Membangun Nilai Karakter Lewat Manhaj Hamidi.

66

Imam Ali R.A berkata:

الخط مخفي في تعليم الأستاذ وقوامه في كثرة المشق ودوامه على الدين الإسلام

“al-Khat adalah (rahasia) yang tersembunyi pada pengajaran oleh guru, dan kekuatannya terdapat pada banyaknya latihan, dan keabadiannya terdapat pada agama Islam”.

Seorang murid jika ia ingin mendapatkan ilmu yang jelas, hendaknya ia berguru pada guru yang jelas pula. Disamping itu, bimbingan oleh seorang guru pun juga sangat dibutuhkan, karena memang nantinya peran guru sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter seorang anak didik. Disinilah seorang murid dapat memaksimalkan waktu dan kesempatan yang diberikan kepadanya, dengan menggunakannya sebaik dan se-efisien mungkin. Karena memang keberhasilan tidak mungkin didapatkan dengan hanya bermalas-malasan, karena memang keberhasilan adalah buah dari kesunguhan.
Lantas, karakter apa saja yang dapat diperoleh dari seni kaligrafi ini?

  1. Kesabaran, belajar kaligrafi berarti belajar kesabaran. Mengapa? Karena memang dengan kesabaran, murid dituntun untuk menulis dengan tertib, sistematika, tidak asal-asalan. Untuk mendapatkan tulisan yang indah, tidaklah mungkin akan didapatkan dengan keburu-buru, disinilah pendidikan kesabaran dibentuk.
  2. Kejujuran, para murid dibentuk karakter kejujurannya lewat latihan yang diajukan kepada gurunya. Disini murid tidak diperkenankan untuk menjiplak pelajaran yang diberikan, namun dengan cara meniru beberapa tulisan yang berkualitas dari sumber yang terpercaya, tentunya tetap dalam pengawasan dan bimbingan seorang guru.
  3. Selain nilai kedua karakter diatas, kesungguhan ini juga tidak kalah penting. Tanpa adanya kesungguhan, tidaklah mungkin seorang murid akan menyelesaikan pelajarannya. Lebih dari itu, setelah menyelesaikan pelajaran nya, tidak menutup kemungkinan murid akan menemukan rahasia-rahasia goresan dalam tulisan yang mungkin belum terkuak sebelumnya.
  4. Yang terakhir adalah kedisiplinan, hal ini tdapat kita rasakan ketika kita latihan dan setoran dars kepada pembimbing pada waktu yang telah ditentukan. karena memang hal ini tidak dapat dilupakan, meninggalkan disiplin berarti menunda kesuksesan, so… do it now and keep discipline…..

Selain hal yang telah disebutkan diatas, ketika disela-sela pembelajaran,seorang guru akan memberikan tingkatan kesulitan tersendiri pada setiap pelajaran, hal ini dimaksudkan untuk menguji seberapa sabar seorang murid terhadap guru dan kesetiaan terhadap pelajaran. Jika dars khatnya telah mendarah daging pada murid, maka ia akan sabar dengan guru dan pelajaran, namun sebaiknya jika ia tak sabar, maka ia akan meninggalkan pelajaran dan putus asa (nau’dzubillah). Nilai inilah yang sebenarnya yang diinginkan oleh guru.

Hal tersebut merupakan metode yang ditempuh oleh ulama-ulama terdahulu selama berabad-abad dalam pembelajaran khat, metode ini mereka kenal dengan sebutan taqlidy, dimulai dari penulisan kalimat rabbi yassir wala tu’assir, rabbi tammim bi al-khair wa bihi al-aun, dan selanjutnya dimulai menulis huruf hijaiyyah dan sambung kalimat, rata-rata mereka menempuh pelajaran pertama selama 2-4 tahun. Ini merupakan bukan proses yang sebentar, namun memerlukan waktu yang relative lama, itupun jika pelajaran nya ditulis dengan kesungguhan dan keistiqamahan.
1461860217632Yang menjadi permasalahan nya sekarang adalah perbedaan waktu dan zaman. Sekarang kita telah memasuki dunia teknologi, yang membutuhkan segala kegiatan canggih dan super cepat. Maka jika metode yang da
hulu tetap di laksanakan, ini tidak sesuai lagi terhadap dunia pembelajaran sekarang. Sehingga dibutuhkan formulasi baru dengan cara pembelajaran modern dengan system classic. Perubahan zaman juga tidak jarang membawa orang lebih mudah untuk bersikap pragmatis, karena itu perlu kita camkan nasehat-nasehat serta saran dari mereka yang lebih berpengalaman berkenaan dengan cara belajar kaligrafi.
Mudah-mudahan dengan hadirnya metode taqlidy dengan manhaj hamidi ditengah-tengah kita, dapat membantu memudahkan dalam mempelajari disiplin keilmuan di dunia kaligrafi. Yasir

Baca Juga:   Antara Pena Jawa (Aren) dan Pena Besi

Ahaly Hamidy Jember
Jember, 24-Mei-2016.

LEAVE A REPLY