Kaligrafer Wanita Dalam Pentas Sejarah

372
kaligrafer wanita

Membincang tentang seni kaligrafi, tidak lengkap jika belum menyinggung tentang keberadaan para kaligrafer wanita yang ikut berperan penting dalam sejarak tumbuh kembangnya seni mulia ini. Hanya saja, mungkin kurang banyak sumber yang bisa memberikan keterangan dan data yang memuaskan. Mengingat masih kurangnya buku yang membahas tentang biograf para kaligrafer. Jika pun ada, belum tentu dalam buku tersebut disertakan biografi kaligrafer wanita. Karena itulah, tulisan ini mencoba melacak keberadaan para kaligrafer wanita tersebut.

Sebelumnya perlu digarisbawahi, bahwa pembahasan mengenai kaligrafer wanita kali ini, sebatas menelisik keberadaan para khatthatah zaman klasik, sejak zaman rasulullah hingga era Turki Usmani. Sementara untuk zaman sekarang bukan hal yang sulit untuk menemukan kaligrafer wanita. Hampir di setiap Negara di mana Kaligrafi berkembang selalu ada wanita yang berperan di dalamnya. Bahkan dalam even skala nasional maupun interasional, tidak jarang kita jumpai kaligrafer wanita keluar sebagai pemenangnya. Karena itulah, pembahasan dalam tulisan ini hanya terbatas pada kaligrafer wanita klasik yang pernah mewarnai khazanah kaligrafi dunia.

Salah satu buku paling bagus dan lengkap yang membahas seni kaligrafi adalah buku “Tarikh al-Khatt al-‘Arabiy wa Âdâbuhu” karya monumental seorang pakar sejarah sekaligus kaligrafer Muhammad Thahir al-Kurdi al-Makkiy (1321-1400 H). Kaligrafer dan ahli sejarah yang azhary (alumni al-azhar) pernah menamatkan diplom khot sekolah kaligrafi Malakiyyah (sekarang madrasah Khalil Agha) di bilangan Babusy Sya’riah, Kairo. Beliau juga dikenal dengan penulis “Mushaf Makkah” dan pernah menulis ayat al-Qur’an di atas media biji-bijian seperti beras dan gandum. Di antara karya beliau yang berupa tulisan di atas biji, sampai sekarang masih bisa anda temukan di Perpustakaan al-Azhar yang terletak satu kompleks dengan Masyikhatul Azhar as-Syarif di daerah Darrasah.

Dalam buku setebal 552 halaman ini, ada salah satu bab yang khusus menyebutkan tarjamah (biografi) para khatthatah (kaligrafer wanita). Setidaknya ada 16  Kaligrafer yang terekam oleh sejarah ditulis dalam buku ini. Tentu saja, data tersebut beliau dapat dengan susah payah dan melalui penelusuran beberapa buku sejarah yang memuat data mereka.

Mengawali pemaparan tentang kaligrafer wanita, Syaikh Thahir Kurdi mengungkapkan pujiannya tentang wanita yang dianugerahi kesempatan untuk belajar dan melestarikan tulisan indah al-Qur’an ini.

Jika seorang wanita bisa mengumpulkan dalam dirinya antara keindahan penciptaan yang telah dianugerahkan Allah swt. kepada mereka dengan keindahan tulisannya, sejatinya dia telah mendapatkan dua keindahan dan meraih dua kebahagiaan. Ahmad Ibnu Shâlih bin Basyîr, ketika mensifati seorang wanita yang tulisannya bagus mengatakan bahwa keindahan tulisannya bagaikan keindahan penciptaannya, hitam tintanya ibarat hitam rambutnya, putih kertasnya seputih raut wajahnya, pena yang dia pakai untuk menulis adalah bagian dari keindahan jari-jarinya, demikian di antara pujian tersebut.

Selanjutnya beliau menulis beberapa nama kaligrafer wanita yang menurut beliau telah ikut serta mewarnai sejarah kaligrafi sepanjang sejarah peradaban Islam .

Ummul Mukminin, Hafshah bintu Umar ra.

Beliau adalah isteri Rasulullah saw. Putri dari Umar bin Khattab ra. Belajar khat dari asy-Syifâ’ bintu Abdullah al-‘adawiyah. (Dikutip dari kitab “Al-Ishâbah” dan “al-Istî’âb”)

Asy-Syifâ’ bintu Abdullah al-‘Adawiyah ra.

Dia adalah putrid dari Abdullah bin ‘Abd asy-Syams al-‘Adawiyah al-Quraisyiyah. Belajar menulis dari Mu’awiyah dan Yazid, keduanya adlah putra Abu Sufya. Asy-Syifâ’ masuk Islam sebelum hijrah, mempunyai putra bernama Sulaiman bin Abi Hatmah. Disebutkan bahwa asy-Syifâ’ adalah nama sebutan, sedang nama aslinya adalah Laila. Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. suatu saat berkunjung ke rumahnya dan istirahat di sana. Asy-Syifâ’ juga meriwayatkan sebanyak 12 hadis dari Rasulullah saw. (Diambil dari kitab “al-Ishâbah” dengan beberapa penambahan)

Zainab, lebih dikenal dengan sebutan Syahidah Dinawariyyah.

Nama lengkapnya adalah Zainab bintu Abu Nasr bin al-Faraj bin Umar al-Ibari. Berasal dari Dinawarih. Lahir dan wafat di Baghdad. Beliau dikenal sebagai seorang ahli ilmu, ahli hadis dan penulisnya, banyak yang datang ke majelisnya untuk mendengar hadis. Menulis khat dengan bagus sehingga banyak yang belajar kepadanya. Diantaranya adalah Yaqut al-Malaki, penulis Sulthan Mulkasyah. Zainab wafat hari Ahad setelah salat Ashar tanggal 13 Muharram 574 H. Usia beliau mendekati 90 tahun. Dimakamkan di Bâb Abzar.

‘Tsana`, jariyah dari Ibnu Fayuma.

Tidak banyak yang diketahui darinya, juga tentang tuannya Ibnu Fayuma. Tetapi dia dikenal sebagai penulis yang mempunyai tulisan bagus. Belajar khat dari Ishâq bin Himâd, yang hidup semasa al-Mansur dan al-Mahdi. Tidak diketahui juga kapan meninggalnya.

Fathimah al-Baghdadiyyah.

Dia adalah jariyah dari al-Mu’tashim Billah. Lebih dikenal dengan sebutan al-Gharibah. Dikenal karena keindahan khatnya, sehingga disejajarkan dengan khatnya Ibnu Hilal. Fathimah juga dikenal dengan penyayi yang mempunyai suara bagus, selain itu dia juga bisa memainkan alat musik. Meninggal pada tahun 74. (Diambil dari kitab “Tuhfah al-Khatthatin” yang ditulis dengan bahasa Turki).

Khadijah bintu Muhammad bin Ahmad.

Asalnya dari Khurasan (sekarang Iran). Bapaknya adalah seorang Qadhi di daerah Nisabur, ulama terkenal dengan nama Abu al-Rajâ` al-Jurjânî. Khadijah menulis khat dengan sangat indah. Wafat tahun 372 H, pada usia lebih dari 100 tahun (Dari kitab “Tuhfah”)

Lubna bintu al-Maula

Asalnya dari Andalus. Beliau adalah penulis Khalifah al-JMustanshir Billah. Menulis khat dengan sangat bagus, serta menguasai kaidah-kaidahnya. Selain itu, beliau dikenal sebagai dengan kejeniusan dalam ilmu hisab, ilmu ‘arudl, dan juga seorang penyair. Wafat pada tahun 394H. (Dari kitab “Bughyah al-Wu’ât fî thabaqât al-Lughawiyyîn wa an-Nuhât)

Fathimah bintu al-Hasan bin ‘Ali al-Aqra’

Biasa dibanggil Ummu al-Fadl. Berasal dari Baghdad dan termasuk seorang khattaht yang sangat teliti dan bagus tulisannya. Beliau mengikuti kaidah yang telah dibuat oleh Ibn al-Bawwâb. Diceritakan bahwa beliau penah menulis pada selembar kertas dan diserahkan kepada al-Wazîr al-Kandarî, lalu sang wazir diberinya uang sebesar 1000 dinar. Beliau wafat tahun 470. (Dari kitab “Syadzarat adz-Dzahab fî akhbâri man dzahab”)

Bad Syâh Khâtûn

Dia adalah puteri dari Muhammad bin Hamid Tabanku. Selain sebagai khattathah, beliau dikenal juga sebagai penyair dan sastrawan. Pernah menulis mushaf al-Qur’an dengan keindahan tulisan yang luar biasa. Namanya juga disebutkan dalam “Mir`ât al-Adwâr” dan kitab “an-Nâkhwah” yang ditulis dengan bahasa Turki. Tidak diketahui tahun wafatnya. Tetapi bisa diketahui bahwa beliau pernah hidup sekitar tahun 695 H, seperti yang disebutkan dalam kitab “Tuhfah al-Khatthâtîn” dalam bahasa Turki.

Sittu al-Wuzarâ` bintu Muhammad bin ‘Abd al-Karîm

Berasal dari Damaskus. Menulis khat dengan indah dan bagus. Belajar Fikih dan Qira’at dari bapaknya. Tidak diketahui tahun wafatnya. Tetapi beliau pernah hidup sekitar tahun 737 H. Umur beliau lebih dari 70 tahun seperti disebutkan dalam kitab “Tuhfah”.

Fathimah bintu Ahmad bin ‘Ali al-Baghdâdiyyah

Belajar Fikih, menulis, dan belajar khat dari bapaknya yang meninggal tahun 694 H. Menulis khat dengan sangat indah dan halus. Pernah menulis “Majma’ al-Bahrain” dengan tulisan tangannya. Tidak diketahui tahun wafatnya.

Baca Juga:   Belajar Kaligrafi; Belum Menanam Mau Mengetam?

Fathimah bintu Abd al-Qâdir bin Muhammad bin ‘Utsmân.

Beliau terkenal dengan Bintu Quraimzân. Salah seorang Alim wanita disegani yang berasal dari Halab. Mempunyai tulisan yang indah. Banyak menulis buku dengan tulisan tangannya sendiri. Dikenal juga dengan kefasihannya dalam berbicara dan kesederhanaannya. Selain itu, beliau terkenal dalam menjaga salatnya, dan menjaga kehormatan dirinya. Lahir pada tanggal 4 Muharram 878 H, wafat tahun 966 H. (Dari kitab “Syadzarat adz-Dzahab fî akhbâri man dzahab”)

Fâthimah Anî Syahrî

Berasal dari Âsitânah (nama daerah di Turki). Terkenal dengan khatnya naskhinya yang indah. Beliau juga penyair yang hebat. Tidak diketahui tanggal wafatnya. Tetapi diketahui bahwa beliau hidup sekitar tahun 1122 H, seperti yang ada di kitab “Tuhfah”.

Fâthimah bintu Ibrahîm

Berasal dari Âsitânah, bapaknya seorang Qadli. Belajar khat dari suaminya, Tauqati Mahmud Afandi, dan mendapat ijazah darinya.  Menguasai khat Naskh, Tsuluts dan Tsulus Jali. Tidak diketahu tahun wafatnya. (Diambil dari kitab “Tuhfah”).

Halîmah bintu Muhammad Shâdiq

Berasal dari Âsitânah. Bapaknya seorang guru, dan imam dari wazir Khatîb Zâdah Yahyâ Bâsyâ. Halîmah belajar khat sejak kecil hingga menguasai kaidah-kaidahnya sebelum dia dewasa. Mendapat ijazah dari Muhammad Râsim Fâdhil pada tahun 1169 H. Tidak diketahui tahun wafatnya. Diambil dari kitab “Tuhfah”).

Zâhidah Hânim Karîmah ‘Ali Bâsyâ

Berasal dari Âsitânah. Belajar khat dari khattath masyhur Musthafa ‘Izzat, dan mendapat ijazah darinya. Khatnya yang bagus dan indah banyak terdapat di masjid-masjid dan sebagian panti asuhan yang ada di Âsitânah. Tidak diketahui tahun wafatnya. Tetapi diketahui keberadaannya sekitar tahun 1290 H.  Diambil dari kitab “Khat wa khatthâthân”.

Asmâ` bintu Ahmad

Tidak ada sumber tertulis tentang beliau. Hanya saja, khattath Sayyed Affandi Ibrahim asal Mesir menyebutkan nama tersebut dalam tulisannya di Majalah Hilal. Dia menambahkan, bahwa ada lembaran bertuliskan khat yang indah dengan nama Asmâ` bintu Ahmad tertulis tahun 1277 H. Tulisan tersebut sangat indah dan bagus. Tidak diketahui juga, apakah Asmâ` berasal dari Mesir atau dari Turki. Sangat sayang, hal ini tidak bisa dilacak lebih jauh lagi.

Kûhar Syâd bintu Mîr ‘Imâd

Terkenal dengan tulisannya yang indah. Dia adalah anak tunggal di keluarganya. Khotnya mencapai puncak keindahan dan kerapihan. Tidak diketahui tahun wafatnya. Tetapi bapak beliau wafat pada tahun 1024 H. Diambil dari buku (Khath wa Khatthâthân).  Mungkin nama aslinya Jauhar, kermudian berubah menjadi Kuhar karena dialih-bahasakan.

Rusydiah Hânim

Tulisan khatnya sangat bagus. Tidak ada sumber tertulis tentang beliau. Hanya saja, Syaikh Zain al-‘Abidin al-Qandalji, pengurus (idarah) Perpustakaan al-Mahmudiyah di Madinah menyebutkan bahwa Rasydiah pernah menulis buku tentang sejarah denan tulisan tangannya sekitar tahun 1192 H. Naskah asli dari buku ini, mulanya ada pada Perpustakaan. Tetapi kemudian dipindah ke Âsitânah ketika orang-orang Turki keluar dari Mekah pada sekitar tahun 1334 H.  Syaikh Zain al-‘Abidin adalah orang yang sangat tahu seluk beluk Perpustakaan al-Mahmudiyah dan menguasai benar apa yang terdapat dalam Perpustakaan tersebut. Karenanya, cerita dari beliau bisa dijadikan rujukan.

Durrah Hânim

Tidak ada sumber tertulis mengenai khattathah ini. Tetapi Syaikh Zain al-‘Abidin mengatakan bahwa Durrah adalah putri dari Sulthan Mahmûd Khân. Khatnya sangat bagus, pernah menulis mushaf pada tahun 1172. Dulunya, mushaf tersebut masih tersimpan di Perpustakaan al-Mahmudiyah, Madinah. Tetapi telah dipindah ke Âsitânah bersamaan dengan keluarnya orang-orang Turki dari Mekah pada tahun 1334 H.

Bazm ‘Alim

Tidak ada sumber tertulis mengenai beliau. Tetapi Syaikh Zain al-‘Abidin menyebutkan bahwa Bazm adalah puteri dari Sulthan ‘Abdul Majîd Khân. Pernah menulis naskah “Dalâ`il al-Khairât”, hanya saja tidak diketahui tanggal penulisannya. Naskah tersebut pernah ada di Perpustakaan al-Mahmudiyah, lalu dipindahkan oleh orang-orang Turki ke Âsitânah. Hal ini disebabkan oleh semangat dan perhatian mereka yang tinggi dalam menjaga khazanah khat yang mahal, yang telah ditinggalkan oleh para tokoh mereka.

Asmâ` Ibrat Hanim.

Beliau adalah istri dari Jalaluddin sekaligus muridnya. Asalnya dari Âsitânah. Makamnya terletak di dekat makam Syuhri. Menulis khat dengan indah. Tidak diketahui tahun wafatnya. Diambil dari buku “Khath wa Khatthâthân” (bahasa Turki)

‘Aidah bintu Muhammad al-Juhainiyyah.

Beliau adalah istri Wazîr Umar bin Syîrz. Selain menulis khat dengan bagus, beliau juga ahli Nahwu dan seorang Penyair. Tidak diketahui tahun wafatnya.

Istri as-Sarâdâr ‘Abdul Quddûs Khân (penguasa Afghanistan)

Beliau adalah wanita asal Kabul (ibu kota Afghanistan) yang dihormati. Berasal dari keturunan yang terhormat. Pintar dalam ilmu sastra, dan belajar hingga jenjang yang tinggi. Menulis khat dengan keindahan luar biasa yang sulit dicari tandingannya. Khatnya menarik perhatian para khattath hingga sekarang. Terdapat satu foto karya beliau yang dimuat dalam “Majalah Kabul”, dimana dia menulis surat al-Fatihah lengkap dengan khat Farisi. Selain kaidahnya yang detail dan indah, karya tersebut dilengkapi dengan zahrafah warna emas.  Meskipun dikenal karena tulisannya yang Indah, namun nama aslinya masih disembunyikan. Mengingat adat yang ada di Afghanistan demikian adanya. Bisa jadi, beliau masih hidup sampai sekarang.

Bintu Khudâwirdî

Tidak diketahui nama aslinya. Tetapi dalam kitab “Akhbar al-Awwal” karya al-Ishaqî disebutkan: Pada zaman raja al-Kamil, pada bulan Syawwâl 624 H, pernah dipanggil seorang wanita dari Iskandariah yang cacat kedua tangannya (tidak punya tangan).  Kemudian wanita tersebut dibawa ke Wazir Ridwan, lalu dia menerangkan bahwa dirinya bisa melakukan dengan kedua kakinya apa-apa yang dilakukan para wanita dengan kedua tangannya. Seperti menulis, memasak dan sebagainya. Kemudian diberikan kepadanya tempat tinta, lalu dia memegang pena dengan kaki kirinya. Namun dia tidak mau menerima semua pena yang ada yang telah terpotong. Dia hanya mau menulis dengan pena hasil potongan sendiri. Karena itu, dia mengambil pisau dan meraut pena tersebut, membelah serta memotongnya dengan kaki. Lalu mengambil kertas dengan kaki kirinya, dan mulai menulis dengan kaki kanannya. Tulisan yang mana tidak kalah indahnya dengan tulisan para penulis yang memakai tangan kanan. Dia menulis tulisan dengan khat riq’ah kepada Wazir, yang mana meminta upah lebih. Wazir pun mengabulkan permintaanya lalu dia pulang ke Iskandariyah.

Makam Bintu Khudâwirdî di Iskandariah lumayan terkenal dan banyak yang berkunjung. Tepatnya berada di kawanan “Baab Rasyîd” masuk ke dalam sebelah kanan. Makam tersebut dikenal “Makam Bintu Khudâwirdî”.

Demikianlah biografi singkat beberapa kaligrafer wanita yang sempat terekam dalam sejarah panjang Seni Kaligrafi Islam. Semoga bermanfaat.

[diterjemahkan dari buku “Tarikh al-Khatt al-‘Arabiy wa Âdâbuhu”, Muhammad Thahir al-Kurdi al-Makkiy. muhd nur/ hamidionline]