Memburu Kekuatan Doa. Kisah Syaikh Ali At-Tabrizi

ali at-tabrizi

Syaikh Ali at-Tabrizi dikenal sebagai penggagas kaidah pertama pada khat Ta’liq, dimana sampai sekarang jenis khat ini masih terjaga akan kelestariannya. Beliau lahir di sebuah provinsi yang terletak di Afganistan Barat, tepatnya di kota Herat yang juga merupakan ibukota provinsi tersebut. Kota ini terletak di lembah Hari Rud, yang sudah lama terkenal karena minuman anggurnya. Herat juga merupakan kota tua dengan banyak bangunan bersejarah, meskipun beberapa bangunan telah rusak karena berbagai konflik militer pada masa perang Soviet-Afganistan maupun disebabkan oleh perang saudara.

Kota Herat juga dikelilingi oleh benteng yang dibangun pada saat kekuasaan Alexander Agung. Selama abad pertengahan, Herat menjadi kota penting bagi Khurasan, karenanya kota ini dikenal dengan sebutan Mutiara Khorasan. Herāt terletak di jalur perdagangan kuno dari Timur Tengah, India, Tiongkok dan Eropa. Jalur dari Herāt menuju Iran, Turkmenistan, Mazari Sharif, serta Kandahar sampai saat ini masih termasuk jalur transportasi yang penting.

Selain terkenal sebagai penggagas kaidah nasta’liq, tokoh yang lahir pada 881 H/ 1476 M ini juga dikenal sebagai penulis. Bahkan selain itu, beliau juga merupakan imam di segala jenis khat dengan kecerdasan dan semangatnya yang tinggi. Memiliki kemampuan dalam bersyair sehingga mendapat julukan “Al-Katib”.

Menurut catatan sejarah, asal muasal dari ditemukannya kaidah khat nasta’liq adalah ketika syaikh Ali at-Tabrizi bersungguh-sungguh dalam berdoa yang telah ia panjatkan kepada Rabnya. Dalam doanya beliau memohon kepada Allah supaya diajari sebuah tulisan yang yang benar benar baru, tidak pernah ada sebelumnya. Hingga suatu saat ia bermimpi bertemu dengan sayyidina Ali R.A . Disebutkan bahwa Ali R.A kemudian memerintahkan kepadanya untuk memeperhatikan dengan teliti bentuk-bentuk jenis burung dan unggas.

Baca Juga:   Sudahkah Anda Daftar Kompetisi IRCICA?

Setelah kejadian tersebut, Syaikh Ali merumuskan apa yang beliau alami dalam mimpinya kedalam bentuk-bentuk khat jenis Ta’liq. Meletakkan kaidah dengan rotasi yang tepat pada setiap hurufnya, mempertimbangkan panjang pendeknya, tebal tipisnya, jarak, akurasi dan ukuran besar kecilnya. Beliau betul betul mempertimbangkan ukuran tersebut yang kemudian dilakukan perbaikan oleh para khattat setelahnya.

Beliau merupakan penulis yang produktif pada khat jenis ini sebelum datangnya Mir Imad al-Hasani. Saat membuat karya, Syekh Ali At-Tabrizi tidak lupa untuk memberikan tanda tangan yang diselipkan di karyanya. Biasanya beliau menuliskan tanda tangan tersebut dengan bentuk: “ali”, atau “al-faqir Ali”, atau “Mir Ali Al-Katib” atau “Ali Sulthani” atau “Ali Husaini” atau “Mir Ali Al-Katib” atau Mir Ali Sulthani” atau “Ali Sulthani” atau “Ali Harawi” atau Ali Husaini Harawi” atau “Ali al-Katib al-Sulthani”.

Selama masa hidupnya, Syekh Ali at-Tabrizi telah melahirkan banyak kaligrafer, salah satunya adalah Mir Mahmud Baqir yang merupakan putranya sendiri. Selain itu ada Khawajih Mahmud Syihabi, Mir Sayyid Ahmad, Mir Husaini Bukhari dan Mir Jumlah. Beliau Meninggal pada tahun 951 H/ 1544 M dan dikebumikan didaerah Bukhara.

Semoga dari kisah beliau dapat mengajarkan kita untuk tidak berputus asa dalam belajar kaligrafi, terutama dalam memburu kekuatan doam karena peran dan kekuatan doa juga memiliki andil yang besar dalam menentukan kesuksesan kita berkaligrafi, selain keridhaan sang guru dan istiqomah dalam belajar. Untuk itu, hendaknya kita tidak lupa untuk selalu berdoa baik sebelum atau setelah kita belajar seni yang mulia ini. Jember, 12/7/18/Yasir/hamidionline.net

Sumber Bacaan:
https://id.wikipedia.org/wiki/Provinsi_Herat
Tarikh Al-Khat al-Aroby wa A’lam al-Khattatin/74.

Credit gambar: www.google.com