Mengapa Kita Belajar Khot?

hamidionline

Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan seseorang dalam belajar kaligrafi Islam (selanjutnya disebut khat) adalah dari tata niatnya. Karena jika niatnya benar, hal ini akan menjadi kekuatan dan motivasi untuk mencapai keberhasilan dalam proses belajar selanjutnya. Namun, sebaliknya jika niatnya kurang pas, justru hal ini akan membahayakan si pelajar tersebut. Bahkan proses belajarnya akan terancam putus ditengah jalan.

Belajar khot merupakan sebagian dari agama. Karena khot merupakan seni warisan peninggalan Islam. Melalui seni ini, wajah Islam yang lembut dan Indah termanivestasi. Bahkan mempelajar khot dinilai sebagai ibadah, dikarenakan mempelarinya berarti mempelajari huruf-huruf al-Qur’an. Rasulullah SAW saja bersabda bagi hamba yang membaca huruf-huruf al-Qur’an akan mendapatkan sepuluh kebaikan disetiap hurufnya, tentu hal tersebut berlaku disetiap huruf yang digoreskan. Karena antara membaca dan menulis adalah satu paket yang tidak dapat dipisahkan.

Banyak sekali manfaat yang akan dirasakan jika belajar seni ini, tentunya hal ini akan tercapai jika dilandasi dengan niatan yang benar. Setidaknya manfaat tersebut dapat dinilai dari beberapa aspek, diantaranya adalah:

Pertama, aspek akademik. Kegiatan menulis merupakan kegiatan yang spesial. Dikatakan bahwa tulisan merupakan perantara yang sangat vital untuk sebuah proses transformasi baik informasi ataupun keilmuan. Dalam hal ini, para pelajar akan dididik bagaimana memiliki tulisan yang baik dan benar, agar pesan-pesan dari informasi yang ditulis dapat diterima oleh pembaca. Bukan hanya sekedar proses transformasi saja, namun pemberian kesan yang indah juga menjadi salah satu misi yang tidak boleh ditinggalkan. Maka, melalui kegiatan ini para pelajar dibiasakan untuk menulis dengan baik dan jelas dan juga tidak meninggalkan unsur keindahan dari apa yang ditulis.

Kedua, aspek pendidikan. Proses pembiasaan menulis dengan baik dan benar pada pelajar lambat laun akan menjadi keterampilan baginya, baik keterampilan menulis ataupun hal yang terkait dengannya.  Nah, keterampilan ini jika dalam ilmu pendidikan merupakan salah satu bagian dari sebuah pendidikan motorik. Dimana seorang pelajar akan dididik menjadi seorang yang memiliki jiwa yang hidup dengan ketenangan, kesabaran dan melatih emosi. Disamping untuk melatih kepekaan pandangan dan hati sebagai kolaborasi yang mutlak untuk menghasilkan sebuah tulisan yang indah. Tentunya  juga tidak kalah penting bahwa nilai-nilai ini nantinya diharapkan dapat teraplikasi dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga:   Indonesia Kembali Menorehkan Prestasi di Lomba IRCICA 2019

Ketiga, aspek kesenian. Melalui seni yang mulia ini, sebagain dari pegiat khot dapat membuka salah satu pintu rejeki untuk menggapai rahmatNya. Maksudnya adalah dengan belajar dan berkarya dengan seni khot, akan mendapatkan rezeki, baik yang bersifat materi ataupun non materi.

Bertemu dengan para guru, teman seperjuangan dan lain sebagainya merupakan salah satu bentuk dari rejeki. Sebuah kesempatan yang sangat berharga dapat menimba keutamaan mempelajari Kaligrafi melalui guru-guru yang dapat dipertanggung jawabkan ilmunya baik melalui akademik dan sumber, tentu ini adalah sebuah rezeki.

Sebagaian mereka ada juga ada yang memanfaatkan khot untuk belajar kewirausahaan dengan memberikan jasa tulis di rumah ibadah, atau di perkantoran, gapura dan lain-lain. Selain untuk belajar kemandirian dalam segi ekonomi, kegiatan ini juga termasuk sebagai langkah dakwah untuk menyebarkan islam yang santun. Sebagaimana pendapat ibn al-miqfa’: seni Kaligrafi Islam merupakan tulisan yang menjadi perhiasan bagi penguasa, kesempurnaan bagi orang kaya dan harta bagi si miskin.

Sebagai penutup dalam tulisan ini, penulis menghimbau untuk terus memperbaharui niat dalam belajar khot, karena kita adalah seorang muslim yang memiliki kewajiban untuk menjaga harta warisan seni Islam yang telah diwariskan oleh para pendahulu. Jika tidak ada yang peduli dengan warisan budaya ini, jangan salahkan dikemudian hari jika kejayaan ini hanya akan menjadi cerita bagi anak cucu kita. (A. Yasir Amrullah/hamidionline)

Sumber tulisan: Ma’ruf Zariq, 1985, kaifa Nu’allimu al-Khat Dirasah Tarkhiyyah, fanniyyah, Tarbiyyah (Damaskus: Dar Fikr)