Kebaikanmu yang Mengalir

342
kebaikan mengalir


Ilmu adalah salah satu faktor ikatan yang kuat di antara para pencari ilmu. Karena ilmu berdiri di atas dasar kaidah-kaidah, rahasia-rahasia, serta cahaya Ilahi. Karena itu pula, ikatan ilmu merupakan penyebab ikatan kemanusiaan terkuat yang pernah ada, dalam sejarah peradaban bangsa-bangsa.

Demikian pula hubungan yang terjadi antara guru dan murid, tidak pernah lepas dari etika dan saling menghormati. Hubungan antara keduanya berdasarkan transaksi memberi dan menerima, bukan transaksi jual jasa dan membeli. Dasar inilah yang menjadikan para ulama berlomba membedah dan meletakkan hukum serta kaidah pokok di dalamnya. Sehingga muncul buku-buku yang membahas kaidah hubungan tersebut lalu menjadikannya sebuah ‘adab’. Yang pada gilirannya, adab tersebut menjadi syarat yang harus dimiliki oleh setiap guru dan murid, sebelum keduanya terlibat dalam transaksi ‘memberi dan menerima’ tadi.

Karena itulah, muncul banyak pendapat yang mendahulukan pentingnya tarbiyah (pendidikan) daripada ta’lim (pengajaran). Di mana mayoritas domain tarbiyah berisi hukum-hukum yang membahas tentang akhlak serta sifat-sifat terpuji yang harus dimiliki seorang guru dan murid. Secara garis besar, seorang guru memberikan ilmunya supaya mendapatkan berkah dari ilmu bermanfaat. Sementara seorang murid, hendaknya hormat guru, tamak ilmu, lalu berusaha untuk menjaga serta melesatarikannya dengan penuh amanah.

Satu masalah penting dalam menyangkut adab, yang kerap kurang mendapat perhatian, bahkan sering salah dalam mengamalkan, yaitu masalah memberi. Barangsiapa yang dikaruniai ilmu di antara menusia, maka bisa dipastikan bahwa dia dianugerahi otoritas dalam ilmu tersebut. Sehingga karena ilmu yang melekat padanya, lingkungan mengormatinya.

Maka hendaknya orang tersebut tidak menghilangkan kehormatan dan kepercayaan yang telah diberikan oleh lingkungannya, dengan memelihara tamak dalam hatinya dalam rangka mempertahankan otoritas tadi.

Ketika masa mengajar, bisanya seorang guru memberi ilmu kepada muridnya dengan penuh kemurahan hati, bahkan memberikan semua yang dia punya dengan penuh kemudahan. Sehingga si murid menjadi paham dan semakin kuat dalam memegang amanah ilmu tadi. Namun ketika murid yang bersangkutan telah mencapai fase kematangan, datang gangguan dalam hati guru tersebut.

Baca Juga:   Kaligrafer; Bisik Cinta Refleksi Keprihatinan

Gangguan tersebut samar, dari hati, berusaha menggugat apa yang telah dia berikan kepada si murid dengan mengingat dan menghitung-hitung betapa banyak dia telah dia korbankan dan dia keluarkan. Samar, dan nyaris tanpa disadari, inilah penyakit zaman modern yang menjadi ciri kemunduran berfikir.

“pergilah kepada fulan, untuk menyempurnakan ilmumu kepadanya, karena ilmuku telah habis, dan telah kuberikan semuanya kepadamu.”

Sejarah telah memberi pelajaran kepada kita sebuah cerita menarik. Dalam sebuah majelis ilmu, jika seorang guru merasa bahwa muridnya telah menyelesaikan belajar kepadanya, maka ia akan mengarahkan muridnya kepada guru lain, lalu memberi support dan mendoakannya.

Muhammad Syauqi adalah contoh yang nyata. Ketika beliau menyelesaikan belajarnya kepada sang paman; Hulushi, maka pamannya berkata: “Aku telah memberimu semua yang aku punya, karena itu aku sarankan supaya kamu melanjutnya belajarmu kepada Musthafa Izzat Kadiaskar, karena beliau lebih tau daripada aku.”

Inilah akhlak para ulama yang menghiasi kehidupan mereka sehingga menorehkan tinta emas. Karena apa yang dilakukan adalah semata-mata membentuk sebuah peradaban keilmuan, yang berdiri atas dasar mendahulukan maslahat umum demi umat, dan meninggalkan kepentingan dunia sesaat juga keinginan pribadi mengejar duniawi.

Problem nyata dalam pengajaran saat ini adalah munculnya diktatorianisme dalam ilmu yang ditimbulkan oleh miskinnya ilmu. Tidak sedikit hubungan guru dan murid yang bermula harmonis, harus berakhir dengan dengki dan permusuhan. Sangat mustahil seseorang itu iklas memberi, jika tujuannya hanya untuk kepentingan diri dan maslahat pribadi. Karena itu, seorang guru yang tidak mau diungguli oleh muridnya, tidaklah pantas untuk menjadi guru dan teladan.

Muridmu wahai guru, adalah kebaikanmu yang mengalir, dan buah dari ilmumu yang abadi. Karena itu ikhlaslah dalam mendidik dan mengajar, jangan pamrih dan menanti ganti…

Saudaramu, Zaki al Hasyimi
25/02/2017

*dialihbasakan oleh Muhammad Nur, dengan beberapa penyesuaian. [muhd nur/ hamidionline.net]