Bendera Tauhid dan Tradisi Taqlidul Khat

55

• التقليدفى الخط وسيلة من وسائل التجويد.
“Meniru kaligrafi termasuk salahsatu sarana untuk mempercantik tulisan.”

Menyaksikan kibaran beribu bendera tauhid yang menggetarkan hati dan mengobarkan semangat bela agama dalam acara reuni 212 di Monas, jadi teringat kepada tradisi Taqlidul Khat (تقليدالخط) yang populer di kalangan kaligrafer. Taqlid yang berarti “meniru/menjiplak/mengimitasi/mereplika” digunakan sebagai sarana belajar-mengajar kaligrafi dengan menyontoh karya guru oleh murid-muridnya secara bergiliran. Atau semata meniru untuk menyamai karya aslinya. Banyak kalimat pilihan yang sering ditiru, salahsatu yang populer dan banyak diidolakan adalah Kalimat Tauhid:
لاإلـــه إلااللـه محمـــدرســـول اللـه.
Kalimat Tauhid dengan khat Tsulus yang indah ini mula-mula ditulis oleh Muhammad Syafiq, kaligrafer kelahiran Istanbul 1235 H/ 1820 M, wafat 1297 H/1880 M, yang ditiru oleh Abdul Muta’al Muhammad Ibrahim. Sekian tahun kemudian, Sami Afandi (lahir di Istanbul 1253 H/1838 M) menirunya yang ditiru ulang oleh Ahmad Arif Al-Falbawi (perbatasan Bulgaria, 1246 H/1830 M–1327 H/1909 M), lalu ditiru lagi oleh Ismail Haqqi (lahir di Istanbul 1289 H/1873 M). Peniruan berlangsung terus tanpa henti, karena kalimat tersebut merupakan “deklarasi prinsip” setiap muslim. Bahkan, sebagiannya dijadikan masyaq untuk latihan murid. Variasinya berkembang bersama kata-kata idola lain seperti:
بســــــــــــم الله الرحمن الرحيــــــم
yang ditulis oleh Mustafa Raqim, lalu ditiru oleh Abdul Aziz Al-Rifa’i, ditiru lagi oleh Abbas Al-Baghdadi sampai seluruh kaligrafer menirunya.

Ada yang menarik tentang masyaq/مشق yaitu lembar “coret-coretan guru” yang ditiru murid-muridnya untuk memperlancar tulisan. Dr. Afif Al-Bahnasi mendifinisikan masyaq (jamaknya amsyaq/أمشاق) sebagai berikut:
سلاسة الخطوط وسرعتها وامتدادها
(Kelancaran tulisan, kecepatannya, dan memanjangkan tarikannya). “Masyaqal khatta” (مشق الخط) berarti “menulis khat secara lancar”. Guru khat zaman dulu mempergilirkan selembar masyaq kepada murid-muridnya karena belum ada alat pengganda seperti foto copy di zaman now. Kata guru, kira-kira begini: “Miiiiiid, Hamid, tirulah tulisanku sampai sama persis. Kalau selesai, kasihkan sama Mustafa, kemudian kepada Fatimah. Terus tiru lagi oleh yang lainnya ya.” Masyaq coretan tangan guru pun ditiru atau dijiplak habis oleh semua muridnya sampai mantap sempurna atau persis 100 %.
Masyaq terhubung dengan kata masyaqqah/مشقة yang berarti “kesulitan” karena kaligrafi itu sulit (الخط أمرصعب), “Setiap permulaan juga sulit” (Every beginning is difficult) sebagai pintu gerbang ke “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” (فإن مع العسر يسرا). Tapi yang terpenting, masyaq adalah sarana belajar-mengajar kaligrafi yang mewariskan tradisi TAQLIDUL KHAT/تقليد الخط (yaitu meniru/menjiplak kaligrafi) yang kini berkembang di kalangan khattat Timteng dengan teknologi komputer yang canggih.
Menurut ahli pendidikan kaligrafi Mesir, Fauzi Salim Afifi, “meniru karya para khattat besar termasuk tahap pertama namun sekaligus pula tahap terakhir belajar kaligrafi,” karena ketika mulai belajar, kita meletakkan lembaran contoh latihan para master kaligrafi di depan mata kita kemudian menirunya dari huruf alif hingga ya yang dilanjutkan kepada huruf-huruf sambung. Tahap berikutnya, murid meniru penuh karya gurunya lalu pindah kepada karya-karya guru yang lain sehingga tangannya “menemukan teknik dan karakter guru-guru tersebut bahkan jadi bagian dari karakter mereka”.
Di kampus-kampus seni rupa Indonesia, hal sama terjadi ketika dosen menugaskan mahasiswa untuk meniru 10 karya pelukis besar seperti Picasso, Salvador Dali, Monet, Renoir, Rembrandt, Da Vinci, Van Gogh, Mat Rothko, Johan Pollock, Wassili Kandinsky, dll dengan tujuan agar tangannya akrab dan senyawa dengan karakter lukisan mereka. Para khattat besar dan pelukis maestro semuanya telah pernah menempuh cara-cara saling tiru tersebut. Maka, “meniru bukan barang tabu. Bila ingin maju, harus belajar dengan meniru”.
Dari file riwayat, dikenal para murid hebat seperti Abdullah Zuhdi, Sayid Al-Rifa’i, Muhammad Arif, Ismail Haqqi, Jalaluddin, Mir Imad Al-Huseini, Hamid Al-Amidi, dan lain-lain “meniru para guru” seperti Hafizh Usman, Mustafa Raqim, Mustafa Izzat, Muhammad Syafiq, Muhammad Sami, Muhammad Mu’nis, dan lain-lain sehingga “para murid tadi menjadi guru yang ditiru kembali oleh murid-murid lain berikutnya” seperti Muhammad Ja’far, Muhammad Ridwan, Muhammad Mahfuzh, Sayid Ibrahim, Najib Hawaweni, Muhammad Husni, Muhammad Abdul Kadir, Muhammad Al-Syahat, Muhammad Al-Haddad, Hasyim Muhammad Al-Baghdadi, dan lain-lain. Akhirnya murid-murid ini pun menjadi guru-guru yang ditiru lagi oleh orang yang berusaha mempercantik tulisan mereka sekarang, esok, dan esoknya lagi. Tradisi ini jadi mirip-mirip “tradisi sanad” dalam lingkup ilmu hadits.

Baca Juga:   Syaikh Belaid Hamidi Kukuhkan 20 Kaligrafer Dengan Ijazah di Uinsa Surabaya

إذن فالتقلــيد وســـيلة من وســائل التجويد
“Dengan demikian, meniru merupakan salahsatu sarana meningkatkan kecantikan.”

*ditulis oleh al-Ustadz Didin Sirojuddin AR. Pendiri Lembaga Kaligrafi Alquran (LEMKA) di Jakarta (1985), disusul tahun Pesantren Kaligrafi Alquran Lemka di Sukabumi (1998), dua kendaraan perjuangannya yang diiringi aktivitasnya menulis buku-buku kaligrafi, penjurian lomba kaligrafi di MTQ Nasional dan ASEAN, dan berkeliling membina kaligrafi di pelbagai pelosok Indonesia.