Sifat Seorang Kaligrafer; Anda Dimana?

460
sifat-kaligrafer

Seorang kaligrafer pada umumnya mempunyai sifat sensitif dan kepekaan yang tinggi, sopan, serta kuat dan sabar. Di samping itu, kaligrafer dikenal dengan sifat tenang, tidak mudah gugup, serta menghindari pekerjaan yang sia-sia. Seorang kaligrafer adalah dia yang mengerjakan sesuatu dengan sepenuh hati dan menyelesaikannya dengan maksimal. Dalam dirinya tumbuh rasa kepekaan yang tinggi terhadap keindahan di sekelilingnya.

Seorang kaligrafer tidak tenang jika melihat sebuah huruf yang tertulis bengkok atau tidak sesuai dengan kaidahnya. Dia akan puas mencerap keindahan huruf dengan berbagai macam bentuknya yang mempesona, tulisan yang indah. Karena itu, beberapa orang berhenti dari menulis jika merasakan jiwanya kurang stabil, hingga kembali siap berinteraksi dengan huruf dalam ketenangan jiwa.

Seorang kaligrafer dengan apa yang disukainya, akan tercermin dalam kepribadian serta penampilannya. Huruf-huruf dalam seni khot, bagi seorang kaligrafer lebih indah daripada lukisan, musik, dan seni lain yang tercerap lewat indera. Dahulu kala ada yang berkata, bahwa jika seni adalah dunia; maka musik adalah lisannya, lukisan adalah badannya, serta lagu adalah nuraninya. Sementara khot, mencakup semua itu; ia adalah lisan, badan dan nuraninya.

Beberapa orang yang berhasil menyelami seni kaligrafi hingga mencapai puncak penghayatan dan keindahan tulisan merasakan cemburu terhadap huruf-huruf tersebut, sehingga terkesan ‘bakhil’ dan pelit, tidak mau mengajarkan seni ini.

Diriwayatkan bahwa kaligrafer ad-Dhahhak bin ‘Ajlan, jika ingin meraut penanya, dia menyingkir dari orang-orang, supaya tidak dilihat oleh mereka. Ad-Dhahhak berkata: kaligrafi sepenuhnya ada pada pena!! (al-Qalqasyandi, Subhul A’sya fi sina’ati al-Insya, juz 3, hlm 456)

Seperti itu pula yang diriwayatkan tentang kaligrafer al-Anshari ketika dia meraut penanya. Dan jika beranjak meninggalkan kantor tempat dia menulis, tidak lupa dia potong ujung mata penanya supaya tidak dilihat orang. Sebagaimana yang dia tiru dari gurunya, al-Ahwal al-Muharrar, di mana beliau terkenal dengan rautan penanya yang enak dipakai untuk menulis. Hal ini pula yang dilakukan oleh Ibn al-Bawwab, beliau tidak membolehkan seorang kaligrafer dengan mudah-mudah menunjukkan rahasia memotong pena. Dalam bait qasidah-nya beliau menyebutkan

Baca Juga:   Musthafa Halim Özyazıcı; PemilikTarkib Menawan

فاصرف لرأي القط عزمك كله #  فالقط فيه جملة التـــــدبــــيــر
لا تطمعن في أن أبوح بســـره   #  إني أضن بسره المـــــستـــور

Meskipun terlihat ‘pelit’, bait tadi tidak pernah mendapat kritikan, karena dalam dunia kaligrafi, hal ini telah menjadi sesuatu yang umum diketahui.

Dalam buku “al-Isyraq”, az-Zubaidi mengatakan bahwa di antara kaligrafer awal masa turki Usmani adalah Abdullah Afandi al-Quraimi at-Turki. Beliau menulis dengan bentuk huruf Syaikh Hamdullah al-Amasi, dengan cara meniru dan ‘mencuri’ dari Syaikh Hamdullah. Abdullah Afandi mengaku pernah minta belajar kepada Syaikh Hamdullah namun beliau tidak mau mengajarinya. Hingga kemudian sifat ‘bakhil’ syekh Hamdullah ini membuat Abdullah Afandi bersungguh-sungguh hingga mampu menguasai khot dengan baik bahkan beberapa kali menulis mushaf.

Fauzi Salim Afifi, dalam bukunya Dirasat fi al-Khat al-‘Arabiy menyebutkan bahwa beberapa kaligrafer besar mendapatkan gelar sebagai penghargaan atas sumbangsih dan ketokohannya dalam dunia kaligrafi. Ibnu Muqlah misalnya, dikenal dengan gelar Wazir al-Khatt (menterinya khat) bahkan ada yang menyebutnya Nabiyyul Khat (nabinya khat), sedangkan Yaqut al-Musta’shimi lebih dikenal sebagai Qiblatu al-Kuttab ( kiblatnya para kaligrafer). Demikian pula Syaikh Hamdullah al-Amasi, dikenal dengan Syaikh (Syaikh para kaligrafer), sedangkan Darwisy Ali dikenal dengan as-Syaikh as-Tsani (syaikh kedua), dan al-Hafidz Usman dikenal dengan as-Syaikh as-Tsalits (syaikh ketiga).

Kaligrafer besar Ahmed Karahisari disebut dengan Quthbul Khat (kutub/muara khat), sedangkan  ‘Abdullah az-Zuhdi lebih dikenal dengan Khattath al-Haramain (kaligrafer dua tanah suci), sedangkan Syaikh Muhammad Aziz ar-Rifa’i dikenal dengan Amir al-Khat (pangeran kaligrafi) abad dua puluh. Sebagaimana al-Hajj Ahmad Kamil dikenal dengan Rais al-Khattathin (kepala para kaligrafer), dan juga Sayyid Ibrahim dikenal dengan sebutan ‘Amid al-Khat al-Arabi (penghulu seni kaligrafi). [muhd nur/hamidionline]

Diterjemahkan dari buku Ahmad Shabri Zaid, Tarikh Khat Arabiy, Darul Fadhilah, (Kairo: 1998) hal. 40