Muhammad As’ad al-Yasari; Bapak Madrasah Nasta’liq Turki

199
as'ad al-yasari

Pada pertengahan tahun 1730, Mahmud Agha, seorang pegawai Mahkamah Agama di Anatolia, Istanbul dikarunia seorang putra. Namun putra yang dinanti tersebut lahir dalam kondisi yang memprihatinkan. Separuh badannya bagian kanan lumpuh. Putra yang kemudian dia beri nama Muhammad tersebut ketika menginjak dewasa mempunyai keingin untuk belajar kaligrafi. Tentu saja tidak mudah karena kondisi fisiknya tersebut, terlebih tangan kirinya meskipun bisa beraktifitas namun selalu gemetar.

Dengan berbekal informasi yang ada, akhirnya Muhammad As’ad al-Yasari berhasil menemui Waliyyuddin Afandi (w. 1768 H). Seorang guru pada khot nasta’liq saat itu, yang juga seorang ulama dan hakim yang berjuluk Syaikhul Islam. Akan tetapi sang guru yang dikenal berwatak keras menolak keinginan Muhammad As’ad Yasari untuk belajar seraya berkata “Apakah telah habis orang yang sehat, sehingga datang orang cacat untuk belajar khot?”

Demi mendengar penolakan tersebut, Muhammad As’ad al-Yasari kemudian mencari guru lain, yaitu Sa’id Afandi Dahdah Zadah. Setelah diterima sebagai murid, As’ad al-Yasari diberi contoh tulisan oleh sang guru, sebagai tugas untuk dikoreksikan kembali pada minggu berikutnya. Pada hari As’ad al-Yasari membawa pelajaran pertamanya untuk dikoreksikan, Dahdah Zadah berkata “wahai anakku, biasanya ketika seorang guru memberi pelajaran kepada muridnya, dengan menuliskan contoh untuknya, maka murid tersebut membawa tulisan hasil menirunya tadi untuk dikoreksikan. Itulah aturan yang biasanya berlaku dalam belajar khot. Namun kamu, hari ini membawa kembali contoh yang telah aku tuliskan untukmu!”.

Mendengar komentar sang guru, Muhammad As’ad al-Yasari menjawab dengan keberanian “wahai guruku, tulisan yang ini bukanlah contoh yang telah kau tulis untukku, tetapi ini adalah tulisanku yang aku tulis sendiri”. Kaget dan tidak percaya dengan yang dia lihat, Dahdah Zadah meminta kepada murid barunya tadi untuk menulis kembali di depannya. Dengan mata kepala sendiri, Dahdah Zadah melihat bahwa pemuda catat yang lumpuh sebelah yang sedang menulis dengan tangan kiri di depannya ini mempunyai kemampuan dan kemauan yang luar biasa dalam belajar kaligrafi. Karena itu, dengan segenap hati, beliau mendidik sang murid hingga berhasil menyelesaikan ijazahnya pada tahun 1754 M.

Sebagaimana yang menjadi adat saat itu, pemberian ijazah dilaksanakan di salah satu Masjid setelah sholat jum’at. Disaksikan oleh masyarakat dan para tokoh kaligrafer yang ada. Termasuk Waliyyuddin Afandi yang memang menjadi salah satu anggota pertimbangan dan sesepuh para kaligrafer untuk melihat kelayakan seseorang dalam mendapat ijazah. Para kaligrafer yang hadir melihat dengan kagum ijazah yang dibuat oleh As’ad al-Yasari. Hingga pada saat Waliyyuddin Afandi melihat ijazah tersebut, beliau berkomentar “sebenarnya hampir saja saya mendapatkan kehormatan ini (dengan memberikan ijazah kepada As’ad al-Yasari), akan tetapi sayang, kami telah melewatkan kesempatan berharga itu”. Dari cerita asatidz para kaligrafer di Turki yang sempat dikutip, adalah perkataan Waliyyuddin Afandi setelah itu ” Hari ini Allah telah mengutus orang cacat ini, untuk memenampar muka kita semua”

Tokoh kaligrafer kita kali ini yang mempunya nama Muhammad, dengan nama panggilan As’ad dan gelar al-Yasari adalah kaligrafer yang tidak pernah diam. Beliau selalu berkarya dan tidak berhenti dalam berimprovisasi. Pada awal mulanya, beliau belajar nasta’liq dengan gaya para kaligrafer iran, khususnya tulisan Mir ‘Imad al-Hasani. Karena itu As’ad al-Yasari juga dijuluki Imad ar-Ruum (Mir Imad dari Romawi). Dengan gaya ini, beliau telah menulis dan menghasilkan karya dalam jumlah yang banyak.

Dengan kemampuan yang luar biasa dari hasil latihan yang keras, setelah tahun 1776, As’ad al-Yasari berhasil mengambil intisari dari keindahan tulisan Mir Imad melalui cerapan indera seninya, sebagaimana al-Hafidz Usman mengambilnya dari Syaikh Hamdullah al-Amasi. Dengan kemampuannya ini, As’ad al-Yasari kemudian menciptakan gaya baru dalam nasta’liq yang dikenal dengan nasta’liq turki.

Baca Juga:   Kesan Mereka Tentang Kaligrafer Hamid Aytac

Karena hal inilah, beberapa orang yang mempunyai fanatisme yang tinggi terhadap nasta’liq gaya Iran saja, mengatakan bahwa para kaligrafer Turki telah merusak khot nasta’liq, dan menuduh Muhammad As’ad al-Yasari telah merubah dan mencabut sama sekali gaya iran yang menjadi asal jenis khot ini. Padahal jika ditelisik lebih jauh, hampir semua huruf yang dipakai pada nasta’liq gaya Turki bisa ditemukan pada muraqqa’at maupun lauhah yang ditulis oleh Mir ‘Imad. Hanya bedanya, dalam nasta’liq gaya Iran, satu huruf bisa memiliki bentuk yang berbeda-beda dalam penulisannya. Sedangkan dalam nasta’liq gaya Turki, satu huruf hanya memiliki satu bentuk yang sudah terpilih saja.

Terhitung sejak 1781, nasta’liq Turki telah mencapai kematangannya. Tidak hanya dalam bentuk huruf mufradnya, namun juga disertai dengan penggunaannya dalam karya dan tulisan yang ditinggalkan oleh As’ad al-Yasari. Hal lain yang perlu diperhatikan bahwa setelah tahun 1790, jika dilihat pada karya As’ad al-Yasari, kita menemukan adanya pembesaran pada bentuk huruf yang mempunyai ka’s (perut) pada jenis Jaly. Karena itu terlihat beberapa penambahan yang berlebihan pada beberapa huruf. Hal ini mengindikasikan bahwa beliau (As’ad al-Yasari) berusaha untuk terus berimproviasi dan menemukan gaya baru kembali pada akhir-akhir masa hidupnya. Beberapa pemerhati dan ahli seni kaligrafi seperti Dr Ugur Derman, melihat bahwa masa-masa yang banyak menghasilakn bentuk paling indah pada nasta’liq Turki antara tahun 1781 hingga 1790.

Muhammad As’ad al-Yasari mempunya banyak murid. Karena jumlahnya yang banyak, diriwayatkan bahwa seorang penjual kertas khusus kaligrafi yang terkenal, bisa mendapakan banyak penghasilan dari berjualan di depan rumah As’ad al-Yasari. Demikian pula dengan penjual tinta dan pena yang ikut mengambil berkah dari banyaknya murid yang belajar.

Di antara murid As’ad al-Yasari yang terkenal adalah Musthafa Izzat, yang tumbuh dan berkembang dalam asuhan dan didikan guru yang juga ayahnya, sehingga berhasil mengambil ilmu sang ayah dengan sangat maksimal. Di antara murid Musthafa Izzat yang terkenal adalah Ali Haidar dan Ismail Hakki Kubrizade belajar. Dari dua orang inilah Ismail Hakki Sami Afandi belajar Nasta’liq Turki. Sami Afandi pun mempunya banyak murid dalam jenis khot ini. Di antaranya adalah Khulushi Afandi dan Najmuddin Oqyay. Dari Najmuddin Oqyay lah al-Ustadz Ali alpaslan mendapatkan ijazah nasta’liq. Lalu dari Ali Alpaslan, al-Ustadz Belaid Hamidi memperoleh ijazah nasta’liqnya pada tahun 2005 silam.

Muhammad As’ad al-Yasari menderita sakit pada masa akhir hidup beliau, dan meninggal pada tanggal 12 Rajab 1213 H (20 Januari 1798 M) dimakamkan di halaman Madrasah Abdul Lathif Tuti di daerah Fatih. 51 tahun setelah itu, sang putra, Musthafa Izzat dimakamkkan disampingnya. Karena sebab adanya proyek pelebaran jalan di samping tempat tersebut, maka sekitar tahun 1925, maka makam beliau berdua terkena gusur. Sedangkan tulisan makam dipindahkan ke dekat masjid Fatih.

Muhammad As’ad al-Yasari mempunyai karya yang tidak terhitung jumlahnya. Baik berupa qit’ah, muraqqa’at maupun lauhah yang tersimpan di perpustakaan, museum maupun koleksi pribada para kolektor. Beberapa karya beliau yang bisa dinikmati sekarang adalah beberapa tulisan beliau yang telah diukir yang terdapat pada Madrasah dan Sabil ra’is al-Kuttab Raja’i Afandi di daerah Wafa’, Masjid Hamid al-Awwal, Madrasah Hamid al-Awwal, Perpustakaan Haj Salim Agha di Uskudar, Tulisan di dalam pintu makam al-Fatih, Tulisan di bawah kubah yang terletak di museum Topkapi, serta tulisan-tulisan pada monumen-monumen seperti yang ada di Besiktas dan lain-lain.

(oleh Prof. Musthafa Ugur Derman dalam pengantar “Amsyaq al-Khattath Muhammad As’ad al-Yasari fi Khatt al-Ta’liq” Meşk Yayıncılık Tanıtım Organizasyon, Uskudar Istanbul, 2011, terjemah dengan beberapa perubahan oleh Muhammad Nur/ hamidionline)

LEAVE A REPLY