Kaligrafi Berkualitas Berawal Dari Guru Handal

kaligrafi

[dropcap]P[/dropcap]ara Ulama Maestro kaligrafi menggoreskan pena mereka dalam pelbagai lauhah berupa teks ayat-ayat qur’an, hadist-hadist nabawi, hikmah, dan lain-lain. Teks tersebut menjadi bagian dari ruh yang mewarnai tulisan mereka dengan berbagai macam bentuk gaya yang indah nan mempesona sebagai media dakwah dalam menyampaikan risalah Islam. Salah satu nash pernah ditulis oleh para kaligrafer di antaranya Muhammad Syauqi dan Sami Afandi adalah:

عن علي بن أبي طالب كرم الله وجهه و رضي الله تعالى عنه: الخط مخفي في تعليم الاستاذ وقوامه في كثرة المشق ودوامه على دين الإسلام.

Dari Ali bin Abi Thalib, ra. Beliau berkata: “kaligrafi (khat) itu tersembunyi di dalam pengajaran seorang guru, dan kekuatannya ada dalam banyak menulis (latihan) dan keabadiannya ada pada agama Islam.

Kaligrafi merupakan ilmu keterampilan dalam menulis dan seni menyusun huruf yang langsung diperoleh dari seorang guru. Proses transformasi keimuan khat yang baik dan benar bisa dijamin lewat kesinambungan proses dan kesakralan yang meliputinya. Artinya adalah bahwa keistimewaan dari proses tersebut berupa diperolehnya sebuah ilmu meskipun itu sedikit, dari guru yang keilmuannya bersambung kepada guru sebelumnya dengan cara yang baik dan benar yang dalam tradisi keilmuan Islam dikenal dengan bersanad (Sun’atuna al-khattiyah: 166).

Titik penting dalam pemeliharaan bersambungnya proses transformasi tersebut hingga sampai kepada masa kini adalah kaidah khattiyah sebagai sebuah nilai dari ekperimen yang diakukan selama ratusan tahun dan telah teruji oleh zaman. Tentunya pengalaman ini merupakan kegiatan ilmiah para khattath pakar dan ahli yang berkopeten dalam bidangnya.

Belajar Kaligrafi dan Peran Guru

Ust Belaid Hamidi, sebagaimana yang kami dengar dari beliau dalam beberapa kesempatan, memaknai kalimat “ta’limul ustadzi” yang dalam penggalan tersebut menggunakan “alif lam” litta’rif , menunjukan bahwa kalimat ustadz, berarti guru yang sudah diketahui identitasnya, dalam hal ini guru tersebut adalah seorang khattath yang telah mendapatkan hak mengajar berupa ijazah* dalam khot tertentu sesuai dengan spesifikasi keilmuannya. Jadi untuk mendapatkan kualitas tulisan yang bagus seyogyanya belajar dari seorang guru yang berkualitas pula. Dan jika merujuk kepada kalimat di atas, adalah guru yang telah mendapatkan ijazah.

Baca Juga:   Ustadz Dawud Bektasy; Sang Mikroskop Kaligrafi

Di sisi lain, sifat tulisan yang baik tidak terlepas dari unsur busholah (kompas/ kemiringan huruf) dan hubungan huruf tersebut dengan satr (garis). Selain itu, para ulama’ rasm dan khattah menambahkan bahwa tulisan yang baik memiliki beberapa unsur yang secara hierarki adalah jelas dibaca, mudah ditulis, dan indah dipandang.

Maka dalam hal ini, seorang pelajar hendaknya selalu menjaga posisi agar tulisan tetap jelas di atas keindahan. Selalu memperhatikan garis sebagai pedoman untuk meletakkan dimana huruf harus ditulis. Apakah diatas garis, di bawah atau berada ditengahnya, karena jika huruf tidak teratur, maka sisi keindahan tulisan akan otomatis berkurang.  Selain itu, juga penting untuk mejaga jarak konstan dari setiap huruf ke huruf tanpa melalaikan kedetailan kaidah pada setiap hurufnya, lalu menyelesaikannya dengan sempurna.

Untuk mendukung unsur tersebut di atas, maka menjaga keadaan pena tetap baik dan keenceran tinta agar tetap stabil serta kertas yang baik juga merupakan syarat mutlak yang harus dilakukan untuk mendapatkan tulisan yang berkualitas.

[*] Merupakan izin dari seorang guru yang diberikan kepada muridnya yang telah menyelesaikan kaidah khat tertentu yang telah dipelajari darinya untuk membubuhi tanda tangannya dibawah karya tulisan yang dibuat.

(Dinukil dari beberapa buku; Sun’atuna al-Khatiyah, Fannul Khat, dan Amsyaq al-Khattath Muhammad Syauqi fi al-Stulust wa al-naskh.) [yasir/ hamidionline]