Pelatihan Taqhir Kertas Ahaly Hamidi Malang

254

Setiap pembelajar kaligrafi selalu membtutuhkan akan adanya alat-alat kaligrafi (adawat al-khattiyah). Alat-alat kaligrafi tidak lepas dari tiga unsur pokok, yaitu pena, tinta, dan kertas. pena sebagai alat untuk menulis, tinta sebagai penyampai tulisan dari pena ke kertas, sedangkan kertas adalah media untuk meletakkan tulisan.

Adapun kertas, para kaligrafer zaman klasik mempunyai kebiasaan membuat kertas sendiri dengan ramuan-ramuan yang berasal dari bahan alami dan menghindari dari membeli kertas dari produksi pabrik. Hal ini dilakukan karena kertas yang diproduksi oleh pabrik mayoritas memiliki sifat mudah menyerap tinta. Sehingga ketika seseorang telah menulis sesuatu, maka tulisan tersebut tidak dapat diperbaiki dan diperindah.

Metode yang dilakukan oleh para kaligrafer terdahulu dalam melapisi kertas dengan bahan-bahan alami dinamakan “Taqhir Al-waraq”. Metode ini bertujuan agar tulisan dapat diperbaiki ketika mengalami kesalahan tulis, serta untuk memperindah tulisan dengan menambahkan atau mengurangi tinta pada tulisan. Selian dua alasan tersebut, latar belakang pelapisan ini adalah untuk memperpanjang umur kertas, serta mempermudah seseorang ketika menjalankan pena diatas kertas.

Saat ini di Indonesia sudah mulai bertebaran produsen-produsen pembuat kertas “muqohhar” (sebutan dari kertas yang telah menjalani proses pelapisan dengan bahan-bahan alami). Umumnya mereka yang memproduksi kertas muqohhar berasal dari sekolah-sekolah kaligrafi, lembaga kaligrafi, atau komunitas kaligrafi yang memakai metode pembelajaran kaligrafi klasik seperti di Turki, selain lembaga pendidikan ada juga produsen yang dimiliki oleh perorangan.

Salah satu komunitas kaligrafi yang membuat kertas Muqohhar adalah Ahaly Hamidy Malang. Diikuti oleh kurang lebih 13 orang yang sebagian besar adalah mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim serta beberapa anggota yang juga berasala dari kampus lainnya, bahkan ada yang dari luar negeri, seperti Rusia dan Thailand. Pada hari sabtu siang tanggal 21 Oktober 2017 komunitas tersebut melakukan pembuatan kertas muqohhar dengan didampingi oleh ustadz Ahmad Shobirin, salah satu pengajar di Sekolah Kaligrafi Al-Quran Jombang. Beliau memulai pembicaraan dengan menjelaskan jenis-jenis kertas yang baik untuk dijadikan kertas Muqohhar, diantaranya adalah kertas concorde, hammer, dll. Pada intinya semua jenis kertas dapat dipakai, hanya saja yang berkarakter tipis lebih diutamakan agar dapat memudahkan seorang kaligrafer ketika pembuatan karya.

Bahan utama yang dipakai untuk membuat lapisan adalah putih telur dan tawas. Telur yang dapat digunakan adalah telur dari berbagai jenis unggas, umumnya menggunakan telur ayam kampung yang masih segar dan belum pernah masuk ke dalam lemari pendingin. Adapun tawas atau nama ilmiahnya Potassium Alum Sulfide dapat kita temukandi toko-toko bangunan terdekat. Perbandingan antara telur dan tawas adalah 12 butir telur dengan satu genggam tawas utuh atau seperti setengah potongan dari sabun batang. Adapun bahan-bahan pendukung yang dipakai:

  1. Kuas, untuk mengoles cairan pelapis ke kertas diutamakan yang berkarakter halus dan mempunyai permukaan yang rapi.
  2. Kertas karton, untuk alas menempelkan kertas yang akan dilapisi.
  3. Beberapa buah mangkok bening, untuk tempat adonan pelapis kertas.
  4. Selotip, untuk menempelkan kertas ke karton
Baca Juga:   Sayembara Kaligrafi Mushaf dan Pameran Kaligrafi Nasional

Untuk langkah-langkah pembuatannya adalah sebagai berikut:

  1. Pisahkan antara putih dan kuning telur dalam wadah yang berbeda, sisihkan kuning telur. Hindarkan dari putih telur yang mempunyai urat putih.
  2. Campurkan tawas ke dalam putih telur dengan memijat dan menggosok tawas memakai tangan.
  3. Lakukan hingga putih telur menggumpal kemudian mencair kembali, perkiraan waktu antara 15-30 menit tergantung pada kecepatan.
  4. Diamkan adonan putih telur dan tawas hingga 30 menit.
  5. Sambil menunggu cairan mengendap tepelkan kertas yang akan di lapisi di atas karton.
  6. Tuangkan putih telur yang tidak berbusa atau yang telah mengendap di bagian bawah ke dalam mangkok yang bersih, lakukan dengan hati-hati.
  7. Oleskan putih telur ke atas kertas dengan menggunakan kuas, hindarkan kertas dari gelembung-gelembung yang menempel ketika proses pengolesan.
  8. Pengolesan dapat dilakukan hingga tiga lapisan, dengan syarat menunggu lapisan sebelumnya kering terlebih dahulu.
  9. Diamkan kertas hingga 6 bulan (batas minimal kematangan kertas), lebih lama lebih baik.
  10. Kertas siap dipakai.

Langkah-langkah yang dijelaskan di atas dilakukan dengan antusiame yang sangat tinggi dari setiap anggota Ahaly Hamidy Malang. Ditunjukkan dengan keikutsertaan mereka mulai dari awal kegiatan hingga selesai yang memakan waktu kurang lebih sekitar tiga jam.

Harapan yang diinginkan adalah membentuk kaligrafer yang tidak hanya pandai menulis indah, tetapi tahu terhadap segala macam ranah yang ada di dalam kaligrafi itu sendiri, baik dari segi pengetahuan sejarah, kaidah, dll. yang pada intinya membentuk kaligrafer yang berintelektual dan berakhlaq tinggi. “Karena kaligrafi tidak hanya sekedar menulis” (AH-Malang).