Ibnu al-Bawwab; Maestro Jenius Sepanjang Sejarah

274
ibnu al-bawwab

Ibnu al-Bawwab mempunyai nama asli Abul Hasan Ali ibnu Hilal. Sanjungan yang kerap diberikan kepada beliau adalah “tidak ada orang sebelumnya dan setelahnya yang menulis dengan keindahan tulisan yang menyamainya”. Meskipun sebelum masa Ibnu al-Bawwab, telah ada seorang kaligrafer terkenal, yaitu Ibnu Muqlah tetapi pujian di atas mengisyaratkan bahwa dari beberapa sisi, Ibnu al-Bawwab lebih unggul dari Ibnu Muqlah.

Tahun kelahiran Ibnu al-Bawwab tidak diketahui secara pasti, namun diperkirakan sekitar tahun 350 H. Dilahirkan dan besar di Baghdad. Dikenal dengan sebutan Ibnu al-Bawwab, karena konon ayah beliau seorang bawwab, yang berarti seorang penjaga pintu. Ibnu al-Bawwab telah hafal al-Qur’an ketika umurnya masih beliau. Belajar sastra Arab kepada seorang ahli bahasa terkenal, yaitu Abu al-Fath Utsman, yang lebih dikenal dengan Ibnu al-Jinni (w. 393 H). Sedangkan untuk khot, beliau belajar dari Abdullah bin Asad al-Katib dan as-Samsarani, keduanya adalah murid Ibnu Muqlah.

Sebelum belajar khot, Ibnu al-Bawwab dikenal ahli dalam menghias atap dan dinding rumah. Kemudian beliau juga dikenal sebagai pembuat cincin yang handal. Bahkan setelah dikenal menjadi Kaligrafer yang piawai, beliau pun masih dikenal sebagai sastrawan dan ahli bahasa yang ulung. Beliau pernah mengarang tulisan tentang “seni menulis”. Nama beliau juga disebutkan dalam buku “mu’jam al-udaba'” karya Yaqut al-Hamwi. Sedangkan Ibnu al-Fuuthi  memuji Ibnu al-Bawwab sebagai orang yang diberi rejeki keindahan tulisan dan keindahan sastranya.

Ibnu al-Bawwab dan Model Tulisannya

Hampir semua kaligrafer dan sejarawan mengakui ketokohan Ibnu al-Bawwab. Bahkan jika sering ditemukan orang yang mengaku lebih unggul dari yang lain di suatu keahlian, maka dalam kaligrafi, tidak ada seorang pun setelahnya yang mengaku lebih dari Ibnu al-Bawwab. Beliau -sebagaimana disinggung di awa tulisan ini- adalah kaligrafer terbaik yang belum pernah ada sebelum dan sesudahnya yang sepertinya, bahkan Ibnu Muqlah sendiri. Ibnu al-Bawwablah yang menyempurnakan huruf-huruf Ibnu Muqlah, seorang kaligrafer yang oleh ِAbu al-Hayyan at-Tauhidi disebut ‘nabinya’ khot.

هو نبي في الخط، أُفرغ الخطُّ في يده كما أوحي إلى النحل في تسديس بيوته

Jika sanjungan atas Ibnu Muqlah saja sedemikian besarnya, lantas seperti apakah tulisan tokoh kita yang konon keindahana khotnya tidak ada yang menyamai baik sebelum maupun sesudahnya?

Al-Qazwini dalam bukunya “Atsarul Bilad” menyebutkan bahwa Ibnu al-Bawwab -dengan kejeniusannya- ‘mengadopsi’ tulisan Ibnu Muqlah untuk membangun model tulisannya sendiri yang beliau tulis dengan sangat indah, sehingga sulit ditiru oleh kaligrafer manapun. Keindahan tulisannya tercermin dari bentuknya yang anggun, kuat, bersih serta rapi. Bahkan jika seandainya beliau menulis huruf alif seratus kali pun, maka semua tulisan tersebut akan sama, tidak ada satu huruf pun yang berbeda karena karakternya yang kuat tadi lahir dari satu ‘cetakan’ yang sama (yaitu tangan Ibnu al-Bawwab).

Seorang orientalis D. S. Rice dalam bukunya “The Unique Ibnu al-Bawwab Manuscript” terbitan Dublin (Emery Walker 1955) memaparkan kekagumannya kepada Ibnu al-Bawwab setelah menyelesaikan risetnya yang mendalam tentang keunikan tulisannya dengan obyek mushaf yang beliau tulis yang saat ini menjadi salah satu dari koleksi mushaf al-Qur’an di perpustakaan Chester Beatty di kota Dublin. Hal senada juga diungkapkan oleh seorang peneliti Irak, Hilal Naji yang meneliti tulisan dan karya-karya Ibnu al-Bawwab dalam bukunya “Ibnu al-Bawwab; ‘Abqariy Khat Arabi ‘Abra al-Ushuur”. Hilal Naji menyimpulkan dari hasil penelitiannya, bahwa Ibnu al-Bawwab mempunyai model dan bentuk tulisan yang ideal, tertuang jelas lewat karya-karyanya.

Baca Juga:   Kaligrafer - Muhammad Syafiq

Peninggalan Beliau

Ibnu al-Bawwab mewariskan kepada kita semuanya banyak karya. Tidak hanya dalam bentuk mushaf serta tulisan karya kaligrafi, tetapi juga tulisan-tulisan berharga berbentuk “mandzumah” (kumpulan bait syiir) berisi bait-bait yang berisi keterangan lengkap seni kaligrafi. Di antara mandzumah yang telah beliau tulis adalah “Ra`iyah Ibn al-Bawwab fi al-Khatth wa al-Qalam”. Mandzumah ini berisi keterangan tentang alat-alat kaligrafi. Mandzumah ini telah diterbitkan oleh seorang peneliti bernama Muhammad Bahjat al-‘Atsari, di mana mandzumah ini digabung dengan penjelasannya yang dikarang oleh Ibnu al-Wahid Syarafuddin Muhammad bin Syarif az-Zar’i (w. 771 H). Buku yang telah naik cetak tersebut diberi judul  “Syarh Ibni al-Wahid ‘Ala Ra`iyah Ibni al-Bawwab”. Dipasarkan pertama kali di Tunis pada tahun 1387 H/ 1967 M.

Di antara peninggalan Ibnu al-Bawwab yang abadi adalah mushaf  yang beliau tulis di Baghdad tahun 391 H/ 1000 M, yang saat ini terjaga di perpustakaan Chester Beatty di kota Dublin, Irlandia. Mushaf ini dihiasi dengan zahrafah beliau sendiri. Zahrafah yang sangat indah, seindah tulisannya.

Peninggalan Ibnu al-Bawwab lainnya adalah sebuah buku karangan Ibu Usman bin Bahr al-Jahidz tentang buku dan urgensi mengoleksi buku yang bagus. Karangan al-Jahidz ini ditulis tangan oleh Ibnu al-Bawwab, saat ini tersimpan di koleksi Turkish and Islamic Arts Museum, di daerah Fatih, Istanbul, Turki. Di akhir buku jelas tertulis “Katabahu Ali ibnu Hilal, Hamidan Allaha Ta’ala ‘ala Ni’amihi”. 

Ibnu al-Bawwab juga menulis Syi’ir dari Salamah Ibnu Jandal. Tulisan ini bisa didapati pada Museum Topkapı Sarayı di bagian Qashr Bahgdad. Copian lain dari tulisan ini juga terdapat pada perpustakaan Hagia Sophia (Aya Sofia) di Istanbul.  Tulisan beliau lainnya yang sampai kepada kita saat ini adalah do’a riwayat dari Zaid bin Tsabit, dan Diwan Syi’ir al-Hadhirah (koleksi Perpustakaan Darul Kutub, Kairo).

Wafatnya Beliau dan Pujian Kepadanya

Ibnu al-Bawwab banyak sekali mendapatkan pujian dan sanjungan berkat ketokohannya dalam kaligrafi. Para sejarahwan banyak mencatat nama beliau dengan tinta emas. Mereka semua sepakat bahwa tokoh kita ini adalah imam dalam kaligrafi tanpa ada tandingannya. Di antara para sejarahwan memberi Ibnu al-Bawwab beberapa gelar sebagai penghormatan kepada beliau. Adz-Dzahabi misalnya, menjuluki beliau dengan sebutan “malikul kitabah” (rajanya tulisan), sedangkan al-Fuuthi menyebut beliau sebagai “qalamu Allah ‘ala al-Ardh” (pena Allah di atas bumi), dan Ibnu ar-Ruumi, mengungkapkan kekagumannya kepada Ibnu al-Bawwab dalam sebuah bait

ولاح هلال مثل نون أجادها     #     يجاري النضار الكاتب ابن هلال

Ibnu al-Bawwab menjadi pusat perhatian dan kekaguman setiap orang hingga wafat beliau pada tanggal 2 Jumada al-`Ula 413 H/ 3 Agustus 1022 M. [muhd nur/ hamidionline]


Credit

  1. Ahmad Shabri Zaid, Tarikh Khat Arabiy, Darul Fadhilah, (Kairo: 1998) hal. 44-45
  2. Ahmad Tamam, Ibnu al-Bawwab; ‘Abqari al-Khatth fi Dzikra Wafatihi, Islamonline
  3. Mushaf Ibnu al-Bawwab: Multaqa Ahlil Hadits

Untuk menelaah lebih jauh buku Syarh Ibn al-Wahid atas Ra`iyah Ibn al-Bawwab fi al-Khatth wa al-Qalam silahkan download pada link berikut

Download