Bagaimana kaligrafer terdahulu mengajarkan ilmunya?

hamidionline.net

Tahukan anda, bahwa karya karya para kaligrafer terdahulu seperti karya milik Syaikh Hamdullah, Sami Afandi, Muhammad Syauqi, Hafidz Osman dll menjadi masterpiece yang mampu menembus lintas zaman dan masih tetap menjadi rujukan bagi para kaligrafer sekarang. Yang menjadi pertanyaan, bagaimana cara mereka mencapai hal itu?

Dalam kesempatan ini, penulis akan sedikit mengupas beberapa rahasia pengajaran kaligrafi zaman terdahulu, agar hasil karya yg dihasilkan bjsa menjadi masterpeace lintas generasi. Diantara point penting yang dilakukan oleh kaligrafer terdahulu dalam sebuah pengajaran kaligrafi agar anak didiknya sukses adalah:

Pertama, bimbingan intensif kepada seorang guru yang kopenten sesuai dengan keilmuannya. Artinya, memilih seorang  guru yang memiliki keahlian khusus dalam pengajaran kaligrafi. Hal ini penting, karena guru inilah nanti yang akan mengarahkan kepada ushul keilmuan yang akan menjadi pegangan bagi murid-muridnya untuk mengembangakan keilmuan tersebut kepada jenjang selanjutnya.

Kedua,  seorang guru memilih pena yang terbuat dari kayu sebagai alat mengajar. Biasanya mereka memilih kayu iran sebagai pena dalam menulis. Pena iran ini sengaja dipilih karena ringan dan bentuknya panjang dan tidak mudah pecah. Mungkin alat disini bisa dimaknai berupa handam, atau aren atau bambu.

Ketiga, memilih tinta hitam. Sebenarnya mereka banyak sekali variasi warna saat menulis khat. Namun, kebanyakan mereka menggunakan warna hitam. Terlebih lagi jika saat latihan. Mengapa? Karena karakter warna hitam ini lebih jelas saat digunakan menulis. Apalagi, jika warna kertasnya putih. Selain itu, harga nya juga terjangkau. Sehingga, tidak memberatkan bagi murid untuk membelinya.

Keempat, mereka menggunakan titik sebagai mizan (ukuran) dalam menentukan proporsi sebuah huruf. Konsep titik yang ditawarkan oleh Ibnu Muqlah ternyata menjadi sumbangsih besar dalam perkembangan kaligrafi di dunia seni Islam. Dengan konsep ini, seorang guru dapat mengarahkan muridnya untuk menulis huruf kaligrafi dengan baik dan benar. Karena konsep titik ini sebagai jantung nadinya yang akan menentukan bagus tidaknya sebuah huruf. Itu mengapa kaligrafer setelahnya seperti Ibnu Bawwab dan Yaqut Musta’shimi dan kaligrafer setelah mereka banyak mengamfbil manfaat dari konsep keilmuan yang beliau ajarkan, semoga Allah SWT menjadikan ilmu ini sebagai amal jariah bagi beliau, amin.

Baca Juga:   Kaligrafer; Bisik Cinta Refleksi Keprihatinan

Keempat, adanya masq. Yaitu sebuah kurrasah yang khusus dibuat untuk digunakan sebagai bahan ajar murid-murid tanpa mengabaikan seorang guru. Karena peran guru sebagai petunjuk yang dapat memberikan keterangan terkait apa yang ada di dalam masyq tersebut, sebagaimana kita ketahui bahwa buku ibarat peta, sedangkan guru adalah pemandunya.  Untuk lebih jelasnya, silahkan baca tentang apa itu masyq di sini. (A. Yasir Amrullah/hamidionline.net)

Sumber tulisan: Ma’ruf Zariq, 1985, Kaifa Nuallimu al-Khat Dirasah Tarikhiyyah Fanniyah Tarbawiyyah, (Damaskus: Dar Fikr)