Kaligrafer Indonesia Juara Pertama di Lomba 7tepe7sanat Turki

899
huda purnawadi


Kembali seorang kaligrafer muda berbakat Indonesia menorehkan prestasi yang membanggakan. Ustadz Huda Purnawadi, kaligrafer dari Pati berhasil mengungguli kaligrafer dari negara-negara lain dan memperoleh posisi pertama pada cabang kaligrafi kategori jaly sulus, pada even 7tepe7sanat International Istanbul Classic Arts Competition tahun 2017. Prestasi ini menunjukkan hasil ketelatenan, kerjakeras, kesabaran dan kesungguhan. Selain itu, prestasi beliau tidak muncul secara instant, namun perlu waktu yang panjang dalam belajar maupun berkarya. Demikian pengakuan Ustadz Huda sebagaimana dilansir oleh fokuspati.

huda purnawadi
Ustadz Huda Purnawadi, Jaly Sulus – Juara 1 lomba 7tepe7sanat 2017.

Even yang digelar oleh pemerintah kota Uskudar Turki bekerjasama dengan yayasan wakaf Klasik Turk Sanati Vakfi tahun ini merupakan kali ke-2 setelah even perdana dilaksanakan tahun 2015. 7tepe7sanat International Istanbul Classic Arts Competition ini terdiri atas beberapa cabang lomba, di antaranya adalah kaligrafi (jaly sulus dan sulus-naskhi), gilding, miniature, paper cutting,  marbling, tile dan binding. Sedangkan tujuan utama dari penyelenggaraan even ini adalah menjaga kelestarian seni-seni klasik, termasuk kaligrafi.

Selain Ustadz Huda Purnawadi, satu putra Indonesia juga masuk pada urutan ke-lima, yaitu Ustadz Syahriansyah Bin Sirajuddin dari kalimantan, pada katogori yang sama. Pada even perdana tahun 2015, Ustadz Syahriansyah juga telah berhasil memperoleh posisi yang sama, juga pada kategori yang sama.

Syahriansyah
Ustadz ŞahryanŞah Sirajuddin, Jaly Tulus – Juara 5, lomba 7tepe7sanat 2017.

Prestasi Kaligrafer Indonesia Membanggakan!

Kedua kaligrafer Indonesia di atas termasuk kedalam sederet nama kaligrafer tanah air yang produktif dalam berkarya dalam dunia kaligrafi serta aktif mengikuti perlombaan-perlombaan internasional. Untuk menyebut beberapa nama yang juga pernah mengukir prestasi di lomba kaligrafi internasional seperti; Ustadz Isep Misbah, Ustadz Teguh Prastio, Ustadz Muhammad Zainuddin, Ustadzah Nur Hamidiyah, Ustadz Feri Budiantoro, Ustadz Alim Gema Alamsyah, Ustadzah Novitasari Dewi, Ustadz Jimly Ashari, Ustadz Darmawan dan lainnya. Keikutsertaan para kaligrafer tanah air dalam even lomba kaligrafi internasional, tentu membuka cakrawala baru, dan mau tidak mau diakui memberi warna baru dalam dunia kaligrafi di tanah air.

Apalagi partisipasi kaligrafer tanah air pada even tersebut, cukup baik bahkan membawa prestasi yang patut diapresiasi. Bahkan keberadaan mereka saat ini pun diperhitungkan oleh para kaligrafer lain. Pengalaman yang membuat kaligrafer matang, seharusnya didukung oleh even serupa di tanah air, atau metode pembelajaran yang mendukung lahirnya kaligrafer dengan kekuatan huruf yang mumpuni serta penguasaan yang baik terhadap kaidah. Tidak melulu eksplorasi warna dan bentuk baru yang cenderung jauh dari kaidah, bahkan membuat para pembelajar dan kaligrafer pemula bingung.

Tantangan Lomba Kaligrafi Indonesia

Kematangan para kaligrafer tahan air dalam lomba kaligrafi internasional juga akan memberikan wawasan tentang lomba kaligrafi yang baik. Lomba kaligrafi yang benar-benar mengedepankan kualitas tulisan dan menghargai orisinalitas karya seseorang. Lomba kaligrafi juga tidak hanya soal besarnya hadiah atau banyaknya bonus. Namun tidak berarti lantas mengabaikan hak yang sepadan bagi para pemenang, bahkan menunaikan hak tersebut telah menjadi konsekuensi logis dari sebuah lomba yang baik agar bisa menjadi contoh dan teladan.

Lomba kaligrafi yang saat ini diperlukan di Indonesia menurut penulis adalah lomba yang berkesinambungan dan mengacu kepada pembentukan mental dan karakter seorang kaligrafer maupun penyelenggara lomba yang kompeten dan berdedikasi tinggi. Even lokal setidaknya menjadi pemanasan kaligrafer tahan air untuk bersaing dalam even lebih besar. Sehingga tidak berkutat dan terjebak pada model lomba dan kaligrafi yang selama ini ada, dan bahkan memaksakan diri untuk diakui eksistensinya. Karena saat ini, pintu untuk bersaing secara global telah terbuka, dan saatnya menyiapkan genarasi yang akan datang, supaya lebih bisa berkiprah lebih dari yang sekarang sudah ada. Wallahua’lam. [muhd nur/hamidionline]