Kaligrafer – Ismail Hakkı Altunbezer

82
ismail haqqi

Ismail Hakki lahir di Istanbul tahun 1290 H / 1873 M. Sejak kecil belajar tadzhib dari bapaknya yang juga seorang mudzahhib terkenal. Beliau lantas menyempurnakan belajar tadzhib pada seorang tokoh mudzahhib terkenal saat itu, Bahauddin Afandi.

Selain bakat dalam zahrafah, Ismail Hakki juga mewarisi ‘trah’ kaligrafer dari jalur bapaknya. Karena bapak dan kakeknya (dari bapak) adalah kaligrafer. Beliau belajar tsuluts dan naskhi dari bapaknya Muhammad ‘Ilmi Afandi yang juga murid dari Kadiazkar Musthafa Izzat Afandi. Belajar melukis dan memahat di madrasah “Shana`i’ an-Nafisah”. Lalu diangkat sebagai pegawai pada “Diwan Hamayuni”. Mendalami jenis khot diwani, diwani jaly, tsuluts jali dan tughra’ kepada Ismail Hakki Sami Afandi, hingga diangkat sebagai penulis tughra’ kedua dengan julukan “tughrakesy”.

Ismail Hakki mengajar khat riq’ah pada banyak madrasah. Di samping mengajar khat tughra’ dan tsuluts jaly pada “Madrasah al-Khatthatin” hingga madrasah ini ditutup pada tahun 1928 M, karena bergantinya sistem pemerintahan yang merubah kebijakan mengganti huruf arab dengan huruf latin. Sejak itu, beliau mengajar tadzhib di “Madrasah Funun Zuhrufah Syarqiyyah”. Sedangkan pada tahun 1936 mengajar materi yang sama pada “Akademi Seni Rupa” sebagai pengajar tadzhib pada cabang seni zuhrufah, di mana materinya keluar dari kaidah seni klasik. Hal inilah yang menjadikan beliau menjadapat julukan “Altun Bazar” yang berarti Pemahat Emas.

Beliau jatuh sakit sejak tahun 1945 sehingga harus meninggalkan semua pekerjaannya, hingga meninggal pada tahun itu. Jasad beliau dimakamkan satu kompleks dengan makam bapaknya di Istanbul. Sedang batu nisan beliau ditulis oleh khattath Najmuddin Oqyay. Kepiawaian Ismail Hakki terlihat pada banyaknya karya yang ditinggalkan. Pada tsuluts jaly terlihat susunan huruf beliau yang sulit namun indah dan mudah dibaca. Selain itu, tulisan tughra’ dan diwany jaly pada faramanat yang beliau tulis ketika bekerja di “diwan hamayuni) menjadi bukti bahwa beliau benar-benar menguasai dan ahli dalam jenis khot tersebut. Di samping banyak lagi tulisan-tulisannya yang tersebar di masjid-masjid dan museum. karya-karya tersebut menunjukkan kesungguuhan beliau dalam menekuni kaligrafi, sungguh-sungguh mengabdikan hidupnya untuk seni ilahi ini.
Semoga kita semua bisa meneladaninya, amiin. [muhd noer/ hamidionline]

Baca Juga:   MKR-UIN Surabaya; Menggali Potensi Baru

*İsmail Hakkı juga merupakan nama depan dari Sami Afandi, namun jika disebutkan nama Ismail Hakki saja, maka yang dimaksud adalah Ismail Hakki Altunbezer

LEAVE A REPLY