketika aku panik sebab takut menabrak. Langsung saja kutarik rem dan sepedaku terhenti kesetika dan arrrrrghhh..!!! Kakiku mengenai aspal dan tertimbun sepeda. Kami terjatuh.
Orang-orang mengerumuniku, memastikan keadaanku yang menepi dipingir aspal.
“Kau tak apa-apa, nak?” Tanya ibu-ibu yang tak ku kenal.
“Gak apa-apa kayanya, buk.” Sontak aku mencari adikku yang aku bonceng dibelakang. Saat mataku melihatnya, aku agak lega adikku tidak apa-apa, hanya lecet sedikit dibagian tangannya.

Ketika aku mulai bagun dari tendekan sepeda, terasa kaki tidak bisa digerakkan. Kucoba berdiri nyatanya kakiku tak mampu menahan beban. “kenapa ini?” Aku sangat kaget melihat betisku tidak lurus seperti biasanya. Kayaknya ada yang cidera parah. Aku bingung dan langsung menelfon ibu.

Beberapa menit kemudian Ibu datang dengan raut wajah khawatir, disusul ambulan. Pipi ibu basah melihatku tak berdaya dengan darah dibetisku. Badanku dirangkul oleh orang yang sama sekali tidak kukenal. Aku dikerumuni banyak orang. Ibu berada di sampingku dan aku dibawa ke rumah sakit.

Aku langsung digledek keruang ICU untuk periksa lebih lanjut. Karena kakiku tidak bisa digerakkan akhirnya di-rontgen, ternyata tulang kakiku patah, harus dioperasi dan dipasang 10 pen. Aku sedih karena niatku menghabiskan masa pandemi dengan setoran dars kaligrafi sementara harus diurungkan. Ibu merangkulku dan mencoba menenangkanku.

Itulah hari-hari terberat dalam hidupku. Aku hanya bisa terbaring sambil memegang ponsel saja. Gregetan melihat WA story temenku yang tetap setoran dars, sementara aku hanya terbaring lemah dan harus fakum dari kaligrafi sementara waktu.

Tiga hari berlalu setelah pemulihan operasi dan aku dibolehkan pulang. Kakiku tetap tidak bisa digerakkan dan penuh dengan perban yang melilit seperti ular. Berdiripun tak mampu. Aku hanya bisa duduk dan termenung diatas kursi roda. Hari demi hari berlalu, keadaanku mulai membaik. kali ini aku berjalan dibantu tongkat medis bukan kursi roda lagi.

Sesekali aku melirik tinta dan handam yang tergeletak di meja kamarku. Ingin rasanya menggerakkannya dan membuat setoran dars kaligrafi. Tapi apa daya, aku hanya bisa terdiam dan berbaring sambil mengeser-geser layar ponsel dengan jari-jemariku.
Pintu kamar terbuka, ibu datang membawakan sarapan pagi untukku. Raut wajahnya seakan mampu membaca kesedihanku.
“Diana pengen nulis?” Tanyanya.
Aku hanya mengangguk. Ibu beranjak mengambil meja, handam, kertas, tinta dan peralatan lainnya. Ibu meletakkannya didepanku sembari menata posisi dudukku. Kucoba goreskan handamku dan menulis sedikit demi sedikit. kala itu darsku masih sampai huruf asasiyah izzat khat Diwani. Aku terus berlatih semampuku untuk menulis.
Sebulan berlalu, operasi pengambilan pen yang pertama mulai dilakukan. Kakiku mulai sedikit bisa digerakkan meski masih tersisa sembilan pen. Butuh waktu hingga 1,5 tahun untuk menyelesaikan pengambil pen secara bertahap.

15 April 2020, aku memulai kembali setoran kaligrafiku, tetapi kali ini secara online. Semangatku buat menyelesaikan khat diwani terus menggebu. Dua bulan berlalu, kini aku bisa beraktivitas dan mulai bisa berjalan seperti biasanya. Meski ada sedikit rasa ngilu dan bengkak jika aku berjalan terlalu lama. Hilir waktu bergulir tak terasa dua bulan setoran online, bosan mulai menghampiri. Mulai terlintas dipikiranku tuk kembali ke Dar El Khat.
“Sekarang kan masih kuliah online, teman-teman masih pada di rumah, siapa yang bisa kuajak kembali ke asrama?” Gumamaku dalam hati sambari memutar pikiran mengabsen satu persatu teman kaligrafi. “Hemm, Ulim mungkin bisa, sekalian aku bujuk untuk meggarap PPL, barang kali dia mau.” Kucari namanya di WhatsApp-ku.
“Okey semoga aja bisa, sepertinya perlu cari temen satu lagi deh.” Gumamku sambil memandangi atap kamar mencari sebaris nama dalam ambiguku. Terlintas seorang gadis yang suka mengusiliku, yang suka mencari ribut disela keheningan diasrama. Hmm, bocah yang selalu ada-ada aja kelakuannya, yah, Zulfa. kalau ia mau, itu berarti kali kedua aku duet balik ke asrama kaligrafi duluan. Aku mulai membujuknya, mengutarakan seribu alasan dan alhamdulillah ia mau.

8 Juli 2020, tanggal yang kami rencakan untuk kembali ke asrama. Dua hari kemudian, Ulim menyusul ke asrama disusul pula Uus. Aku kembali melangkah mengejar target setoran dars ku sembari mengikuti PPL visual. Hariku mulai berwarna kembali dengan aktivitas seperti sedia kala. Hingga 15 Juli 2020 aku menyelesaikan dars khat diwani.
Allahdulillah.
Terima kasih atas semua warna yang Engkau torehkan dalam prosesku.

Jember, 23 Agustus 2020

Dars diwani kurrasah izzat: