Şekerzâde Muhammad; Penulis Mushaf Madrasah al-Hafidz Usman

241

Muhammad Sayyed adalah putra dari Abdurrahman al-Indi, seorang pembuat halawiyyat (kue pastri), karena itu Muhammad lebih dikenal dengan Şekercizâde (anak pembuat kue), sementara pada tauqi’nya beliau menyingkatnya menjadi Şekerzâde. Lahir di daerah Manisa, daerah di sebelah barat Anatolia.

Khattath Şekerzâde Belajar aqlam sittah pertama dari kaligrafer İbrahim Kırımî (w. 1737 M), lalu melanujutkan belajarnya kepada Yedikuleli Seyyid Abdullah Efendi (w. 1731 M), murid dari al-Hafidz Usman (w. 1699 M). Karena itu, dari tulisannya, Şekerzâde masuk ke dalam silsilah madrasah kaligrafer al-Hafidz Usman.

Khattath Şekerzâde termasuk seorang nassakh (ahli menulis naskh), di samping juga menulis banyak sekali qith’ah dan muraqqa’at. Tidak heran jika kemudian beliau dikirim serta ditugaskan oleh Sultan Ahmad III (w. 1736 M) untuk menjalankan haji, lalu tinggal di Madinah Munawwarah selama 4 hingga 5 tahun. Tugas utamanya adalah menyalin salah satu mushaf kaligrafer Hamdullah al-Amasi, Ibnu Syaikh, yang ada di Madinah saat itu.

Konon, khattath Şekerzâde dalam menjalankan tugasnya dalam menulis mushaf, mengambil tempat di Raudhah Muthahharah, hingga selesai menulis 3 sampai 4 mushaf selama masa tugasnya, sebelum kemudian pulang kembali ke Istanbul. Lalu menghadiahkan salah satu mushafnya kepada sultan Mahmud I, yang naik tahta menggantikan Sultan Ahmad III. Mushaf ini hingga sekarang masih tersimpan di perpustakaan Sulaimaniyyah di Istanbul. Salinan dari mushaf tersebut, termasuk mushaf paling indah yang pernah dicetak dengan metode thiba’ah hajariyyah (litografi/pelat logam), dan termasuk langka karena hasil cetakan tersebut lantas diberi hiasan garis yang mengandung emas murni.

Selain menulis naskhi, beliau juga menguasai khot sulus ‘adi. Di samping kedua khat tersebut, belum pernah ditemukan tulisan Şekerzâde yang lain, seperti tsulus jaly atau lainnya. Di masa akhir hidupnya, beliau mengabdikan diri dengan mengajar khat di rumahnya yang terletak di bilangan Hagia Sophia (Aya Sofya), Istanbul. Di samping juga mengajar resmi di “Hadiqah Khassah Sulthaniyyah” yang berada di Istana Topkapı. Beliau meninggal sekitar 1753 M.

Tentang mushaf yang ditulis oleh Şekerzâde, al-Ustadz Zaky Hasyimi menjelaskan bahwa di dalamnya banyak mengandung tasharrufat (improvisasi) yang sangat indah dan menunjukkan kepiawaian beliau dalam membuat susunan tulisan. Pada umumnya tasharufat memang ditemukan di mushaf, karena tabi’at mushaf yang ditulis irtijaliy (langsung dan spontan), sehingga kaligrafer secara spontan juga menulis tarkib yang mungkin aneh dan tidak ada dalam qith’ah atau karya lainnya, karena faktor waktu dan keadaan.

Beberapa kekurangan penulisan sebagaimana yang terjadi pada mushaf yang ditulis oleh orang non-Arab, khususnya khattath Turki, adalah adanya pemenggalan kalimat yang tidak pada tempatnya. Seperti pemenggalan wawu ‘athf dan juga pemenggalan huruf yang seharusnya tertulis pada satu kalimat.

Terlepas dari kekurangan tersebut, baik muraqqa’at maupun mushaf dari khattah Şekerzâde Muhammad Sayyed, sangat perlu untuk Anda sebagai kaligrafer maupun pecinta seni kaligrafi, untuk menikmati dan mengambil banyak pelajaran dari susunan barisnya. Karena mushaf Şekercizâde termasuk mushaf terindah yang pernah ditulis dengan madrasah al-Hafidz Usman. (muhdnur/hamidionline)

Sumber:
Ahmad Shabri Zaid, Tarikh Khot Arabiy wa A’lamul Khattahin, (Kairo: Darul Fadhilah, 2009)
https://ketebe.org
https://www.aksahaber.org
Foto dari berbagai sumber