Cerita dari Karantina Khot di Darul Qur’an Bersama Syekh Belaid Hamidi

Pesantren Darul Qur’an yang diasuh oleh K.H Yusuf Mansur memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan pesantren lainnya. Jika pesantren lainnya libur saat Ramadan, justru Darul Qur’an menjadi semakin ramai. Selain itu, terdapat markas Khat Al-Quran yang dipimpin oleh Ust. Alim Gema Alamsyah yang tahun ini membuat agenda karantina khat intensif yang langsung dibimbing oleh Syaikh Belaid Hamidi. Meskipun kegiatan ini perdana, namun antusias para peserta cukup ramai. Hal itu terlihat dari peserta yang datang dari penjuru daerah nusantara, untuk bersama-sama mengisi Ramadan dengan beribadah dalam bentuk mengkaji khat al-Quran dan menambah pengetahuan.

Daya tarik dari karantina ini adalah ditempatkannya para peserta di asrama selama dua pekan acara. Otomatis mereka merasakan indahnya mondok lagi. Namun bedanya, kali ini adalah bulan Ramadan serta dalam rangka mempelajari dan mendalami Khat Al-Quran. Dengan demikian, seluruh peserta memiliki ketersambungan intelektual (sanad) dengan Syaikh Belaid Hamidi dan guru-guru khat di atasnya.

Sanad dalam tradisi intelektual pesantren menjadi syarat penting untuk legitimasi keilmuan seseorang. Tanpa sanad yang tersambung, keahlian dalam bidang pengetahuan seseorang bakal diragukan. Sanad yang tersambung hingga ke peletak kaidah dasar memberi otoritas akan pemahaman rahasia huruf sebagaimana yang dikehendaki oleh penulisnya.

Syaikh Belaid Hamidi merupakan salah satu juri musabaqah khat internasional di IRCICA Turki, beliau juga telah menulis Al-Quran sebanyak 8 kali, serta memiliki sanad dalam 6 jenis khat dari masyayikh khattath Turki. Beliau menyelesaikan belajar khat Riq’ah, Diwani, Diwani Jaly, Nasta’liq dan Ta’liq Jaly, serta Naskhi dan Sulus. Pada Khat Naskhi dan Sulus, Syaikh Belaid belajar kepada khattath Turki terkemuka, Syekh Hasan Celeby. Syekh Hasan sendiri memiliki sanad keilmuan yang bersambung pada Syaikh Hamid Al-Aytac al-Amidi.

Sedangkan pada khat diwani, jaly diwani serta nasta’liq, Syaikh Belaid mempelajarinya dari Prof. Ali Alparslan, yg satu profesor kesenian di Univeritas Marmara, Istanbul. Pada jenis diwani dan diwani Jaly, prof. Ali Alparslan memiliki ketersambungan sanad kepada syaikh Mustafa Halim, salah satu penulis di diwan hamayun dan berlanjut pada Syaikh Farid Bik, rois pada diwan Hamayun, dan murid Sami Afandi. Sedangkan pada nasta’liq Syaikh Belaid Hamidi berguru pada sang profesor selama 5 tahun sejak tahun 2000 hingga 2005. Beliau merupakan pewaris terakhir khat nasta’liq turki yg diberikan oleh profesor Ali Alparslan sebelum wafatnya. Sanad nasta’liq dari Prof Ali Alparslan bersambung kepada khattath Najmuddin Oqyay, murid Sami Afandi, murid Ali Haidar dan Ismail Hakki Kubrizade, keduanya adalah murid dari Yasarizade Mustafa Izzat, murid dan putra dari Muhammad As’ad al-Yasari, peletak kaidah nasta’liq madrasah Turki.

Kembali kepada acara karantina khot, para peserta yang datang dari berbagai daerah berjumlah kurang lebih 15 orang mulai dari perwakilan syamil Al-Quran Bandung, pesantren Manahijus Sadat Rangkas Bitung, cabang Daqu Semarang, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Sakal Jombang, IAIN Jember dan PP. Darus Sholah Jember.

Kegiatan dimulai sejak tanggal 2 Romadhan hingga 15 Romadhan 1440 H atau tanggal 07 Mei hingga tanggal 20 Mei 2019 berpusat di Gedung Ad-Dhuha lantai 6. Fasilitas ini diberikan oleh Pesantren Darul Qur’an di bawah pimpinan K.H Ahmad Jameel, ketua Yayasan Darul Quran pusat di bidang pendidikan.

Baca Juga:   MKD (Musabaqah Khat Diwani) ke-II JDFI UIN Maliki Lahirkan Kaligrafer Unggul

Sementara rutinitas tashih harian di mulai dari pukul 09.00 WIB dan berakhir pada pukul 15.00 WIB setiap hari. Sedangkan materinya adalah kitabah i’tiyadiah, pelajaran lanjutan khat sesuai masing-masing peserta dan pengenalan khat naskhi bagi peserta lanjutan. Di antara peserta yang ikut tahun ini adalah saudara Nafang Permadi (juara 1 lomba internasional IRCICA Turki di kategori Diwani dan Diwanj Jaly tahun 2019) yang saat ini sedang melanjutkan pelajarannya di khat nasta’liq, juga Zainul mujib (khattat dan muzakhrif Indonesia), Sayed Fitri Adhi (alumnus Universitas Al-Azhar Kairo Mesir, Ketua Asosiasi Kaligrafer Arab Murni Indonesia Mesir (AFANIN) 2013-2017), Yasir Amrullah (Juara 1 musabaqah diwani Nasional di UIN Malang) dan Fauzan (Mujaz terbaru pada khat Riqah, diwani dan diwani Jaly Darul Quran).

Sedangkan di pelajaran Diwani Jaly ada Umi Nisa (pemegang rekor khattatah termuda di Dunia), Fitria Dewi Masyitoh (juara 2 musabaqah regional IRCICA di Singapura 2018) dan Muhammad Yusuf Sholikhuddin (markaz khot Gontor, saat ini mengabdi di Pondok Manahij Sadat dan pendiri markaz khot Kalimah). Sementara di khat diwani ada Jimly Azhari (Juara Harapan 2 musabaqah Khat Internasional di kategori khat Magribi IRCICA tahun 2016) asal Jember.

Adapun peserta lainnya, masuk dalam kategori peserta umum dan difokuskan pada pelajaran tahsin kitabah i’tiyadiah yang digawangi oleh Ustadz Alim Gema Alamsyah. Peserta kategori ini sebagian mereka berasal dari para guru tahfidz PP Darul Quran dan Penerbit Syamil Quran, Bandung.

Selain kegiatan diatas, para peserta di berikan materi tambahan dan refreshing, seperti tahsin qiroah dan tahfidz selepas sholat subuh, memanah dan berkuda. Jimly Ashari, salah satu peserta menuturkan bahwa baginya, kegiatan ini di luar dugaan. Karena ternyata sangat banyak manfaat yang bisa diambil, apalagi pembelajaran langsung dibimbing oleh Syaikh Belaid Hamidi. Tidak mengherankan, jika kemudian dia berhasil mengkhatamkan dars diwani selama 2 hari saat karantina khot.

Peserta lain, Sayed juga mengungkapkan kebahagiaan dan kesyukuran nya dapat menyambung pelajarannya kembali bersama Syaikh Belaid Hamidi pasca 5 tahun tidak bertemu dengan beliau sejak pulang dari mesir. Sayed adalah salah satu peserta yang datang dari serambi Mekah, Aceh.

Adapun kesan yang diutarakan oleh Zainul Mujib, salah satu peserta perwakilan SAKAL jombang adalah kebahagiaannya bisa langsung bertemu dengan Syaikh, karena setiap hari selalu bertambah ilmu dan pemahaman mendalam terhadap kajian khat, mulai dari kajian sejarah, metode pengajaran, membuat tarkib yang bagus, menganalisis karya dll.

Sedangkan peserta yang fokus pada pembelajaran tahsin kitabah i’tiyadiah menargetkan untuk selesai (khatam) mempelajari seluruh isi kurrosah yang di ajarkan langsung oleh syaikh belaid sekaligus sebagai pengarang kitab. Diharapkan, kedepan mereka dapat menyebarluaskan ilmu ini melalui kegiatan yang diselenggarakan oleh Syamil Quran.

Semoga kegiatan karantina intensif ini dapat memberikan manfaat dan bekal tambahan dalam memperdalam ilmu khat Al-Quran, serta bisa dilaksanakan di tahun mendatang, mengingat manfaatnya yang luar biasa. Aamin. (Tangerang, 12 Mei 2019, Yasir Amrulloh)