Indonesia Kembali Harum di Lomba as-Safir Irak 2019

as-safir

Satu bulan pasca di umumkan pemenang lomba kaligrafi IRCICA Turki yang menghantarkan negara Indonesia diposisi ke empat sekelas dunia, kali ini kabar gembira kembali terdengar dari dunia kaligrafi Indonesia. Bagaimana tidak, sebanyak 10 kaligrafer muda Indonesia kembali mengukir tinta emasnya di perlombaan Kaligrafi Internasional. Tidak tanggung-tanggung. Lomba tersebut di selenggarakan di Irak.

Adalah perlombaan kaligrafi internasional as-Safir yang diselenggarakan oleh Masjid Kufah dalam rangka Festival Kebudayaan Islam yang digelar setiap tahun nya. Hasil lomba yang diumumkan tanggal 16 Ramadhan 1440 H atau bertepatan dengan tanggal 22 mei 2019 lalu mencatat Enam orang dari Indonesia, dari total sembilan pemenang di kategori Khat Diwani, tiga orang di kategori khat Stulust Jaly dari sembilan pemenang dan satu orang di kategori Khat Naskhi.

Di cabang diwani, juara pertama diraih oleh saudara Mu’allimin, yang merupakan pengajar senior di PSKQ Kudus, beliau juga peraih juara pertama di perlombaan kaligrafi IRCICA Regional ASEAN di Singapura beberapa bulan yang lalu. Juara kedua disusul oleh Fitria Dewi Masyitoh, kaligrafer wanita asal Tuban, yang juga peraih nominasi ke 2 perlombaan IRCICA Regional ASEAN di Singapura. Kaligrafer kita yang satu ini dikenal sebagai wonder women, dengan segudang aktifitas pembinaan khot di Kota Malang, di samping menghidupkan khot di kampusnya UIN Maliki Malang. Aktifis Ahaly Hamidi ini telah menyelesaikan belajar kaligrafi dengan Metode Hamidi di bawah bimbingan ustadz Muhammad Zainuddin serta ustdzah Rini Yulia Maulida, murid dari ustadz Feri Budiantoro.

Menempati di urutan ketiga di cabang diwani, adalah Muhammad Hilal yang juga murid Ustadz Muhammad Zainuddin. Muhammad Hilal sebelumnya berhasil menduduki posisi kedua di perlombaan kaligrafi Internasional yang diselenggarakan oleh IRCICA Turki kemaren.

Nama yang lain di kategori diwani yaitu saudara Khatimi, kaligrafer asal Riau yang berdomisili di Sukabumi, dikenal sebagai kaligrafer yang memiliki semangat dan kegigihan yg tinggi. Hampir dua kali pada setiap pekannya, beliau menempuh perjalanan Sukabumi-Depok dengan kereta api demi belajar kaligrafi kepada sang guru, ustadz Muhammad Zainuddin. Salut!!

Masih dikategori diwani, di posisi juara tasyji’iyyah diraih oleh kaligrafer asal Pati, Huda Purnawadi. Beliau merupakan alumni Grista (Griya Seni Tahsinul Khot Annur) Kudus, yang didirikan oleh KH M Noor Aufa Shiddiq, Allahu yarham. Bagi Ustadz Huda, prestasi pada lomba kaligrafi as-Safir kali ini bukanlah yang pertama kali. Beberapa tahun sebelumnya, beliau pernah menorehkan prestasi dalam lomba kaligrafi kategori Tsulust Jaly dalam rangka Festival Kebudayaan as-Safir ke-6 yang diadakan di Irak pada Juli 2016 yang lalu, dengan memperoleh juara pertama. Bahkan di beberapa event internasional lain, beliau ini sudah ‘langganan’ juara.

Masih di diwani, pada urutan berikutnya adalah saudara Ahmad Yasir Amrullah. Murid dari Ustadz Feri Budiantoro ini, berhasil memperoleh posisi tasyji’iah. Pemuda yang gigih belajar dan telah mendapatkan ijazah diwani dan diwani jaly dari sang guru pada tahun 2018 ini, sejak Februari 2019 kembali mendalami khat diwani kepada Ustadz Zainuddin hingga sekarang.

Sedangkan di kategori sulust jaly terdapat saudara Ali Muktamar diposisi ketiga, disusul oleh saudara Agung Sukoco yang berhasil menduduki posisi taqdiriyah dan disusul oleh Muhammad Syiam yg berhasil menduduki posisi tasyji’iyah.

Sementara dikategori naskhi, saudara Miftahul Huda menjadi satu-satunya perwakilan negara Indonesia yang berhasil menyumbangkan kejuaraan di posisi tasyji’iyyah. Membanggakan.!

Prestasi kaligrafer Indonesia di ajang Internasional semacam ini selain memotivasi juga membuka cakrawala para kaligrafer, pegiat kaligrafi, juga para generasi muda yang masih belajar. Juga sebagai pembuka wawasan bagi pihak-pihak terkait yang menjadi penyelenggara even lomba kaligrafi, bahwa seni kaligrafi mempunyai ushul (pakem) yang sudah matang, sehingga dalam lomba kaligrafi tingkat internasional pun, mempunyai standar yang sama.

Karena itu, seorang kaligrafer akan menjadi pemenang tanpa melihat asal negara, kota, maupun daerah. Karena pada dasarnya, yang menjadi titik tolak penilaian adalah kaidah yang telah terbentuk oleh tangan para kaligrafer-kaligrafer terdahulu sepanjang peradaban Islam, sehingga kaidah tersebut bersifat universal dan menjadi ijma’ khattathin dalam skala global. Bukan sekedar kesepakatan kelompok kaligrafer di negara tertentu, atau bahkan hanya kelompok juri tertentu. Karena jika hal ini terjadi, maka hanya akan mengerdilkan kaligrafer-kaligrafer muda berbakat, yang mempunyai potensi besar namun kurang mendapatkan apresiasi dan ‘tempat’ yang layak.

Sekali lagi kami ucapkan selamat kepada para pemenang Lomba Kaligrafi as-Safir tahun ini, semoga terus berkarya dan menjadi contoh bagi kaligrafer muda tanah air yang lain untuk mengembangkan wawasan serta kemampuannya dalam bidang kaligrafi, dan terus berperan aktif, untuk memajukan kaligrafi tanah air. (A Yasir Amrullah/hamidionline.net)