Metode Taqlidi Dalam Belajar Kaligrafi

metode taqlidi


Pada sekitar 1985-an, salah seorang maestro kaligrafi Indonesia, Dr. Didin Sirojuddin AR, M. Ag, yang juga penulis buku Seni Kaligrafi Islam, sempat mengutarakan perasaan ‘bingung’ beliau dalam proses menulis buku tersebut. Kebingunan yang beliau rasakan kami rasa wajar dan beralasan, karena saat itu sangat sedikit buku rujukan khusus tentang kaligrafi Arab yang bisa beliau temukan. Jika pun ketemu, itupun setelah beliau berkeliling menjumpai beberapa khattath yang kebetulan menyimpan hasil belajarnya di Timur Tengah. Masih dalam buku tersebut, Prof. Drs. H. Ahmad Sadzali mengungkapkan bahwa khususnya di Indonesia, kehadiran buku Dr Didin Sirajuddin tersebut ibarat pepatah “pucuk dicinta ulam tiba.”

Dari penuturan para tokoh kaligrafer Indonesia diatas, dapat kita simpulkan bahwa perkembangan seni khat di Indonesia dimulai dari ‘kebutaan’, karena memang minimnya guru-guru yang memadai serta kurangnya referensi khat itu saat itu. Karena itu, jika pada awalnya memakai satu kaidah saja, yaitu bukunya Ustadz Hasyim Muhammad, di semua kaidah khot, hal itu sangat dimaklumi. Mengingat buku Ustadz Hasyim lah yang pertama kali menyebar dan dipakai tidak hanya di Indonesia, bahkan dijadikan pedoman oleh mayoritas kaligrafer di berbagai di belahan dunia saat itu.

Namun untuk saat ini, rasanya terlalu naif, jika kita (masih) tidak mau membuka mata dengan terbukanya arus informasi. Mudahnya akses informasi membuat sesuatu yang dulu asing dan belum sampai kepada kita, sekarang datang bertubi-tubi tanpa bisa bisa dibendung. Termasuk akses buku-buku kaligrafi yang saat itu hanya terbatas di Kairo, Baghdad maupun Istanbul, kini bisa diakses oleh siapa saja dan kapan saja. Karena itu, mengikuti perkembangan dunia kaligrafi, lalu keluar dari mindset lama, termasuk ‘update’ dan mengikuti kaidah dari sumber-sumber ‘baru’ yang layak dianut karena memang sumber tersebut mempunyai otoritas keilmuan, menjadi sebuah keniscayaan. Sumber-sumber baru tersebut, bahkan sejatinya lebih lama dari yang sudah ada dan sampai kepada kita saat ini. Hanya saja, karena datangnya belakangan, bersama dengan fenomena baru perkembangan dunia kaligrafi di tanah air, maka terkesan sumber tersebut baru dan bahkan ada yang melihatnya aneh.

Namun demikian, terbukanya informasi dan banyaknya referensi buku-buku kaligrafi, ternyata tidak serta merta merubah yang sulit menjadi mudah. Bahkan tidak jarang, justru informasi yang berkembang membuat seorang pembelajar kaligrafi, terlebih lagi yang baru mau terjun dan belajar kaligrafi malah bingung, memilih buku apa, ikut ‘aliran’ siapa, dan lain-lain. Tidak jarang kita temui seorang kawan sharing tulisan lalu memberi keterangan, naskhi gaya fulan, besoknya menulis lagi dengan keterangan riq’ah gaya fulan dan lain sebagainya. Karena itu, saya rasa tepat apa yang disampaikan oleh Zaky al-Hasyimi, kaligafer asal Yaman dalam sebuah tulisannya yang dialihbahasakan oleh Muhammad Nur yang berjudul “Kaligrafi dan lunturnya sebuah Identitas” yang menyebutkan:

Jika kita renungkan lebih jauh tentang fenomena seni (khususnya kaligrafi) yang terjadi saat ini, maka sungguh berat untuk mengakui bahwa yang terjadi adalah kebingungan, kehilangan arah, ketidak tahuan harus apa dan bagaimana yang dimulai dari taqlid (meniru) tanpa tau apa yang ditiru, lalu menjadikan apa yang ditiru menjadi referensi dalam memahami kaligrafi, ditambah dengan banyaknya referensi yang berisi perbedaan pendapat dalam kaidah sehingga menambah rancunya pemahaman. Fenomena yang tentunya memprihatinkan kita semua ini pada dasarnya timbul akibat tidak adanya usaha memahami akar dan dasar dasar kaligrafi yang menjadi pedoman baik bagi para praktisi maupun akademisi.

Sebuah kesyukuran memang, bahwa buku-buku referensi tentang kaligrafi mulai banyak terdapat di sekolah-sekolah, sanggar kaligrafi, maupun koleksi pribadi. Referensi tersebut memuat sejarah, biografi para kaligrafer, riwayat-riwayat serta sanggahan atasnya, juga tanggal lahir dan wafatnya seorang tokoh, kehidupan serta murid-muridnya dan banyak lagi. Tidak ketinggalan buku tentang kaidah kaligrafi dengan berbagai macam corak dan aliran di semua cabangnya juga dengan mudah dibeli, dikoleksi maupun diakses sehari-hari.

Akan tetapi jika kemudian buku-buku itu dijadikan fokus rujukan untuk mempelajari kaligrafi, maka akan semakin banyak waktu yang terbuang dengan sia-sia. Karena yang akan dihasilkan adalah generasi hasil dari meniru buku-buku dan menghafal nama-nama, namun lemah dan tidak memahami dengan baik kaidah dasar dalam menulis.

Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa buku ibarat seorang guru, tetapi buku tidak pernah bisa menggantikan posisi seorang guru. Karena seorang guru tidak hanya sumber informasi, tetapi juga sumber nilai, teladan, dan contoh hidup. Guru lah yang bisa menjelaskan apa yang ada di balik isi sebuah buku. Sehingga lebih memenimilasir kesalah pahaman serta kekeliruan dalam memahami suatu bidang ilmu, termasuk khat. Guru pulalah yang akan membimbing kita pada akar dan konsep dasar suatu keilmuan menjadi sebuah pondasi yang kokoh untuk membangun peradaban.

Jika kembali melihat tulisan di atas, yang menyerukan pentingnya kembali kepada akar dan konsep dasar dalam seni kaligrafi sebagai tanggungjawab kita semua dalam menjaga kelestariannya, akan timbul pertanyaan penting dan mendasar. Yaitu metode apa yang sekiranya bisa mengantarkan seseorang untuk memahami khot dan hingga kepada konsep dasar dengan benar? Setidaknya pertanyaan ini adalah sebuah refleksi penulis, melihat fenomena seni kaligrafi yang menarik di Indonesia; di mana banyak sekali sanggar kaligrafi, pesantren kaligrafi, madrasah kaligrafi, klub klub kaligrafi, dengan berbagai even tahunan yang semarak dari tingkat daerah hingga nasional. Apakah gerakan dan even tersebut sudah mengarah kepada penanaman akan pemahaman yang benar tentang seni kaligrafi, atau sekedar trend dan rutinitas bahkan na’udzubillah jika sekedar mencari ketenaran atau dunia semata. Verangkat dari sini, izinkan kami untuk (mencoba menulis) dan melanjutkan keterangan tulisan yang telah dimuat pada postingan sebelumnya.

Salah satu cara untuk memahami konsep yang benar dalam seni kaligrafi adalah melalui metode yang benar pula. Dalam dunia pendidikan kita, akhir-akhir ini ada kecenderungan untuk menyiapkan sarana yang mewah dan ideal bagi murid-muridnya. Hal ini tentunya cukup menggembirakan, namun demikian ada yang perlu untuk lebih diperhatikan yaitu system dan belajar yang benar. Bahkan kurikulum atau satuan belajar yang sudah tersusun rapi bisa jadi tidak akan berjalan dan menghasilkan output yang baik jika metode pembelajaran yang dipakai tidak tepat.

Dalam belajar khot, selain pemilihan materi dan buku ajar pada setiap khot yang direncanakan, juga memerlukan sebuah metode yang tepat. Dalam model pembelajaran saat ini, metode tersebut dikenal dengan nama metode klasik (manhaj taqlidiy). Metode klasik merujuk kepada apa yang ditempuh dan dipakai oleh ulama-ulama terdahulu selama berabad-abad dalam pembelajaran khat, dimulai dari penulisan kalimat “rabbi yassir walatu’assir, rabbi tammim bi al-khair wa bihi al-aun,” selanjutnya dimulai menulis huruf hijaiyyah mufradah lalu sambung antar huruf,  dan masuk ke kalimat, serta meniru tulisan-tulisan para master di bawah bimbingan guru berkompeten, yang mendampingi setiap proses tersebut dengan keterangan-keterangan penting yang tidak ada di buku. Dengan metode ini, rata-rata mereka menempuh pelajaran pertama selama 2-4 tahun untuk satu jenis khot, bahkan ada yang sampai 7 hingga 9 tahun. Tentu saja proses yang demikian memerlukan waktu relatif lama, itu pun jika pelajarannya ditulis dengan kesungguhan dan keistiqamahan.

Baca Juga:   Kaligrafer Pameran Sharjah 2016 (6) Nur Hamidiyah; Inspirasi Dalam Berprestasi

Kami di bawah bimbingan Syaikh Belaid Hamidi menerapkan metode klasik tersebut dengan beberapa modifikasi yang disesuaikan dengan keadaan. Disebut menerapkan metode klasik, karena Syaikh Belaid Hamidi memang belajar khot di Istanbul dengan para masyayikh yang ada saat itu, yang masih menggunakan metode ini dalam pembelajarannya. Karena itu, sangat relevan jika kami sampaikan bahwa Manhaj Hamidi adalah metode klasik (manhaj taqlidi). Sementara modifikasi yang kami maksud adalah penyesuaian yang dilakukan oleh Syaikh Belaid pada jam pertemuan yang dipadatkan. Sehingga perbedaan yang ada di antaranya adalah pada maksud mempersingkat waktu, sedangkan materi yang disampaikan tetaplah sama, buku yang harus ditiru pun sama, tidak ada yang dikurangi. Selain dari segi waktu yang dipersingkat, Manhaj Hamidi juga mengajarkan khot dari satu jenis saja (riq’ah) dengan menambahkan apa yang disebut dengan durus tamhidiyah (pelajaran awal pada khot riq’ah dan diwani), di mana letak rahasia huruf dan metode pembelajaran ada pada tahap ini.

 Tulisan ini tidak akan membahas Manhaj Hamidi secara detail, tetapi lebih kepada memaparkan gambaran manhaj klasik (manhaj taqlidi) dalam system pembelajaran yang kami ambil dari buku “Muhammad Sang Guru, Menyibak Rahasia Cara Mengajar Rasulullah” karangan Abdul Fatah Abu Ghuddah (Ulama Suriah, Salah satu Pendiri Universitas Muhammad Ibnu Saud, Arab Saudi). Mulanya buku ini adalah tema diktat beliau ar-Rasul al-Mu’allim wa Asalibuhu fi al-Ta’lim yang beliau sampaikan ketika beliau mengajar di beberapa Universitas Arab di Riyadh. Kami sengajar memaparkan tulisan beliau ini karena ada beberapa sisi menarik. Di antaranya adalah tema ini selain masih jarang diangkat, padahal sangat besar sekali korelasinya dengan dunia keilmuan, pengajaran, dan para pelajar itu sendiri. Buku ini membahas 40 metode Rasulullah dalam mengajar. Dari 40 metode yang ada, beberapa diantaranya dapat di aplikasikan dibidang seni kaligrafi. Diantaranya adalah:

  1. Mengajarkan secara bertahap

Hal ini dapat kita perhatikan pada materi yang diajarkan, mulai dari jenis khat riq’ah sebagai pondasi dalam mempelajari khat lainnya. Riq’ah pun dimuali dari pelajaran titik. Sebagian orang menganggap pelajaran ini remeh, tetapi dari titik kita belajar banyak seperti peletakkan sudut mata pena, busholah (kompas huruf), mizan dan geometri.

  1. Memperhatikan perbedaan karakter pada setiap peserta didik

Benar, dengan karakter yang berbeda dari setiap peserta didik, kita bisa belajar banyak mengenai ilmu jiwa, psikologi dan kebutuhan pada masing-masing peserta didik. Di sinilah peran guru yang harus berbekal pengalaman dan ilmu jiwa dalam pembelajaran. Materi yang disampaikan kepada peserta tidak tidak sama meskipun satu waktu (tidak ada satuan pelajaran untuk satuan anak didik). Karena itu, meskipun bentuknya klasikal (di kelas) tetapi pelajaran peserta didik berbeda-beda tergantung kemampuannya.

  1. Membuat persamaan dan contoh

Dalam tahapan ini, ketika murid menemukan beberapa susunan kalimat, pembimbing dapat menjelaskan konsistensi antara kalimat satu dan lainnya dengan melihat beberapa aspek berupa mizan huruf, kemiringan (bushalah), ukuran, detail huruf, jarak dan lain lain. Serta dapat dapat mengetahui keindahan pada masing-masing susunan kalimat.

  1. Mengajar dengan nasihat dan motivasi

Ketika murid merasakan kebosanan dalam belajar, mungkin karena pelajarannya tidak kunjung lulus, atau peralatan nya tidak sebaik yang diharapkan, atau belajar namun fikirannya melayang entah kemana (gagal fokus red.), disini guru berperan sebagai motivator baginya untuk menumbuhkan semangat belajarnya kembali.

  1. Diskusi dan Tanya Jawab

Disela sela pembelajaran, memang ada masa-masa diskusi untuk pendalaman materi (terkhusus para mujaz/ yang sudah memperoleh ijazah) dan saling tukar pengalaman, hal ini berguna untuk membuka rahasia (asrar) huruf yang pernah terlupakan atau yang belum tersampaikan sebelumnya.

  1. Pengkaderan

Ketika guru sedang berhalangan, beberapa murid mujaz terkadang menggantikan posisi guru atas izinnya. Hal ini melatih untuk menjadi pengajar yang baik, secara tidak langsung ia akan belajar kembali dan ada proses murojaah yang bersifat kontinuitas. Dengan metode ini, selain kekuatan huruf yang didapat, karakter mentalnya sebagai seorang pendidik sedikit demi sedikit akan terbentuk.

  1. Mengajar melalui kisah dan berita orang terdahulu

Pada metode ini, selain membangaun kekuatan soft skill peserta, guru pun tidak lupa membangun spirit mental dan spiritual melalui cerita dan kisah para khattath kibar (maestro kaligrafi)  terdahulu guna menambah wawasan keilmuan.

  1. Menguji kapasitas keilmuan seseorang untuk mengapresiasinya

Dalam tradisi Manhaj Hamidi, ketika seorang murid telah menyelesaikan dars akhirnya, sebelum menginjak pada pembuatan ijazah, sang guru akan memberi tugas untuk membuat sebuah karya. Tujuannya adalah mengetahui seberapa banyak pengetahuan dan pemahaman yang didapat dimasa pembelajaran. Dengan begitu, murid merasa bahwa apa yang dipelajari dapat dirasakan manisnya. Disamping itu, kepuasan guru dapat terasa ketika melihat murid nya berhasil dalam belajar.

  1. Memerintahkan sebagian pelajar untuk belajar bahasa

Karena memang belajar kaligrafi bukan hanya sekedar menulis, namun di sisi lain kita juga akan belajar ilmu perangkat yang dibutuhkan. Di samping bahasa, kita akan belajar apa itu filologi (kajian manuskrip), sejarah, biografi tokoh, membedah karya, kewirausahaan, dll.

  1. Karena metode ini bersanad, maka juga tidak kalah penting adalah kita akan belajar dari seorang guru. Di mana guru tersebut juga berlajar dari guru yang memiliki otoritas keilmuan dan kepribadian yang luhur.

Inilah beberapa bentuk metode klasik yang dalam pembahasan Syaikh Abdul Fatah Abu Ghuddah ini juga kita temukan dalam Manhaj Hamidi. Tulisan ini sengaja kami buat bukan untuk berbangga-bangga, namun demi harapan akan perbaikan peradaban dan generasi unggulan, mari bersama belajar seni luhur ini dengan baik dan benar. [yasir amrullah/hamidionline.net]