Ibnu Muqlah, Sang Menteri Pencetus Khot Mansub

452
ibnu muqlah

Ibnu Muqlah merupakan nama yang ‘wajib’ diketahui oleh setiap kaligrafer. Untuk
mencari siapa beliau, tidak terlalu sulit. Bahkan sudah sangat banyak artikel
membahas tentang biografi Ibnu Muqlah. Karena itu, sedikit ulasan berikut ini
kami harap bisa menjadi pelengkap dari informasi yang sudah ada.

Nama lengkap Ibnu Muqlah adalah Muhammad bin Ali bin al-Husain Ibnu Muqlah.
Kaligrafer era Daulah Abbasiyah yang tidak perlu diperkenalkan lagi karena kemasyhurannya. Lahir pada hari Kamis setelah ashar, pada akhir bulan Sawwal 272 H di Baghdad, meninggal pada hari Ahad, 10 Syawwal 328 H. Ibnu Muqlah adalah pemilik gagasan untuk mengubah bentuk khot dari kufi menjadi ‘bentuk dasar’ dari jenis khot yang kita lihat saat ini. Meskipun demikian, beliau juga bisa disebut sebagai penerus seorang kaligrafer pada akhir era Daulah Umawiyah yang bernama Quthbah Muharrar, karena usaha untuk memperbaiki dan mengubah khot kufi menjadi lebih indah, telah ada sejak akhir Daulah Umawiyah.

Ketika Islam mulai menyebar di jazirah Arab, tulisan yang dipakai oleh masyarakat ketika itu dikenal dengan nama khot al-Anbari al-Hiiry. Jenis ini ketika berpindah ke Hijaz disebut khot Hijazi. Khot Hijazi inilah yang menjadi cikal bakal bentuk khot naskhi. Namun demikian, hanya sedikit orang Quraisy saat itu yang bisa menulis khot Hijazi ini, tidak lebih dari belasan orang saja. Tonggak sejarah menyebarnya tulisan di kalangan umat Islam adalah ketika Islam berhasil memenangkan berang Badar dan berhasil menawan sejumlah tawanan. Untuk tawanan yang bisa menulis, maka tebusannya adalah mengajar menulis kepada 10 anak muslim Madinah. Sehingga tidak heran jika sebelum al-Qur’an selesai diturunkan, Rasulullah saw telah mempunyai sedikitnya 40 sahabat sebagai penulis al-Qur’an.

khot hijazi
Salah satu lembaran mushaf ditulis dengan khot Hijazi. Khot ini ditulis tanpa titik sebagaimana jenis khot Suriyani saat itu. (sumber qenshrin.com)

Ibnu Muqlah dalam mengubah khot Hijazi menjadi bentuk yang lebih indah dan lentur seperti yang kita lihat saat ini, telah melakukan perhitungan secara geometris untuk setiap bentuk huruf dengan titik sebagai ukuran. Ibnu Muqlah belajar khot kepada al-Ahwal al-Muharrar, bersama saudaranya, Abdullah bin Muqlah yang wafat sepuluh tahun setelahnya. Salah satu bukti kepiawaiannya dalam menulis, Ibnu Muqlah telah menyalin mushaf sebanyak dua kali.

Ibnu Muqlah menyebutkan bahwa pondasi tulisan yang benar serta indah bentuknya
minimal ada lima hal, yang lebih populer dengan husnu at-tasykil:

  1. Taufiyah; yaitu memenuhi hak setiap bagian huruf dengan bentuk tertentu
    sebagaimana mestinya. Seperti bentuk melengkung, lurus, miring dan sebagainya.
  2. Itmam; yaitu memberi hak pada setiap huruf dengan ukuran yang telah ditentukan.
    Seperti panjang, pendek, tebal dan tipis.
  3. Ikmal; yaitu menyempurnakan bentuk pada huruf (taufiyah) dengan kadar yang benar dan rasio yang tepat.
  4. Isyba‘; yaitu memberikan setiap huruf bagian tebal dan tipis sebagaimana mestinya. Pada bagian tertentu yang semetinya sama ditulis dengan ketebalan sama dan tidak berbeda-beda. Demikian pula pada huruf yang semestinya tipis, maka haknya pun harus sempurna ditulis dengan tipis.
  5. Irsal; yaitu menulis dengan tangan yang lancar dan tidak terputus-putus di beberapa bagian dikarenakan gemetar atau sengaja berhenti karena sebab lainnya.
Baca Juga:   Metode Taqlidi Dalam Belajar Kaligrafi

Dalam sebuah riwayat disebukan bahwa Ibnu Muqlah adalah penulis perjanjian
antara Muslimin dengan Romawi, tulisan tersebut diletakkan pada Gereja
Konstantin. Pada hari-hari besar, tulisan tersebut dipamerkan kepada khalayak
karena keindahan tulisannya, dan ditetapkan sebagai salah satu hiasan pada
tempat suci bangsa Romawi.

Ibnu Muqlah lebih dikenal dengan gelar “al-wazir” yang berarti menteri. Gelar tersebut disematkan karena beliau pernah menjadi menteri dari pada masa tiga khalifah pemerintahan Bani Abbasiyah, di antaranya adalah Muqtadir Billah, kemudian al-Qahir Billah, lalu Arradhi Billah. Sementara nama “muqlah” yang berarti bola mata, diambil dari nama ibunya. Dimana ketika kecil, kakeknya selalu menimang sang ibu dan mengatakan “ya muqlata abiiha”. Sebutan muqlah inilah yang kemudian beliau warisi dari sang Ibu, sehingga kaligrafer besar kita, Muhammad bin Ali bin al-Husain lebih dikenal hingga saat ini dengan sebutan Ibnu Muqlah.

Selain kaligrafer yang mempunyai sumbangsih sangat besar; yaitu arsitek huruf yang merubah tulisan arab dari bentuk kufi menjadi bentuk lentur dan mempunyai ukuran titik seperti yang kita lihat sekarang, beliau juga seorang penyair handal, ahli pidato, dan sastrawan ulung. Di antara murid Ibnu Muqlah yang belajar khot darinya adalah; Muhammad bin Asad al-Katib (w.410) dan Muhammad as-Samsamani. Dari Muhammad bin Asad al-Katib ini, Ali Ibnu Hilal yang lebih dikenal sebutan Ibnu al-Bawwab belajar khot. [muhd nur/hamidionline]

Diterjemahkan dari buku Ahmad Shabri Zaid, Tarikh Khat Arabiy, Darul Fadhilah, (Kairo: 1998) hal. 43