Kaligrafer; Bisik Cinta Refleksi Keprihatinan

102
kaligrafer

Sifat klasik dalam sebuah kaligrafi merupakan cerapan rasa batin yang berhubungan erat dengan sebuah tradisi. Di mana esensi dari tradisi menyentuh setiap sisi kehidupan dalam suatu peradaban. Meskipun diskursus klasik sampai saat ini masih menjadi perdebatan, antara yang menolak dan yang menerimanya, namun kita sepakat bahwa klasik merupakan realitas dari tradisi dalam upaya menjaga sebuah esensi.

Dalam bidang kaligrafi, terminologi klasik berangkat dari sebuah asas dan metode tertentu, yang bertolak dari seorang kaligrafer dan penanya dalam menggores tulisan-tulisan dalam berbagai media. Goresan tersebut terwujud dalam sebuah karya yang memunculkan ruh didalamnya, abadi bahkan hingga sang kaligrafer sudah tiada.

Banyaknya latihan menulis, yang dalam hadis Ali ra disebutkan dengan istilah katsratul masyq, bagi seorang kaligrafer bukanlah sekedar untuk menguatkan tangan. Akan tetapi katsratul masqy merupakan bagian yang tak terpisahkan dari hidupnya. Bahkan eksistensi seorang kaligrafer pada dasarnya bisa dilihat dari seberapa banyak katsratul masyq-nya, seberapa banyak dia menulis.

Sebagaimana huruf alif yang mestinya tegak berdiri, demikian pula akhlak seorang kaligrafer. Pengalaman individu seorang kaligrafer dalam menulis, nyata telah mengajarinya banyak nilai-nilai aklak dan kemanusiaan. Bahkan mengantarkan kaligrafer tersebut kepada sebuah keadaan yang diliputi ketenangan hati dan kejernihan pikiran.

Demikian pula kesibukan seorang kaligrafer; antara menulis, menyelesaikan sebuah karya, meneliti dan melihat, lalu melakukan kritik atas karya atau tulisannya sendiri, kemudian mencari dan terus berfikir, akan membuatnya lebih menghargai waktu. Kesibukannya itu semakin mengantarkannya kepada sebuah jalan panjang sebuah pencarian.

Banyak diriwayatkan dari para maestro kaligrafi zaman dahulu, bahwa di akhir umur mereka banyak yang bersedih dan menyesal, karena merasa belum sampai kepada apa yang selama ini mereka cari. Hajj Ahmad Kamil Aqdik dan Hamid Aytac al-Amidi contohnya. Padahal kesibukan utama mereka adalah menulis sepanjang siang dan malam. Para kaligrafer dahulu hampir-hampir tidak pernah berpisah dari pena. Pena dan seni kaligrafi menjadi bahan perbincangan yang membanggakan, serta cermin kebahagiaan dalam setiap perbincangan mereka. Apalagi jika mengingat bahwa yang mereka tulis adalah kalam Allah swt., hadis-hadis pilihan serta hikmah-hikmah yang agung.

Baca Juga:   Kaligrafer- al-Hajj Ahmad Kamil Aqdik

Tetapi jika kita kembali kepada realitas saat ini, aktivitas kaligrafi seperti berlatih, menulis, membuat karya, membaca, serta mengkritisi karya sendiri, hanya mendapatkan perhatian tidak lebih dari sepuluh persen dari totalitas kehidupan seorang kaligrafer. Seorang kaligrafer masih beruntung jika mampu menyisihkan dua jam saja setiap harinya untuk menulis, meskipun dua jam tadi bagi sebagian lain sudah terlihat sangat mengherankan. Kita tidak tau, apakah waktu selain dua jam tadi, memang benar-benar digunakan untuk sesuatu yang amat sangat penting? Padahal terkadang kumpul-kumpul kita, obrolan kita, percakapan antar kita, bacaan serta postingan kita dalam sosial media lebih banyak berpusar kepada pembahasan dan obrolan yang mungkin kurang berguna.

Ada beberapa orang yang baru mulai belajar kaligrafi, tetapi sudah banyak mengkritik dan berbicara tentang kekurangan-kekurangan para kaligrafer yang telah lalu. Namun ada juga yang memposisikan dirinya dan tulisannya sebagai bahan kritik bagi karya para maestro kaligrafer, seolah-olah dia sedang belajar kepada mereka. Tetapi yang lebih mengherankan adalah mereka yang tidak tertarik kepada seorang kaligrafer pun, baik kaligrafer era terdahulu maupun kaligrafer yang masih hidup saat ini. Mereka ini sering mengatakan “saya tidak tertarik dengan tulisannya”. Dan ketika dia ditanya lebih jauh, bagian mana yang membuatnya tidak tertarik, dia mengatakan: “saya tidak menyukainya”.

Bagi mereka, kaligrafi dan tulisan di depannya tidak lebih dari kertas-kertas yang berserak, yang dilihatnya dengan cara pandang yang kacau pula, antara teori seni kaligrafi yang sedikit dia tau bercampur dengan teori sastra atau teori lainnya. Lebih dari itu, mereka kemudian beropini dan membuat pernyataan-pernyataan yang ‘tidak bermutu’ tentang kaligrafi. Bahkan lebih berbahaya lagi, tidak merasa bahwa mereka salah, bahkan mengajak hingga memaksa orang lain untuk membenarkan opininya. Mirip seperti perkataan Fir’aun: Aku tidak mengemukakan kepada kalian, melainkan apa yang aku pandang baik, dan aku tiada menunjukkan kepada kalian, selain jalan yang benar” (Q.S. Az-Zumar: 29). Mereka ini adalah fenomena golongan yang miskin kemauan, dan meremehkan ilmu. Semoga kita terhindar darinya. Karena sifat meremehkan dan lemahnya kemauan bisa menghindarkan kita dari ilmu. Sesungguhnya ilmu itu terhormat, tidak diberikan oleh Allah kecuali kepada orang yang terhormat pula.

Terbukanya sarana dan media komunikasi saat ini mengakibatkan banyaknya informasi yang kurang bisa disaring, disalah artikan, dan dipelintir. Bahkan tidak sedikit informasi yang sengaja dibuat menyesatkan, termasuk informasi tentang kaligrafi. Sehingga karenanya seseorang mengerjakan sesuatu yang sia-sia tanpa membuahkan hasil. Karenanya bisa kita jumpai seseorang yang rela pergi dari negara satu ke negara lainnya, dari kota satu ke kota yang lain, untuk menemui seorang kaligrafer dan belajar darinya. Namun setelah beberapa waktu kemudian dia bertanya, apa pendapatmu tentang orang itu, kelompok itu, sanggar ini dan itu dan sebagainya. Kenapa orang tersebut tidak mengambil pena, tinta lalu belajar menulis saja, daripada menggunjing dan membicarakan orang lain.

Sementara yang lain ada yang selalu sibuk dengan waktunya untuk mencari pembenaran atas aib dan kekurangan yang dia tujukan pada orang atau kelompok lain. Tujuannya tidak lain adalah membuat orang atau kelompok tersebut kehilangan pamor, terlihat kecil dan menjadi tidak bermanfaat di mata orang.

Hal-hal ini lah yang sekiranya membuat kita lupa akan persoalan penting dalam kaligrafi yang menjadi tanggungjawab kita bersama. Karena tidak sedikit dari perkumpulan berharga pada even-even langka hanya berisi ghibah, fitnah, mencela satu dan memuja yang lain. Saat ini kita hidup dalam zaman matinya para ulama dan panutan orang berilmu. Tidak hanya pada persoalan akidah ataupun syariat, namun juga pada ilmu-ilmu yang lain, termasuk di dalamya seni kaligrafi.

Kita kadang terlalu sibuk mencela orang dan mengangkat sisi baiknya orang lain. sebuah fakta yang tidak boleh dipandang sebelah mata. Karena generasi yang akan datang, pasti menunggu karya dan tulisan-tulisan yang mencerahkan, meskipun dari pendahulu mereka yang sibuk mencela dan bertengkar antara sesamanya. Karena itu mulailah menulis, berlatih, meneliti, membaca, belajar dan mengajar. Jangan kau hilangkan bagian dari waktumu untuk hal-hal yang remeh dan tidak berguna.

Jika belum bisa menulis maka membacalah. Bacalah biografi dan profil para maestro, kaligrafer besar era keemasan, lalu ambil pelajaran dan berkembanglah. Dengan mudahnya sarana komunikasi dan media sosial, karya-karya para maestro kaligrafi dunia bisa kita hadirkan kapan saja dan dimana saja terserah kita. Karena itu berilah gizi kepada pandanganmu dengan melihat karya-karya yang indah, lalu jaga bentuknya baik-baik, dan simpan. Jika sudah ada waktu untuk menulis, hiduplah bersama dengan masyq dengan niat yang tulus dan suci. Tujuan utamanya adalah menjadi salah satu penjaga dan pewaris seni Islam yang luhur ini, dan bisa menjadi bagian dalam sejarah perjalanannya.

Seni itu murni dan memerlukan kemurnian
Kemurnian hati akan melahirkan huruf yang indah yang abadi
Hanyalah sebuah bisikan cinta, dari seorang yang mencintai

*Ditulis untuk umum, tidak bermaksud menyinggung individu atau golongan tertentu. Oleh al-khattath Zeki El-Hasyimi. Kaligrafer dari Yaman, Magister Seni Kaligrafi dari Universitas Muhammad Fatih, Istanbul. Ijazah khot dari Syaikh Hasan Celebi, Ustadz Firhad Kurlu dan Ustadz Mumtaz Durdu. Alih bahasa oleh Muhammad Nur. [muhd nur/ hamidionline]