Khat Kufi dan Perannya dalam Sejarah Penulisan Al-Qur’an

Melihat dari keindahan Al-Khat ‘Arabi tentu tidak terlepas dari aspek perkembangan dan pembaharuan dari sejak awal munculnya khat ini, baik dari segi bentuk dan jenisnya. Karena tidak ada sesuatu yang sempurna dalam satu tahapan. Semuanya membutuhkan proses untuk sampai pada tahap penyempurnaan. Begitupula dengan khat kufi. Salah satu khat yang termasuk dalam Al-Khuttut Al-Sittah atau lebih sering dikenal dengan Al-Aqlam As-Sittah (Kufi, Tsuluts, Naskhi, Riqa, Muhaqqaq, Tauqi).

Jika membicarakan tentang Khat Kufi, maka tidak akan terlepas dari aspek sejarahnya. Karena khat ini merupakan khat tertua dalam dunia Arab, dan menjadi salah satu saksi dalam sejarah kodifikasi penulisan Al-Qur’an.

Khat Anbar sebagai sejarah awal Khat Kufi

Sejarah kodifikasi Al-Qur’an dimulai sejak masa pemerintahan Abu Bakar Ash-Shidiq atas usulan Umar bin Khattab melihat banyaknya para qurra yang meninggal pada perang Yamamah. Jauh sebelum itu, pada awal datangnya Islam, Rasullullah telah memilih beberapa shohabah untuk menjadi kuttabul wahyi yang bertugas untuk menuliskan wahyu sesuai dengan apa yang diterima oleh Rasullullah. Perlu diketahui bahwa kuttabul wahyi merupakan tugas mulia dan istimewa, mengingat banyaknya masyarakat yang tidak bisa menulis pada saat itu. Untuk itu, makalah ini mencoba membahas sejarah tulisan (khat) dan perannya terhadap penulisan Al-Qur’an pada kodifikasi awal.

Jika merujuk pada zaman munculnya tulisan Arab, maka tidak ada satupun literatur yang dapat menyebutkan secara pasti akan tanggal maupun tahunnya. Akan tetapi, beberapa literatur mengatakan bahwa tulisan (khat) Arab pertama kali dibentuk oleh Basyar bin Abdil Malik (saudara ipar Abu Sufyan) dengan model Khat Nabati. Dari Khat Nabati inilah muncul tiga pencetus pertama tulisan Arab yang memodifikasi ulang dari Khat Nabati. Ketiga pencetus ini lebih dikenal dengan sebutan “Al-Yad Al-Ulaa”, mereka adalah Maromiroh bin Marroh (مرامرة بن مرة), Aslam bin Sadroh (أسلم بن سدرة) dan ‘Amir bin Hadroh (عامر بن حدرة) yang semuanya berasal dari Anbar. Sejak saat itulah kota Anbar menjadi kota pertama munculnya tulisan Arab, dan tulisan Arab dikenal dengan Khat Anbari dinisbatkan pada tempat munculnya khat ini.

Bertahun-tahun setelahnya, khat Anbari dipelajari oleh Utsman bin Affan dan Marwan bin Hakam sebelum datangnya Islam dalam satu kelas yang sama. Khat yang sama juga dipelajari oleh Mu’awiyyah bin Abi Sufyan, Ali bin Abi Thalib dan Zaid bin Tsabit. Merekalah yang nantinya akan menjadi kuttabul wahyi pilihan Rasullullah.

Rasullullah sebagai penggerak penyebaran Khat dalam Islam

Ketika Islam datang, Rasullullah sangat memperhatikan kemajuan umatnya dalam hal tulis-menulis mengingat bahwa masyarakat Jahiliyyah sangat awam dengan tradisi menulis. Tidak heran, karena peralatan tulis-menulis jarang ditemukan pada masa Jahiliyyah di samping adat, budaya dan kebiasaan Jahiliyyah yang memang belum membutuhkan tulisan. Bukan hanya itu, dalam pendapat lain mengatakan bahwa Rasulullah juga berperan dalam estetika Al-Khat Al-Islamy.

Dukungan Rasullullah dalam gerakan khat dapat dilihat sejak Rasullullah hijrah ke Madinah. Hal pertama yang dilakukan Rasul adalah membangun masjid dan mengadakan halaqoh “tulis menulis”, untuk itu secara khusus Rasullulah memilih sendiri guru yang akan mengajarkan halaqoh ini, salah satunya adalah ‘Abdullah bin Sa’id bin ‘As dan ‘Ubadah bin Shomit.

Bukan hanya itu, tetapi Rasullullah juga menjadikan tebusan bagi tawanan perang yang dapat menulis dan membaca untuk mengajarkannya kepada umat muslim di Madinah.

Proses pembelajaran tulis-menulis ternyata tidak hanya terfokus pada laki-laki saja, tetapi Rasullullah juga mendukung dan menyemangati para wanita muslim untuk belajar dan mengajarkan khat. Seperti Asy-Syifa binti ‘Abdillah, Hafshoh ummul mu’minin, Ummu Kultsum binti Uqbah dan ‘Aisyah binti Sa’ad bin ‘Ibadah.

Untuk itulah Rasullullah memerintahkan Hafshoh ra. untuk belajar menulis (khat) kepada Asy-Syifa binti ‘Abdillah, agar ia dapat mengajarkan para wanita muslim akan tulis-menulis. Maka disebutkan dalam sejarah bahwa Hafshoh merupakan salah satu wanita pertama yang mempelajari khat. Al-khatthatah al-ulaa fil Islam.

Berbeda dengan bentuk tulisan sebelum datangnya Islam, karena ketika Islam datang dengan semangatnya terhahap tulisan (khat) maka banyak umat muslim yang mulai memperindah bentuk dan huruf dalam khat. Hal tersebut dimulai sejak Rasullullah memilih sendiri para kuttab –sebutan untuk penulis- untuk menuliskan wahyu dan surat-surat penting yang akan disampaikan para raja-raja sekitar. Sejak saat itu, para kuttab berlomba-lomba untuk memperindah khat masing-masing, karena Rasullullah hanya memilih Ajwad Kuttab, penulis terbaik dengan tulisan yang terindah.

Baca Juga:   Antara Pena Jawa (Aren) dan Pena Besi

Khat Kufi dan sejarah penulisan awal Al-Qur’an

Tradisi tulis-menulis pun dimulai sejak saat itu. Terlebih ketika Rasullullah memilih beberapa sahabatnya untuk menjadi kuttabnya. Baik penulis wahyu maupun penulis surat untuk diberikan kepada raja-raja sekitar. Kuttab, sebutan untuk penulis, seperti sekertaris pada masa sekarang. Disebutkan dalam sejarah bahwa Rasullullah memiliki 42 orang Kuttab. Dan salah satu kuttabul wahyi yang terkenal adalah Zaid bin Tsabit.

Seiring berjalannya waktu, Khat Anbar semakin berkembang. Dapat dilihat dari bentuknya yang memiliki perkembangan di setiap waktunya. Khat inilah yang dipakai dalam penulisan ayat Al-Qur’an masa kodifikasi awal. Pada masa itulah, Rasullullah menyuruh para penulis istimewa untuk menuliskannya di hadapan Rsaulullulah ketika ayat diturunkan, jika terdapat kesalahan dalam penulisan, maka Rasulullah memberitahukannya.

Dari Zaid bin Tsabit ia berkata bahwa ia pernah menuliskan wahyu pada masa Rasulullah SAW. Ketika itu Rasulullah mendiktekannya, dan ketika ia telah selesai menulis maka Rasulullah memerintahkan Zaid untuk membacakannya, maka Zaid pun membacakan tulisannya dihadapan Rasulullah, jika terdapat kesalahan, maka Rasulullah akan memberitahukannya. Ketika itu ayat-ayat Al-Qur’an masih ditulis dalam lembaran-lembaran kulit, daun, tulang pipih, serta pelepah kurma yang berbeda-beda sesuai dengan situasi turunnya ayat.

Pada masa pemerintahan Abu Bakar Ash-Shiddiq, dimulailah periode kedua kodifikasi Al-Qur’an atas usulan Umar bin Khattab melihat banyaknya qurra’ dan huffadz (penghafal Al-Qur’an) yang meninggal pada perang Yamamah. Pada masa inilah, Al-Qur’an yang dituliskan para kuttabul wahyi lalu dikumpulkan menjadi satu dan disimpan oleh Abu Bakar hingga ia wafat.

Beberapa lembaran ditulis menggunakan Khat Anbar, dan lembaran lainnya ditulis menggunakan Khat Makki dan Khat Madani sesuai tempat ditulisnya tiap-tiap lembaran.

Dari Khat Anbar inilah yang menjadi asal muasal Khat Kufi dan menjadi asas tulisan dalam penulisan Al-Qur’an hingga akhir kekhilafahan Khulafa Rosyidin. Penamaan khat Kufi dikenal sejak ditaklukkannya Iraq oleh Sa’ad bin Abi Waqqosh pada masa kekhalifah Umar bin Khattab pada tahun 18 H.

Ketika itu, Umar mengirim sebagian umat muslim untuk menempati kota Bashroh dan Kufah tepat setelah kota itu ditaklukkan. Pendapat lain mengatakan bahwa para pendatang dari Madinah mengenalkan khat yang mereka kenal ke Kufah hingga terjadi perkembangan bentuk dan keindahan di dalamnya hingga setelahnya disebut sebagai Khat Kufi. Sejak saat itulah, khat Arabi muncul dan berkembang di Khufah mengikuti perkembangan pemerintahan Islam yang berpusat di Kufah.

Seperti penamaan khat lainnya, disebut “Khat Kufi” karena letaknya di Kufah. Bahkan kemudian Khat Kufi mampu mengungguli keindahan Khat Makki dan Khat Madani pada saat itu. Maka, tidak dapat dipungkiri jika khat Kufi menduduki peringkat teratas, bahkan nama khat ‘Arabi lebih dikenal dengan nama “Khat Kufi” karena tradisi menulis lebih banyak menyebar di Kufah dan tersebar melalui Kufah di samping banyaknya para khattat dari Kufah yang sangat memperhatikan keindahan, bentuk, gaya dan seni dari setiap hurufnya melebihi Khat Madani dan Khat Makki.

Disebukan dalam buku ‘Tarikhul Khat wa Gharaib Rasmihi’ bahwa mushaf pada abad pertama hingga abad kelima hijriyah dituliskan dengan Khat Kufi, dengan pusat penulisan mushaf yang berpusat di masjid Kufah. Salah satu contoh mushaf tertua yang ditulis menggunakan khat Kufi dapat dilihat di museum seni Islam Kairo, ditulis di atas lembaran kulit kijang dengan tinta hitam.

Sumber:
Mujahid Taufiq Al-jundi, Tarikh al-Kitabah wa Adawatiha, Cet.1, 2008
Muhammad Thahir Abdul Qodir Al-Kurdi, Tarikh Al-Khot Al-‘Araby wa Adabihi, Cet. 1, 1939
Muhammad Thahir Abdul Qodir Al-Kurdi, Tarikhul Qur’an wa Gharaib Rasmihi, Cet. 1, (Jeddah: 1365)
Ahmad Shobri Zayid, Tarikh Al-Khat Al-‘Arabi wa A’lamul Khottotin (Kairo: Darul Fadhilah, 1998)