Antara Pena Jawa (Aren) dan Pena Besi

414
pena jawa


Belajar kaligrafi saat ini sungguh sangat mudah. Informasi tempat belajar, komunitas, sanggar, perlombaan dan lain-lain terbuka untuk siapa saja. Akses untuk mendapatkan alat-alat kaligrafi juga demikian. Bahkan mayoritas sanggar kaligrafi menyediakan alat-alat, pun tidak sedikit kita temukan alat tersebut lewat jual beli di toko online ataupun media sosial. Salah satu alat penting yang harus dipunyai seorang khattath adalah pena. Pena saat ini sangat mudah didapat dan jenisnya pun beragam. Namun begitu, kali ini kami akan sedikit mengupas perbedaan antara pena Jawa (aren) dengan mata mata besi.

Mengetahui perbedaan karakter antara pena Jawa (aren) dengan mata mata besi menjadi menarik jika kita mengetahui betapa pentingnya memiliki sebuah pena dengan mata kecil namun kuat dan tangguh. Salah satu jenis khot yang dari dulu dikenal ditulis dengan mata pena kecil adalah jenis khot naskhi. Khot naskhi sudah sangat lama ditulis oleh para khattath dengan mata pena tidak lebih dari 1 mm. Bahkan aturan penulisan khot naskhi yang tidak lebih dari 1 mm ini tetap berlaku di perlombaan-perlombaan internasional.

Para khattath qudama’ telah mengetahui pentingnya kesesuaian tiga unsur, pena, tinta dan kertas. Karena dengan ketiga unsur yang ‘pas’ tersebut, seorang kaligrafer bisa benar-benar menuangkan tulisannya seperti yang dia maui, tanpa terkendala oleh unsur-unsur alat dan media. Sebaliknya, jika salah satu unsur di atas tidak terpenuhi dengan baik, mustahil bagi seorang khattath bisa menulis dengan baik, nyaman dan mendapatkan hasil seperti yang diinginkan.

Dari sinilah diperlukan sebuah pena yang kuat dan tangguh untuk menulis jenis khot ini. Di antara pena yang awet untuk jenis penulisan kecil ini adalah pena dengan Jawa (aren) dan pena mata besi. Berikut perbedaan antara kedua jenis pena tersebut:

Para khattath zaman dulu memilih pena jawa untuk menulis dengan mata kecil, disamping juga memakai Pena Dezful yaitu jenis pena dari daerah Dezful di Iran yang telah melalui proses tertentu untuk pengeringan dan menjadikannya lebih keras. Sedangkan pena dari mata besi belum lazim digunakan oleh para khattath kecuali pada masa akhir-akhir ini.

Pilihan para khattah untuk menggunakan pena Jawa maupun pena Dezful, dan tidak menggunakan pena dari mata besi setidaknya mempunyai dua alasan:

Pertama; dari segi ‘ruh’ tulisan dan pena. Di mana pena Jawa diambil dari tumbuhan (aren) yang hidup, dan berbeda dengan besi. Sebab alami ini menjadikan hubungan antara seorang khattath dengan pena yang dia pakai untuk menulis lebih bersinergi dan ‘menyatu’. Kedua; dari sisi kelenturan dan kemudahan pemakaian. Meskipun pena Jawa keras, namun mempunyai unsur lentur dibanding dengan pena besi. Karena itu seorang khattath bisa dengan mudah menggerakkan pena Jawa sesuai dengan yang diinginkan khususnya untuk bentuk melingkar, ujung huruf yang diangkat, dan beberapa tempat bersambungnya huruf yang tidak selalu menggunakan seluruh mata pena. Dengan demikian, pena Jawa lebih fleskibel daripada pena mata besi.

Baca Juga:   Kaligrafer Putri Indonesia di Pameran Sharjah 2016

Namun demikian, menggunakan pena Jawa sehingga bisa maksimal memerlukan latihan dan pembiasaan yang labih lama dari pena mata besi dengan beberapa sebab:

Pertama; ketika menyentuh kertas, pena Jawa lebih banyak memerlukan lebih banyak tekanan supaya memberikan hasil yang bagus. Berbeda dengan pena dengan mata besi yang justru akan merusak tulisan jika menulisnya dengan tekanan yang lebih pada kertas.

Kedua; ketika menggunakan pena Jawa, meskipun ketika proses menulis ada tekanan pada kertas, namun tekanan tersebut tidak merusak dan berpengaruh kepada kertas. Sedangkan pena dengan mata dari besi justru sebaliknya, tekanan pada saat menulis dengan pena jenis ini bisa merusak dan tidak jarang ‘melukai’ kertas.

Ketiga; pena Jawa tidak terpengaruh oleh tinta yang dipakai (khususnya tinta handmade). Karena itu, tidak perlu khawatir akan kualitas pena jawa meskipun sering dipakai dan terkena tinta terus menerus, karena hal itu tidak akan merusak pena. Sedangkan pada pena dengan mata besi, tinta yang menempel lama pada mata pena akan mempengaruhi kualitas mata pena, sehingga perlu diperbaiki atau dipotong ulang. Pada pena Jawa yang jenisnya kuat dan bagus, sebuah riwayat menyebutkan bahwa seorang khattath pernah memakai pena Jawa untuk menulis mushaf lengkap dengan sekali potong.

Keempat; turunnya tinta pada pena Jawa lebih lambat, sehingga jika ada banyak tinta pada ujung pena pun akan turun sedikit demi sedikit dan tidak akan langsung turun semua, hal ini sangat membantu khattath untuk menulis dengan lebih baik. Sedangkan pena mata besi, ketika dipakai dengan tinta khususnya tinta pabrikan, sulit dikendalikan laju turunnya tinta dan membuat khattah kurang bisa menguasai proses penulisan dengan baik.

Kelima; perawatan dan perbaikan pena Jawa lebih mudah. Cukup dengan cutter atau pisau khusus pena khot, sudah bisa dipakai untuk memperbaiki mata pena Jawa. Sedangkan memperbaiki pena mata besi lebih rumit.

Saat ini pemakaian pena dengan mata dari besi lebih umum dipakai. Sebenarnya bukan karena alasan kualitas penanya lebih baik, namun karena kurangnya pena Jawa yang berkualitas, khususnya di daerah Timur Tengah. Sementara di daerah Indonesia yang subur dan tempat tumbuhnya pohon aren, akankah kita beralasan yang sama? Semoga saja tidak.

  • Beberapa bagian dari tulisan diambil dari al-khattath Zeki El-Hasyimi. Kaligrafer dari Yaman, Magister Seni Kaligrafi dari Universitas Muhammad Fatih, Istanbul. Ijazah khot dari Syaikh Hasan Celebi, Ustadz Firhad Kurlu dan Ustadz Mumtaz Durdu. [Muhammad Nur/ hamidionline.net]