Mutiara Kaligrafi Ramadhan: Merubah Warna di Bulan Puasa

ramadhan

Ibadah puasa yang berperan merubah manusia biasa menjadi manusia muttaqin luarbiasa, memberi inspirasi untuk merubah warna putihnya kaligrafi menjadi warna-warni. Putih artinya suci yang melambangkan kesucian, tapi statis dan datar. Biasa-biasa saja, tanpa dinamika. Akhirnya, dengan meng-copy Ramadhan yang dinamis dan kaya nuansa, saya olah kepada warna kuning emas (yang berarti agung, cerah, dan rezeki melimpah), merah (yang berarti berani), hijau (yang berarti subur makmur, harapan), biru (yang berarti anggun, berwibawa), dengan prioritas putih untuk selalu konsisten menjaga kesucian. Melibatkan warna putih ini, kata Mohyeddin Tolu dalam kitabnya, “Allaon ‘Ilman wa ‘Amalan” ada positifnya: “Level warna (tint), yaitu membuat warna lebih bercahaya dengan menambahkan putih kepadanya.”

Dalam bukunya “Color Harmony: A Guide to Creative Color Combination”, Hideaki Chijiiwa menyimpulkan bahwa memilih warna adalah seni (choosing color is fun). Maka, lukisan yang diubah dari satu warna menjadi warna-warni menunjukkan kesempurnaannya. Karena, kata Mohyeddin lagi, telah menjadi tercakup dalam satu unit karakter warna yaitu: hue/jenis2 warna, value/nilai, dan intensity/level olah. Walhasil, perubahan ke warna 2 beragam tersebut, merubah lukisan jadi lebih bagus dan artistik.

Oya, puasanya bagaimana? Ramadhan maknanya pembakaran. Setelah “dibakar” untuk digembleng, ditempa, dan dilatih, para shoimin seharusnya berubah menjadi “manusia baru” yang lebih kuat menahan hawa nafsu, lebih giat qiyamullail, lebih rajin membaca al-quran dan selalu siap mengamalkan isinya, dan tambah dermawan. Tentu, semua pencapaian tersebut “harus dengan ilmunya”, karena puasa juga merupakan ajang menuntut ilmu. Artinya, puasa tanpa ilmu hanya menghasilkan puasa minimalis, yakni “minimal tidak makan dan minum.” Hanya itu. Ini berbahaya dan merugi, karena akan distempel Nabi SAW dengan cap: “Betapa kerap orang berpuasa: yang dia dapat dari puasanya hanyalah lapar dan haus.” (HR Thabrani dari Ibnu Umar)

Untuk berubah, dia harus melakukan puasa maksimalis. Artinya, mengisi hari-hari puasanya dengan kegiatan amal shaleh yang padat, siang-malam secara maksimal. Puasanya dilakukan dengan taktis alias dengan ilmunya, mengikuti tata cara dari Nabi SAW: “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dan mengetahui batas aturannya serta menjaga apa-apa yang seharusnya dijaga, dia akan diampuni segala dosanya yang telah lalu.” (HR Ahmad dan Baihaqi dari Abu Said Al-Khudri)

Mustafa Al-Siba’i dalam “Hikmah Al-Shoum wa Falsafatuhu”, menyebutkan, bahwa shoimun yang benar akan memperbaiki apa-apa yang telah rusak, memperbaharui yang telah lama, bahkan sanggup mengobati segala sesuatu yang sakit. Karena “kekuatan mereka telah menyatu dengan kekuatan Tuhan,” katanya.

Kalau boleh dibuatkan umpama untuk dicontoh, puasa yang bisa merubah adalah puasa ulat bukan puasa ular yang tidak membawa perubahan. Biar kembali muda, ular harus puasa yang disusul proses ganti kulit dengan yang baru. Setelah itu? Tidak ada yang berubah. Namanya tetap ular. Tampang dan bentuknya seperti dulu. Cara jalannya masih sama. Makanannya kayak itu-itu saja. Bahkan, sifat dan kelakuannya tak berubah: bila mematuk bisa bikin kita celaka. Berbeda dengan ulat.

Biar “sakti mandraguna” (istilah puasanya: “menjadi orang bertaqwa), ulat harus puasa 40 hari (kayak hitungan shalat arba’in, hadis2 arbain, haji 40 hari). Segera saja terjadi perubahan-perubahan signifikan pada tubuhnya: terstruktur, sistematis, dan massif. Di tengah-tengah bertapanya, namanya segera berubah jadi kepompong. Usai puasa, julukannya jadi kupu-kupu. Tampang dan bentuknya kini lebih cantik. Cara jalannya dulu merayap, sekarang terbang. Pilihan makanannya dari daun pindah ke madu. Sifat dan kelakuannya? Subhanallah. Dia hobi membantu penyerbukan untuk proses pembuahan paling sempurna pada bunga yang manfaatnya dapat dipetik dan dirasakan berbagai kalangan. Lukisan berubah warna tambah artistik. Ulat berubah jadi kupu-kupu semakin cantik. Dengan puasa, mukmin jadi orang bertaqwa. Benar-bener asyiiiik. Sungguh asyik. [Sintya/hamidionline.net]

*ditulis oleh al-Ustadz Didin Sirojuddin AR. Pendiri Lembaga Kaligrafi Alquran (LEMKA) di Jakarta (1985), disusul tahun Pesantren Kaligrafi Alquran Lemka di Sukabumi (1998), dua kendaraan perjuangannya yang diiringi aktivitasnya menulis buku-buku kaligrafi, penjurian lomba kaligrafi di MTQ Nasional dan ASEAN, dan berkeliling membina kaligrafi di pelbagai pelosok Indonesia.