Kesan Mereka Tentang Kaligrafer Hamid Aytac

123
hamid aytac

[dropcap]B[/dropcap]ermacam-macam kesan para murid maupun mereka yang mengenal Kaligrafer Hamid Aytaç. Kaligrafer Hamid Aytac adalah kaligrafer besar abad-20. Beliau juga generasi terakhir dari silsilah kaligrafer besar yang pernah hidup pada masa Turki Usmani. Dari tangan Hamid Aytaç lah, lahir murid-murid beliau yang meneruskan silsilah kaligrafer besar Turki Usmani, sehingga saat ini kita bisa menemukan ketersambungan sanad dengan para kaligrafer besar terdahulu. Tidak heran jika kehidupan beliau penuh dengan kesan bagi orang-orang yang pernah dekat dengannya.

Prof. Dr Mustafa UğurDerman; Kaligrafer, Akademisi dan Peneliti

Beliau termasuk yang mempunya kesan akan Hamid Aytaç, karena masih sempat bertemu kaligrafer besar ini. Para kaligrafer dahulu belajar kaligrafi mulai dari huruf hijaiyyah. Kemudianmenghabiskan waktunya bertahun-tahun untuk belajar menyusunnya dalam garis. Hamid Aytaç telah menguasai seni ini dengan baik tanpa belajar dengan cara tradisional ini. Beliau belajar kaligrafi pertama kali kepada guru-guru yang ada di tanah kelahirannya di Diyarbakır. Kemudian datang ke Istanbul dan belajar kepada kaligrafer besar seperti Nadzif Bik yang saat itu bekerja di kantor “Dairat Arkan Harbiyyah”. Namun sayang, tidak lama kemudian, Nadzif meninggal dunia. Namun begitu, Hamid Aytaç berhasil menembangkan kemampuannya sendiri. Dengan dukungan kekuatan tangannya dalam menulis dan kemampuan matanya dalam melihat detail tulisan.

Setelah berhasil mencapai fase kematangan selama bekerja di percetakan militer, Hamid Aytaç mulai dikenal oleh para kaligrafer besar yang ada saat itu. Maka terjalinlah hubungan yang baik di antara mereka. Di antara para kaligrafer besar tersebut adalah Raisul Khattathin, al-Hajj Ahmad Kamil Akdik, dan Tughra’i, Ismail Haqqi Altunbezar, Muhammad Amin Yazici, Najmuddin Oqyay dan Hulusi Yazgan. Pada awalnya, Hamid Aytaç belajar kepada mereka. Namun kemudian hubungannya dengan para kaligrafer tersebut berubah menjadi hubungan pertemanan yang erat. Kepiawaian Hamid Aytaç dalam menulis tidak diragukan lagi. Saya bisa ungkapkan dengan sebuah kalimat: “tidak ada jenis khot yang beliau lihat, kecuali ia berhasil menulisnya dengan baik lalu berkarya dengannya”.

Syaikh Hasan Celebi; Murid Terdekat Hamid Aytac

Syaikh Hasan Celebi adalah salah satu murid ustadz Hamid Aytaç yang paling dekat dan paling lama berinteraksi dengan beliau.  Tentang gurunya, beliau berkata: “setelah meninggalknya guruku, Musthafa Halim Ozyazici pada tahun 1964, aku pergi kepada Hamid Aytaç. Dan Alhamdulillah aku diterima menjadi muridnya.  Saat itu tidak ada seorang kaligrafer pun yang bisa didatangi untuk belajar kepadanya berkali-kali kecuali kepada Hamid Aytaç. Beliau adalah kaligrafer terbesar pada akhir abad 20 ini. Saya sangat bangga bisa belajar kepada beliau. Hubunganku dengan beliau sebagai murid berlangsung sampai beliau wafat. Beliau adalah generasi terakhir dari mata rantai kaligrafer Turki Usmani. Nama Hamid Aytaç telah dikenal hingga ke seluruh penjuru. Aku berdo’a semoga beliau agar mendapat rahmat dan ampunan Allah swt.”

Syekh Hasan Celebi juga bercerita bahwa keadaan ekonomi Hamid Aytaç di akhir masa-masa hidupnya kurang baik.  Syekh Hasan mengatakan: “pada salah satu kesempatan saya berkunjung ke tempat Hamid Aytaç untuk belajar. Beliau lantas menunjuk kepada salah satu karya yang beliau tulis untuk salah satu muridnya. Lalu saya berkata, ‘jika belum ada yang punya, maka saya akan koleksi karya itu’. Kemudian saya tanya harganya, beliau tidak mau mengatakan. Maka saya keluarkan semua uang yang saya bawa saat itu. Bahkan jika masih punya lebih, maka akan saya berikan semuanya untuk mengganti karya itu. Namun demikian guruku mengambil uang yang ada tanpa bertanya lagi. Karena memang beliau sangat membutuhkan. Terkadang beliau membawa beberapa karya kaligrafi yang telah dibuatnya untuk dijual. Bisanya kepada orang yang telah beliau kenal. Mereka lalu memilih yang mereka suka, tentu saja dengan harga yang lebih murah dari yang diinginkan oleh Hamid Aytaç“.

Baca Juga:   MKR-UIN Surabaya; Menggali Potensi Baru

“Semasa sakit, beliau tinggal di rumah sakit selama kurang lebih satu setengah tahun. Aku selalu menjenguk beliau setidaknya sekali atau dua kali setiap minggu. Demikian pula Prof Akmaluddin Ihsanoglu, direktur IRCICA saat itu. Karena itulah, Hamid Aytaç kemudian menghadiahkan kepada markaz IRCICA semua yang ada di tempat kerjanya. Adaqolib karya kaligrafi, contoh-contoh kaligrafi, karya kaligrafi yang sudah jadi, juga kartu-kartu nama buatan beliau. Bahkan sket tulisan kaligrafi yang masih belum jadi juga beliau hadiahkan. “

“Suatu hari ketika masih di rumah sakit beliau berwasiat ‘jika nanti aku mati, aku ingin kamu yang menulis syahid kubur (batu nisan) untukku dengan tulisanmu. Lalu tolong bawa ke Yusuf Kocak Savas (tukang batu).’ Akan tetapi karena masalah administrasi, permintaan beliau baru bisa aku penuhi setelah 15 tahun dari wafatnya. Juga tukang batu yang beliau minta sudah meninggal, maka kami bawa tulisan itu untuk dipahat kepada tukang batu yang lain.”

Video Dokumenter Hamid Aytac oleh IRCICA

“Pada saat menjalani perawatan di rumah sakit itu juga, IRCICA memberi kabar bahwa markaz akan menyiapkan sebuah rekaman film documenter tentang Hamid Aytaç. Ketika hari pembuatan film tersebut, beliau yang sudah lemah dipindahkan dari rumah sakit ke markaz IRCICA. Meskipun sulit memindahkan beliau karena sebab sakit dan lemah, namun keadaan beliau berubah ketika melihat pena dan tinta. Terlihat bahwa semangat hidup beliau tumbuh kembali. Sungguh orang seperti Hamid Aytaç telah menghabiskan waktunya di antara pena dan tinta. Jika terpisah dari alat-alat tersebut, beliau ibarat kebun yang kekeringan karena kehilangan air. “

“Untuk pengambilan gambar, aku menyiapkan tempat tinta kuno dan pena serta kertas muqohar kualitas tinggi. Kertas  tersebut peninggalan al-Hajj Ahmad Kamil Akdik, yang aku peroleh dari muridnya Kamal Batanay. Sementara Hamid Aytac sendiri, beliau biasanya memakai kertas yang beliau buat sendiri dengan putih telor dan beberapa bahan kimia. Kertas muqohar yang dibuat dengan teknik kuno memerlukan waktu minimal satu tahun untuk bisa ditulisi. Namun Hamid Aytac dengan tekniknya sendiri, bisa membuat kertas muqohhar yang bisa dipakai setelah empat jam saja.”

“Ketika Hamid Aytac melihat kertas, tinta dan pena di depannya, terlihat beliau tidak sabar untuk segera menulis. Beliau lantas mengambil pena jaly yang sulit dipakai menulis, karena lebarnya sekitar 12 mm. kemudian beliau menulis (Allahu wahdahu laa syariika lah) tanpa membuat sket dari pensil untuk menentukan letak-letak huruf. Kemudian menuliskan tauqi’ beliau (hamid) pada ‘karya langsung’ ini. Dan di akhir, beliau diminta untuk menulis titik, sebagai tanda selesainya pengambilan gambar untuk video documenter tersebut. Dan titik ini merupakan titik terakhir yang beliau goreskan sepanjang perjalanan kehidupan seni beliau sebelum akhirnya wafat.”

Kata-kata Hamid Aytac yang Terkenang

Hubungan antara Hamid Aytac dengan muridnya, Musthafa Halim sangatlah erat. Bahkan lebih dari sekedar hubungan guru-murid. Ketika Musthafa Halim meninggal, konon Hamid Aytac bertemu dengannya dalam mimpi. Terlihat saat itu Musthafa Halim sedang menulis sangat dengan cepat, lalu Hamid Aytac bertanya “bagaimana bisa kamu menulis tsuluts dengan cepat seperti ini?”. Lalu Musthafa Halim menjawab “mereka (para kaligrafer sebelum kita) mengajari kami di surga menulis dengan cepat seperti ini. Setelah kejadian ini, Hamid Aytac sering berkata “selama di surga kelak ada pena bambu dan kertas, saya tidak peduli dengan kematian”.

Begitulah banyak kesan mereka tentang kaligrafer Hamid Aytac, Semoga Allah merahmati tokoh kaligrafer besar ini. Rahmatullahi ‘alaihi rahmatan waasi’atan. Amiin. [muhd nur/ hamidionline]

LEAVE A REPLY