Belajar Kaligrafi; Belum Menanam Mau Mengetam?

132
kaligrafi

[dropcap]T[/dropcap]ulisan seorang kawan, tentang hakikat belajar kaligrafi. Belajar tidak hanya aktifitas otak, tangan ataupun fikiran, tetapi juga hati dan niat. Begitu juga dengan belajar kaligrafi, tidak terasa kadang kita terlena, lupa atau tertuntut oleh keadaan sekeliling yang terasa menodong, memaksa kita untuk ikut arus, sehingga belajar kaligrafi menjadi bersifat praktis dan pragmatis.

Pesan ini adalah refleski seorang khattah dari Yaman, yang menangkap fenomena kurang baik yang ada di negaranya, yang penulis lihat juga terjadi pada komunitas kaligrafi di negeri kita tercinta, di Indonesia.

Sebuah syi’ar yang selalu didengungkan di kalangan pencari ilmu (thalibul ‘ilmi) bahwa hikmah ibarat barang mukmin yang hilang, siapa saja yang menemukannya, maka dia berhak atasnya. Ilmu pengetahuan merupakan barang yang hilang dari seorang thalibul ilmi, maka jika dia menemukannya, dia berhak atasnya.

Seorang thalibul sama kedudukannya, baik itu kecil, besar, tua, muda, kaya maupun miskin. Tidak ada ukuran yang menjadi sekat di antara mereka kecuali ilmu itu sendiri. Karena itulah, thalibul ‘ilmi diberkahi Allah swt. dalam usahanya mendapatkan ilmu tersebut.

Karen itulah, bagi seorang thalibul ‘ilmi, satu hari yang berlalu dengan sia-sia merupakan sebuah kerugian yang menjauhkan berkah dan kebaikan. Sebuah hari yang tidak mendekatkan seseorang kepada sebuah keyakinan dan ilmu, bisa disebut hari yang tidak ada kebaikan di dalamnya.

Hari yang di dalamnya tidak bertambah pengetahuan maupun produktifitas, tidak pula diisi dengan sebuah pencarian ataupun hanya ide, adalah hari yang seharusnya tidak ada di dalam silsilah hari-hari kita.

Kebiasaan untuk selalu ingin maju dan berkembang inilah ciri orang yang sungguh-sungguh dan mempunyai keinginan yang kuat untuk mencari ilmu. Kesungguhannya semakin berbuah dikala ia mencari ilmu pada ‘tempatnya’, lalu mendengarkan dengan seksama untuk menyerapnya, dan selalu bersikap rendah hati untuk mengambilnya, supaya menambah keberkahan, kekal menjadi jariyah kelak.

Namun tidak kita pungkiri juga, bahwa saat ini (bisa jadi) para thalibul ‘ilmi ada yang tersusupi rasa sombong dalam mencari ilmu, sehingga Allah swt. mencegah turunnya berkah kepadanya. Belajar khot bisa kita ambil sebagai contoh dalam hal ini.

Seorang thalib kadang ada rasa sombong pada tahap awal belajar, bahkan ketika masih dalam tahap ingin belajar. Di mana saat memulai belajar dia sudah berpikir untuk tidak belajar dari kawan dekatnya atau tidak mau belajar dari orang yang ada di kota atau daerahnya. Tentu alasannya adalah supaya tidak disebutkan nanti kalau dia telah belajar dari kawannya atau belajar dari orang di daerahnya.

Karena itu, dia memilih untuk belajar kepada orang yang lebih terkenal dan punya nama meskipun terbentang jarak dan waktu, padahal belum tentu orang bersangkutan punya waktu untuk memberi pelajaran. Sehingga yang didapat adalah tertahannya sebuah ilmu yang seharusnya dia dapat, karena kesombongannya dalam mencari.

Karena itu tidak jarang, mereka yang ‘gengsi’ tidak menemui kemajuan justru kehilangan kesempatan. Menghabiskan waktu bertahun-tahun namun tidak mampu paham tentang khot maupun kaidahnya kecuali hanya sedikit. Ini sebenarnya teguran dari Allah supaya yang bersangkutan tahu, bahwa ilmu membutuhkan rendah diri, tawaddhu’ dan bersih dari maksud-maksud duniawi.

Di sisi lain, seorang yang rendah hati (tawadhu’), mau belajar meskipun dengan pelajaran, guru, bahkan tempat yang sederhana, justru Allah membukakan pintu berkah kepadanya. Bahkan kemudian orang tersebut didatangi oleh banyak murid dari berbagai tempat, sehingga dia pun bisa memberi zakat ilmunya dengan mengajar, lalu mendapatkan pahala dari menyebarkan yang dia dapat dari gurunya, demikian seterusnya sehingga tercipta lingkaran kebaikan yang tidak terhingga.

Karena itulah wahai saudaraku..

Masalah ini merupakan masalah penting yang membutuhkan perhatian kita semua dan kita perlu terus saling menasehati, supaya barokah dari ilmu yang di’wariskan’ kepada kita tidak pergi.

Saudaraku penuntut ilmu..

Mulailah belajar kepada orang yang dekat denganmu, lalu ambil lah ilmu yang telah Allah berikan melewati orang itu, lalu pelan-pelan keadaanmu akan berkembang berkat do’a dan kesabaran yang terpatri dalam hatimu. Saat itu lah kau akan lihat kebaikan yang dulu tidak sempat terlintas dalam benakmu.

Banyak sekali orang yang menghubungiku mengatakan bahwa dia ingin tinggal di sini, di Istanbul, untuk belajar khot. Sementara kemampuannya sangat lah pas-pasan, termasuk keadaan ekonomi juga sederhana. Lalu saya jawab, kenapa tidak kamu mulai saja belajar dengan si fulan (sambil saya sebutkan nama seorang khattath di daerahnya). Dan ternyata jawabannya adalah, “aku ingin belajar kepada para khattath master besar di sana”.

Sangat disayangkan karena banyak kawan-kawan seperti ini yang rugi waktunya dan hartanya tanpa dapat apa-apa. Beberapa bulan hanya mendapatkan satu dua pelajaran saja, pelajaran yang didapatkan pun tidak begitu dikuasainya. Karena para khattath tersebut kadang menerangkan sesuatu dengan istilah yang dia tidak paham maksudnya. Seperti memberi catatan dengan mengatakan huruf ini ditulis majmu’ atau mursal misalnya…

Karena itulah, sekali lagi saya menasehati saudaraku semua, para thalibul ‘ilmu, hendaknya belajar secara bertahap. Karena tahapan-tahapan sesuatu merupakan sunnah kauniyyah dalam menuju kesuksesan.

Semoga Allah senantiasa memberi taufiq dan kemudahan serta membimbing-Nya, serta memberi semua kebaikanbagi kita semua, amin

*Ditulis oleh al-khattath Zeki El-Hasyimi. Kaligrafer dari Yaman, Magister Seni Kaligrafi dari Universitas Muhammad Fatih, Istanbul. Ijazah khot dari Syaikh Hasan Celebi, Ustadz Firhad Kurlu dan Ustadz Mumtaz Durdu. Dialih bahasakan oleh Muhammad Nur [Muhd Nur/ hamidionline]

Baca Juga:   Membangun Nilai Karakter Lewat Manhaj Hamidi.