Peran Rasulullah Dalam Perkembangan Kaligrafi Islam

Kaligrafi merupakan salah satu warisan seni dalam Islam yang menunjukkan perkembangan dan kemajuan peradaban Islam dalam segi tsaqafah dan hadharah. Kemajuan ini dapat dilihat dari model kaligrafi yang telah mengalami proses perubahan dari sejak awal munculnya hingga sekarang. Salah satu pengaruh kaligrafi dalam kemajuan peradaban Islam dibuktikan dengan banyaknya bangunan arsitektur Islam yang dihiasi dengan kaligrafi indah dan banyaknya literatur keilmuan Islam yang ditulis oleh para ulama terdahulu. Lebih jauh lagi, ketika Islam datang dengan gerakannya dalam tulis menulis (khat), para sahabat mulai menulis mushafnya masing-masing (sebelum adanya jam’ul Qur’an oleh Utsman bin Affan), sebagian menuliskan hadits yang mereka dapatkan dari Rasulullah dalam setiap majlis. Hal ini merupakan perkembangan yang sangat pesat ketika itu, mengingat masyarakat Arab pada masa pra Islam masih awam terhadap dunia tulis menulis.

Menurut Dr. Mujahid Taufiq (2008: 22) semua kemajuan itu tidak luput dari peran Rasulullah SAW di dalamnya, baik dalam segi gerakan maupun estetikanya terhadap kaligrafi itu sendiri. Hal inilah yang kemudian membuat kaligrafi disebut dengan Al-Khat Al-Islami atau kaligrafi Islam hingga sekarang.

Hal pertama yang dilakukan oleh Rasulullah untuk mengenalkan kaligrafi kepada umatnya adalah dengan menyadarkan umatnya akan pentingnya tulisan. Ada beberapa dalil dari Al-Qur’an dan hadits yang menyebutkan keutamaan dalam menulis, diantaranya tertulis dalam surah Al-‘Alaq: 3-5, Al-Baqaroh, 282, Al-Ankabut, 48, Al-Infithar, 11 dan lainnya. Bahkan dalam surah Al-‘Alaq Allah bersumpah dengan menggunakan kata qalam (pena) dan tulisan yang tergores darinya (surah Al-Alaq, ayat: 1).

Untuk mengenalkan umatnya terhadap dunia tulis menulis, Rasulullah membuat halaqoh di masjid yang ia bangun pasca hijrahnya ke Madinah untuk mengajarkan cara menulis. Untuk itu, beberapa sahabat secara khusus dipilih untuk mengajarkan cara menulis kepada umat muslim, salah satunya Abdullah bin Said dan Ubadah bin Shomit. Gerakan lainnya yaitu dengan menjadikan tebusan tawanan perang yang mampu menulis untuk mengajarkannya kepada 10 orang Madinah (Dr. Mujahid Taufiq, 2008:22).

Ada perbedaan pendapat terkait peran Rasulullah dalam hal ini. Diantaranya mengatakan bahwa Rasulullah hanya berperan dalam menggerakan umatnya untuk menulis, bukan dalam seni kaligrafi (khat). Pemikiran ini berbeda dengan pendapat Muhammad Thahir yang mengatakan bahwa tulisan (al-kitabah), as-satr (Alfarobi, 2003:108) dan al-khat memiliki satu arti yang sama (Muhammad Thohir, 1939:7). Dalam beberapa literatur, istilah khat lebih sering digunakan untuk menunjukkan perkembangan peradaban Islam baik dalam hal tsaqafah maupun hadhoroh, melihat perubahan bentuk, jenis dan keindahan yang berkembang di setiap masanya. Sedangkan dalam kbbi, tulisan indah dengan pena lebih dikenal dengan sebutan kaligrafi, dan penulisnya disebut dengan kaligrafer (kbbi, https://kbbi.web.id/kaligrafi, akses 15 Januari 2020).

Bukti yang menunjukkan peran Rasulullah dalam estetika kaligrafi dapat dilihat dari beberapa hadits, diantaranya hadits Muawiyyah yang tertulis dalam Musnad Firdaus nomor 8533. Diriwayatkan di dalamnya bahwa Rasulullah pernah mengajarkan sekretarisnya (kuttab), Muawiyyah bin Abi Sufyan tentang bentuk penulisan basmalah (Al-Firdaus bilma’tsuril Khithob, 1986: 394 ). Yaitu dengan meninggikan huruf ba’ agar tidak tercampur dengan nibroh sin hingga menimbulkan kesusahan dalam membaca (وانصب الْبَاء) dalam hadits ini juga diajarkan untuk memisahkan nibroh sin, yang artinya dalam penulisan ayat Al-Qur’an, nibroh sin harus terlihat jelas (وَفرق السِّين). Selain itu, Rasulullah juga mengajarkan cara menulis mim yang benar, yaitu agar lingkaran dalam kepala mim terlihat, tidak tertutup oleh tinta (وَلَا تغور الْمِيم).

وقال لكاتبه معاوية رضي الله تعالى عنه ((يَا مُعَاوِيَة ألق الدواة وحرف الْقَلَم وانصب الْبَاء وَفرق السِّين وَلَا تغور الْمِيم وَحسن الله وَمد الرَّحْمَن وجود((

Dari hadits Anas bin Malik yang diriwayatkan dalam Munsad Firdaus nomor 1168 mengatakan bahwa Rasulullah mengajarkan cara menulis mim dalam tulisan Ar-Rahman (Al-Firdaus bilma’tsuril Khithob, 1986: 296), yaitu dengan memanjangkan mim satu pena (فليمد الرَّحْمَن).

Baca Juga:   Kaligrafer Putri Indonesia di Pameran Sharjah 2016

((إِذا كتب أحدكُم بِسم الله الرَّحْمَن الرَّحِيم فليمد الرَّحْمَن))

Dalam hadits Zaid bin Tsabit yang diriwayatkan dalam Musnad Firdaus nomor 1087 dijelaskan bahwa Rasulullah mengajarkan cara menulis sin dalam basmalah (Al-Firdaus bilma’tsuril Khithob, 1986: 278), yaitu dengan memanjangkan huruf sin. Dalam riwayat lain mengatakan bahwa maksud dari (فَبين السِّين) yaitu untuk menuliskan nibrah sin dengan jelas dan memisahkannya dari nibrah ba. Karena jika jumlah nibrahnya kurang atau sebaliknya, maka akan merubah makna.

((إِذا كتبت فَبين السِّين فِي بِسم الله الرَّحْمَن الرَّحِيم))

Dapat dilihat dari hadits pertama, bahwa Rasulullah juga mengajarkan sekretarisnya cara menggunakan pena dan tinta. Yaitu dengan memasukkan liiqoh (benang sejenis sutra) kedalam dawah (sebutan untuk tempat tinta) agar mata pena tidak bersentuhan langsung dengan dinding dawah ketika mengambil tinta, karena hal itu dapat menyebabkan mata pena rusak dan pecah (ألق الدواة). Adanya benang dalam dawah juga berguna untuk menjaga kebersihan dan keindahan dalam menulis, karena mata pena tidak mengambil tinta secara langsung karena terhalang oleh benang yang berfungsi untuk menyerap tinta. Cara ini merupakan metode baru yang diajarkan oleh Rasulullah, mengingat tulis menulis merupakan hal yang baru ketika itu. Dan metode sederhana ini masih dipakai oleh para kaligrafer hingga masa seterusnya.

Metode pemotongan pena juga diajarkan oleh Rasulullah, yaitu dengan memotong mata pena secara miring (وحرف الْقَلَم). Metode ini dapat dilihat dari hadits Mua’awiyah sebelumnya. Pemotongan pena merupakan hal paling mendasar dalam penulisan kaligrafi dan menjadi hal terpenting yang menentukan kualitas tulisan.   Dituliskan dalam buku Al-Khat Al-‘Araby wa Adabihi bahwa rahasia seorang kaligrafer terletak pada pemotongan penanya (Muhammad Thohir, 1939:426).

Dalam hadits Muawiyyah yang diriwayatkan oleh Ad-Dailami secara langsung telah membuktikan bahwa Rasulullah memiliki peran besar dalam munculnya kaligrafi Islam. Karena kaligrafi sangat diutamakan untuk menulis ayat-ayat Al-Qur’an. Dalam hadits ini Rasulullah berpesan untuk menuliskan ayat Al-Qur’an dengan sebaik-baik tulisan yang indah sebagai bentuk pengagungan kita terhadap Allah (وَحسن الله). Al-Kurdi menjelaskan lebih lanjut, bahwa perintah untuk memperindah tulisan dalam hadits ini bukan hanya untuk penulisan basmalah saja, akan tetapi ditujukan untuk semua tulisan (Muhammad Thohir, 1939:13).

((يَا مُعَاوِيَة ألق الدواة وحرف الْقَلَم وانصب الْبَاء وَفرق السِّين وَلَا تغور الْمِيم وَحسن الله وَمد الرَّحْمَن وجود((

Belum cukup sampai di situ, tetapi Rasulullah juga mengajarkan cara menghapus tulisan yang salah hingga tulisan tidak dicoret atau ditulis ulang seperti sebelumnya. Dalam hadits Ali diceritakan bahwa ketika penulisan perjanjian Hudaibiyah, Suhail, salah satu para pembesar Quraisy tidak setuju dengan tulisan “Muhammad Rasulullah” yang tertulis dalam surat perjanjian, karena Quraisy ketika itu tidak mempercayai kenabian Nabi Muhammad. Oleh karena itu, Suhail meminta untuk dihapuskan kalimat “Muhammad Rasulullah”. Ali yang semula menolak akhirnya menggantinya dengan kalimat “Muhammad bin Abdillah” atas perintah Rasulullah setelah Rasulullah menghapus kalimat sebelumnya “Muhammad Rasulullah” dengan air liurnya (Shohih Muslim, tanpa tahun:1410).

 

Referensi:

Al-Farobi, Ishaq bin Ibrahim bin Husain. 2003 Mu’jam Diwanil Adab, jilid.1 (Kairo: Darul Syu’ub Lil-Shofahah wa Thiba’ah)

Al-Hamdzan, Ad-Dailami. 1986. Al-Firdaus Bima’tsuril Khithob, jilid. 5, cet.1 (Beirut: Darul Kutub Ilmiyah)

Al-Hamdzan, Ad-Dailami. 1986. Al-Firdaus Bima’tsuril Khithob, jilid. 1, cet.1 (Beirut: Darul Kutub Ilmiyah)

Al-Jundi, Mujahid Taufiq. 2008. Tarikhul Kitabah Al-Arabiyah Wa Adawatiha, cet.1 (Kairo, tanpa penerbit)

Al-Kurdi, Muhammad Thohir Abdul Qodir. 1939 . Al-Khat Al’Araby wa Adaabihi. (Tanpa penerbit)

An-Nisaburi, Muslim bin Hujaj. Tanpa tahun. Al-Musnad Ash-Shohih Al-Mukhtashor binaqlil ‘Adl ‘Anil ‘Adl Ilaa Rasulullah SAW, jilid 3 (Beirut: Darul Ihya At-Turats Al-‘Araby)

kbbi, https://kbbi.web.id/kaligrafi, akses 15 Januari 2020